Bab 17 Anderson

 Tidak terasa akhir tahun dua ribu tiga belas akan berlalu. Malam ini sendirian Yuna merayakan tahun baru tanpa Huda. Terasa hidupnya begitu sepi. Yuna berdiri di balkoni kamarnya yang menghadap kiblat. Terlihat ledakan kembang api mulai meletup-letup di langit.

Ponsel Yuna berdering, dia mengangkatnya.

'Assalamu alaikum'

'Wa alaikum salam'

'Sayang, selamat tahun baru ya!'

'Em makasih.. ini kamu kah...'

'Iya ini aku Sayang.. aku kangen banget sama kamu'

'Aku juga..'

'Maafin semua kesalahan aku Sayang... Maafin aku... Aku ingin menebusnya...'

'Aku ingin kamu menikah dan kasih aku keponakan Yang...'

'Mana mungkin, hanya wajahmu dalam pikiranku Yang'

'Kamu pasti bisa Yang...'

Terdengar Huda di kejauhan terisak menahan tangis.

'Aku sedang di kapal pesiar, mau ke tengah laut menuju Eropa dari Amerika... Baru berangkat... Aku kangen banget sama kamu, di sini aku berjuang melawan satanis setiap hari... Aku khawatir banget sama kamu.

. Aku ingin nikah bathin sama kamu biar ada koneksi sukma antara kita berdua...'

'Nikah batin?'

'Iya sayang, tali hati... Tali jiwa kamu... Untukku...'

'Caranya?'

'Aku akan pulang setelah dari Eropa, aku janji...'

'Eh?' Yuna kaget, Huda menutup panggilan begitu saja.

Setelah malam itu berlalu. Yuna semakin mengembangkan teknik keilmuan ghaibnya. Dia membuat mahluk para kosmik menjadi rekan seperjuangannya. Bangsa-bangsa peri langit yang bertebaran di antara sinar matahari dan bulan di udara.

Yuna memerintah mereka supaya membantu alam semesta berbicara dengannya lewat awan. Para peri itu menyalurkan energi komunikasi dari alam yang berbicara sehingga dari bahasa itu maka awan terbentuk. Sebab kata para peri, alam semesta ini berbicara seperti ruh dengan bahasa seperti suara burung maka itu bisa menggunakan energi dalam elemen udara sekitar untuk membentuk awan.

Yuna juga mulai mencari akses supaya bisa terkoneksi ke Sabahul Muhith agar bisa melamar pekerjaan sebagai tentara langit dengan proses membaca al-Qur'an dan sholat sunnah juga berdzikir dan bersholawat. Akhirnya suatu hari ada awan berbentuk kapal laut datang di depan balkoni kamar Yuna sebagai tanda ACC. Secara ajaib tumbuh sehelai rambut putih di bahu kanan Yuna sebagai identitas anggota.

Sementara Yuna mulai mengembangkan penelitian tentang teroris dengan menyadap data internasional menggunakan terawangan dan meraga sukma, Anderson di Denmark mengalami masalah.

Gabriel Blackwood sang Grand Master derajat tiga tiga mengobrol dengan Deputy Grand Master Lucas Rosslyn di hadapan Alexis Anderson dalam Lodge Fraternitas  nomor tujuh delapan sembilan.

"Kamu memiliki karya yang sangat luar biasa Anderson!" Puji Gabriel.

"Terima kasih Master!" Antusias Anderson setelah melihat wajah sumringah Gabriel yang mengangguk-angguk melihat sketsa rancangannya.

"Brethen Lucas, kita harus menaikkan derajat Anderson lebih cepat, misi yang dia buat ini bagus dan sangat sistematis, lebih efektif dan bisa dikerjakan dalam waktu sangat singkat sebelum dunia tiga dimulai... Ini rancangan bagus supaya kita bisa menyelamatkan perusahaan kita dari kebangkrutan saat gerbang dunia tiga dibuka!" Gabriel menunjuk pola dalam sketsa hasil karya tangan Anderson.

"Anderson, jika aku menaikkan derajatmu, apa yang akan kau lakukan untuk persaudaraan ini?" Tajam Lucas menoleh ke Anderson yang duduk tenang.

"Seperti yang kita tahu ekonomi dunia sekarang berlomba dengan Dinar. Jadi aku akan fokus ke sana..."

"Dinar? Saudi Arabia?"

"Ya..."

"Kau akan ke Arab?"

"Ya aku ingin merekrut sebanyak-banyaknya, memperluas jaring persaudaraan kita dengan mereka. Sehingga saat gerbang dunia ke tiga sudah terlewati pasti ada kejolak ekonomi... Kita akan stabil jika berdiri dengan mereka... Negara mereka juga sangat berpotensi dan mereka itu sangat peduli dengan kesetaraan manusia..." Jelas Anderson.

"Kenapa tidak? Kita bisa mencobanya!" Gabriel.

"Usul Anderson memang tidak salah!" Lucas mengangguk-angguk.

"Tapi semoga persaudaraan dari orang Arab tidak menimbulkan efek alergi apa-apa dalam lodge." Lanjut Lucas mengkritik.

Anderson mulai memikirkan kesempatan ini. Dalam Freemason, proses naik derajat memerlukan waktu, dedikasi dan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai organisasi begitu bernilai bagi perkumpulan ini.

Derajat Awal Blue Lodge memiliki tiga tahapan derajat. Derajat Entered Apprentice ditempuh antara satu sampai tiga bulan.  Derajat Fellow Craft ditempuh selama dua sampai enam bulan. Derajat 3: Master Mason ditempuh selama enam sampai dua belas bulan.

Berikutnya Derajat Lanjutan York Rite memiliki empat tahapan. Derajat empat sampai enam disebut Royal Arch Masonry ditempuh selama enam sampai delapan belas bulan. Derajat tujuh sampai sembilan disebut Royal Arch Chapter ditempuh selama satu sampai dua tahun. Derajat swpuluh sampai tiga belas disebut Royal Arch Council ditempuh selama satu sampai dua tahun.

Derajat empat belas disebut Grand Council ditempuh selama setahun.

Kemudian Derajat Tinggi Scottish Rite memiliki lima tahapan. Derajat empat sampai empat belas disebut  Lodge of Perfection ditempuh selama satu sampai dua tahun. Derajat lima belas sampai delapn belas disebut  Chapter of Rose Croix ditempuh selama satu sampai dua tahun. Derajat sembilan belas sampai tiga puluh disebut Council of Kadosh ditempuh selama satu sampai dua tahun. Derajat tiga satu sampai tiga dua disebut Consistory ditempuh selama setahun. Derajat tiga tiga disebut Grand Inspector General pangkat tertinggi, diberikan secara kehormatan.

Anderson mengincar posisi derajat tiga dua sekarang sehingga dia harus selangkah lebih maju mempertaruhkan keselamatannya. Hari itu juga dia menerima tugas yuridiksi di Arab Saudi.

"Kamu tahu kan Anderson, kamu tidak bisa membuat satu lodge pun di dalam negara itu?" Lucas sekali lagi menegaskan.

"Aku akan mengundang mereka untuk ke Eropa!" Tekan Anderson membalas.

"Kau yakin?" Lucas.

"Ya... Tenang lah!" Anderson memastikan.

"Ini uang untukmu..." Gabriel memberikan cek dengan tulisan nilai jumlah besar.

"Terima kasih..." Anderson tersenyum lebar.

"Semoga cahaya membawa keberuntungan untukmu!" Pelan Gabriel.

"Ya.. pasti..." Yakin Anderson.

"Siapkan dirimu untuk menghadiri upacara ritual pelantikan derajatmu besok pagi Brethen!" Lucas menepuk bahu kiri Anderson dengan bangga lewat mata tegasnya.

Mereka kemudia mengadakan perpisahan singkat dari ruang inti dan kemudian Anderson berpamitan pulang.

Pada hakikatnya Freemason di Arab Saudi dilarang dan dianggap sebagai organisasi terlarang. Pemerintah Arab Saudi menganggap Freemason sebagai organisasi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan keamanan negara.

Pada awal abad ke dua puluh, Freemason memiliki kehadiran di Arab Saudi, terutama di kalangan komunitas ekspatriat. Namun pada tahun satu sembilan dua puluh, Freemason mulai dilarang di Arab Saudi karena dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan negara. Sehingga di tahun satu sembilan lima puluhan, pemerintah Arab Saudi secara resmi melarang Freemason dan organisasi serupa. Anggota Freemason dapat dihukum penjara atau denda.

Beberapa alasan mengapa Freemasonry dianggap bertentangan dengan Islam kerena mereka memiliki

Doktrin dan Prinsip pengakuan satu Tuhan. Freemasonry mengajarkan konsep 'Tuhan Yang Maha Esa' tanpa menyebutkan nama Allah Subhanahu wa Taalaa secara spesifik, sehingga dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Freemasonry juga menekankan kesetaraan dan persaudaraan di antara anggota, yang dianggap bertentangan dengan konsep hierarki dan otoritas dalam Islam. Di samping itu, Freemasonry menggunakan simbol-simbol dan ritual rahasia yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Karena itu digaris bawahi Freemasonry dianggap mengandung unsur syirik karena mengakui keberadaan 'Tuhan Yang Maha Esa' tanpa menyebutkan Allah Subhanahu wataalaa.

Beberapa ritual Freemasonry dianggap mengandung unsur kufur, seperti penggunaan simbol-simbol yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam dan Freemasonry dianggap sebagai bid'ah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Anderson sangat mengerti akan hal ini namun pelajaran yang dia ambil dari pengalamannya di Indonesia membuatnya memiliki banyak ide. Dia bisa melewati proses mendapatkan derajat tinggi tanpa harus melewati tahap-tahap ritual di setiap level derajat.

Dia tidak akan melakukan Ritual Mark Master atau pun Ritual Past Master,  Ritual Most Excellent Master, Ritual Royal Arch, Ritual Lodge of Perfection, Ritual Chapter of Rose Croix, dan Ritual Council of Kadosh. Dia akan menerima pelantikan di  Ritual Consistory yang merupakan upacara naik derajat tiga puluh satu hingga tiga puluh dua. Bahkan jika perlu dia akan menerima pelantikan di Ritual Grand Inspector General atau Upacara naik derajat tertinggi jika mampu.

Anderson telah memfokuskan belajarnya tentang Muslim Masons sekarang. Ya, ada anggota Freemason yang beragama Islam, meskipun jumlahnya relatif kecil. Pria Denmark ini akan meniru gaya Sultan Abdülhamid dua dari Turki, di tahun satu delapan empat dua, dia adalah anggota Freemason dan Sultan Utsmaniyah.

Anderason sekarang juga mulai membaca karya Rifa'a al-Tahtawi, Cendekiawan Mesir dan Jamaluddin al-Afghani, seorang Cendekiawan Afghanistan.

Singkatnya setelah menerima derajat tiga dua, Anderson mulai melancong ke  Lodge Islam di Inggris, di mana itu adalah lodge khusus untuk anggota Muslim.

Kemudian dia belajar ke Grand Lodge of Turkey sampai akhirnya ke Grand Lodge of Egypt di Mesir.

Siapa sangka akhirnya dia menemukan banyak mitra hingga akhirnya dia mulai berani berangkat ke Arab Saudi. Tepatnya ke Madinah. Di sana dia mengenal Syeh Muhammad al-Faisal yang memiliki derajat tiga-tiga dan di sana dia diajak untuk pergi umroh. Setelah umroh Anderson mulai bergabung ke kalangan orang sultan di Madinah dan mendapatkan banyak respon positif dengan gaya bicaranya saat memperkenalkan Freemasonry.

Namun suatu saat dia bertemu dengan orang yang salah. Orang Arab satu ini bernama Ahmad al-Masri, dia memiliki derajat tiga dua. Ketika Anderson mengajak bicara tentang misinya, dia justru ingin melaporkannya ke yuridiksi Denmark.

"Kenapa kau ingin melakukannya? Ini kan jihad!" Anderson.

"Saudara, tahu kah kamu, kita harus jujur dalam kelompok ini!"

"Jangan-jangan kamu ini keturunan orang yang membeli kekhalifahan! Pendukungnya Mustafa Kemal Ataturk?" Pojok Anderson.

Masri terdiam.

"Aku tahu benar, Mustafa Kemal Atatürk, pendiri Republik Turki modern, dan dia memang anggota Lodge Macedonia Risorta di Salonika. Dia bahkan bergabung dengan Lodge Veritas di Istanbul dan menjadi anggota Lodge Turkish Grand Orient satu sembilan dua satu sampai akhirnya dia membentuk Republik Turki satu sembilan dua tiga. Sejak itu dia menjadi pemisahan agama dan negara dan memodernisasi dan sekularisasi Turki. Dan kau kurasa masih terbawa-bawa pandangan itu padahal kau ini Muslim dan hidup di Arab ini." Tunjuk Anderson murka.

"Apa kau ingin menghancurkan ekonomi Arab?! Kau tahu efeknya mereka akan meruntuhkan Arab! Di mana bankir dunia terkuat saat ini berdiri? Di sisi persaudaraan ini! Bukan Saudi! Kuatnya dinar Arab Saudi ini berkat siapa? Dorongan ratu setan merah di Eropa! Kau tahu itu bukan!" Tekan Masri.

"Itu hanya kesepakatan bisnis! Meski tidak bekerja sama pun tetap saja akan menang Arab ini!" Dorong Anderson dengan opininya.

"Kau dengar ini Anderson!

Sejarah Ratu Elizabeth dua dengan Arab Saudi dimulai dari hubungan diplomatik antara Inggris dan Arab Saudi yang telah terjalin sejak tahun sembilan belas lima belas, ketika Ibn Saud menyepakati traktat dengan Inggris. Traktat ini mengakui kekuasaan Ibn Saud atas Nejd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah lainnya. Sebagai imbalan, Ibn Saud tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya.

Pada tahun sembilan belas dua tujuh, perjanjian umum Inggris-Arab Saudi ditandatangani di Jeddah, yang mempertegas pengakuan Inggris atas kemerdekaan lengkap dan mutlak Ibn Saud. Perjanjian ini juga mencakup hubungan non-agresi dan bersahabat, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak.

Selama masa pemerintahan Ratu, hubungan antara Inggris dan Arab Saudi terus berkembang. Pada tahun sembilan belas lima dua, Ratu melakukan kunjungan negara ke Arab Saudi, yang menandai awal dari hubungan yang lebih erat antara kedua negara. Sejak itu, terdapat beberapa kunjungan balasan antara pemimpin kedua negara sampai menghasilkan mata uang Inggris berada di bawah dinar. Karena Arab sudah melunasi hutang emasnya dalam agenda promosi kekuasaan. Dan jika perjanjian itu di langgar kau tahu akibatnya bukan?" Pojok Masri.

"Yang kau lakukan ini fatal Anderson! Aku tidak akan melaporkanmu jika kau mengurungkan niatmu ini." Saran Masri kepada Anderson yang terbungkam.

"Dan kalau pun kau mengirim seseorang untuk membunuhku, aku sudah akan meninggalkan petunjuk!" Ancam Masri sambil berlalu meninggalkan pertemuan itu.

Anderson merasa sangat jengkel, dia melihati punggung Masri yang berjalan dengan langkah panjang keluar dari restoran hotel mewah di lantai lima belas itu dengan muka garang.

"Aku harus membungkam dia sebelum dia lebih brutal!" Anderson membanting tisyu ke meja dengan kesal.



Anderson akhirnya bangkit dari duduknya dan menyusuri koridor restoran berlampu emas tempatnya negosiasi dengan Ahmad al-Masri. Dia dengan masih masamnya menaiki taksi ke apartemen Oasis mewahnya.

Saking kesalnya Anderson setelah memasuki apartemennya, dia langsung berjalan ke kolam dan menceburkan diri, mencari kesejukan untuk dadanya yang panas dibakar emosi. Anderson berenang dihiasi pemandangan indah lampu kota Madinah dan bintang di langit.

"Sial!" Umpatnya.

Setelah puas berendam, dia meraih terry cloth robe atau baju handuknya. Pria tinggi itu pergi mandi dan kemudian memakai piyama lalu membanting badan ke ranjang.

Dia meraih gawainya dan memanggil Huda.

'Assalamu alaikum..' suara Huda terdengar setelah menganggkat dering.

'Wa alaikum salam Sayang... Apa kabar?' sambut Anderson yang baru bisa terseyum setelah sekian lama marah-marah ga jelas. Mereka mengobrol dengan memakai bahasa Indonesia.

'Alhamdulillah baik, ada kabar apa? Kamu sekarang di mana?'

'Aku di Madinah..' suara Anderson terdengar istimewa lembut selalu saat hanya berdua dengan Huda.

'Di Madinah? Ngapain?'

'Ya, aku mencari mata-mata untuk misi kita... Dan malah aku dapat ancaman!'

'Kok bisa, gimana ceritanya?'

'Aku nemu satu orang Arab asli namanya Ahmad al-Masri, dia sudah punya derajat tiga puluh dua... Dan aku bilang aku berencana memasukkan muslim banyak-banyak ke Freemason untuk mendominasi Masonik dan menjadikan lebih banyak mualaf sehingga sistem keuangan bank tidak lagi memakai cara riba... Dia marah dan ancam aku, mau aduin aku ke badan kuasa yuridiksi' curhat si bule bermata biru.

'Kok bisa malah jadi gitu?'

'Aku tidak heran Sayang, banyak orang yang ada di Masonik itu seperti Mustafa Kemal Ataturk!'

'Oke, sekarang kamu butuh apa?'

'Tolong bantu aku bungkam dia biar dia tidak bikin kacau aku di sini, bisa kah kamu Sayang?'

'Kamu belum berlatih ruqyah kah?'

'Mana mungkin, aku bisa dibunuh jin-jin kafir di persaudaraan, mereka akan cepat bisik-bisik jahat ke sesama member untuk singkirkan aku Sayang!' nada Anderson manja.

'Oke, aku insyaaAllah bantu!'

'Terima kasih Sayangku! Kamu ga kangen sama aku! Kamu ga cium aku waktu aku pulang! Kamu sibuk di kota lain, aku pulang ga diantar, aku masih ngambek sama kamu!' logat khas Anderson.

'Kamu masih cinta kah sama aku?

'Banget, apa lagi sekarang kamu makin kuat bisa ruqyah jin ini itu aku jadi semakin ngefans sama kamu!'

'Hahaha! Bisa aja!'

'Kamu sama Yuna masih suka kikuk kikuk juga kah?' Mulut Anderson maju seperti bebek, cemburu.

'Tidak, dia memintaku untuk menikah, aku bahkan tidak sempat berpamitan sama dia waktu berangkat sama Kyai Jalil!'

'Apa kamu sudah ga cinta sama Yuna?' kepo si bule.

'Mana mungkin, aku sangat mencintainya melebihi darahku sendiri...'

'Kamu terus gimana? Kamu sudah taubat, kamu sama aku juga taubat, aku cuma bisa mencintai kamu jarak jauh begini, sedih banget aku tuh!' Anderson mulai galau dan mengusap pipinya.

'Aku harus menikah sama orang lain demi Yuna!'

'Apa aku harus juga?' keluh si bule.

'Ya, sebaiknya kamu juga harus Sayang!'

'Baik lah jika kamu yang minta, tapi aku susah lupain kamu, boleh ga aku tetap suka sama kamu?'

'Yang penting jangan buat zina lagi... Kita harus tahan diri... Godaan Dajjal memang berat!'

'Maafin aku ya Sayang! Aku salah!'

'Ya aku juga minta maaf Sayang, ketampananku bikin kamu belok!'

'Ih, jahat!' Anderson mulai centil.

'Hahaha! Jangan sebut aku jahat, aku orang baik buat masa depan kamu!'

'Emang! Makanya aku ga mau ke lain hati... Cuma kamu sih...'

'Yaudah, di sana kamu cari lah kenalan gitu... Nikah...'

'Iya, Sayang. Kamu juga ya, semoga dapat jodoh di sana'

'Aamiin...  udah jangan sedih nanti gantengnya ilang!'

'Ih, nyebelin!'

'Hahaha, yaudah aku garap dulu si Arab Onta ya!'

'Iya, Sayang... Bismillah ya hati-hati...'

'InsyaaAllah, Assalamu alaikum.'

'Wa alaikum salam...' 

Huda menutup panggilan.

"Huda mau menikah?" Gumam Anderson kembali dengan suara gagah perkasa dan pemberani.

"Kalau begini... Akuh... Aduh! Bodoh! Astaghfirullah!" Huda memukul kepalanya yang mulai berimajinasi membayangkan bermalam sunnah dengan seorang wanita halal tapi justru sambil membayangkan bagian belakang Huda. Dasar otak pria...

Sementara Huda duduk di atas tempat tidurnya di kamar yang hanya dia huni sendirian. Dia menyendiri di kesehariannya di kapal, dalam kamar. Sementara Kyai Jalil dan Amir berbaur dengan penumpang lain. Kyai mulai memahami jiwa introvert Huda yang meronta-ronta kehabisan energi di tempat ramai karena itu dia tidak mengganghu me time Huda yang butuh mengisi ulang energinya.

Di kamar, Huda membuka ranselnya. Meraih sebuah buku tulis dan ballpoint. Dia mulai menggambar pola sigil yang Yuna ajarkan dan menulis rajah-rajah. Ilmu kombinasi hitam dan putih ini sangat mujarab. Dua huruf hijaiyah yang sangat berperan penting pun selesai terkaligrafikan.

Huda mulai berkonsentrasi memasrahkan diri kepada penciptanya dan memohon kekuatan. Dia mulai membaca surat al-Qur'an dan mengadakan ruqyah jarak jauh kepada jin dalam tubuh target.

Kepala Huda langsung jatuh mendarat tak sadarkan diri ke bantal karena meraga sukma. Dia siap bertarung dengan jin yang bersarang di jasad orang yang Anderson tadi sebutkan.

Di depan Huda berdiri sosok gempal berkepala anjing dengan jari panjang dan cakar yang tajam. Giginya yang panjang dengan tetesan banyak darah muslim mengalir anyir keluar dari sela-sela gigi moncongnya.

"Astaghfirullah..."

"Haahhhahaha! Kenapa kau kaget begitu, Manusia!" Tawa mahluk bertubuh bulu lebat hitam dengan hanya memakai celana hitam itu.

"Bagaimana bisa ada setan sepertimu di dalam badan seorang Muslim yang taat sholat?"

"Jasad muslim munafik adalah rumahku! Jadi sekarang kau mau apa?"

"Aku akan menolongnya agar dia berhenti menjadi munafik oleh ajaranmu!"

"Hahaha kau pikir aku yang menjadikannya munafik? Dia lebih takut jatuh miskin di dunia dari pada takut kehidupan di akhirat! Hahahaa!" Setan itu berlari cepat kabur ke sebuah gunung.

Dalam mimpi itu Huda berkonsentrasi dan menyatukan kedua ilmu putih dan hitam miliknya, dia berubah menjadi asap hitam lalu melayang melesat mengejar setan itu. Dalam mimpi itu Huda berjubah hitam dan membuat pedang dari amalannya.

Setan itu berlari ke puncak gunung dan Huda menyusul kini di hadapannya. Matanya terbelalak melihat ada banyak sekali mayat bayi mengapung jasadnya di sebuah dana di bawah gunung itu.

"Apa ini?! Katakan!"

"Ini adalah tumbal yang dia berikan untukku, kau bisa apa untuk memutuskan perjanjianku dengannya? Ikatan kami sekuat ini sekarang! Jhagahaagakgak!"

Setan itu membuat mayat para bayi mengapung itu menguap. Dia menghirup semua uap dari bayi-bayi itu.

"Darah bayi muslim memang sangat lezat dibandingkan yang lain!" Hirupnya nikmat.

"Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minta dzalimin! Allahuma inni audzubika min syarri al mu'tadin!"  Huda mengayunkan pedangnya, jin itu menghalau dengan tangannya sampai tangan itu kepanasan memegang pedang itu.

Jin itu menjadi semakin kuat, dia bertubuh semakin besar. Huda mengalunkan adzan dan alam itu mengalami gempa bumi dasyat. Setan itu berteriak kesakitan bukan kepalang. Dan saat adzan itu selesai, Huda langsung memenggal mahluk itu tanpa ampun.

Huda kemudian tersadar dari mimpinya, dia segera bangun dan membacakan adzan dan ayat kursy lalu bangkit dari ranjang. Mengambil sebuah tempat sampah dan membakar kertasnya dengan api kecil.

Di Madinah, di lain hari...

Anderson mengunjungi apartemen Ahmad al-Masri.

"Tok tok tok!" Dia mengetuk pintu.

Seorang wanita bercadar tak lama kemudian membuka pintu.

"Assalamu alaikum!" Ucap Anderson.

"Waalaikumsalam!" Jawabnya.

"Apakah ada Ahmad al-Masri?"

"Dia sedang dirawat di rumah sakit Saudi Medica Hospital.."

"Astaghfirullah, sakit apa dia?"

"Dia terkena serangan jantung saat sedang makan bersama keluarga lalu sekarang kabarnya mendapatkan stroke"

"Ya Allah, sembuhkan lah dia!"

"Aamiin, terima kasih doanya"

"Apa kau istrinya?"ini

"Bukan, namaku Bianca De Larossa... Aku kawannya dari Italia untuk projek di Arab..."

"Kau muslim?"

"Ya... Aku mualaf"

"Namaku Anderson Alexis... Dari Denmark, senang berkenalan denganmu..."

"Emh, apa kau tahu kami ini Masons!" Bisik Anderson.

"Ya aku tahu Masri seorang Masonis..." Bisik Larossa.

"Eh, bisa kah kita mengobrol di luar sambil makan siang.." ramah Anderson.

"Ah, tentu, aku ke sini hanya untuk membantu membereskan sesuatu, ada berkasku ketinggalan jadi aku mengambilnya sendiri..." Larossa terlihat tertarik, dia langsung menutup pintu dari luar dan mengunci.

Mereka menuju restoran Al-Mubarak di dekat komplek apartemen mewah itu. Di sana mereka memesan makanan, menyantap hidangannya lalu mengobrol.

"Bagaima kamu bisa mengenal Masri? Apa kamu juga seorang Masonis?"

"Ya, aku dulu di Illuminati... Aku keluar berkat bantuan dia dan pindah ke Gran Loggia Femminile d'Italia."

"Boleh aku tahu kenapa kamu mualaf sebenarnya?"

"Aku seorang dokter dan sedang meneliti sebuah virus baru misterius yang aneh namun Masri tidak setuju dan membawaku ke sini untuk berlindung dari serangan virus itu." Pelan muslimah bercadar itu.

"Virus apa itu?"




"Itu adalah virus yang bisa membuat lendir di kepala mengental dan sangat berbahaya melebihi level Rhinovirus..." Jelas Larossa.

"Kenapa kamu berlindung ke sini?" Tanya Anderson.

"Karena ini tempat paling aman sedunia dan sangat sedikit sekali kriminalisme di sini!" Bisik Larossa.

"Maksudmu satanis mengejarmu?" Bisik Anderson.

"Ya... Aku harus selamat, virus ini akan di sebar nanti tahun dua ribu delapan belas... Sekarang mereka sedang mengadakan study mengembangkan virus ini menjadi alat perang bio teknologi. Dan aku memiliki salinan prosedur pembuatan virus ini! Ada masing-masing standart yang akan secara bertahap dikeluarkan di setiap tahun selanjutnya!" Bisik Larossa.

"Sekarang apakah cukup waktunya?" Anderson.

"Sangat cukup! Aku mengumpulkan teman-temanku yang menentang projek ini. Karena ini bisa berefek sangat berbahaya..." Larossa mengetuk meja makan.

"Kalau begitu kita berdua harus menikah!"

"Kita berdua?"

"Aku dan kamu sependapat, derajatku sekarang tiga dua..."

"Bagaimana dengan Masri nanti? Dia juga melamarku!"

"Masri mendukung penyebaran virus itu supaya ekonomi Arab di puncak, dia berencana menanam saham di persenjataan dan memblokir akses bantuan Arab ke Palestina secara berkala menggunakan sistem perjanjian ekonomi lama..."

"Dari mana kamu tahu?"

"Tadi malam kami berdebat, dia ingin memusnahkanku dari LV, dia ingin membongkar misi rahasiaku... Dan setelah sembuh dia akan menyerangku lagi... Tapi tidak... Rekanku sudah meruqyahnya tadi malam..."

"Meruqyahnya?"

"Ya, karena itu dia stroke sekarang setelah diruqyah!"

"Ya Allah, dia menyekutukan Allah!"

"Kita sama-sama tahu seperti apa Lux Vanisher itu! Tentang simbol mata satu itu... Itu bukan mata milik Allah. Allah tidak bisa dideskribsikan lewat simbol apa pun..." Anderson lirih.

"Maksudmu kau akan melindungiku dengan statusmu dalam persaudaraan? Lalu bagaimana dengan Masri?"

"Misiku lebih besar daripada misi Masri. Aku akan membawa konsep Messiah. Aku sudah mengajukan segalanya. Perkumpulan ini benar-benar akan mengalami revolusi melebihi Ku Klux Klan." Sindir Anderson.

"Aku.. takut jika Masri akan memusnahkanmu..." Larossa.

"Ayo kita jenguk dia.." Anderson beranjak bangkit diikuti Larossa.

Mereka berjalan keluar dari restoran dan menuju Saudi Medica Hospital. Di sana mereka menjenguk pria malang itu.

"Assalamu alaikum" sapa Anderson kepada saudara Masri yang menjaga, disusul Larossa.

"Waalaikum salam wa rahmatullah, Saudara!"

"Boleh saya melihat Saudara Ahmad al-Masri?"

"Oh, ya silahkan..." Saudara Masri kemudian meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka berbicara masalah pribadi.

"Ahmad al-Masri, Saudaraku?" Anderson duduk di samping ranjang pasien.

Masri melirik, hanya diam dengan mulut yang sudah tidak simetris. Dia memandang Larossa dengan tatapan menyedihkan.

"Maafkan aku sudah menghilangkan jin itu dari tubuhmu.... Aku yang bertanggung jawab atas sakitmu saat ini.." rendah hati Anderson.

"Tidak..." Ucap Masri tidak begitu jelas dengan berusaha menggeleng.

"Kau tahu, aku melamar Larossa..." Pelan Anderson.

Mata Masri melotot dan seketika terlihat lemas.

"Maafkan aku..." Anderson bangkit dan merangkul Larossa pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Masri yang melamun menatap langit-langit kamarnya.

"Kau yakin? orang bayaran Masri akan bertindak setelah ini..." Bisik Larossa yang bercadar hanya memperlihatkan mata hijaunya.

"Kita akan sering keliling dunia, jangan merasa risau... Dia akan sibuk menghabiskan uang untuk berobat agar lekas sembuh.."

"Masri sangat kaya..."

"Kau tenang saja..." Larossa belum tahu status kebangsawanan Denmark yang sedang menyamar ini.

"Kita akan aman di Madinah! Di sini sangat aman!"

"Aku tahu..." Anderson menggandeng Larossa yang mengenakan sarung tangan, seolah mereka sudah menikah.

Mereka berjalan ke kantor kementrian kehakiman untuk mengurus surat pernikahan. Hari itu juga dengan dua saksi sahabat Anderson di Arab, ia menikahi Larossa di hadapan hakim Mahkamah Syariah. Di malam hari betapa leganya Larossa tiba di apartemen sang suami.

"Jadi kau selama ini tinggal di rumah saudarinya Masri? Kau pergi dari Itali tanpa membawa apa-apa? Aku akan membelikanmu segalanya... Namun satu hal... Kita harus membicarakan rencana kita lebih matang... Maafkan aku jika bukan waktu yang tepat untuk mengajak si kecil turun ke dunia sekarang... Namun jikan kau minta aku akan memanggilnya turun dari langit..." Goda Anderson.

"Hahaha..." Larossa yang duduk di ranjang dengan suaminya itu membuka cadar.

Anderson terpesona dengan kecantikan wanita Italia berusia tiga puluh tahun itu.

"MaasyaaAllah ini bidadari dari Allah untukku!"

"Hahaha..."

"Kenapa kau mau kunikahi? Kita baru kenal?" Anderson tak habis pikir.

"Kau tahu sejak pertama melihatmu aku juga menyukaimu, caramu bicara dan segalanya membuatku yakin aku aman bersamamu..."

"Tapi kau terus menyebut Masri Masri Masri..."

"Haahaha... Aku mau tahu kamu itu pecundang atau benar-benar tahu batas kemampuanmu dalam urusan ini... Masri itu berpengaruh di sini, kau tahu itu, dia orang dalam pemerintah... Dan dia pengusaha yang banyak menyuntik biaya ke pemerintah..."

"Aku tahu, aku akan terus mendoakannya mudah-mudahan Allah berbelas kasihan menyadakannya.."

"Ide bagus, hanya Allah yang kuasa atas Masri..."

Anderson membaringkan dirinya ke ranjang penuh penat. Sejauh ini belum ada gelagat kenafsuan atas kemolekan tubuh Larossa. Perempuan itu membuka gaun jubahnya dan memperlihatkan dirinya memakai tanktop dan pakaian dalam mini saja. Anderson masih melamun.

"Kau ini benar-benar berhati suci ya?"

"Uh?" Anderson tersadar karena Larossa membelai wajahnya.

"Kau tahu aku ini perempuan dan aku halal... Tapi kau bahkan tidak menghirup aroma parfum di diriku sama sekali.." kata Larossa yang berbibir tipis sambil tersenyum.

"Isi pikiranku adalah memikirkan keselamatan kamu sekarang dan misi-misi besarku supaya orang Arab membuka matanya dan memberi bantuan ke Palestina." Pelan Anderson.

"Aku justru sedang kasmaran banget sama kamu..." Larossa mengecup pipi Anderson lembut berusaha menggoda.

"Umh!" Anderson menghela nafas, menarik Larossa dan memeluknya, meletakkan kepala perempuan berkulit putih dan berambut merah kecoklatan itu di dadanya.

"Degup jantungmu begitu kuat dan tenang, kau memang berjiwa sangat bagus... Dalam kondisi sesibuk apa pun kau berpikir... Tapi hatimu menemukan ketenangan... Kau orang yang beriman... Kau percaya Allah akan meraih tanganmu dari lautan masalah... Aku semakin menyukaimu Sayyid Anderson!"

Anderson membelai kepala Larossa, "aku harus mengajak mereka semuanya... Aku ingin tidur dulu Sayang"  tangan pria itu berhenti membelai.

"Haha..." Larossa sadar suaminya jatuh dalam letihnya.

Dia berinisiatif menggantikan celana jeans pria itu supaya dia bisa tidur dengan nyaman, Larossa melucuti kain jeans dari pinggang Anderson sambil mesem-mesem, melihat si kawan yang pulas saja ukurannya mencengangkan apalagi kalau sudah kukuruyuk.

Namun tiba-tiba gawai Anderson di atas meja ranjangnya berdering.

"Sayangku?" Larossa membaca nama kontak itu.

Dia mengangkatnya karena penasaran, takut jika Anderson adalah laki orang atau pacar orang yang dia tikung.

'Assalamu alaikum'

'MaasyaaAllah, wa alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh' mendengar suara Huda yang ramah dan renyah serak-serak merdu bikin negfans akhirny hati Larossa yang sempat panas jadi bimbang.

'Saudari, kamu istrinya Anderson kah?'

'Ko tahu?'

'Ya, aku menyuruh saudaraku itu menikah tadi malam dan esok malamnya dia sudah menikah, masyaaAllah, Sayyid! Anderson sudah menikah Sayyid!'

'MaasyaaAllah MaasyaaAllah' terdengar suara Kyai Jalil dari jauh.

Larossa menutup mulutnya senyum bingung bercampur malu.

'Assalamu alaikum Saudariku, selamat atas pernikahan kalian, kamu menikahi pria yang hebat dan bermartabat seorang bangsawan dari Denmark yang diam-diam mualaf tanpa sepengetahuan banyak orang, kami titipkan Anderson kepadamu, dia adalah keluarga kami, orang terbaik kami!' Kyai Jalil mengambil alih panggilan.

'MaasyaaAllah! Terima kasih...' betapa syoknya Larossa. Karena mengetahui keluarga kerajaan Denmark kental dengan Kristiani Lutherannya, mustahil bagi Anderson menjadi seorang Muslim.

'Baik lah dimana dia sekarang?' terdengar suara Huda lagi.

'Dia tidur...'

'Oh baik lah biarkan saja...'

'Tunggu, Siapa namamu? kenapa nama kontak kamu Sayangku?'

'Oh hahaha, aku Huda bin Suherman dari Indonesia. ya karena dia selalu jomblo ngenes ga punya gebetan dan selalu kemana saja aku suruh temenin... Kami sahabat sangat dekat! Semua rahasiaku ada padanya. Begitu pula sebaliknya...'

'Ah, baik lah...' Larossa melirik Anderson.

'Aku tidak mau mengganggu kalian, aku juga harus segera menikah secepatnya... Selamat berbulan madu... Assalamu alaikum..'

'Wa alaikum salam...' gawai Anderson kembali terkunci layarnya.

Anderson tidak sadarkan diri, Larossa berpikir sedikit buruk karena dia bukan seorang perempuan lugu dalam satanisme. Dia mencumbu leher Anderson dan membuka kemeja putihnya. Membuka dirinya dan memeluk pria itu.

Dalam kondisi tak sadarkan diri Anderson memeluk Larossa dan membaringkannya, meremas sesuatu yang biasanya tersembunyi dan melahap bibir tipisnya dengan nyaman.

Sejauh ini pikiran Larossa sudah mulai kalem, dia memutuskan untuk bangkit membaringkan pria itu dan melahap urat-urat yang membungkus dedek gemoy Anderson.

Anderson mulai merasakan sensasi melayang dan mabuk dalam birahi namun karena dia sedang setengah sleep paralized, mata yang sukar di buka. Gesture sentuhan itu bermanifestasi menjadi sosok yang selalu terbenam dalam alam bawah sadarnya.

Anderson tanpa sadar bangkit dan meraih sentuhan pertama dia kepada istrinya. Dia melakukannya dengan setengah sadar dan merasa amat sangat bahagia. Hingga kesadarannya bangkit pecah dengan mata terbuka lebar ketika dia menyuntikkan sesuatu yang menyembul begitu saja melarikan diri karena sudah gerah ada di dalam ruangan yang berkedut-kedut.

Mata Anderson terbelalak. Begitu juga Larossa.

"Oh Tuhan! Ma maafkan aku!" Anderson baru sadar itu Larossa.

Tapi Larossa mengira suaminya meminta maaf karena kelepasan tembak dalam.

"Hahaha! Kamu suamiku, tidak apa-apa Sayang!"

"Ugh, ya aku lupa aku sudah menikahimu..." Anderson memeluk wanita tanpa busana itu.

"Aku masih mau lagi..." Bisik Larossa manja.

Anderson menggigit bibirnya genit membuat pipi Larossa memerah malu. Dan mereka pun akhirnya mencobanya lagi. Kali ini Anderson tidak memikirkan wajah yang lain, dia terlihat sangat menikmati dan tenggelam dalam perasaan barunya bersama Larossa.

Sementara itu di kapal pesiar, "Anderson aja bisa masa aku ga bisa move on..." Kekeh Huda kepada dirinya sendiri.


60

Comments

Popular Posts