Bab 21 Kyai Marjuki
Buto Ireng mulai membacakan mantra kegelapan menggunakan bahasa Jawa untuk memfokuskan pikiran dan sinergi dengan para pengikut alirannya.
"Laras murub, kandel nguras
Surya kudhul, candra kuring
Bumi kandel, langit peteng
Ngamuk, ngamuk, ngamuk!
Kandel nguras, laras murub
Kandel nguras sing nyawa
Laras murub, kandel urip
Surya kudhul, kandel nglimpah
Dadio siji marang sukmaku kang nyawiji tunggal jagat tunggal langit, sekti nyabut nyowo, geniku gowo pati!"
Mantra tersebut merupakan kombinasi kata-kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang kuat dan mistis.
Mantra ini digunakan untuk memanggil kekuatan gelap, menghancurkan cahaya dan kebaikan, menguasai nyawa dan jiwa, mencapai kehidupan abadi melalui kegelapan, mengambil alih hati dan semangat lawan.
"Wooh dagelan ngejak dolanan ludruk kie... Ayoh! Panggah tatag!" Kyai Jalil membuat gerakan waspada.
Yang artinya dalam bahasa Jawa: Oh, ngajak bermain-main drama teater ini? Ayo! Tetap tak goyah!
"Tak jawab Lek!
Aku sing nyawa, aku sing urip, ngalahi ndas ireng!
Pangayoman kang maha kuasa, lindungiku saka durjana
Surya kang maha terang, gandolanku sukma Gusti Pangeran!
Kandel peteng, lumaku saka aku
Ngamuk, ngamuko mulak malik kanthi cilaka!
Ing astane bumi pertiwi katandur sukma bala gheni
Laa ilaha illa llah Muhammadur rasulullah! Ajura sapa kang durhaka!" Balas Kyai Jalil dengan mantra.
Yang artinya dalam bahasa Jawa: Aku jawab Paman!
Mantra Perlindungan dan Pengusiran, 'Aku yang memiliki nyawa, aku yang memiliki kehidupan, mengalahkan kekuatan gelap! Perlindungan yang maha kuasa, lindungi aku dari kejahatan. Surya yang maha terang, pelindungku adalah roh Gusti Pangeran! (Panggilan atau sebutan orang Jawa kepada sang Pencipta)
Kegelapan, menjauhlah dari aku!
Hancurkan, hancurkanlah kejahatan dengan bencana!'
Mantra Pembersihan dan Perlindungan Spiritual, 'di bumi pertiwi ini, tanamlah roh kebaikan.
Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.
Celakalah orang yang durhaka!'
Mantra ini merupakan doa perlindungan dan pengusiran kekuatan jahat, memohon perlindungan dari Tuhan dan mengusir kegelapan. Mantra ini juga mengandung unsur-unsur spiritual Islam dan kepercayaan Jawa.
Setelah mengucapkan itu keduanya beradu kekuatan hawa ghaib yang keluar dari jiwa, hawa itu berubah menjadi api. Mereka saling menyemburkan api dari tangan mereka. Kekuatan mereka sama imbangnya sampai pada akhirnya Kyai Marjuki mengumandangkan adzan dengan suara tertatih tatih. Seketika datang gempa dan angin dasyat sama seperti kejadian di pabrik Kuntilanak dulu.
Semua orang roboh karena tanah tergoyah oleh gempa. Namun Kyai Jalil berusaha berdiri dan berjalan mendekati rombongan dukun itu untuk menarik ilmu mereka, mencabut ilmu hitam para musuh sampai mereka muntah darah.
Mereka yang lemas ada yang pingsan, gempa bumi berakhir dan ketika itu Huda menghampiri Buto Ireng lalu mencengkram kerah bajunya.
"Siapa yang nyuruh kamu membasmi para Kyai?"
"Ada salah satu pejabat di partai politik besar menyuruhku, dia anti ulama!" Jawab Buto Ireng dengan pasrah.
"Wanita atau kah pria?"
"Wanita.."
"Sudah berapa banyak Kyai kamu bunuh?!"
"Seratus enam belas.."
"Bedebah!"
"Jeduak!" Huda memukul kepala Buto Ireng sampai pria itu tersungkur ke tanah.
"Katakan kepadaku semua yang ada dalam perkumpulan kalian atau kau akan kubuat mati jadi roh gentayangan abadi!" Huda mencengkram tangannya ke dada pria itu, sampai si jahat itu merasakan jantungnya seperti dibakar api.
"Hiaargh! Aku adalah cucu pewaris ilmu pembantai Kyai, kakekku pernah diperintahkan untuk menghipnotis semua orang supaya mereka tega membunuh para Kyai dalam gerakan PKI tiga puluh September, dibawah perintah ratu lebah dunia dan komando Jendral supaya Bung Karno lengser! Jika kau membunuhku! Kau tidak akan tahu siapa saja di bawahku!" Pekik Buto Ireng.
"Bad ji ngan!"
"Heik!"
"Argh!"
Huda menekan tangannya, pria yang keji tanpa ampun itu kini merasakan muntah darah kental hitam dengan mata melotot, dia merasa tubuhnya digencet besi berat raksasa yang panas sekali dan kepalanya terasa dirasuki gelombang yang memberatkan sekali.
"Hahaha..." Buto Ireng masih sanggup tertawa ketika selemas itu.
"Siapa pun yang kukasih ilmu itu... Ketika melihat Kyai, di matanya dia sedang melihat binatang dan akan menggila ingin memburu dan membantainya... Di mata mereka... Kyai terlihat sebagai kambing! Hahaha!"
"Jeduak! Jeduak! Buk! Buk! Buk!"
Huda menendangi pria itu meremukkan tulang-tulang pria itu.
"Ga kapok-kapok ini orang..." Amir menepok jidat sambil membebaskan Kyai Marjuki di tempat tawanan.
"Mati pun dia ga akan diterima bumi sebab dia itu sudah meminum minyak bintang!" Jawab Kyai Marjuki lirih sambil dibopong oleh Amir.
"Minyak bintang yang terbuat dari minyak mayat digantung di hutan Kalimantan itu?"
"Iyah... Dia itu terkutuk sudah..." Kyai Marjuki dibantu mendekati kerumunan Kyai Jalil di hadapan para abdi sesat yang pingsan di tanah berumput tipis dengan tak berdaya.
Huda berjalan ke tumpukan kayu yang sudah disiapkan, dia membuat api dengan tenaga dalam dari tangannya lalu menembakkan api ke kayu-kayu sampai berkobar. Kemudian dia menyeret Buto Ireng.
"Mas ga usah Mas!" Kyai Marjuki.
Huda menoleh ke Kyai Marjuki, "ada apa Kyai?"
"Ga mempan! Percuma, mereka hanya akan pura-pura mati, kita pergi dari sini, mereka akan merajalela lagi, mereka ini seperti Yajuj Majuj ga ada jera-jeranya!" Kyai Marjuki sepertinya sudah kehabisan akal untuk mencari cara membuat mereka supaya jera.
"Mata hati mereka benar-benar sudah ditutup oleh Allah," Kyai Jalil geleng kepala.
Huda membacakan Surat Al-Baqarah ayat dua enam sembilan: "Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak."
"Dan Allah menjadikan hati orang-orang yang beriman untuk menerima petunjuk." Huda melanjutkan membaca Surat Al-An'am ayat satu dua lima.
"Sesungguhnya dalam diri mereka ada cahaya yang menerangi." Seusai Huda membacakan Surat Al-A'raf ayat satu tujuh sembilan, Huda melanjutkan menyeret Buto Ireng ke api unggun.
Sambil mengangkat tubuh pria yang sudah bobrok itu, Huda membacakan ayat dua enam sembilan dari surat al Baqarah, "yu-til-hikmata may yasyaaa, wa may yu-tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab." Sambil mengikatnya ke salib.
"Hiaaaargh!" Buto Ijo merasa matanya seperti ada silau.
Dia mengerjab-ngerjab matanya, dan Huda membacakan lagi "yu-til-hikmata may yasyaaa, wa may yu-tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab!"
"Aku tidak aka terbakar! Aku tidak akan tersiksa oleh api Jahanam!"
Davos ikutan menyeret orang-orang yang pingsan ke dekat api unggun. Amir yang menyaksikan jadi ikutan pingin bakar-bakar panggang.
"Kalian lebih bengis dari pada iblis!" Umpat Buto Ireng yang melihat pengikutnya masih lemas diseret-seret ke dekat api unggun.
Huda membacakan surat Al'araf ayat dua ratus dengan konsentrasi, menundukkan wajah dengan tangan tengadah ke langit dan nada khidmat dalam ketundukan jiwa seperti yang diajarkan oleh Kyai Jalil yang kini berdiri menyaksikan di kejauhan, "Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan."
Surat An-Nahl ayat sembilan delapan "Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
Surat Al-Baqarah Ayat dua empat, "Dan jika kamu tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa Allah akan mengazab kamu dengan siksa yang pedih."
Surat An-Nahl Ayat delapan delapan "Bagi mereka azab Jahanam; tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari azab itu."
Surat Al-A'raf Ayat satu tujuh sembilan, "Sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
Surat Al-Muminun Ayat seratus empat "Maka tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Kami."
Davos dan Amir dengan cepat menyeret orang-orang lemas itu lalu membuat rerumputan terbakar api dengan kobaran besar.
Api itu semakin besar dan membakar tubuh mereka dengan kejam. Orang-orang yang terpanggang itu menjerit bukan main, seperti baru bangun dari mimpi. Mereka semua memekik seperti binatang buas yang disiksa.
"Paanaas!"
"Paanaas!"
Dalam benak mereka seperti tidak teringat sedikit pun terlintas asma Tuhan untuk mohon ampun dan meminta tolong. Yang ada hanya keluhan, "panas! Panas! Panas!"
"Minta lah bantuan kepada Allah!" Teriak Huda.
"Siapa itu Allah?! Aku tidak kenal! Hargh panas! Panas! Hargh panas!" Bentak Buto Ireng yang terlalap api.
"Parah asli kafir, sudah ditutup pintu taubatnya oleh Allah, ya Rabb... Naudzubillahi min dzalik!" Kyai Marjuki menitikkan air mata.
"Maka jadi lah arang yang dilahap kobaran api" kata lirih Huda dan Davos bersamaan dengan suara double layer disertai jin dalam jasad mereka.
Rombongan pendiri pemukiman tenda hitam itu pun terlibas habis oleh gilingan api yang muncul oleh kekuatan ghaib yang dipanggil Huda dan Davos.
Mereka kemudian meninggalkan puncak gunung Lawu di hutan ghaib itu dengan kembali berteleportasi.
Huda dan tim Kyai Jalil kembali pulang ke Inggris, sementara Kyai Marjuki ke Pekalongan, ia muncul tiba-tiba di depan masjid dengan kepulan angin. Para santri yang menyaksikan langsung berlari mendekat dan mencium tangannya sambil bertanya kondisinya agar bisa diantar beristirahat sesegera mungkin.
Sementara itu di Taman Budaya Semarang, para member Yuna mengurung semua khodam leluhur ke sebuah toples. Amarta menelpon Yuna untuk bertanya harus diapakan itu toples...
Singkat cerita Harun dan Aditya berpisah setelah berbicara ringan mereka menjadi sangat akrab karena ternyata sefrekwensi. Keesokan paginya mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka melakukan check-in dan menyerahkan barang bawaan. Setelah melewati proses keamanan, mereka menuju ke gerbang keberangkatan lalu menunggu panggilan untuk naik pesawat. Psawat lepas landas dari Jakarta pukul delapan pagi. Mereka menikmati pemandangan awan dan langit biru selama satu jam sepuluh menit sebelum pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Achmad Yani Semarang pukul sembilan lewat sepuluh menit.
Mereka keluar dari pesawat dan menuju ke area pengambilan barang. Setelah mengambil barang, mereka menuju ke pintu keluar bandara. Mereka dijemput oleh Amartha yang kini juga menjadi admin di komunitas Yuna.
"Assalamu alaikum!"
"Assalamu alaikum.."
"Waalaikum salam..."
"Lama ga jumpa Aa!" Harun dan Amartha saling berpelukan dan menepuk bahu.
"Iya Mas, piye kabare?" Harun.
"Alhamdulillah sae, kumaha damang Aa Harun teh?.." Amartha.
"Alhamdulillah sae atuh, kenalin ini Aditya yang join misi ke Magetan mencari leluhur yang bertugas menumpas Masjid Gemini..." Harun membuka tangan.
"Aditya Kertana... Om swastyastu..."
"Amartha, Bli... Om swastyastu..."
"Yaudah yuk ke rumah, istirahat..." Ajak Amartha berjalan di depan.
"Mangga.. mangga... Nyak sok atuh!" Riang Harun.
"Bang.. itu Mas-mas kok banyak banget pengawalnya ya?" Bisik Aditya.
"Maksud kamu?"
"Kaya banyak yang ngikutin, monyet-monyet putih memakai baju kaya orang jawa jaman dulu..."
"Oo itu pemain ludruk itu..." Harun menggeret koper.
"Gundulmu! Monyet-monyet putih lho Bang!"
"Anoman!"
"Aish... Khodamnya... Banyak banget tuh lompat-lompat di sana-sini, penuh ini bandara... Nah mereka semua tiba-tiba lari... Ada siapa tuh!"
"Apaan sih nih bocah!"
"Bang!" Aditya menarik tangan Harun.
"Astaga ada apa sih!"
Harun dan Aditya melihati di kejauha Amartha menuju mobil hitam yang terparkir di depan pintu keluar sementara mereka terhenti.
Ada seorang pria berjas, usianya sudah jauh lebih tua dari Amartha, menepuk pundaknya dari belakang. Amartha berbalik badan dan tersenyum ramah, mereka terlihat bersalaman tangan dan kemudian pria itu mengucapkan beberapa patah kata dan menepuk pundak Amartha si gemoy sambil berlalu meninggalkan si kawan satu itu.
"Ada apa?" Harun berbisik.
"Monyet-monyet putihnya sekarang ga ada di bandara lagi... Semua kabur seperti lenyap!"
"Trus?"
"Kaburnya setelah ada pria perlente itu tadi..."
"Anjay... Jadi maksudmu? Pria tadi itu?"
Amartha melambai ke mereka, "ngapain di situ, sini!"
"Aku yakin Amartha belum tahu soal ini" lirih Harun menyeret tangan Aditya sambil nyengir.
"Hehe tadi dia kebelet berak takut jalan katanya mau kentut eh ada ampasnya ikutan brojol jadi kami berhenti dulu biar dia bisa jepit lubang pantatnya! Hehe!" Mulut beracun Harun mode on.
"Bajingan, punya abang satu ini ya!" Aditya memukul lengan atas Harun.
"Hahahha!"
"Hahaha... Bisa aja... Yaudah ayo!"
Amartha mengajak masuk mobil. Mereka lalu menuju rumah Amartha dan beristirahat sambil leyeh-leyeh di gajebo langganan ngopi para tamu yang sering ngumpul.
"Mas... Khodam Sampeyan banyak bener ya..." Aditya buka omongan.
"Para pasukan monyet putih kecil-kecil kan?" Ramah Amartha.
"Iya... Itu kalau boleh tahu, Sampeyan dapat dari siapa?"
"Saya waktu itu bertapa di hutan gunung Merapi Bli, jadi saya dapat tasbih ghaib dan pasukan penjaga gunung Merapi... Mbah saya itu anggota para juru kunci gunung Merapi... Jadi turun temurun bakat saya ini..."
"Nah anehnya waktu pria berdasi tadi nyamperin Sampeyan, mereka melipir kabur..."
"Wah, ya ga heran donk, itu tadi petinggi di sini Bli, di badannya ada jin Illuminatinya..."
"Kenapa kabur Mas?"
"Mereka ga mau cari masalah ribut... Saya suruh tetap tenang... Tapi kalau Merapi diusik, kalau dia bikin aturan kirim pasir keluar Jawa Tengah... Para monyet ini akan bertindak tegas Bli, karena kalau sampai gunung Merapi berjalan-jalan alias pasirnya diangkut keluar Jawa Tengah... Itu tandanya wedhus gembel akan menyusul majikannya jalan-jalan alias meletus lah Merapi..."
"Memang seperti itu ya Mas?"
"Ya, memang seperti itu Bli..."
"Bang.." Aditya yang memegang kopi panas lupa, dia menoleh ke Harun buru-buru sampai tumpah air kopinya ke paha Harun.
"E jancuk... Panas... Panas...!"
"Maaf maaf!"
"Wanjer, akyu ga hompimpa! Jangan pegang paha akyuh ih!" Harun menepis tangan Adtya
"Anjir!" Aditya menepuk jidat.
"Hahaha.."
"Jadi ini kalian mau kemana setelah dari sini?" Amartha paham pasti ada tujuan Harun ke sini, dulu dia datang dengan luka, kini dia datang bertamu dengan utuh sehat kondisinya, Amartha manggut-manggut mengingat memori itu.
"Ke Magetan Jawa Timur! Mencari leluhur yang bertugas memberantas Masjid Gemini..." Jawab Harun sambil mengelus pahanya sebentar.
"Apa loe liat-liat!" Harun melirik ke Aditya yang melirik paha Harun yang tadi di elus.
"Ebuset dah, cuma liatin doank, aku ga hompimpa juga kales bok tolong deh! Mentang-mentang lagi bahas masjid amburadul masa gue kena juga hawa-hawa sialnya.. bangke lah!" Aditya mendorong Harun dan menyeret dirinya duduk menjauh.
"Haahhahaa!!" Amartha terkekeh.
"Jadi gimana nih ke Magetan spotnya mana juga aku belom tahu, disuruh nyari sendiri... Nah kamu lah yang terawang di mana lokasinya!"
"Kampret lah! Mana bisa konsentrasi kalau gini, nyebat dulu ah..." Aditya menyakakan rokok dan menghisapnya.
"Ya... Kalau susah... Kamu kan Indigo ya... Biasanya ya bisa nerawang tempat angker gitu... Atau kita ke pondok pesantren Magetan aja kali ya?"
"Pondok pesantren yang mana? Pondok di Magetan lumayan banyak lho Aa Harun.."
"Banyak?"
"Iya, tapi yang paling terkenal itu Pondok Pesantren milik Mbah Yai Imam Sofwan. Pondok Pesantren Al-Ittihad Magetan sejak tahun empat puluhan. Pondok ini lah satu pondok pesantren terbesar dan terkemuka di Jawa Timur, dengan fokus pada pendidikan agama, tahfizh Al-Qur'an, dan pengembangan karakter Muslim."
"Siapa tadi Mas namanya?!" Aditya menoleh sambil mengernyitkan jidat merasa ada getaran memori redusi dari mimpinya.
"Mbah Yai Imam Sofwan, Bli.." Amartha memelankan ejaannya.
"Kau mulai merasakan kepekaan?" Harun memastikan.
"Tunggu sebentar..." Aditya meletakkan rokoknya ke asbak lalu menutup mata sambil berkonsentrasi dalam titik hening.
Harun dan Amartha menunggu, mengamati sambil diam dan merokok. Membuat keheningan tetap bertahan menemani sukma Aditya yang melayang dalam jagat ayat.
Tidak lama kemudian sambil masih memejamkan mata, Aditya mulai bicara pelan dengan nada mengambang karena berada dalam kesadaran dua dunia.
"Mbah Yai Imam Sofwan bin Abdul Jalil seorang ulama Magetan, Jawa Timur. Meninggal tahun delapan sembilan. Aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Menjadi anggota Barisan Hizbullah dan Tentara Republik Indonesia. Terlibat dalam Pertempuran sepuluh November tahun empat lima di Surabaya.
Pada Februari delapan sembilan, Mbah Yai Imam Sofwan dibunuh di sumur miliknya. Peristiwa ini terjadi saat beliau sedang berwudhu. Pelaku pembunuhan adalah seorang santri yang mengalami gangguan jiwa." Aditya meringkas penglihatannya lalu membuka mata, mengambil kopi di cangkir dan menyeruputnya pelan dan kembali nyebat.
"Santri gila?" Heran Amartha.
"Kenapa Mas? jujur aja aku kalau sejarah ga tahu banyak apalagi soal beginian makanya aku datang ke sini, meminta Mas Amartha untuk ikut campur di misi ini..." Harun berharap Amartha bisa memimpin pencarian petunjuk di misi ini.
"Ikut campur hehehe... Bisa aja Aa teh, insyaaAllah saya ikutan...
Nah, setahu saya bukan santri gila yang bunuh tapi mbuh juga kalau memang ada orang penjajah yang nyamar jadi santri trus membunuh Beliau..." Duga Amartha.
"Memang sejarah yang sebenarnya gimana Mas?" Aditya penasaran.
"Kita mungkin akan mendatangi wilayah pemukiman orang santri Bli. Panjang cerita kalau soal Mbah Yai Imam Sofwan... Kita akan ke sumur Cigrok kalau begini alurnya..."
"Coba jelasin aja pelan-pelan Mas, kita relax ga capek kok..."
"Sumur Cigrok itu sumur tempat pembantaian para kyai dan santri. Ada banyak sumur yang PKI pakai untuk bunuh para Kyai.
Beberapa sumur yang dilaporkan sebagai tempat pembantaian santri dan kyai oleh PKI tahun sembilan belas enam lima, di Jawa Timur itu ya Sumur Kebo Sari, Magetan. Sumur Cikapundung, Magetan itu malah tempat pembantaian massal. Sumur Ngadiluwih, Kediri itu tempat pembantaian kyai dan ulama. Di Jawa Tengah ada Sumur Simo, Boyolali itu juga tempat pembantaian kyai dan ulama. Sumur Kedung Ombo, Grobogan itu juga justru tempat pembantaian massal. Di Jawa Barat ada Sumur Cimande, Cianjur itu tempat pembantaian kyai dan ulama. Di Bali Sumur Suwung, Badung itu tempat pembantaian massal." Jelas Amartha.
"Nah kali ini coba Mas jelasin yang sumur di Magetan ini Mas!" Penasaran Aditya.
"Cigrok hanyalah salah satu tempat dari dua puluh empat desa di sekitarnya yang menjadi lokasi pembantaian para kyai dan para santri. Desa-desa itu semua adalah kampung santri.
Di sumur tua Cigrok itu Kyai Imam Sofwan dari Kebonsari, termasuk di antara salah satu korban keganasan kawanan PKI di bawah komando Muso pada tahun empat delapan. Kyai ini dipukuli lalu diceburkan ke dalam sumur itu. Itu kisah yang sudah menjadi cerita umum masyarakat di sekitar Cigrok.
Tapi meski pun Beliau dihajar dan dihujani aneka benda-benda keras dari atas sumur, Kyai Imam Sofwan belum menghembuskan nafas terakhir juga. Dalam kondisi yang sudah kritis, Beliau memasrahkan dirinya kepada Gusti Allah lantas mengumandangkan lantunan adzan.
Ada warga setempat namanya Muslim yang tinggal tidak jauh dari sumur itu, dia rupanya mendengar suara adzan tersebut. Malam dini hari itu katanya memang mencekam. Terdengar suara gaduh para pasukan FDR atau PKI yang membentak-bentak para tawanan. Ia hanya bisa mengintip dari bilik rumahnya karena ketakutan, namun dalam pendengarannya itu Muslim merasa seperti mengenali suara azan dari salah satu sumur itu. Semakin dilamatkan pendengarannya, ia semakin yakin pemilik suara adzan itu adalah Kyai Imam Sofwan dari pesantren Kebonsari.
Karena sudah kelelahan dan tenaga habis Kyai Imam Sofwan akhirnya wafat bersama tumpukan mayat-mayat yang penuh anyir darah. Naasnya, tidak jauh dari sumur itu, kedua putra Kyai Imam Sofwan yang bernama Kyai Zubair dan Kyai Bawani juga ikut menjadi korban pembantaian di sebuah sumur di Desa Kepuh Rejo.
Saya baca dari sebuah situs di situ ada saksi mata bernama Achmad Idris yang ketika itu juga sebagai tawanan tentara FDR atau PKI. Dia menyaksikan penjagalan biadab itu semua dari kejauhan. Meski sayup-sayup, dia sangat mengenal suara adzan Mbah Yai Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu. Sebab, ia sering mendengarkan pengajian-pengajiannya.
Idris menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sambil dengan tangan terikat mereka berdiri dihadapkan ke sumur. Para tawanan itu satu persatu dihantam dengan pemukul lalu menjerit roboh ke dalam sumur.
Tak semuanya langsung gugur dan tewas dalam pesta penjagalan itu. Ada yang masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka berusaha menggapai dan mencari pegangan untuk bertahan. Melihat para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Hal yang sama sebagaimana dialami Kyai Imam Sofwan beserta kedua anaknya Kyai Zubair dan Kyai Bawani yang masih hidup ketika dimasukkan ke dalam sumur.
Korban sumur Cigrok setidaknya berjumlah dua puluh dua orang. Di antara para korban itu selain ada Kyai Imam Sofwan adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM Takeran.
Addaba’ adalah seorang ustadz dari Mesir yang ditugaskan mengajar di Pondok Pesantren Takeran. Imam Faham adalah adik Muhammad Suhud yang juga jadi korban keganasan PKI.
Imam Faham sendiri sebetulnya ikut mengiringi Kyai Imam Mursyid Muttaqin saat dibawa oleh mobil PKI seusai Jumat, tujuh belas September empat delapan. Namun, di tengah perjalanan rupanya Mbah Yai dan pengawalnya rupanya dipisahkan dari rombongan. Imam Faham diturunkan di tengah jalan dan keesokannya ditemukan dikubur di lubang sumur pembantaian Cigrok.
Tak hanya para kyai dan santri yang menjadi korban, Camat Takeran Prijo Utomo juga dijagal di sumur Cigrok itu bersama Komandan Polisi Takeran yang bernama Martowidjojo beserta beberapa anak buahnya. Itu yang saya tahu dari seorang narasumber bernama Anab Afifi tahun lalu dalam jurnalnya" Papar Amartha dengan nada sendu.
"Jadi... Ini misi ada kaitannya dengan Mbah Yai Sofwan?" Aditya bertanya kepada Harun.
"Humm... Sebentar... Urang hubungi dulu admin empat empat end..." Harun merogoh sakunya dan menelepon Yuna.
'Assalamu alaikum..'
'Wa alaikum salam wa rahmatullah...'
'Neng, ini sudah ada petunjuk, urang ngobrol sama Aditya sama Mas Amartha... Petunjuknya mengarah ke Mbah Yai Imam Sofwan Magetan Jawa Timur... Mungkin Neng ada petunjuk untuk memperjelas kepada kami nih, bener ngga sasaran leluhur kita itu Beliau...'
'Sebentar saya nanya dulu ke Gusti Allah lewat membaca al-Qur'an..'
Yuna kemudian menulis: 'Ya Allah apakah benar Mbah Yai Sofwan yang bertugas mendoakan keadaan Masjid Gemini supaya masjidnya bubar?' ke gawainya.
Pertanyaan itu tercatat sebagai catatan tanggal empat belas Februari dua ribu empat belas jam lima belas tiga puluh. Yuna kemudian menjumlahkannya dengan angka numerologi kelahirannya yaitu angka tiga. Sehingga mendapatkan angka delapan.
'Buka al-Qur'an surat delapan ayat delapan, namun untuk menguatkan pikiran bacalah ayat disekitar ayat delapan' kata Yuna di telepon.
Amartha mengambil al-Qur'an terjemahan yang berada di lemari gajebo, lalu mencari halaman juz sembilan dan menemukan surat al-Anfal ayat delapan.
"Subhanallah, ini saya bacain sekitar ayat delapan ya Mba..." Kata Amartha agak keras.
Amartha membacakan surat dan maknanya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke tujuh surat al-Anfal: Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjata lah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke delapan surat al-Anfal: Agar Allah memperkuat yang hak Islam dan menghilangkan yang batil syirik walaupun orang-orang yang berdosa musyrik itu tidak menyukainya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke sembilan surat al-Anfal: Ingat lah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.'
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke sepuluh surat al-Anfal: Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Mendengar kerampungan bacaan Amartha maka kemudian Yuna menjelaskan karena ada Aditya yang belum mengenal istilah tertentu, "Ulama merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama, khususnya Islam. Mereka dipandang sebagai pemahaman dan penafsiran ayat-ayat Allah SWT. Dalam Islam, ulama memiliki peran penting sebagai Pemahaman dan penafsiran Al-Qur'an dan Hadits, Pembimbing spiritual dan moral, Pengembang ilmu pengetahuan Islam, Pemberi fatwa dan saran hukum dan Pendidik dan pengajar agama.
Dalam Al-Qur'an, ulama disebutkan dalam beberapa ayat, seperti Surat Al-Baqarah ayat satu dua sembilan, Surat Al-Baqarah ayat dua tiga satu, Surat Al-Imran ayat delapan belas dan surat An-Nahl ayat empat tiga.
Ulama harus memiliki sifat-sifat seperti memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, kebijaksanaan dan kesabaran, keadilan dan kejujuran, ketaqwaan dan ketakwaan dan kemampuan berkomunikasi efektif.
Dengan demikian, ulama memang merupakan 'Ayat Allah' karena mereka membantu umat memahami dan mengamalkan ajaran-Nya.
Artinya jawaban Allah tadi mengkonfirmasi kebenaran betul tidak Mbah Yai Imam Sofwan adalah ayat-Nya dalam urusan ini.
Oke, kita akan adakan acara mendoakan Beliau secara online berjamaah di rumah masing-masing setelah sholat fardlu di rumah masing-masing dengan sistem absen... ' Papar Yuna, mendengar itu maka Aditya manggut-manggut.
'Mba kita udah terlanjur sampai ke sini nih... Di Semarang... Ada tugas lain ngga biar kita selesaikan di sini?' Obrol Aditya.
'Ada... Coba meet up sama member-member kita lalu adakan acara bersama kalian di situ... Kita coba cari tahu efeknya jika orang seperti kalian berkumpul, ada reaksi alam apa... Dan apa kah akan ada yang tidak diinginkan terjadi... Himbaukan untuk waspada... Kita tidak tahu apa akibatnya jika semua paku bumi berkumpul...'
67
Comments
Post a Comment