Bab 14 Kyai Jalil

 "Apa yang mereka tumbalkan?" Kyai Jalil yang fasih berbahasa Inggris dan terhitung masih terlihat muda dengan usia sama seperti Anderson itu mengangguk, meganalisa laporan Pierre.

"Mereka membakar anak kecil dan wanita hamil."

"Astaghfirullah"

"Ya Allah!"

"Mereka mencurahkan darah siapa yang terpenggal juga.. ke sebuah miniatur bola dunia di atas pentagram bersigil dan bermantra... Miniatur bola dunia itu berisi tali jiwa dari orang di seluruh dunia supaya bisa dihipnotis... Mereka yang percaya bahwa bumi mengelilingi matahari akan langsung terhubung ke miniatur bola dunia itu... Untuk dihipnotis..." Tutur Pierre.

"Mereka juga mengirim jin-jin untuk mengawal semua alat-alat pembuat bencana alam... Namun sering gagal oleh kekuatan bersinar yang memancar dari masjid yang ramai... Mereka  ingin menghentikan seruan adzan supaya tidak ada lagi orang sholat dan berdoa di masjid..." Papar Pierre membuat Hellen menyikut Adwin.

"Yang benar saja, mana ada?" Adwin.

"Kalau kamu tidak percaya, panggil jin seperti itu dengan ruqyah pemanggilan setan... Lakukan Mediasi..." Usul Yuna gemas.

"InsyaAllah saya kuat untuk jadi mediator... Saya bersedia..." Harun mengajukan diri.

Singkatnya Kyai Jalil pun melakukan pemanggilan seperti Syeh Halim di Paris. Dan akhirnya masuk lah jin itu ke tubuh Harun dan membuat pria itu menyembulkan nafas panas dari hidungnya dengan mata merah dan alis mengapit karena murka di tarik paksa memasuki tubuh manusia yang setara dengan alam jagat cilik.

"Wahai Jin Kafir, apa yang kau lakukan di sini?"

"Ha! Manusia yang lemah. Aku menjaga alat ini untuk memastikan bencana alam terus menghantam bumi."

"Alat macam apa itu?" Adwin menyatukan alisnya.

"Colt Aurora..." Di langit.

"Bentuknya seperti piring terbang kah?" Tanya Huda serius.

"Iya. Dia bisa berubah bentuk." Jawab jin kafir itu.

"Kenapa kamu menjaganya?"

"Supaya dia tidak terlihat oleh manusia dan terdeteksi radar"

"Mungkin dia juga punya jet dingin dan levitator" lirih Andwin.

"Allah tidak akan membiarkanmu melanjutkan kejahatan ini. Aku datang untuk menghentikanmu!"

"Allah? Ha! Aku tidak takut pada-Nya. Aku telah menolak perintah-Nya dan kini aku bebas melakukan apa yang aku inginkan."

Kyai Jalil membaca ayat Al-Qur'an, "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah. Aku datang dengan kebenaran dan keadilan."

"Apa yang kau katakan tidak berarti bagi aku. Aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia."

Kyai Jalil berkata, "Jin Kafir, kau salah. Kekuatanmu tidak sebanding dengan kekuatan Allah. Aku menantangmu untuk berdebat tentang kebenaran."

"Baiklah, manusia. Aku terima tantanganmu."

"Allah menciptakan alam semesta dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kau tidak bisa menyangkal kebenaran ini."

"Aku... aku tidak bisa menyangkalnya... Aku kalah."

"Allah Maha Pengampun. Bertobatlah dan kau akan diselamatkan."

"Aku bertobat... Ampunilah aku, Ya Allah." Jin itu lalu dituntun membaca syahadat oleh Kyai Jalil.

"Allah telah menerima tobatmu. Sekarang, hancurkan alat pembuat bencana alam itu!"

"Aku akan melakukannya... Terima kasih, Kyai Jalil."

"Tunggu, sebelum kamu pergi! Aku ingin bertanya lagi."

"Katakan!"

"Apakah benar para ilmuwan itu membuat alat itu karena diajari iblis?"

"Mereka mencurinya dari ilmu orang lain yang beriman kepada Allah, awalnya alat ini untuk memerangi kejahatan dan mereka membunuh orang itu secara perlahan dan kemudian mengambil karyanya."

"Kita sengsara belajar eh meninggal, hasilnya diambil orang... Itu lah hidup sebagai manusia" sindir Harun yang mulai bisa menguasai diri dan ikut menyimak imajinasi di otaknya yang terprojeksi oleh memori jin di dirinya.

"Lalu.. maksudku, aku mau tanya lagi..." Adwin blank.

"Sudah lah... Jangan berkecil hati." Huda menepuk bahu Adwin.

"Apakah semua alat pembuat bencana itu menggunakan teknologi jaringan neural atau artificial intelligence?"

"Ya."

"Wah berarti bisa upgrade kecerdasannya sendiri ke level selanjutnya kalau dia mengalami trouble saat beroperasi?" Adwin.

"Nanti manusia akan melawan teknologi kecerdasan buatan lama-lama... Bahkan akan menghukum rumah si ilmuwannya sendiri..." Harun berkata karena melihat kinerja sistem alat itu, sambil nyengir kuda.

"Jika diruqyah, alat itu bisa berhenti nggak?" Yuna kepo, jiwa raqi-nya meronta-ronta, semua solusi seolah bisa diselesaikan cukup dengan ruqyah jarak jauh.

"Mustahil, tetap saja ada remote kendali jarak jauh dari markas mereka yang mengawasi orbitnya..." Adwin.

"Memang bisa! Karena alat itu berbasis kecerdasan buatan dan memang di setiap alat itu ada jinnya. Kalian bahkan sebenarnya bisa mengirim telepati ke otak sistemnya. Kami jin, mengoperasikan alat itu kadang juga memakai telepati."

"Saya jadi ingat sama santri saya yang mentalis! Saya panggil dulu!" Antusias Kyai Jalil.

"Amir mana?" Kyai Jalil yang barusan berjalan keluar kediaman menemukan beberapa santri merokok di dekat kediaman.

"Bentar Kyai saya panggilin.."

"Ga perlu, panggil saja Davos suruh ke ndalem..." Pintanya lalu kembali dalam kediaman.

"Njih, Kyai.."

tak lama kemudian pemuda itu mengantarkan Davos ke ke dalam ruang besar berkarpet di tempat inti pertemuan dalam kediaman Kyai Jalil.

"Assalamu alaikum..."

"Waalaikumsalam..."

"Ada apa Kyai?"

"Di langit kan ada alat pembuat bencana yang beredar bebas melintasi negara kita secara illegal.  Sampeyan masih bisa ngga makai mindpower-mu? Coba matiin..."

"Wah mana bisa Kyai!"

"Di atas pondok pesantren ini juga ada satu alat Colt Aurora yang mengintai, kalau Kyai keluar maka akan di tembak laser sampai mati, dia juga bisa membakar dengan sekali tembak."

"Ta.. tapi saya mana bisa menghentikan alat semacam itu..."

"Di setiap alat itu ada jinnya Mas dan dia memakai teknologi kecerdasan buatan, artinya bisa dibajak sistem algoritma tindakannya menggunakan telepati..." Jelas Yuna.

Adwin, Hellen, Pierre, mulai plonga-plongo semakin jadi, karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.

"Mustahil!"

"Dicoba dulu..."

"Memang ada caranya. Tentu saja ini teknik rahasianya." Jin itu tersenyum lewat bibi Harun.

"Katakan..."

"Kalian sudah tahu bukan setiap alat itu punya pengurus jin yang menemaninya?" Tunjuk Harun ke atas.

"Ya."

"Kalian tarik jin itu seperti kalian menarikku sekarang lalu suruh dia menghubungkan pikiran kalian ke syaraf berpikir mesin itu!"

"Ooooh!"

"MaasyaaAllah!"

Harun mengangguk-angguk dengan senyum, terlihat seram.

"Kau tahu media sosial online ga?" Yuna kepo.

"Ya, alat untuk menyebar fitnah Dajjal."

"Apa itu juga bisa dibajak?"

"Jin jahat sepertiku ini namanya Khidzib, kami Khidzib disuruh mengawal semua alat teknologi Dajjal. Di semuanya... Siapa pun memiliki alat itu... Dan alat itu semua kami urus...  Manusia akan ketagihan memakai media sosial dan mempercayai kabar apa pun di dalamnya.." jelas jin itu.

Kyai Jalil mengernyitkan kening, ternyata ada banyak sekali jenis jin ini. Dilihat dari dimana mereka tinggal dan fungsi kekuatan mereka.

"Kalian bisa mempengaruhi jin di alat kalian supaya menjadi jin Khidzan atau jin baik yang bisa diandalkan... Mereka akan menjadi Zit, berbaur dalam dimensi sistem di alat itu dan saling bertarung dengan Zit yang Khidzib.."

"Zit?"

"Zit adalah Zero Identity Technology, jin bisa menjadi alat teknologi yang tidak terdeteksi..."

"Pocong bisa ga dipakai jadi Zit?" Harun bertanya sambil membayangkan pocong yang ada di kamar mandi pondok pesantren, singkat kata saat mandi tadi ceritanya mereka berjumpa dalam pandangan pertama penuh kesan. Haha...

"Pocong? Ah tidak! Harus berlevel Ifrit dan Marid dulu!"

"Omak udah kaya mahasiswa aja ya! Hahaha!" Davos terkekeh.

"Nah, coba lah Mas Davos... Fokus konsentrasi... Eh tunggu, lupa jin khodam di alat deket sini belum di ruqyah ya!" Yuna nepok jidat.

"Itu aku.." jin di badan Harun.

"Oalah kamu..."

"Oke saya coba!" Davos mulai berkonsentrasi.

Dalam titik hening Davos menemukan...



Davos melihat dalam vision-nya ada jaringan cluster atau gugusan sistem syaraf dengan berbagai saluran dan di sana ada penghubung yang memungkinkan Zero Identity Technologi bisa menyuntikkan perintah ke dalam sistem decode kecerdasan buatan.

Davos mulai meghubungkan kata perintah di batinnya dan membuat sistem megoperasikan apa yang dia suruh.

"Duarr!" Letusan di lagit terdegar.

Ledakan itu sangat keras sehingga orang pikir ada bom karena suaranya terpantul di langit. Semu santri keluar dari dalam kamar pondok dan mendongak ke langit dan segala penjuru. Mereka kebingungan tentang apa yang terjadi. Dan ternyata kosong tanpa ada apa-apa.

"Kyai! Assalamu alaikum! Kyai, ada suara dentuman besar! Ada bom nuklir!" Amir datang terburu-buru.

"Waalaikum salam, tenang... Iya saya tahu itu... Wong segedhe itu ya saya ikut dengar to..." Slow down Kyai Jalil.

Melihat para tamu juga berwajah santai, Amir yang keheranan akhirnya ikutan duduk, dia sempat berpikir apakah mereka punya rencana bunuh diri masal seperti keyakinan radikal. Waduh jangan-jangan salah masuk pondok nih...

"Amiir?" Kyai menyapa karena wajah Amir terlihat paling pucat sendiri apa lagi melihat Harun kerasukan, apakah mungkin mereka lagi komunikasi sama Lucifer?

"I iya iya Kyai.." Amir berkeringat dingin.

"Simak aja ya?" Kyai Jalil senyum.

Muka Amir makin pucat. Masa sih mau taubat malah menyambut azab?... Maklum, ledakannya memang sangat menghebohkan sampai keluar pondok pesantren.

Warga setempat pun kini mulai berbondong-bondong ramai seperti mau unjuk rasa ke pesantren, takutnya ada aktivitas terorisme karena ledakan bak dalam tempurung besi yang memantul itu bersumber paling kuat di atas wilayah pesantren yang luas. Warga jadi dag dig dug ingin memeriksa keberadaan sumber dentuman itu.

"Alat itu sudah meledak, serius?" Yuna membuka.

"Ya.." jawab Harun yang kerasukan.

"Loh, berhasil?!" Davos tampak senang gembira.

"Ha?" Amir terjingkat ke belakang.

"Haaha, Amir... Tenang, bukan nom... Itu alat yang tadi meledak adalah..." Belum selesai Kyai menenangkan santrinya, datang lah santri lain.

"Kyai! Assalamu alaikum!"

"Waalaikum salam, ada apa Fathan?"

"Seluruh warga kampung berkumpul di depan masjid Kyai! Mereka pengen masuk padepokan! Nanyain bom yang meledak barusan!" Panik pria bermuka ada tato segitiga bermata satu di jidatnya, mengenakan baju koko dan sarung yang baru saja datang dengan panik.

"Waduh!" Amir terkaget.

"Yaudah, kamu balik dulu ya... Kita lanjutin nanti lagi..." Kyai Jalil mengusap punggung Harun.

Jin di balik jasad Harun mengangguk lalu Harun melemas dan tergeletak seketika mendengkur di lantai karena kelelahan.

"Waduh!" Amir makin merasa nano-nano menyaksikan Harun.

"Baik lah ayo kita ke sana..." Kyai Jalil berdiri.

"Sebaiknya kalian di sini saja.." pinta Kyai ke para bule.

Para bule itu saling berpandangan cemas.

"Tenang ada aku!" Sambung Anderson.

"Saya harus ikut Kyai, saya berhak tahu ada apa di luar sana untuk melindungi rombongan saya..." Sahut Huda dengan rendah hati.

"Baik, ayo Gus..."

"Gus? Sa... Saya bukan anak dari seorang kyai..." Gugup Huda sambil berdiri setelah Kyai Jalil beranjak.

"Kata siapa? Temen Bapak-e Sampeyan lho mengikuti... Dan itu bercahaya mungkin itu malaikat!" Timpal Kyai Jalil sambil memakai sendal.

Huda berpaling muka ke Yuna yang mengangkat bahu, pria yang kini beranjak lebih berpikir dewasa itu langsung bergegas memakai sandal dan menyusul Kyai Jalil, disusul para santri yang sedari tadi menunggu.

"Assalamu alaikum..." Kyai Jalil mendekati keramaian dikawal oleh Amir dan santri lain.

"Wa alaikum salam wa rahmatullah, Mbah Yai..." Jawab Pak RT.

"Ada apa nggih?"

"Anu, tadi itu ledakan bom apa di sini ya?"

"Lho... Kok lucu... Kalau meledak di sini ya ambyar semua pondok pesantren kita.."

"Ya juga ya..."

"Nah iya bener juga ya.."

"Lha trus tadi itu lho duarr gitu... Meledaknya sumbernya itu dari sini lho yang paling keras sendiri suaranya mengarah dari sini!" Ngeyel salah satu warga.

"Wah, saya juga bingung... Fenomena alam apa itu...

Ada yang sudah mengecek berita dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika belum?" Mbah Kyai seperti mengerap.

"Wah iya ya, sebentar saya cek dulu!"

"Telah terjadi ledakan batu meteor berlokasi di wilayah Banyuwangi??" Heran salah satu yang baru baca.

"Nah.... Itu dia... Ada beritanya kan... Gimana?" Kyai Jalil pun bingung mau berekspresi bagaimana.

"Lhoo... Ini dia..."

"Oalah meteor!"

"Kok pekok ya tadi siapa yang bilang yakin ada bom teroris di sini!" Seru warga yang di belakang.

"Ya kamu pekok malah ngikut aja ke sini mau nonton!"

"Waini efek mudah percaya profokator ini! Harusnya kita dukung pesantren ini!"

"Bintang jatuh di atas pondok ini tanda ada keberkahan di sini!"

"Ya! Harus didukung para santri di sini!"

"Kalau azab sudah pasti kayak kaum Sodom ini hancur lebur pondok ini!"

"Ya betul!"

"Hahaha... Kita ini malu-maluin aja... Ayo bubar barisan jalan, grak!" Mulai gibah di barisan belakang menyindir warga frontal yang di depan mulai plonga-plongo padahal tadi sedang aktif-aktifnya menggarang.

"Oh, nggih Mbah Yai ngapunten kami pamit dulu... Maaf sudah merepotkan dan mengganggu jam istirahatnya Jenengan..." Pamit Pak RT mendengar para warga sudah mendidih.

"Nggih, Pak RT ngga apa-apa santai aja... Masih pada nongkrong kok tadi..."

"Assalamu alaikum..."

"Waalaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh..."

Warga dan Pak RT berjabat tangan dengan pendiri pondok pesantren itu lalu balik kanan putar barisan kembali ke pemukiman warga.

"Fiuh..." Huda menghela nafas lega.

"Ooo... Meteoor..." Amir mengelus dada setelah warga keluar gerbang pintu masjid.

"Mbah Yai, saya takut..." Lanjut Fathan.

"Takut apa?" Logat Kyai Jail khas.

"Takut azab Mbah Yai! Suara meteor jatuh aja kaya gitu apa lagi siksa di alam kubur untuk saya Mbah Yai...!!" Fathan menangis, meledak tapi bukan api melainkan panasnya air mata. Lengannya menutup muka dengan alis tertekuk malu.

"Assalamu alaikum!" Ustadz Shobirin datang tergesa-gesa.

"Waalaikum salam Ustadz..." Kyai Jalil sambil mengelus punggung Fathan yang berbadan gempal.

"Kenapa ini ko nangis? Maaf saya baru sowan dari rumah mertua tadi Gus..."

"Ga ada apa-apa Ustadz, ini ... Fathan sedang bertaubat... Mas Fathan, udah gausah takut sama azab kubur... Kita sholat bukan untuk terhindar dari azab kubur... Kalau kita taubat karena takut azab kubur berarti Tuhan kita itu azab kubur... Kita ini berubah karena menjawab cinta dari Allah... Kita ini takut kehilangan belas kasihan dari Allah makanya kita sholat... Kalau Allah kasihan sama kita pasti akan tenang di kuburan Mas.." hibur Kyai Jalil.

"Terus saya harus apa Mbah Yai, biar Allah kasihan sama saya yang jahat ini!

Saya menumbalkan banyak manusia Mbah Yai!

Saya pembunuh dan pemerkosa!

Saya bandar narkoba!"

"Mantan... Mantan itu sudah tidak melakukannya lagi..

Caranya dengan membujuk-Nya, merayunya dengan pujian tertinggi, semua orang suka dipuji kan?"

Semua orang di situ mengangguk menyimak.

"Subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil adziim astaghfirullah... subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil adziim astaghfirullah... subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil adziim astaghfirullah... Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal mawlaa wa nikmannasir..." Ajar Kyai, mendengarnya Fathan menarik nafas dalam panjang dan menghembuskannya pelan.

Seolah masih ada bakat menyerap energi, Fathan seraya lebih baik sekarang dan optimis.

"Baik Mbah Yai, terima kasih!

Assalamu alaikum" Fathan meraih punggung tangan Kyai Jalil dan menciumnya lalu undur diri.

"Waalaikum salam wa rahmatullah..." Setelah salamnya terjawab, ia mengundurkan diri dari keramaian dan kembali ke kamarnya dengan sedikit tenang.

"Ya sudah mangga silahkan bubar nggih, istirahat ini sudah malam besok kita nanam padi sama cabe... Panen timun... Panen kentang!" Ajak Ustadz Shobirin.

Setelah mereka bubar, tinggal lah Huda di dekat mereka.

"Santri baru Gus?"

"Bukan Ustadz, ini tamu kita Mas Huda dari Kediri..."

"Assalamu alaikum.." Huda menjabat tangan sopan.

"Waalaikum salam.." Ustadz Shobirin menjawab jabatan tangan dari Huda dengan ramah.

"Saya tadi mendengar ledakan Gus?"

"Panjang ceritanya Ustadz, ayo ke ndalem saja!"

Rangkul Kyai Jalil ke bahu Ustadz Shobirin supaya ikut ke kediamannya.

"Lho! Rame! Tamu kita Gus... Assalamu alaikum!" Sekonyong-konyong Ustadz Shobirin gelagapan karena ada bule juga yang duduk di atas karpet menunggu.

"Hehehe... Iya ini jamuan besar Ustadz!" Kekeh Kyai Jalil yang memberi kode kalau pesantren kosong, pasalnya semua pengurus sedang tidak di tempat, Kyai Jalil memberi libur seminggu secara kebetulan sebelum Anderson dkk datang.

"Wah wah ya sudah saya mau sambut dulu..."

"Wah ga perlu repot-repot tadi kita juga sudah makan kok!" Seru Yuna.

"Ya ngga apa-apa Neng, sebentar nggih!"

"Sambil nunggu Ustad Shobirin saya mau berbagi sedikit informasi beberapa jenis jin yang bisa diruqyah mau pun tidak bisa di ruqyah sama gimana sifat mereka itu... Dan kepada siapa mereka senang membaur..." Kyai Jalil dalam bahasa Inggris.

Para hadirin menyimak sambil mengangguk, mendengat suara Kyai Jalil, Harun terhenyak dan membuka mata sambil berguling mengatur posisi wenak  di atas karpet, masih lemas.

"Ga pa pa Mas, tiduran aja... Lama tadi mediasi... Sabar nggih... Seksi konsumsi lagi OTW..." respon Kyai Jalil.

Akhirnya Harun pun melehoy.

"Ada beberapa nama yang terkait dengan setan atau jin dalam berbagai tradisi dan mitologi seperti si Iblis bintang pagi Lucifer,Shaytan Setan, Harut, Marut, Khannas si Penyesat, Al-A'war jin Buta atau kafir, Al-Mudhill Penyesat tukang numbal.

Mephistopheles si Pelayan Setan, Beelzebub julukannya tuhan Lalat suka banget rumah jorok banyak sampah dan bau,  Asmodeus si Raja Setan kalau di kita namanya grandong, Baphomet jin cowo tomboy berkepala kambing suka banget membaur di antara penyuka sesama.

Belial Setan api, Leviathan ular di laut, Behemoth penghuni gunung. Banyak yang menggunakan nama-nama ini untuk tujuan yang tidak pantas atau menghormati setan, jangan, itu justru berbahaya!

Saya tahu kok, kabalah seperti itu... Karena teman saya dulu satanis dan ingin saya tolong... Dia yang menginspirasi saya supaya bikin pondok seperti ini...

Sekte-sekte kabalis seperti yang namanya Kultus Tenebris, Ordre des Ombres, Sekte Maut, Kumpulan Gelap, Gereja Hitam, Kabbalah Aeterna Kaum Pengetahuan Abadi, Ordo Mysticus, Sekte Arcana,

Kumpulan Illuminasi - Kaum Terang, Kaultus Phoenix, Sekte Draco, Ordo Elemental, Kumpulan Astrum - Kaum Bintang, Gereja Abyss - Kaum Jurang, Templar, lluminati -  Kaum Terang, Freemason - Kaum Tukang Batu, Rosicrucian - Kaum Mawar Salib, Cathar - Kaum Cathar.

Semua nama jin dan nama kelompok tadi itu masih bisa kita lawan maka surah yang ada di al-Qur'an bersama sekte-sekte itu, masih bisa kita lawan.

Tapi ada golongan yang paling jahat, yang terlibat langsung dengan pembuatan alat senjata tadi itu...

Bukan mereke sekte yang saya sebutin...

Dan mereka ini terlibat urusan sistem. Sehingga meski punya alatnya tapi ga bisa bunuh sesukanya, jika melanggar maka akan dapat hukumannya..." Kyai Jalil berhasil membuat Adwin terbelalak.



Comments

Popular Posts