Bab 10 Adwin

 "Namaku Adwin Ali bin Khair" jawab pria mancung tampan berambut sedikit gondrong dengan bahu lebar atletis tapi bertubuh ramping sedikit berisi itu.

"Huda bin Suherman, kau orang Arab kah?"

"Ya..."

"Kenapa kau keluar dari mereka?"

"Karena mereka terlalu ekstrem..."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bisa bercerita lengkapnya... Namun aku akan mendongeng untukmu jika kamu mau" Adwin melihat polisi sipir datang dan memberi kode dengan matanya yang mengoper.

"Ya, ceritakan sesuatu yang menarik supaya aku bisa tidur atau tertawa..." Ucap Huda jelas.

"Aku pernah kuliah di jurusan sastra dan aku menceritakan cerita fiksi tentang satanis dalam dunia kemiliteran yang dirahasiakan dari masyarakat..."

"Benarkah?" Huda melirik penasaran.

"Ya, judul bukuku adalah Operasi Dajjal"

"Hahaha, menarik, bagaimana ceritanya?"

"Di sebuah negara maju, terdapat sebuah unit militer rahasia yang dikenal sebagai Unit Triple Six. Unit ini terdiri dari prajurit-prajurit terlatih yang memiliki kepercayaan satanis. Mereka percaya bahwa kekuatan setan dapat memberikan mereka kekuatan dan keunggulan dalam pertempuran." Polisi yang mendengar ucapan Huda itu melirik dan terlihat mengamati pembicaraan mereka.

"Hum... Hum... Menarik... Coba ceritakan lebih jelas... Sepertinya seru untuk didengarkan..." Kata Huda sambil merebahkan diri ke lantai menghadap tembok.

"Baik lah, aku coba mengingatnya... Komandan Unit Triple Six itu bernama Kolonel Azazel. Dia menerima perintah dari atasannya untuk melaksanakan Operasi Dajjal, sebuah misi untuk mengambil alih sebuah fasilitas penelitian rahasia yang memproduksi senjata pemusnah massal. Misi ini harus dilakukan tanpa sepengetahuan masyarakat dan pemerintah.

Kolonel Azazel memilih beberapa anggota terbaiknya, termasuk Letnan Lucifer, Sersan Leviathan, dan Kopral Baphomet. Mereka semua memiliki latar belakang satanis dan telah dilatih untuk menghadapi situasi ekstrem" papar Adwin.

"Situasi ekstrem?"

"Ya, seperti berenang di air es dan berjalan di atas api, mereka semua manusia namun meliki julukan itu sesuai bakat pemikiran mereka"

"Hmm.. menarik juga.."

"Mereka merasa sudah siap untuk melaksanakan misi khusus mereka dan suatu saat Unit Triple Six memulai misi mereka dengan menyusup ke fasilitas penelitian tersebut. Mereka menghadapi perlawanan sengit dari pasukan keamanan, tetapi dengan kekuatan dan kecerdasan mereka, mereka berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka.

Setelah mencapai inti fasilitas, mereka menemukan bahwa senjata pemusnah massal tersebut sebenarnya adalah sebuah teknologi canggih yang dapat mengendalikan pikiran manusia. Kolonel Azazel memutuskan untuk mengambil alih teknologi tersebut dan menggunakannya untuk kepentingan satanis."

"Jadi sebenarnya fasilitas penelitian itu milik siapa?" Nada Huda datar.

"Aku akan memberi tahumu nanti, sebelumnya aku harus menceritakan plot yang ini dulu kepadamu..."

"Oke baik lah, coba lanjutkan..."

"Tidak semua anggota Unit Triple Six setuju dengan keputusan Kolonel Azazel. Letnan Lucifer mulai meragukan kepercayaan satanisnya dan merasa bahwa misi ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kolonel Azazel menganggap Letnan Lucifer sebagai pengkhianat dan memerintahkan Sersan Leviathan untuk membunuhnya. Letnan Lucifer berhasil melarikan diri dan berencana untuk menghentikan rencana Kolonel Azazel"

"Oh... Jadi di dalam organisasi itu ada perpecahan kubu?"

"Tepat sekali, Letnan Lucifer bergabung dengan sekelompok prajurit yang tidak setuju dengan kepercayaan satanis Unit Triple Six. Mereka bersama-sama melancarkan serangan terhadap Unit Triple Six dan berhasil menghentikan rencana Kolonel Azazel"

"Lalu bagaimana akhirnya?"

"Kolonel Azazel dan anggota Unit Triple Six yang setia kepadanya ditangkap dan diadili atas kejahatan mereka. Letnan Lucifer dianggap sebagai pahlawan dan diberi penghargaan atas keberaniannya.

"Misi Operasi Dajjal gagal, tetapi cerita ini meninggalkan pertanyaan tentang eksistensi unit-unit militer rahasia yang memiliki kepercayaan ekstrem dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi keamanan global maka aku menghentikan penulisan bukuku ini" jelas Adwin.

"Jadi bagaimana dengan pertanyaanku tadi?" Huda mulai tengkurap karena badannya terasa pegal semua dan pikirannya penuh ditambah dia terlalu khawatir dengan kondisi Yuna sekarang.

Tapi Huda merasa informasi Adwin juga penting, sehingga dia berusaha menyimak agar bisa menemukan petunjuk selanjutnya.

"Fasilitas penelitian rahasia itu sebenarnya milik organisasi rahasia yang dikenal sebagai Kabal Pemutihan. Mereka memiliki tujuan untuk mengendalikan dunia melalui teknologi canggih dan manipulasi politik." Jelas Adwin.

"Teknologi untuk mengendalikan dunia?"

"Ya, Kabal Pemutihan telah mengembangkan teknologi pemusnah massal dan pengendalian pikiran manusia untuk mencapai tujuan mereka. Unit Triple Six, yang dipimpin oleh Kolonel Azazel, awalnya bekerja sama dengan Kabal itu, tetapi kemudian berencana untuk mengambil alih teknologi tersebut untuk kepentingan satanis mereka sendiri.

Kabal itu memiliki struktur organisasi yang kompleks dan rahasia, dengan anggota yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk politik, militer, dan bisnis. Mereka memiliki pengaruh besar di berbagai negara dan lembaga internasional.." lanjut Adwin, polisi itu terlihat menyimak dengan serius.

"Jadi maksudmu Letnan Lucifer menemukan bukti kegiatan Kabal itu dan memutuskan untuk menghentikan mereka?

Sementara Unit Triple Six pecah menjadi dua faksi antara pasukan yang setia kepada Kolonel Azazel dan satu lagi kepada Letnan Lucifer?" Huda memastikan.

"Tepat, Pemerintah mulai menyelidiki kegiatan Kabal dan Unit Triple Six dalam kemiliteran negara tapi Kolonel Azazel berhasil melarikan diri dan merencanakan balas dendamnya dengan mengumpulkan peminat agendanya ke seluruh masyarakat di dunia dengan menyebarkan undangan dan informasi rahasianya..."

"Jadi sejauh ini apa yang sudah Letnan Azazel lakukan?"

"Kau tahu kan Jaringan Satanis itu ada di negara mana saja...

Dia mengaktifkan jaringan satanis global untuk mencari dan menghancurkan Letnan Lucifer dan lawan-lawannya. Bahkan dia menggunakan pengaruhnya untuk memanipulasi keputusan politik dan militer guna menguntungkan dirinya.

Meski pun dia melarikan diri, dia tidak sepenuhnya bersembunyi.. dia menemui orang-orang terdekatnya yang berpengaruh meski pun alamat mereka jauh...

Dengan itu dia berhasil membentuk aliansi dengan organisasi satanis lainnya untuk meningkatkan kekuatan melalui Operasi Militer yang ada di negara lain," jelas Adwin.

"Ya, dia kan seorang Letnan, pasti kenalannya orang berpengaruh..." Komen Huda dengan nada malas.

"Betul, jadi kau mulai paham?

Dia bahka meminjam tangan orang lain untuk melakukan serangan terhadap fasilitas militer dan pemerintahan negara orang untuk menciptakan kekacauan.

Dia membocorkan rahasia ilmuwan supaya mitranya bisa menggunakan teknologi canggih yang dicuri dari Kabal itu untuk melancarkan serangan.

Dia bahkan mengusulkan pendidikan militer khusus untuk merekrut prajurit-prajurit elite dan membentuk pasukan pribadi..." Adwin berkisah.

"Pasukan abadi?"

"Itu hanya kiasan... Karena mereka memiliki protokol agenda seperti teknik memanipulasi psikologis untuk mempengaruhi pikiran lawan-lawannya.

Mereka juga bergerak menyebar-luaskan propaganda untuk mempengaruhi opini publik. Dan menggunakan agen ganda itu untuk menghancurkan kepercayaan lawan-lawannya." Tutur Adwin.

"Penjelasan singkatmu terasa nyata, hahaha!"

"Hahaha, ya begitu lah isi novelku... aku juga menceritakan di situ bahwa Kolonel Azazel itu juga melakukan pembalasan pribadi dengan menargetkan keluarga dan teman-teman Letnan Lucifer.

Bahkan dia tak segan menggunakan kekerasan untuk mengintimidasi lawan-lawannya yang membantu Letnan Lucifer..." Timpal Adwin sambil nyengir.

"Menggunakan tangan orang lain juga kah?"

"Ya, tentu saja.. supaya dia bisa melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawannya secara sistematis...

Dan bahkan dia juga berhasil menyusupkan anak buahnya ke dalam Kabal Pemutihan itu supaya bisa mendapatkan bantuan Kabal itu.

Dia menghubungi kontak lamanya di Kabal itu untuk meminta bantuan dan menawarkan kerja sama... Dengan begitu dia bisa menggunakan sumber daya Kabal itu untuk melancarkan serangan ke siapa pun yang dia mau..." Adwin.

"Kisahmu ini... Intinya adalah tentang kondisi perpecahan di antara mereka ya?"

"Iya, begitu lah... Tapi... Ada yang harus kamu tahu..."

"Apa itu?"

"Aku tidak pernah menyelesaikan menulisku karena aku takut masuk penjara, eh malah masuk penjara karena berantem dengan orang mabuk di jalan!"

"Hahhahahaa!" Huda tertawa renyah sambil menyadari agar tidak melanjutkan pembicaraan mereka.

"Hahaha!" Tawa polisi ikut menyimak.

"Hahaha" kekeh Adwin melirik Huda yang membelakanginya.

Kode bahasa dalam cerita Adwin barusan membuat Huda berpikir apakah di Indonesia hal itu juga sudah terjadi dan berjalan, mengingat katanya akan ada agenda membuat pandemi. Huda khawatir jika pandemi itu benar-benar terjadi dan melumpuhkan Indonesia.

Dia memejamkan mata sambil menitikkan air mata, tangannya meraba lantai yang dingin seperti merasakan dinginnya pipi Yuna sekarang yang tak berdaya berbaring di rumah sakit tanpa dirinya.

Adwin menunggu polisi sipir itu mengantuk, dia terus mengawasi pria berperut buncit yang duduk di kursi kerjanya itu mulai mengerjap dan menguap sementara Huda masih tengkurap dengan depresinya.

Adwin menarik nafas berat dan berharap sebuah keajabian akan terjadi.

Polisi itu tak lama kemudian mulai tertidur dan akhirnya Adwin memutuskan untuk mengusih Huda yang juga baru saja pulas dalam kekecewaannya.



"Psst.. Huda.." panggil pria Arab blasteran Australia itu dengan berbisik kepada Huda.

"Hmm?" Huda malas membuka matanya.

"Apa kau tahu alat pengendali pikiran itu seperti apa?" Bisik Adwin.

Huda terpaksa membangkitkan dirinya lalu duduk bersandar ke tembok dengan cuek, menutup mata dengan bibir sedikit membuka.

"Alat itu bentuknya seperti U.F.O... dan mereka berkeliran di langit..." Mendengar itu Huda langsung membuka kelopak matanya dengan berat karena sebelumnya dia pernah melihat dari dalam kabin pesawat saat berangkat ke Paris.

"Sebagian alat piringan terbang itu berfungsi lain untuk membuat bencana alam..."

"Bagaimana bisa ada alat penghapus memori beneran? Kalau membuat bencana alam sih masuk akal, mereka bisa makai cara fisika... Ini udah melebihi cerita bioskop..." Timpal Huda.

"Tapi memang semua alat itu nyata, Bro!

Sekarang sudah ada jenis Teknologi Scan Otak, UFO itu  menggunakan perangkat untuk memindai struktur otak dan mengambil data memori.

Ada lagi namanya metode Injeksi Nanoteknologi, UFO menyuntikkan nanobot ke dalam tubuh manusia untuk mengumpulkan data memori. Dan nanobot kamu tahu kan? Itu sangat kecil dan bisa dikeluarkan lewat tinja... Nanobot ini bisa membuat burung merpati bahkan berbicara seperti seorang pria aparat untuk melaporkan data!

Dan yang paling berbahaya adalah Penggunaan Gelombang Otak, UFO mengirimkan gelombang frekuensi tertentu untuk mengaktifkan dan mengambil memori..." Adwin terlihat ingin menitipkan segala pengalamannya ke Huda seolah akan mati esok pagi.

Melihat sikap Adwin yang berlebihan ini Huda justru berpikir dia sedang menakut-nakuti saja supaya Huda down untuk melawan satanis.

"Kau masih bagian dari mereka, kau aman!"

"Tidak aman, aku sudah diburu!

Aku paling takut jika menerima metode psikologis seperti  Hipnosis, UFO menggunakan hipnosis untuk mengakses memori bawah sadar.

Bahkan bisa juga dengan Manipulasi Emosi, UFO memanipulasi emosi manusia untuk mengakses memori yang tersembunyi, bukan kah itu megerikan?"

"Ayo lah, kau hanya berlebihan dan terobsesi dengan mereka!" Gertak Huda pelan.

"Terobsesi apa? Aku memergoki semua data mereka dengan mataku sendiri!

Sekarang bahkan mereka sudah menemukan alat Telepati, UFO bisa menggunakan kemampuan telepati untuk membaca pikiran dan memori.

Karena dia sendiri merupakan teknologi berkaitan dengan plasma, maka UFO juga bisa dipasangi teknologi Energi menggunakan Energi Psikis. UFO bisa mengumpulkan energi psikis manusia untuk mengakses memori, apalagi metode Transfer Energi, UFO mentransfer energi ke otak manusia untuk mengambil memori.

Masih belum cukup di situ, ada lagi alat Resonansi Energi, UFO menyelaraskan energi dengan frekuensi otak manusia untuk mengakses memori."

"Lalu kenapa kau keluar?"

"Aku bilang, aku Muslim Bro! Semua alat itu untuk memusnahka Muslim!"

"Apa kau gila?"

"Tidak, Kawan! Ini nyata!

Sekarang juga ada alat Komputasi Kuantum. Jadi UFO menggunakan komputasi kuantum untuk mengambil data memori, alat ini dikembangkan di Rusia.

Ada selain itu namanya alat Teknologi Holografik, dimana UFO merekam memori manusia dalam bentuk hologram.

Dan yang terakhir adalah alat Interface Otak-Komputer, yaitu UFO menghubungkan otak manusia dengan sistem komputer untuk mengambil data memori.

Semuanya ini bernama teknologi kecerdasan buatan!

Banyak dari ilmuwan yang memeluk selain agama Islam juga mengundurkan diri dari projek ilmiah ini namun semuanya tewas!" Papar Adwin.

"Lalu apa hubungannya denganku?" Gemas Huda.

"Semua musuh mereka akan didatangi dan menerima laser di otaknya dengan sonar... Kau tahu... Kota ini tempat terbanyak mereka mangkal..." Kata Adwin.

"Ga mungkin kan Yuna juga akan mengalaminya, mereka tidak tahu siapa itu Yuna..." Mata Huda memicing namun lemas.

Sementara itu di rumah sakit, Yuna berbaring di kamar dekat seorang pasien remaja perempuan bernama Hellen. Yuna masih belum sadarkan diri, sekarang waktu menunjukkan pukul dua dini hari.

Tiba-tiba saja dari balik gorden jendela kamar rumah sakit ada suara aneh seperti suara ultrasonik tipis, suhu udara menjadi hangat padahal ada AC di kamar itu. Karena gerah, Hellen pun terbangun. Dia terkejut saat membuka mata, dia melihat ada bayangan melingkar di balik gorden jendela yang menyelimuti gelapnya kamar pasien.

Seperti ada lampu berputar keliling di bagian bawah sesuatu yang terlihat bundar pipih melayang.

"UFO?" Hellen menyatukan kedua alisnya, berpikir apa kah mungkin sedang ada syuting film.

Dia mendekati jendela pelan-pelan dan membuka gorden jendela. UFO itu mengeluarkan sinar tembus tembok, betapa terkejutnya Hellen, sinar itu menembus tembok membuat tembok mengeluarkan asap tipis dan menuju ke arah tempat Yuna berbaring.

Entah apa yang dipikirkan Hellen, instingnya tindakan benda itu mungkin bisa membahayakan Yuna. Gadis yang masih sekolah menengah itu berlari seraya mengambil nampan tembaga di mejanya yang berisi buah dan segelas kaca air mineral.

"Pyar!!" Hellen tidak peduli dengan gelas pecah yang jatuh ke lantai karena dia menyahut nampan landasannya secepat mungkin.

Hellen melompat dan terjatuh ke atas tubuh Yuna, lekas dia berbalik badan dan berlindung dibalik nampan itu.

Sinar itu mendekat dan ..

"Blerr!"

"Brepsh!"

Seperti suara ledakan dari dalam dialami unit itu. Sekejab setelah itu UFO itu terbang sangat lesat menjauhi mereka.

"Ada apa ini?" Seorang perawat laki-laki berkumis datang membuka pintu dengan pakaian hijaunya yang kelihatannya baru selesai melaksanakan pebedahan.

"Ngapain kamu di situ?"

Karena Hellen hanya diam melongo menyaksikan kejadian absurb barusan kemudian si perawat datang maka si perawat geram kepadanya dan terus bertanya.

"Ah, aku mau kasih dia minum tadi tapi jatuh..."

"Nona, dia sedang tidak sadarkan diri, syaratnya sedang lemah, jadi tolong jangan ganggu dia.." perawat itu mendekat ke Hellen yang tadi menimpa tubuh Yuna.

Perawat itu membantu Hellen kembali ke pembaringannya dengan tenang lalu menutup pintu kembali.

Hellen merasa khawatir dan gusar. Dia tidak tega untuk meninggalkan Yuna dengan tidur sekaigus takut UFO itu akan kembali dan membalas perbuatannya. Namun akhirnya Hellen tertidur juga.

Keesokan paginya, seorang perawat datang membuka gorden jendela dan mempersilahkan Anderson dan Harun masuk ke dalam. Hellen yang sudah bangun mengamati mereka.

"Hai, selamat pagi" sapa Anderson ke pasien middle VIP yang seruangan dengan Yuna karena jumlah pasien membludak akhir-akhir ini.

"Hai, pagi juga..." Hellen senyum ramah

"Apakah dia ada gerakan?" Anderson dan Hellen bercakap bahasa Perancis.

"Ah..." Hellen melihat tembok di atas ranjang Yuna terlihat normal tanpa bekas jejak apapun, dia mengurungkan untuk menceritakan kejadian tadi malam.

Harun terlihat mengheningkan diri, dia duduk di samping ranjang Yuna dengan menunduk dan membaca doa, Hellen mengamati gerak-gerik Harun karena terlihat mengherankan. Beberapa lama setelah banyak doa menggunakan bahasa Arab diucapkan oleh Harun, Yuna akhirnya membuka mata pelan-pelan dan duduk dibantu oleh Harun dan Anderson.

Hellen menganga dengan mulut membentuk O lebar dan matanya terbelalak. Seperti sebuah keajaiban seorang perempuan yang tadinya tidak berdaya, justru kita terlihat seperti sedang bangun tidur biasa padahal perawat tadi mengatakan syaraf otaknya sedang lemah dan bahkan di alat pendeteksi degup jantung tadi juga nihil.

Siapa sebenarnya dua pria yang baru datang ini?

Hellen menjadi berani, di dalam dirinya seperti terkumpul tekat untuk ingin membongkar sebuah rahasia yang terjadi tadi malam namun urung dia bicara karena Yuna mengatakan sesuatu kepada dua pria itu.

"Tadi malam aku tidak bisa bangun karena aku terperangkap dalam mimpi panjang..."

"Mimpi?" Gumam Hellen yang menguping.




"Mimpi apa?" Harun terlihat cemas dengan gadis manis yang biasanya selalu mengomelinya itu.

"Aku berjalan di sebuah tempat sepi di sana ada seperti piring terbang.. UFO gitu ya... Dia mengejarku... Dan akhirnya men-scan otakku... Bangun tidur aku sudah blank ga ingat apa-apa lagi..."

"UFO?"

"Sebenarnya itu bukan mimpi..." Sahut Hellen.

Semua orang terkejut ketika pasien itu bersuara menyambung obrolan mereka menggunakan bahaaa Inggris.

"Apa maksudmu?"

"Aku dulu pernah membaca sebuah artikel dari koran lama tentang Misteri UFO di Rumah Sakit.

Dalam berita itu menceritakan pengalaman dari seorang perempuan muda bernama May yang dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan mobil. Saat dirawat, May mengalami kejadian aneh yang mengubah hidupnya.

Suatu malam, saat May sedang tidur, dia merasakan cahaya terang di kamar rumah sakit. Saat membuka mata, dia melihat UFO melayang di atas jendela.

May merasakan sesuatu masuk ke dalam otaknya. Dia melihat gambar-gambar aneh dan simbol-simbol yang tidak dimengerti saat sinar dari UFO itu meneranginya.

Setelah kejadian itu, Maya mengalami perubahan. Dia mengalami amnesia tapi ingatannya juga meningkat, selain itu dia bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat sebelumnya, dan dia memiliki kekuatan telepati.

May mencari jawaban tentang kejadian tersebut. Dia bertemu dengan dokter yang merawatnya, Dr. Kim. Dr. Kim memberitahu bahwa beberapa pasien lain juga mengalami kejadian serupa.

May menemukan bahwa rumah sakit tersebut menjadi target UFO karena lokasinya dekat dengan fasilitas penelitian rahasia. UFO tersebut mencari informasi tentang manusia untuk kepentingan mereka.

May memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut dan membantu korban lainnya. Dia kini menjadi bagian dari organisasi rahasia yang melawan kegiatan UFO." Cerita Hellen.

"Target UFO.." gumam Anderson.

"Mungkin ada kaitannya dengan kejadian pengeroyokan sebelumnya?" Harun pelan.

"May mengalami amnesia setelah itu?" Tanya Yuna kepada Hellen yang menjawab dengan anggukan.

"Tadi malam badanmu demam, panas sekali..." Harun berbicara dengan bahasa Indonesia, dia sambil  menyentuh lembut kening Yuna dengan punggung tangannya.

"Sekarang panasnya sudah reda seperti hujan badai yang sudah hilang, artinya akan ada pelangi muncul" senyumnya melihat mata Yuna dengan tatapan trenyuh.

"Apaan sih tukang tikung!" Sungut Yuna.

"Kok tukang tikung!" Harun menepok jidatnya.

"Hey, mungkin UFO itu tertarik kepadamu karena kamu seorang Starseed..." Ramah Hellen.

"Apa itu Starseed?" Tanya Yuna penasaran dengan kosakta baru itu.

"Starseed itu istilah spiritual yang merujuk pada individu yang percaya bahwa mereka memiliki asal usul spiritual atau genetik dari luar Bumi, seperti planet lain atau sistem bintang. Mereka percaya memiliki misi spiritual atau tugas untuk membantu Bumi dan umat manusia." Jelas Hellen.

"Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu Starseed?" Harun mengangkat satu alisnya.

"Itu kembali kepada kepribadian diri mereka masing-masing, rata-rata mereka memiliki perasaan tidak sepenuhnya terhubung dengan Bumi. Mereka juga merasa ingin tahu tentang kehidupan di luar angkasa. Mereka memiliki kemampuan intuitif dan sensitif terhadap energi. Dan memiliki pengalaman spiritual atau meditasi yang mendalam.

Secara emosional mereka rata-rata memiliki Perasaan kesepian atau isolasi, kesulitan menemukan tujuan hidup. Sangat berempati yang kuat terhadap orang lain.

Dan memiliki dorongan perasaan mempunyai misi yang lebih besar.

Mereka juga miliki kelemahan seperti  sensitivitas terhadap cahaya atau suara, punya pengalaman fisik yang tidak biasa misalnya, melayang, mempunyai luka atau tanda lahir yang unik dengan kesehatan yang tidak stabil."

"Kok seperti gejalaku?" Harun megurut dagu.

"Mungkin kamu punya hipotensi" flat face Yuna.

"Aduh... Darahku tinggi Neng..."

"Starseed punya beberapa jenis" lanjut Hellen karena Yuna dan Harun mulai berbahasa Indonesia, dia tidak paham, dia ingin diperhatikan lagi.

"Apa itu?" Sahut Harun.

"Pleiadian dari Pleiades berbakat diplomat dan penyembuh. Arkturian dari Arkturus berbakat ilmuwan dan inovator. Sirian dari Sirius berbakat spiritualis dan guru. Andromedian dari Andromeda berbakat pejuang keadilan.." jelas Hellen.

"Teori tentang Starseed itu belum terbukti secara ilmiah.. itu lebih seperti fantasi atau kepercayaan pribadi dari bentuk spiritualitas atau kesadaran diri..." Komen Anderson.

"Ugh... Ya mungkin kau benar tapi bagaimana dengan dugaan lain... Misalnya mungkin saja gadis itu keturunan DNA campuran dengan peri? Karena dia diincar UFO tadi malam... Dan aku benar-benar ada di sana menyelamatkan dia... Ada perawat yang hampir memergokiku saat aku ada di atas gadis itu..." Jelas Hellen.

"Apa maksudmu?" Yuna bingung karena tadi malam kesadarannya tidak di rumah sakit.

"Ya, tadi malam ada UFO datang dan melaserkan sinar menembus tembok mencari keberadaan kamu yang berbaring di balik tembok... Sementara aku di depan jendela... Mereka melaser tembok itu.. aku juga kaget kenapa tidak ada bekasnya padahal saat sinar itu menembus tembok itu... Temboknya mengeluarkan asap!" Heran Hellen sambil menunjuk.

Harun sontak meraba tembok yang ditunjuk Hellen. Terdapat seperti garis horizon sangat halus. Karena penasaran, Harun sampai meraba dengan kedua tangannya. Merayapi semua sisi tembok di ruangan itu.

"Ada garis horizontal halus di sini!" Tunjuk Harun ke Anderson.

"Ya, di situ! Membekas kah?!" Panik Hellen tak percaya.

Harun mengangguk pelan.

"Tadi malam itu benar-benar ada UFO kok! Dan aku mengambil nampan sampai gelas kacaku jatuh karena aku ingin selamatkan gadis itu! Sampai perawat yang mendengar datang memeriksa dan saat itu aku ada di atas gadis itu!..." Jelas Hellen sekali lagi.

Harun mendekat ke ranjang Hellen kemudian mendekatkan kepada ke lantai, dia mengintip kolong lemari berlaci yang sekaligus menjadi meja makanan Hellen. Matanya menemukan sesuatu dan dia merogoh kolong itu, ada pecahan kaca yang luput dari pembersih ruang pasien.

"Pecahan gelas kacaku tadi malam!" Hellen menunjuk.

"Kamu bilang apa tadi selain Starseed yang diincar UFO?"

"Manusia yang memiliki DNA campuran dengan para peri..." Tutur Hellen pelan.

"Maksudmu yang gimana itu?" Yuna penasaran dan masih duduk bersandar.

"Nenekku saat aku kecil dulu pernah bercerita kepadaku: dulu di zaman kuno, dunia dihuni oleh makhluk-makhluk ajaib seperti peri, naga, dan dewa-dewa. Dewa pencipta bernama Arkeia, memutuskan untuk menciptakan makhluk baru yang lebih kompleks.

Arkeia memanggil peri-peri terkuat untuk membantu menciptakan makhluk baru. Mereka adalah Peri cahaya, Lumina. Peri kehidupan, Vitalis dan Peri kebijaksanaan, Sophia.

Ketiga peri tersebut memberikan DNA mereka untuk menciptakan manusia peri. Arkeia menambahkan DNA dari bumi dan langit untuk menciptakan keseimbangan.

Proses penciptaan berlangsung selama tujuh hari. Pada hari pertama, Arkeia menciptakan tubuh manusia. Pada hari kedua, Lumina menambahkan cahaya ke dalam tubuh. Pada hari ketiga, Vitalis memberikan kehidupan. Pada hari keempat, Sophia memberikan kebijaksanaan. Pada hari kelima, Arkeia menambahkan DNA bumi untuk menciptakan koneksi dengan alam. Pada hari keenam, Arkeia menambahkan DNA langit untuk menciptakan koneksi dengan spiritualitas. Pada hari ketujuh, manusia peri pertama kali bernapas.

Manusia peri pertama bernama Adamas, memiliki kekuatan alami dan kebijaksanaan. Dia menikah dengan peri, Aethera, dan memiliki keturunan. Keturunan mereka menyebar ke seluruh dunia, menciptakan peradaban yang maju dan harmonis dengan alam.

Seiring waktu, kekuatan peri dalam keturunan Adamas mulai memudar. Manusia menjadi lebih fokus pada kekuatan fisik dan teknologi. Namun, beberapa keturunan masih mempertahankan kekuatan peri termasuk nenekku..." jelas Hellen.

Yuna dan Harun saling berpandangan, lalu Harun membungkuk mendekatkan wajahnya ke Hellen. "Jadi kamu manusia yang masih punya DNA peri?" Pelannya yang mengira mungkin Arkeia itu nama lain Allah dalam keyakinan lain dan para peri itu adalah spirit dari langit, bumi, malaikat jibril dan air dalam keyakinan di ajaran agama Islam. Hellen mengangguk pelan.

Tidak lama kemudian Huda datang dengan Adwin.

"Sayang?" Kata Huda saat membuka pintu, menatap Yuna penuh cemas dan dengan cepat mendekati ranjangnya.

"Aku baik saja, hanya mati suri mungkin soalnya aku melintasi dimensi lain..." Kata Yuna saat Huda memeluknya.

"Kau tidak apa-apa?" Adwin terlihat akrab dengan remaja putri itu.

Huda melepaskan Yuna, "kamu mengenalnya?" Tanya Huda sedikit kaget.

"Dia sepupuku yang sering dikejar UFO" jelas Adwin terdengar masuk akal.

Harun memandang Huda tajam, dan pemuda dibawah usia Harun itu mengangkat bahu karena bingung.

"Bagaimana kalian bisa bebas?" Penasaran Anderason yang dari tadi menyimak.




"Selamat pagi!" Tiba-tiba datang tiga pria berjas hitam dan berkacamata hitam, salah satu pria yang sudah masuk ke dalam ruangan menunjukkan pistol di tangannya menghunus ke semua orang mereka berbicara dengan bahasa Perancis.

"Siapa kalian?" Anderson berjalan menghadang paling depan.

"Minggir lah jika masih mau hidup, serahkan gadis berdarah suci itu kepadaku!" Kata pria itu, kedua pria lain mulai menunjukkan senjata api juga.

"Darimana kalian tahu?" Anderson terbelalak.

"Rumah sakit ini milik kami!" Pria itu menyindir sample darah Yuna yang pasti sudah diambil dan diteliti.

"Dia keturunan peri?" Gumam Hellen melirik Yuna.

Yuna tidak berani untuk berkedip mata. Dia memegangi perutnya dan mendekat menuju bibir ranjang.

"Sayang jangan gegabah!" Bopong Huda menerima tubuh ringkih gadis itu.

"Yuna apa yang kau lakukan?" Anderson panik, tidak berani melirik karena fokus menghadap tiga mavia itu.

"Sial..." Dulu huda yang dikejar mavia, sekarang kekasihnya, hatinya berkecamuk memandang wajah pucat Yuna yang menghadirkan tatapan penuh kebencian, seperti bercermin Huda melihat dirinya sendiri dalam diri Yuna. Huda menghadang di depan Yuna berjaga.

Harun tanpa aba-aba dengan darah mendidih dia  mendekati pria yang paling depan dan langsung menendang tangannya dengan berani, Anderson langsung ikut maju menyerang pria satunya yang bersiap menempak dan memitingnya namun pria itu menolaknya dengan memutar gunting tangan Anderson.

Adwin ikut campur, dia menyerang pria yang berada tak jauh dari hadapannya dengan gresif bersamaan dengan saat Harun melakukan penendangan, dengan wajah merah padam. Adwin memukul muka pria yang masih memegang senjata api.

"Mari kita bermain-main dengan tangan kosong!" Tantang Adwin.

Mavia siaga, mempersiapkan diri untuk bela diri dengan posisi kaki terbuka dan tangan di atas. Adwin mendorong si mavia dengan keras, mavia menghindar ke samping dan membalas dengan tendangan cepat ke arah perut Adwin. Adwin membalas dengan pukulan kanan, mavia menghindar ke kiri dan menggunakan teknik kunci lengan untuk mengendalikan Adwin.

Mavia mengendalikan Adwin dengan kunci lengan, memaksanya menunduk. Adwin berusaha melepaskan diri dengan mengayunkan lengan kiri, mavia memperkuat kunci dan menambahkan tekanan.

"Ini akan lama, maju lah!" Kata Yuna pelan ke Huda.

"Tapi kamu bagaimana?"

"Mereka akan terluka!"

"Baik lah!"

Huda memasang kuda-kuda sambil mebaca ayat kursy.

"Allahu akbar!"

Huda langsung memukul dada mavia yang menyerang Anderson bertubi-tubi, dengan sekali tinju tajam mavia itu muntah darah. Huda berputar menuju Harun yang sudah tersungkur oleh tendangan mavia di dadanya. Dan membalaskan tendangan itu ke kepala si mavia sampai sobek pipinya oleh sepatu Huda.

"Dar!"

"Aa!"

"Aa!"

Huda berputar lagi meghindari tembakan dari belakangnya dengan bantuan Adwin yang mendorong dirinya ke belakang sehingga dia dan mavia itu termundur. Adwin terus mendorong sampai mavia itu mendorong pintu ruangan yang menjadi terdobrak.

Semua orang di rumah sakit panik dan berlarian sejak mendengar suara tembakan pertama. Huda berlari ke mavia bersenjata itu dan menghujaninya dengan tinju panas sampai mukanya lemas dan pingsan dengan tulang hidung patah.

Harun berlari ke Yuna dan menggendongnya di punggung, dia berlari keluar rumah sakit sekuat tenanga. Adwin ikut membawa Hellen dan meggendongnya seperti cara Harun. Anderson dan Huda memeriksa ketiga mavia itu.

Huda mencabut kacamata lawannya yang sudah tak sadar diri.

"Huda buka matanya!" Teriak Anderson tegas.

Huda membelalakkan mata lawannya yang terkatup, diikuti Anderson ke musuhnya yang pulas dalam pingsan. Huda memeriksa mata lawan Harun lalu mengambil senjata lawan, Anderson meniru ambil pistol yang tergeletak.

Anderson dan Huda berpandangan setelah mendapati mata reptil dimiliki oleh tiga orang asing itu. Mereka lalu bergegas mengejar Harun dan Adwin sekuat mungkin.

Harun dan Adwin menyusuri tangga turun ke lantai satu. Huda melompat dari atas tangga disusul Anderson yang berlali split down. Mereka terus berlari keluar dari rumah sakit itu menuju sebuah jalanan ramai. Mereka tidak mempedulikan keramaian karena berharap dapat berlindung.

"Tang!" Suara tiang jalan yang dihatam peluru jarak jauh.

"Snipper!" Seru Harun yang berlari di depan Huda dan Adwin.

"Dar! Dar! Dar!" Huda menembak sambil berlari diikuti Anderson.

"Buang senjatanya setelah habis siapa tahu ada GPS-nya di senjata itu!" Kata Harun si polisi ulung sambil berkelok-kelok ke pepohonan kecil yang ada di pot jalan.

"Ke terowongan kereta bawah tanah!" Pekik Anderson yang terus memacu kakinya sambil membuang pistol ke tempat sampah yang dia lewati.

Mereka sengaja berlari di antara kerumunan dan menemukan tangga di terowongan dan mereka secepat mungkin berusaha meraihnya.

"Dar!" Peluru terakhir Huda dan dia langsung membantingnya ke pot pohon yang dutumbuhi bunga liar.

"Pesyu! Pesyu! Pesyu! Dar!"

Peluru terus mengarah ke mereka ketika mendekati terowongan. Harun melompat ke dasar melewati beberapa anak tangga diikuti Adwin yang memelatikkan lututnya secepat mungkin.

Harun memimpin perjalanan sambil menggendong Yuna, dia berbelok ke keramaian dan menurunkan Yuna. Adwin mengikuti tindakan Harun. Huda membelakangi mereka berjaga-jaga diikuti Anderson yang terengah-engah.

"Mereka alien kah?" Pelan Huda, terserah siapa yang mau jawab.

"Kenapa memangnya?" Yuna mengedarkan pandangan sambil membatin terus sholawat.

"Iris mata mereka seperti mata milik reptil!" Huda mengintai segala arah.

Harun membelakangi Yuna, "mungkin azan juga akan bereaksi kepada mereka!" Idenya.

"Kita harus mencari tempat aman!" Anderson mulai bingung, artinya dia tidak memiliki tempat rekomendasi.

"Ayo ikut aku!" Adwin berlari pelan sambil menggandeng Hellen.

Mereka ke keramaian dan menuju pembelian tiket kereta api bawah tanah.

"Aku akan membayar lebih! Tolong utamakan kami!" Kata Adwin ke teller.

"Tidak ada kelas VIP" jawab admin teller.

"Terserah, cepat lah!" Adwin memberi uang cash dari kantong saku jaketnya yang dikembalikan oleh polisi dan dia juga menyodorkan tanda pengenal supaya diprioritaskan.

"Utamakan kami!" Anderson menyodorkan kartu identitasnya juga agar memperkuat prioritas pendaftaran.

Melihat dua kartu identitas itu si admin teller sedikit syok dan bekerja lebih cepat kemudian kereta selanjutnya secara kebetulan sampai.

"Ambil kereta ini aku tidak peduli kemana!" Adwin.

Anderson memandang Adwin dan memutar bahunya, "kau?"

"Percaya lah kepadaku!" Singkat Adwin.

Admin teller tetap memproses pembelian tiket itu sambil meraih telepon "tolong tunggu, ada penumpang prioritas utama!" Teller berbicara kepada masinis di kereta api. Akhirnya mereka pun naik ke kereta api dengan tiket yang sudah tercetak tak lama setelah itu.

Akhirnya mereka berangkat dari Porte Dauphine itu  menuju menara Eiffel. Tidak mungkin mereka akan ditembak mati di sana oleh siapa pun karena itu area terkontrak oleh satanis dan pemerintah pusat. Adwin sengaja membawa mereka ke sana sementara waktu.

"Itu tempat terbuka!" Komen Anderson setelah sadar akan kemana dengan membaca tiketnya.

"Tidak ada pilihan lain!" Sahut Adwin yang sudah pucat.

"Sebenarnya apa yang dikejar dari Yuna?" Huda yang duduk di samping Yuna memandang Anderson dengan dingin.

"Saat kamu pergi ke Lucifer, ingat? Yuna sudah ketahuan punya darah suci. Aku bukan satanis jadi aku tidak tahu sedikit pun... Aku butuh konsentrasi untuk bertanya kepada khodamku..." Jawab Anderson.

Huda menghela nafas dalam sementara Yuna terus membaca sholawat dengan tasbihnya yang baru saja dia keluarkan dari saku celananya yang selalu dia bawa kemana-mana.

"Aku ingin membicarakan lagi kisahku..." Adwin menerawangkan matanya dengan penat.

"Coba ceritakan saja..." Huda mulai percaya.

"Cerita?" Harun dan Anderson berpandangan, ketinggalan berita.



"Sebenarnya ini aku tulis karena aku terinspirasi dari sepupuku ini, Hellen Aliyaa binti Yacob" Adwin memberi kode dengan mengedarkan pandangan ke segala arah untuk menunjukkan bahwa di situ ada orang awam juga.

"Oh, baik lah!" Anderson mulai paham.

"Di kisahku itu ada Kolonel Azazel dan anggota Unit Triple Six setelah kegagalan Operasi Memori mereka  memutuskan untuk memanggil kekuatan setan untuk melindungi mereka dari kejaran hukum. Mereka melakukan ritual satanis di dalam gua bawah tanah, memanggil nama setan yang kuat bernama Zorvath.

Dengan darah korban, mereka menggambar simbol setan di lantai gua. Kolonel Azazel membacakan mantra-mantra kuno, memanggil Zorvath. Lalu Suara gemuruh terdengar, dan cahaya merah menyala di sekitar mereka. Zorvath muncul dalam bentuk asap hitam hitam.

Kolonel Azazel berjanji untuk menyerahkan jiwa mereka kepada Zorvath jika dia melindungi mereka dari kejaran hukum. Zorvath menerima perjanjian tersebut dan memberikan kekuatan kepada Unit Triple Six.

Dengan kekuatan Zorvath, Unit Triple Six memperbarui teknologi UFO mereka. Mereka menambahkan sistem perlindungan yang membuat UFO mereka tidak terlihat dari mata manusia. Mereka juga mengembangkan teknologi cuaca untuk menciptakan badai.

Unit Triple Six meluncurkan UFO mereka ke langit dan memicu badai besar. Petir menyambar, angin kencang berhembus, dan hujan lebat turun dan membuat orang-orang terkejut dan ketakutan.

Zorvath memberikan kekuatan tambahan kepada Unit Triple Six sehingga mereka dapat mengendalikan cuaca, menciptakan ilusi, dan memanipulasi pikiran manusia.

Letnan Lucifer yang masih mengalami amnesia merasakan kehadiran kekuatan jahat. Dia bergabung dengan timnya untuk menghentikan Unit Triple Six. Mereka menggunakan teknologi canggih untuk melawan kekuatan Zorvath.

Pertarungan antara Unit Triple Six dan tim Letnan Lucifer berlangsung di tengah badai. UFO Unit Triple Six  terlihat seperti bola api yang menghantam langit. Letnan Lucifer dan timnya berhasil menghancurkan UFO tersebut dengan bantuan senjata anti-UFO.

Unit Triple Six hancur, dan Kolonel Azazel tertangkap. Zorvath marah dan menghukum Kolonel Azazel dengan siksaan abadi. Kisah ini pun tidak aku lanjutkan karena aku belum mendengar lagi apa yang terjadi setelah itu..." Kode Adwin sambil menjabarkan.

"Zorvath itu siapa?" Yuna penasaran.

"Dia benar-benar mahluk jahat yang ada di bawah laut dan dia bukanlah setan seperti Kolonel Azzazel dan Letnan Lucifer."

"Kok bisa dia malah ngasih kekuatan pelindung gitu?" Yuna heran.

"Dia salah satu mahluk yang lepas dari kurungan nabi Sulaiman...

Menurut legenda dan cerita dalam Al-Qur'an, Nabi Sulaiman mengurung jin-jin di dalam botol atau guci dengan menggunakan cincin yang diberkahi. Lokasi pastinya tidak disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur'an, tapi aku ingat ada beberapa riwayat dan legenda menyebutkan beberapa tempat seperti

Lokasi yang disebutkan dalam riwayat dan legenda

Laut Merah the Bahr al-Qulzum dari  riwayat Ibn Abbas, tentang Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit untuk memasukkan jin-jin lain ke dalam guci dan melemparkannya ke Laut Merah.

Atau pulau dan gua di Laut Merah,  beberapa riwayat menyebutkan bahwa guci tersebut dikuburkan di pulau atau gua di Laut Merah. Dan ada juga yang menyatakan di Yerusalem atau Baitul Maqdis.

Legenda menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman mengurung jin-jin tersebut di bawah kuil Sulaiman Baitul Maqdis di Yerusalem.

Coba kamu baca  surat Al-Anbiya', ayat tujuh delapan sampai tujuh dua, Hadits Shahih Bukhari di kitab Jami' al-Masani, Riwayat Ibn Abbas, Kitab Qisas al-Anbiya karya Ibn Kathir dan  Kitab Tarikh al-Tabari karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari.

"Mereka itu lah Konsilian Konsilia yang aku maksud suka sekali menyerang Andromedan.. mereka itu memiliki identitas warna merah dan energinya berwarna merah... Mereka bekerjasama dengan gereja katolik terbesar di dunia ini... Contohnya dengan adanya teleskop Lucifer di Vatikan... Mereka banyak berkontribusi menjaga perdamaian dunia namun dengan sistem menata dunia dengan cara baru mereka..." Bisik Hellen ke Yuna, melanjutkan pembahasan tadi malam.

"Aku jadi kepo dengan kelompok yang kamu tulis itu.." pelan Huda ke Adwin dengan mata letihnya setelah melewati malam panjang di sel dan bebas dengan syarat berelakuan baik.

Tak lama kemudian kereta yang tadi berangkat dari jalur dua di stasiun Porte Dauphine kini berhenti di Charles de Gaulle -Etoile, mereka turun berjalan menyusuri stasiun bawah tanah menuju jalur enam arah Nation supaya bisa turun di Stasiun Bir Hakiem.

"Kau ingin menanyakan apa?" Pelan Adwin yang mengawal Hellen setelah duduk di kursi penumpang.

"Bagaimana caramu bisa memasuki kelompok itu?" Huda mengernyit dahi.

"Aku tidak bergabung secara resmi dengan mereka, aku hanya mendapat kontrak dari mereka sebagai ilmuwan gelombang radio di dasar laut..." Kata Adwin sambil beralan menuju taman di sekitar menara Eiffel.

"Jadi?" Yuna heran.

"Yang aku tahu mereka berdiri sejak satu tujuh tujuh enam lewat tangan Adam Weishaupt, dia seorang filsuf Jerman. Dan Awalnya bernama Orden der Perfektibilisten atau Order of the Perfectibilists.

Tujuan mereka  awalnya mengembangkan pemikiran rasional dan mempromosikan keadilan sosial. Tapi kemudian dilarang pada  tahun satu jutuh delapan lima oleh pemerintah Bavaria. Mereka itu sangat mempengaruhi sejarah seperti Revolusi Perancis. Tapi tidak ada bukti yang mendukung keberadaan mereka di sini. Dan banyak organisasi yang mengaku sebagai Kabal  Pemutihan di sini itu palsu atau simulasi. Pemerintah dan lembaga internasional bahkan tidak mengakui keberadaan mereka juga." Adwin duduk di rumput lapang taman.

"Jadi kenapa kamu menduga yang menyewa jasamu adalah mereka?" Yuna skeptis.

"Di setiap surat kontrak itu ada logo berlian dengan huruf LV" jawab Adwin.

"Oh, serius?" Sambut Anderson yang duduk di samping Huda.

"Serius!" Jawab Adwin yang di seberang bersama Hellen.

"Itu berarti organisasi di bawah pengawasan member  Freemason!" Jawab Anderson.

Huda tercengang karena sudah mendengar kisah Adwin sejak tadi malam.

"Adwin apa yang kamu lakukan sejauh ini dalam organisasi itu?" Huda memperkenalkan nama itu dalam pertanyaannya sehingga semua orang kini tahu siapa nama pria Arab gondrong lurus berambut hitam tebal itu itu.

"Kau tahu, aku ini ilmuwan.. mereka merancang kereta api tercepat di dunia yang bisa membuat petinggi elite  Amerika bisa berteleportasi ke markas yang akan mereka bangun di balik tembok antartika sekarang ini! Belum lagi mereka juga membuat teknologi pembuat kubah bumi tiruan!" Bisik Adwin.

"Gila!" Timpal Harun yang duduk di kiri Yuna.

"Dan semua alat itu nyata! Aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ilmuwan dan orang elite berbicara dengan asap hitam yang mengepul membentuk sosok seperti orang di dalam markas bawah tanah itu..." Adwin berkeringat dingin di wajahnya.

"Lalu kenapa mereka mengincar Yuna?" Huda tak habis pikir pertanyaan itu sedari tadi berputar-putar dalam otaknya.

"Karena orang seperti Yuna dan aku bisa berpotensi menghentikan dampak pandemi yang akan mereka ciptakan hanya dengan memecahkan gelombang hipnotis dari UFO radio pencuci otak yang melakukan siaran sugesti alam bawah sadar setiap dini hari di seluruh dunia ini..." Jawab Hellen.

Yuna menelan ludah sampai terhenti memutar tasbihnya. Huda berhenti bernafas sejenak dan memandang Yuna dengan tatapan tanpa ide apa pun.

"Kenapa kita semua saling bertemu di sini?" Harun bersandar kepala lemas.

"Mungkin energi kita saling tarik menarik sehingga bertemu... Aku dan Adwin sebenarnya baru saja melarikan diri dari California menuju Paris..." Hellen.

"Nah, kami dari Surabaya ke Paris!" Harun mendekatkan wajahnya ke Hellen lalu duduk lagi di samping Yuna. Membuat Hellen syok.

"Di dalam sekte itu ada gelar yang berbahaya karena mereka mendapatkan gelar itu jika memiliki otak cerdas di atas rata-rata... Namanya gelar Minerva.." spill up Harun membuka omongan. Semua mata memandangnya.

"Minerva? Gelar apa itu?" Kepo Yuna.



Comments

Popular Posts