Bab 27 Yuna & Jess
Yuna kini bertempt tinggal di Bangk dengan Jess, tidak ada satu orang pun yang tahu. Jess yang berperawakan tinggi, berbahu bidang luas, berkacamata dengan model potongan rambut middle part itu lumayan terkenal di Bangka. Karena dia salh satu orang yang memiliki sebuah usaha penjualan ikan terlaris di wilayahnya.
Bangka adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia. Pulau ini memiliki beberapa tempat yang dianggap angker atau memiliki reputasi sebagai tempat yang berhantu.
Beberapa tempat di Bangka yang dianggap angker antara lain, Pantai Pasir Padi, pantai ini terletak di Bangka Selatan dan dikenal memiliki pasir yang putih dan halus. Namun, beberapa orang mengklaim bahwa pantai ini dihantui oleh roh-roh penasaran.
Hutan Mangrove di Sungai Liat, hutan mangrove ini terletak di Bangka Tengah dan dikenal memiliki ekosistem yang unik. Namun, beberapa orang mengklaim bahwa hutan ini dihantui oleh roh-roh yang tidak tenang.
Gunung Menumbing, gunung ini terletak di Bangka Barat dan dikenal memiliki pemandangan yang indah. Namun, beberapa orang mengklaim bahwa gunung ini dihantui oleh roh-roh yang tidak tenang.
Pantai Tanjung Kelayang, pantai ini terletak di Bangka Selatan dan dikenal memiliki batu granit yang unik. Namun, beberapa orang mengklaim bahwa pantai ini dihantui oleh roh-roh penasaran.
Yuna dan Jess tinggal di Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tempat ini memiliki sejarah kelam sebagai tempat pembuangan mayat para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa perang kemerdekaan tahun 1945-1949.
Pada masa itu, Pangkalpinang menjadi salah satu daerah yang menjadi ajang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak pejuang kemerdekaan yang gugur dalam perang melawan Belanda di daerah ini.
Menurut sejarah, banyak mayat para pejuang kemerdekaan yang dibuang ke laut atau dikuburkan di tempat-tempat yang tidak diketahui, termasuk di Pangkalpinang. Hal ini dilakukan oleh pihak Belanda untuk menghilangkan jejak-jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namun, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, upaya untuk mengumpulkan dan menguburkan kembali mayat para pejuang kemerdekaan yang gugur di Pangkalpinang dilakukan. Saat ini, terdapat beberapa taman makam pahlawan di Pangkalpinang yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para pejuang kemerdekaan.
Namun ada desas-desus yang mengganggu benak Yuna. Bangka tengah mengalami tiarap ekonomi setelah kasus korupsi timah mencuat ke publik. Yuna mengendus adanya aroma-aroma ikut campurnya kerajaan ular laut selatan selama ini dalam melindungi aksi para mavia koruptor itu.
Sehingga dia mengadakan sebuah aksi perang secara fisik, Jess dimintainya untuk mengantarnya ke pantai Toboali. Pantai Toboali adalah salah satu pantai yang terletak di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Pantai ini dikenal memiliki keindahan alam yang luar biasa, dengan pasir putih yang halus dan air laut yang jernih.
Pantai Toboali juga memiliki beberapa fasilitas wisata, seperti penginapan, restoran, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Selain itu, pantai ini juga menjadi tempat yang populer untuk melakukan aktivitas-aktivitas seperti berenang, snorkeling, dan memancing.
Namun, perlu diingat bahwa Pantai Toboali juga memiliki sejarah kelam sebagai tempat pembuangan mayat para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa perang kemerdekaan tahun 1945 sampai tahu 1949. Oleh karena itu, pantai ini juga menjadi tempat yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting namun juga di samping itu, dia memiliki reputasi sebagai salah satu pantai angker di Indonesia.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Pantai Toboali pernah digunakan sebagai tempat pembuangan mayat para pejuang kemerdekaan Indonesia. Hal ini diyakini sebagai penyebab utama keangkeran pantai ini.
Banyak orang yang mengklaim telah melihat penampakan hantu atau arwah penasaran di sekitar pantai ini. Beberapa orang juga mengklaim telah mendengar suara-suara aneh, seperti suara tangisan atau suara langkah kaki, di sekitar pantai ini. Ada beberapa kasus kematian misterius yang terjadi di pantai ini, yang diyakini sebagai akibat dari keangkeran pantai. Bahkan beberapa orang percaya bahwa Pantai Toboali dikutuk oleh arwah-arwah penasaran yang tidak tenang.
*
*
*
Malam purnama di Pantai Toboali terasa sangat menyeramkan. Yuna dan Jess duduk di tepi pantai, menikmati keindahan malam yang tenang. Jess merangkul Yuna dan meletakkan kepala Yuna di bahunya.
"Sayang, kamu ga mau nikah sama cowo lagi kah?" Kata Jess hangat.
"Tidak, aku tidak mau... Kemarin itu aku menikah karena terpaksa kok... Biar aku tidak berkelahi dengan adikku.." Jawab Yuna pelan.
"Kamu tahu kan aku ini cewe, dan... Meski pun aku tuh sangat cinta sama kamu tapi... Aku merasa kaya, aku ga pantas aja gitu buat kamu..." Jess dengan suara nge-bass-nya berbicara dengan nada lembut.
"Kan aku sama kamu ngga butuh nge-sex... Yaudah... Jalani aja, yang penting kan kita jadi keluarga gitu... Roxane damai... Tuh buktinya di dalam tenta dia ayem aja..." Hibur Yuna, meyakinkan Jess bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja ke depannya.
"Yaudah, aku yakin sama kamu..." Jess mengecup kening Yuna lekat-lekat.
"Cuman, aku ini diincar sama orang satanis karena di masa lalu aku tuh... Seorang... Pemburu, bagi mereka... aku itu ancaman, gitu.." Yuna ragu untuk mengakui.
"Iya, yang kamu ceritain kemarin itu kan? Aku juga sejujurnya dari kecil tuh bisa lihat barang-barang ga kasat mata gitu, aku juga peka... Tapi aku ga ambil pusing sih, bikin gila ntar yang ada.." Jess mengimbangi tema obrolan.
"Aku ga bisa lihat tapi kalau mereka bisa bikin mataku melihat itu artinya wow kekuatannya mereka tuh..." Yuna merangkul pinggang Jess dengan hangat.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara-suara aneh, seperti suara tangisan dan suara langkah kaki. Mereka saling menatap, merasa tidak nyaman. Bayangan-bayangan yang tidak biasa mulai muncul di sekitar mereka, membuat mereka berusaha untuk tidak panik.
"Kamu denger ga, Yang?" Bisik Jess.
"Iya, denger..." Yuna melepas diri dari Jess dan bangkit, mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
Tiba-tiba, roh jahat muncul di depan Yuna dan Jess. Roh jahat itu muncul dengan bentuk yang menyeramkan. Tubuhnya seperti kabut hitam yang mengambang di udara, dengan wajah yang tidak jelas dan mata yang merah seperti api. Bentuknya seperti bayangan yang hidup, dengan gerakan yang lambat dan mengancam. Suaranya seperti angin yang berhembus kencang, dengan nada yang tinggi dan menyeramkan. Ketika ia bergerak, udara di sekitarnya terasa seperti bergetar dengan kehadirannya yang menakutkan. Yuna dan Jess merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika mereka melihat roh jahat itu, dengan energi angker yang tidak dapat mereka hindari.
Dengan keberanian yang tidak terduga, Yuna dan Jess maju untuk mengusir roh jahat itu. Mereka berdiri berdampingan, dengan mata yang terfokus pada target mereka. Yuna mengangkat tangannya, dan dari ujung jarinya muncul cahaya putih yang terang. Jess, di sisi lain, mengucapkan mantra yang kuat, yang membuat udara di sekitar mereka bergetar dengan energi positif. Cahaya putih Yuna dan mantra Jess bergabung menjadi satu, menciptakan ledakan energi yang kuat yang mengenai roh jahat itu. Roh jahat itu terjatuh ke tanah, berusaha untuk bangun kembali, tetapi Yuna dan Jess tidak memberinya kesempatan. Mereka terus mengucapkan mantra dan memancarkan cahaya putih, hingga akhirnya roh jahat itu menghilang ke dalam kegelapan, tidak pernah terlihat lagi.
"Mantra apa yang kamu ucapkan tadi?" Tanya Jess dan Yuna saling menatap, bertukar pandangan secara bersama-sama.
"Jadi? Kamu tidak tahu?" Kata mereka bersamaan lagi.
"Itu tadi muncul tiba-tiba!" Jawab Yuna sebelum ditanya Jess lagi.
"Sama! Tapi bagaimana kita bisa mengucapkan semua mantra unik tadi dengan lancar ya?" Jess tercengang.
Tidak lama kemudian bergulir angin sangat kencang dengan suara-suara rerintihan menyeruak memecah suara ombak yang bergemuruh disapu angin.
Roh para pahlawan bangsa yang telah gugur di medan perang bangkit dari dalam tanah di pantai yang sunyi, seperti gelombang kehormatan yang menghantam pantai. Mereka berjalan dengan langkah yang tenang dan penuh hormat, menuju ke arah Yuna dan Jess yang sedang berdiri di tepi pantai, seolah-olah waktu itu sendiri berhenti untuk menyambut kedatangan para pahlawan tersebut. Angin laut yang sejuk membawa aroma bunga kamelia yang harum, seolah-olah menyambut kedatangan para pahlawan dengan lagu keabadian. Yuna dan Jess merasakan kehadiran yang agung dan mulai menundukkan kepala sebagai tanda hormat, seolah-olah mereka sedang berdiri di hadapan sejarah itu sendiri.
Roh para pahlawan berjalan dengan kaki yang kabur bayangannya di atas pasir pantai, sebab mereka meembus dari dimensi lain, mereka berhenti di depan Yuna dan Jess, dengan mata yang bersinar penuh kebijaksanaan. Mereka melihat kedua sahabat itu dengan pandangan yang dalam, seolah-olah melihat ke dalam jiwa mereka.
Kemudian, salah satu roh pahlawan tersebut berbicara dengan suara yang lembut namun penuh otoritas, "Yuna dan Jess, kami telah memperhatikan perjuangan kalian. Kami akan memberikan kalian rahasia unik yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Rahasia ini akan membantu kalian dalam perjuangan kalian melawan kejahatan. Siapkan diri kalian, karena rahasia ini akan mengubah segalanya."
"Rahasia?" Yuna menggandeng tangan Jess erat-erat.
"Rahasia apa itu? Untuk berjuang melawan kejahatan?" Jess mengernyitkan alisnya.
Roh pahlawan tersebut kemudian membuka mulutnya dan berbicara dengan suara yang lebih pelan, "Rahasia ini adalah tentang kekuatan 'Energi Kehormatan'. Energi ini adalah sumber kekuatan yang sangat besar, yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dan niat yang tulus. Energi ini dapat digunakan untuk melawan kejahatan, menyembuhkan luka, dan memberikan kekuatan kepada mereka yang membutuhkannya."
Roh pahlawan tersebut kemudian menatap Yuna dan Jess dengan mata yang bersinar, "Kalian berdua memiliki potensi untuk mengakses energi ini. Apakah kalian siap untuk menerima rahasia ini dan menggunakan kekuatan 'Energi Kehormatan' untuk kebaikan?"
"Apakah energi ini sama dengan energi tadi yang membuat kami mengucapkan mantra ajaib?" Yuna penasaran.
"Benar!" Jawab roh pahlawan.
Yuna dan Jess saling menatap, kemudian mereka mengangguk bersamaan. Roh pahlawan tersebut tersenyum dan mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Baiklah, saya akan mengajarkan kalian cara mengakses 'Energi Kehormatan'. Namun, perlu diingat bahwa kekuatan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi atau untuk menyakiti orang lain. Kalian harus menggunakan kekuatan ini dengan bijak dan bertanggung jawab."
Roh pahlawan tersebut kemudian mengangkat tangan kanannya dan menempatkannya di atas kepala Yuna dan Jess.
"Tutup mata kalian dan fokus pada energi yang ada di dalam diri kalian. Rasakan kekuatan 'Energi Kehormatan' yang mulai mengalir ke dalam tubuh kalian..." Lanjutnya.
Yuna dan Jess menutup mata mereka dan fokus pada energi yang ada di dalam diri mereka. Mereka merasakan suatu kekuatan yang mulai mengalir ke dalam tubuh mereka, seperti arus listrik yang mengalir melalui pembuluh darah mereka. Kekuatan itu membuat mereka merasa lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya diri.
Roh pahlawan tersebut kemudian berbicara lagi, "Rasakan kekuatan 'Energi Kehormatan' yang ada di dalam diri kalian. Biarkan kekuatan itu mengalir ke dalam setiap sel tubuh kalian. Kalian akan merasakan perubahan yang besar dalam diri kalian, perubahan yang akan membuat kalian menjadi lebih kuat dan lebih berani."
Yuna dan Jess merasakan perubahan yang besar dalam diri mereka. Mereka merasa seperti telah dilahirkan kembali, dengan kekuatan dan kemampuan yang baru. Mereka membuka mata mereka dan menatap roh pahlawan tersebut dengan rasa hormat dan terima kasih.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara teriakan minta tolong dari jauh. Yuna dan Jess menatap satu sama lain, dan tanpa berkata apa pun, mereka berdua berlari menuju suara teriakan tersebut.
Salah satu roh pahlawan berteriak, "hati-hati dengan jebakan maut!"
Yuna menoleh ke belakang, dan pantai itu telah sepi, hanya ada tenta yang berisikan Roxane yang pulas.
Kemana suara tadi? Dari mana asalnya? Jess mengitar ke sana ke mari namun tidak menemukan apa-apa.
Namun, tiba-tiba saja bulan berselimut awan. Angin kencang tiba-tiba datang lagi. Jess meraih tangan Yuna dan menggenggamnya erat. Perempuan maskulin itu menyebarkan pandangan ke segala arah karena takut akan kondisi genting yang bisa membahayakan Roxane dalam tenda.
Dan benar saja, secara perlahan, gerbang pergesekan batas dimensi ke lima terjadi lagi. Terlihat roh yang berpenampilan berbusana adat Jawa kuno muncul di bibir pantai, nampak kondisinya mengenaskan.
Tubuhnya yang dulunya kuat dan gagah, kini terlihat lemah dan kurus. Mata yang dulunya berkilauan dengan kekuasaan, kini terlihat redup dan murung. Rambutnya yang dulunya hitam dan panjang, kini terlihat putih dan tipis. Yuna dan Jess terkejut melihat kondisi roh tersebut.
Roh pria itu menatap Yuna dan Jess dengan mata yang sedih.
"Aku adalah Abdi Raja Mataram," katanya dengan suara yang lemah.
Jess mempererat gandengannya dengan Yuna.
"Aku yang pernah berkuasa di tanah Jawa, aku yang pernah memiliki kekuatan dan kekayaan yang melimpah. Namun, aku juga yang pernah dikhianati dan dihancurkan oleh Belanda." Roh Abdi Raja Mataram berhenti sejenak, sebelum melanjutkan.
"Aku datang ke sini untuk meminta bantuan kalian. Aku ingin kalian membantu aku membalas dendam kepada Belanda yang telah menghancurkan aku dan kerajaanku."
"Menghancurkan?" Yuna semakin skeptis dengan pengalaman malam ini.
Roh itu mulai menceritakan kisah kelam Belanda yang memang memiliki sejarah yang kompleks dengan Indonesia, terutama dalam hal perdagangan dan penjajahan.
Pada abad ke-17, Belanda mulai melakukan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, termasuk Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten. Dalam perdagangan tersebut, Belanda membeli rempah-rempah, kopi, dan komoditas lainnya dari Indonesia.
Namun, Belanda juga memiliki utang kepada kerajaan-kerajaan di Indonesia, terutama dalam bentuk emas.
Pada tahun 1648, Belanda berhutang sekitar 100.000 gulden kepada Kerajaan Mataram, yang merupakan kerajaan terkuat di Jawa pada saat itu.
Utang tersebut terjadi karena Belanda membutuhkan emas untuk membiayai perang melawan Spanyol dan Portugis. Kerajaan Mataram, yang memiliki cadangan emas yang besar, memberikan pinjaman kepada Belanda dengan bunga yang tinggi.
Namun, Belanda tidak pernah membayar utang tersebut secara penuh. Sebaliknya, mereka menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Indonesia dan memperoleh kontrol atas sumber daya alamnya, termasuk emas.
Maka itu adalah sejarah bagaimana awal mula kenapa akhirnya Belanda menjajah Indonesia, agar tidak membayar hutang emas mereka kepada Indonesia.
Mengetahui sejarah ini, Jess dan Yuna terperanjat. Dtambah lagi, intrik yang terjadi ternyata sangat plot twist. Sebab setelah menceritakan hal itu, roh itu menceritakan misi lain yang harus lebih diutamakan dan pertama-tama harus dijalankan Yuna dan Jess, sebelum ke misi pengembalian emas, sebab tanpa melewati misi urgent ini maka misi untuk mengembalikan emas ke Indonesia tidak akan bisa dicapai.
*
*
Roh leluhur itu melanjutkan lagi penuturannya, "Timah di Bangka, yang dulunya menjadi sumber kekayaan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia, kini telah jatuh ke tangan orang-orang Cina yang licik dan berkuasa," kata roh Abdi Raja Mataram dengan suara yang penuh kesedihan dan kemarahan, ia membuka secara blak-blakan misi urgent itu.
"Mereka telah mengkorupsi dan mengeksploitasi sumber daya alam kita, meninggalkan kita dalam keadaan miskin dan terlantar." Lanjutnya.
Yuna dan Jess mendengarkan dengan hati yang berat, ada rasa kesal dan marah atas kejadian tersebut.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kejahatan ini," kata Yuna dengan suara yang tegas.
"Tapi kita tidak tahu siapa dalangnya?" Jess menegaskan.
"Dalangnya adalah orang-orang Cina yang berkuasa dan memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Indonesia," kata roh Abdi Raja Mataram dengan suara yang penuh kemarahan.
"Mereka telah menggunakan kekuasaan dan pengaruh mereka untuk mengkorupsi dan mengeksploitasi sumber daya alam kita, tanpa mempedulikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat."
Mereka tahu bahwa korupsi dan pengeksploitasian sumber daya alam merupakan masalah yang serius di Indonesia, dan bahwa perlu ada tindakan yang kuat untuk menghentikan kejahatan ini.
"Namun pasti ada biang kerok utamanya!" Yuna gemas.
"Ya, satu orang yang lebih berkuasa dan berpengaruh dari mereka semua," kata roh Abdi Raja Mataram dengan suara yang penuh misteri. "Orang itu adalah... Li Wei!"
"Li Wei?" Jess mengurut dagunya.
"Li Wei adalah seorang pengusaha Cina yang sangat berkuasa dan berpengaruh di Indonesia," kata romadewa Abdi Raja Mataram dengan suara yang penuh kemarahan.
"Dia memiliki kepentingan bisnis yang luas di Indonesia, termasuk di bidang pertambangan, kehutanan, dan sistem dasar. Dia juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan beberapa pejabat tinggi di Indonesia, sehingga dia dapat memanipulasi kebijakan pemerintah untuk kepentingan bisnisnya sendiri." Jelas roh tak tenang itu.
Korupsi dan kolusi antara pengusaha dan pejabat pemerintah adalah masalah yang serius di Indonesia, dan bahwa perlu ada tindakan yang kuat untuk menghentikan kejahatan ini.
"Li Wei juga memiliki rencana untuk menguasai sumber daya alam Indonesia secara total," kata roh Abdi Raja Mataram dengan suara yang penuh kemarahan.
"Dia ingin menghancurkan kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan bisnisnya sendiri," lanjut sang roh penanti kiamat.
"Tapi, saat ini masih Pandemi, kondisi kita kena locked down. Ga bisa kemana-mana untuk mencari bahan bukti, mencari dukungan banyak orang, sistem lumpuh!" Yuna geram.
"Ada, satu-satunya jalan.." kata roh itu.
"Apa itu?" Jess menjadi lebih tertarik dengan masalah ini, jiwa patriotismenya meronta-ronta.
"Menembus dimensi tempat roh leluhur Li Wei bersemayam dan menggugat mereka!" Tajam mata sang roh adbi kerajaan mataram tersebut.
"Menembus dimensi tempat roh leluhur Li Wei bersemayam dan menggugat mereka?" Yuna dan Jess saling menatap dengan mata yang lebar dan tak percaya.
Mereka tidak bisa membayangkan bahwa mereka harus melakukan sesuatu yang begitu ekstrem dan berisiko.
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Jess dengan suara yang ragu-ragu.
"Kita tidak tahu apa-apa tentang dimensi tersebut, apalagi tentang roh leluhur Li Wei."
Roh Abdi Raja Mataram tersenyum dengan senyum yang misterius. "Aku akan memberikan kalian petunjuk dan bantuan yang dibutuhkan. Tapi, kalian harus siap untuk menghadapi risiko dan tantangan yang besar."
Yuna dan Jess saling menatap lagi, dan kemudian mereka mengangguk bersamaan.
Mereka siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi, demi keadilan dan kebenaran.
"Kita akan menembus dimensi yang tak terlihat, menavigasi labirin waktu dan ruang, untuk mencapai tempat persemayaman roh leluhur Li Wei," kata roh Abdi Raja Mataram dengan suara yang bergetar dengan emosi.
"Kita akan menghadapi tantangan yang tak terbayangkan, mengatasi rintangan yang tak terlihat, dan mengalahkan kekuatan yang tak terkalahkan."
Yuna dan Jess merasa hati mereka berdebar dengan antisipasi, saat mereka membayangkan petualangan yang akan mereka hadapi.
Mereka merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang dalam, dengan kegelapan yang tak terlihat di bawahnya, dan hanya memiliki satu pilihan: melompat ke dalam jurang tersebut, atau kembali ke belakang dan meninggalkan keadilan dan kebenaran yang mereka cari.
"Apakah kita siap untuk mengambil risiko ini?" tanya roh Abdi Raja Mataram, dengan mata yang memandang mereka dengan tajam.
"Apakah kita siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi, demi keadilan dan kebenaran?"
Yuna dan Jess saling menatap, dan kemudian mereka mengangguk bersamaan, dengan hati yang berdebar dengan antisipasi dan keberanian.
Mereka siap untuk mengambil risiko tersebut, siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi, demi keadilan dan kebenaran.
Yuna berjalan ke tenda, mengambil Roxane yang pulas, menggendongnya dengan kain panjang motif batik lalu kembali mendekati Jess.
Dengan keberanian yang membara di hati mereka, Yuna yang sambil menggendong Roxane dan Jess mengikuti roh Abdi Raja Mataram menuju ke dimensi yang tak terlihat.
Mereka melewati batas-batas waktu dan ruang, dan memasuki dunia yang penuh dengan misteri dan keajaiban.
Di dalam dimensi tersebut, mereka menemukan diri mereka berada di sebuah tempat yang indah dan menakjubkan. Ada sebuah danau yang luas dan biru, dikelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi dan hijau. Ada juga sebuah gunung yang menjulang tinggi, dengan puncak yang tersembunyi di dalam awan.
"Tempat ini adalah tempat persemayaman roh leluhur Li Wei," kata roh Abdi Raja Mataram, dengan suara yang penuh dengan hormat.
"Di sini, kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan kita, dan kita akan menghadapi kekuatan yang tak terkalahkan."
Yuna dan Jess merasa hati mereka berdebar dengan antisipasi, saat mereka memandang ke arah gunung yang menjulang tinggi.
Mereka tahu bahwa mereka harus siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi, demi keadilan dan kebenaran.
Mereka memulai perjalanan mereka menuju ke puncak gunung, dengan roh Abdi Raja Mataram sebagai pemandu mereka. Di sepanjang jalan, mereka menemukan berbagai macam rintangan dan tantangan, dari binatang buas hingga labirin yang rumit. Namun anehnya, Roxane tidak rewel, dia tertidur pulas dengan segala keimutannya.
Berkat keberanian dan ketabahan, mereka berhasil melewati semua rintangan tersebut dan akhirnya mencapai puncak gunung. Di sana, mereka menemukan sebuah kuil yang indah dan menakjubkan, dengan arsitektur yang unik dan dekorasi yang mewah.
"Kuil ini adalah tempat persemayaman roh leluhur Li Wei," kata roh Abdi Raja Mataram.
Yuna dan Jess memasuki kuil tersebut, dengan hati yang berdebar dengan antisipasi. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan di dalam kuil tersebut, namun mereka siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Di dalam kuil tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan yang gelap dan sunyi. Di tengah-tengah ruangan tersebut, ada sebuah patung yang besar dan menakjubkan, dengan wajah yang serius dan mata yang tajam.
"Siapa itu?" tanya Yuna, dengan suara yang pelan.
"Itu adalah roh leluhur Li Wei," jawab roh Abdi Raja Mataram, dengan suara parau.
"Dia adalah kekuatan yang tak terkalahkan, dan dia akan memberikan jawaban atas pertanyaan kita."
Roh leluhur Li Wei membuka matanya yang tajam dan memandang Yuna dan Jess dengan cara yang dalam.
Mereka merasa seperti sedang diuji dan dinilai oleh kekuatan yang tak terkalahkan tersebut.
"Apa yang kalian cari?" tanya roh leluhur Li Wei dengan suara yang dalam dan berwibawa.
Yuna dan Jess saling menatap dan kemudian menjawab dengan suara yang berani. "Kami mencari keadilan dan kebenaran. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik korupsi dan kolusi yang melibatkan Li Wei dan pejabat-pejabat pemerintah."
Roh leluhur Li Wei memandang mereka dengan cara yang lebih dalam lagi. "Kalian berani mempertanyakan kekuasaan yang ada. Kalian berani mencari keadilan dan kebenaran. Aku akan memberikan kalian jawaban yang kalian cari, tapi kalian harus siap untuk menerima konsekuensi dari jawaban tersebut."
Yuna dan Jess saling menatap dan kemudian mengangguk bersamaan.
Roh leluhur Li Wei kemudian membuka mulutnya dan mengucapkan kata-kata yang membuat Yuna dan Jess terkejut...
*
*
"Li Wei bukanlah orang yang sebenarnya berkuasa," kata roh leluhur Li Wei dengan suara yang dalam dan berwibawa.
"Dia hanya sebuah boneka yang dikendalikan oleh kekuatan yang lebih besar dan lebih berbahaya."
Yuna dan Jess saling menatap dengan mata yang lebar dan tak percaya. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa Li Wei, orang yang mereka anggap sebagai musuh utama, sebenarnya hanya sebuah boneka.
"Siapa yang berkuasa di balik Li Wei?" tanya Yuna dengan suara penuh percaya diri.
Roh leluhur Li Wei memandang mereka dengan lekat. "Kekuatan yang berkuasa di balik Li Wei adalah sebuah organisasi rahasia yang telah ada selama berabad-abad. Mereka memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar, dan mereka akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan mereka."
Jess mengangguk dengan mata yang lebar. "Aku paham. Mereka adalah sebuah organisasi yang sangat berbahaya dan harus dihentikan."
Roh leluhur Li Wei mengangguk dengan senyum yang misterius. "Kalian telah memahami. Sekarang, kalian harus memutuskan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya."
Yuna dan Jess saling menatap dan kemudian mengangguk bersamaan. Mereka telah memutuskan untuk menghentikan organisasi rahasia tersebut dan membawa keadilan dan kebenaran kepada rakyat Indonesia.
"Kita harus mencari informasi lebih lanjut tentang organisasi rahasia tersebut," kata Yuna antusias karena kini sudah menjanda, dia semakin bebas.
"Kita harus tahu siapa yang berada di balik organisasi tersebut dan apa tujuan mereka."
Jess mengangguk setuju.
"Aku setuju. Kita harus mencari sumber informasi yang dapat dipercaya dan mulai menyelidiki."
Roh leluhur Li Wei mengangguk dengan senyum yang misterius.
"Aku dapat membantu kalian dalam hal tersebut. Aku memiliki beberapa informasi yang dapat membantu kalian dalam menyelidiki organisasi rahasia tersebut."
Yuna dan Jess saling menatap dengan mata yang lebar dan tak percaya. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa roh leluhur Li Wei memiliki informasi yang dapat membantu mereka dalam menyelidiki organisasi rahasia tersebut.
"Apa informasi yang kamu miliki?" tanya Yuna dengan tekat bulat.
Roh leluhur Li Wei mulai bersandar ke sofanya dengan gelisah. "Aku memiliki informasi tentang sebuah dokumen rahasia yang dapat membantu kalian dalam menyelidiki organisasi rahasia tersebut. Dokumen tersebut berisi informasi tentang struktur organisasi, tujuan, dan rencana mereka."
Jess mengangguk dengan mata yang lebar. "Aku ingin melihat dokumen tersebut. Dimana kita dapat menemukannya?"
Roh leluhur Li Wei tersenyum dengan senyum yang kecut. "Dokumen tersebut berada di sebuah tempat yang sangat tersembunyi. Kita harus mencari cara untuk mendapatkan dokumen tersebut tanpa diketahui oleh organisasi rahasia tersebut."
"Bagaimana kita bisa mendapatkan dokumen tersebut?" tanya Yuna.
"Kita harus mencari seseorang yang memiliki akses ke tempat penyimpanan dokumen tersebut. Seseorang yang dapat dipercaya dan memiliki kemampuan untuk membantu kita." Saran roh Abdi kerajaan Mataram.
Jess mengangguk dengan mata yang lebar. "Aku paham. Kita harus mencari seorang agen rahasia yang dapat membantu kita."
Roh leluhur Li Wei tersenyum mengangguk pelan. "Aku memiliki seseorang yang dapat membantu kita. Seseorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang luas dalam bidang intelijen."
Yuna dan Jess saling menatap dengan mata yang lebar dan tak percaya, sekali lagi sosok ini selalu ada selangkah lebih maju dari pada mereka, bahwa roh leluhur Li Wei memiliki kontak dengan seorang agen rahasia yang dapat membantu mereka.
"Siapa orang tersebut?" Yuna tanpa basa-basi sambil menepuk-nepuk bokong Roxane.
"Namanya adalah... Alex. Dia adalah seorang agen rahasia yang telah bekerja dengan aku selama bertahun-tahun. Dia memiliki kemampuan dan pengalaman yang luas dalam bidang intelijen, dan dia dapat membantu kita dalam mendapatkan dokumen tersebut."
"Alex? Kenapa aku jadi teringat dengan Alexis Anderson... Bucinnya si Huda..." Gumam Yuna.
"Bagaimana kita bisa menghubungi Alex?" tanya Jess.
"Aku memiliki cara untuk menghubungi Alex. Tapi, kita harus berhati-hati. Organisasi rahasia tersebut memiliki mata-mata di mana-mana, dan mereka akan melakukan apa pun untuk mencegah kita mendapatkan dokumen tersebut."
"Apa yang kita harus lakukan?" tanya Yuna, bulat nekat.
"Kita harus pergi ke sebuah tempat yang aman, di mana kita dapat menghubungi Alex tanpa diketahui oleh organisasi rahasia tersebut. Tempat tersebut adalah... sebuah kafe yang terletak di pinggir kota."
Jess mengangguk dengan mata yang lebar.
"Aku paham. Kita harus pergi ke kafe tersebut dan menghubungi Alex."
Roh leluhur Li Wei tersenyum dengan mawas. "Benar. Tapi, kita harus berhati-hati. Organisasi rahasia tersebut dapat menemukan kita di mana saja."
*
*
Akhirnya roh Abdi Kerajaan Mataram membuyarkan fisik mereka ditelan oleh udara.
Yuna dan Jess dalam sekedipan mata sudah berpindah tempat.
Mereka berangkat ke kafe yang terletak di pinggir kota, dengan hati yang berdebar-debar dan pikiran yang penuh dengan pertanyaan. Apakah mereka akan berhasil menghubungi Alex? Apakah mereka akan dapat mendapatkan dokumen tersebut?
Saat mereka tiba di kafe, mereka melihat seorang pria yang duduk di sudut kafe, dengan mata yang tajam dan wajah yang serius. Pria tersebut memandang mereka dengan cara yang lebih dalam lagi, dan kemudian mengangguk.
"Alex?" tanya Yuna dengan suara yang berani.
Pria tersebut mengangguk lagi. "Benar. Aku Alex. Roh leluhur Li Wei telah memberitahu aku tentang kalian."
Jess mengangguk dengan alis menyatu "Kami telah datang untuk meminta bantuanmu. Kami ingin mendapatkan dokumen yang berisi informasi tentang organisasi rahasia tersebut."
"Aku tahu apa yang kalian cari. Tapi, aku harus memberitahu kalian bahwa risikonya sangat besar. Organisasi rahasia tersebut akan melakukan apa pun untuk mencegah kalian mendapatkan dokumen tersebut."
Yuna mengangguk.
"Apa yang kita harus lakukan?" tanya Yuna mantap.
"Kita harus membuat rencana yang sangat hati-hati. Kita harus mengetahui di mana dokumen tersebut disimpan, dan bagaimana kita dapat mendapatkannya tanpa diketahui oleh organisasi rahasia tersebut."
"Baiklah, kita mulai membuat rencana," lanjut Alex yang ternyata bukan pacarnya Huda.
"Kita harus mencari cara untuk masuk ke dalam gedung tersebut dan mendapatkan dokumen tersebut tanpa diketahui oleh organisasi rahasia tersebut."
"Kita harus mencari informasi tentang sistem keamanan gedung tersebut," kata Alex.
"Kita harus tahu bagaimana cara masuk ke dalam gedung tersebut dan bagaimana cara menghindari sistem keamanan tersebut."
"Sistem keamanan gedung tersebut menggunakan teknologi biometrik," kata Alex dengan suara yang berani. "Kita harus mencari cara untuk menghindari sistem keamanan tersebut dan masuk ke dalam gedung tersebut."
Jess mengangguk paham.
"Baiklah, kita mulai membuat rencana untuk menghindari sistem keamanan tersebut," ajak Alex.
"Kita harus mencari cara untuk membuat sistem keamanan tersebut tidak berfungsi."
Tiba-tiba, Alex berhenti berbicara dan memandang ke arah pintu. "Ada seseorang yang datang," katanya dengan suara yang pelan.
Yuna dan Jess memandang ke arah pintu dan melihat seorang pria yang berdiri di sana dengan mata yang tajam.
Pria tersebut memandang mereka dengan cara yang aneh. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan skeptis.
Alex berdiri dan memandang pria tersebut dengan dingin. "Kami sedang mencari informasi tentang dokumen yang disimpan di gedung tersebut," katanya dengan suara yang berani.
Pria tersebut memandang mereka dengan tatapan was-was. "Kalian tidak seharusnya mencari informasi tentang dokumen tersebut," katanya.
"Dokumen tersebut sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh orang lain."
"Siapa kamu?" tanya Yuna dengan suara yang berani.
Pria tersebut memandang mereka. "Aku adalah seseorang yang telah bekerja dengan organisasi rahasia tersebut selama bertahun-tahun," katanya.
"Aku tahu tentang dokumen tersebut dan aku tahu bahwa kalian tidak seharusnya mencari informasi tentang dokumen tersebut."
"Kami tidak akan berhenti mencari informasi tentang dokumen tersebut," katanya.
"Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mendapatkan dokumen tersebut dan membawa keadilan dan kebenaran kepada rakyat Indonesia." Tekat Yuna.
Pria tersebut memandang mereka dengan tatapan yang lebih dalam. "Aku tidak bisa menghentikan kalian," katanya dengan suara yang berwibawa.
"Tapi, aku bisa memberikan kalian peringatan. Jika kalian terus mencari informasi tentang dokumen tersebut, kalian akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat."
Comments
Post a Comment