Bab 19 Harun & Aditya
Sementara itu Harun yang kini bertugas di Jakarta sedang meet up dengan member komunitas milik Yuna di media sosial. Mereka bertemu di Arborea Coffee tempat ngopi yang berlokasi di tengah hutan kota, kafe ini didesain seperti kabin kayu yang unik dan dikelilingi pepohonan rindang.
"Assalamu alaikum, admin Delta..." Harun menjabat tangan pemuda yang masih kuliah semester empat itu.
"Aditya Kertana" pemuda itu ramah memperlihatkan senyum gigi berbehel rapinya.
"Kuliah dimana Adit?" Harun duduk.
"Di U.I Bang, biar dapat kurikulum pertukaran pelajar ke luar negeri..." Aditya menyeruput kopinya.
"Mbak, pesen kopi latte satu!" Lambai Harun.
"Nah trus gimana nih, kamu kan salah satu anak Indigo di grup, katanya kamu punya informasi penting... Dan kamu merasa terancam... Kamu bilang aja sama aku... Aku ini ada tugas misi memang buat mengamankan anak-anak Indigo lah seperti kalian!" Pelan Harun.
"Iya aku tahu, admin empat empat end itu siapa?" Adit ikut serus.
"Dia pro, Bro! Itu akun founder! Bisa bobol situs Zionis tanpa peramban! Makai telepati."
"Oh, ya ya paham aku caranya! Jadi gini... Aku bermimpi pusat Jakarta ini ambles ke bawah, benar-benar ambles ke bawah, terus ada banyak sekali orang-orang yang demo di monas... Mereka semuanya memakai baju gamis putih..."
"Hajay, bukan gamis, gamis itu daster buat cewe... Namanya Dishdasha..."
"Oh, dishdasha apa lah itu... Mana tahu aku kan orang Hindu Bali..."
"Oke lanjut..."
"Nah, semua orang demo di monas sampai banyak banget, aku lihat mereka dari kejauhan, dari langit.... Jakarta benar-benar tanahnya ambles Bang.. setelah ada demo itu.... Lalu jawa seperti melunak... Maksudku tanah jawa menjadi lunak segembur lumpur sampai terbelah jadi dua..."
"Jadi admin empat empat end nyuruh aku datang nih buat meladeni kamu cuma buat dengerin kisah-kisah mimpimu nih?"
"Anjir, ini bukan soal cuma mimpi Bang, admin empat empat end juga tahu kalau mimpiku ini vivid dreaming alias bakalan alias bakalan jadi kenyataan!"
"Ya aku tahu loh aku tahu aku paham! Tapi kan aku bingung jelasinnya, bentar aku telepon dulu admin empat empat end-nya!"
'Tuut... Tuut..' Harun memanggil Yuna dengan ponsel lawas tanpa jaringan internet, menggunakan pulsa biasa.
'Ya.. assalamu alaikum...' mendengar suara Yuna, Aditya tertegun pasalnya admin empat empat end ini selama di grup sudah mampu mengatur ratusan orang dengan data-data terperinci dan semuanya rapi terdokumentasikan setiap bulannya dalam folder-folder link yang tersusun rapi sehingga setiap penelitian orang-orang di grup masih bisa dicek sepanjang tahun. Dan dia mengurusnya seorang diri.
'wa alaikum salam wa rahmatullah, Kapten.. ini mimpi Aditya sudah kudengar semua... Tentang amblesnya tanah Jakarta dan orang-orang Muslim demo di Monas, daratan Jawa menggembur dan terbelas jadi dua pulau..' jelas Harun.
'Itu artinya InsyaaAllah adalah ibu kota Jakarta akan dipindahkan, ada aturan berubah di Indonesia sehingga sangat jauh dari keadilan, kondisi politik kita parah... Keselamatan banyak orang terancam. Ketika hukum Islami sudah hanya terpakai kurang dari lima puluh persen maka keamanan negara akan melemah, bisa menyebabkan aturan milik orang Kafir di luar Indonesia akan merenggut pendirian bangsa dan kita akan terjajah sistem baru orang asing dan terbelahnya Jawa artinya ada kelompok orang yang akan menentang bangsanya sendiri dan menjual saham bangsa ini ke orang asing... Kita harus menangkap jin yang ada di tubuh politikus yang mengusulkan kebijakan anomali itu...' intrepesatasi admin empat empat end itu, Harun menyalakan loud speaker.
'Tapi kemana ini Neng mau menugaskan aa?'
'Ke kantor pusat kepemerintahan Indonesia di Jakarta ga mungkin kan... Coba sisir area di mimpi Aditya...'
'Ada Kapten! Lagi... Mimpiku ada sebuah Masjid aneh!' Aditya.
'Masjid gimana?' Admin empat empat end yang akunnya tanpa identitas di sosmed menyambut.
'Dalam mimpiku ada namanya Masjid Gemini, itu Masjid dibangun oleh dana orang-orang yang berbisnis diskotik dan mereka penyuka sesama jenis, gay gitu... Dan Masjid itu memiliki banyak armada kapal maritim isinya orang-orang gay... Mereka menjadi ulama-ulama atau kyai-kyai yang akhirnya mendirikan pondok-pondok... Mereka merusak Islam dengan merusak generasi Muslim... Maaf kalau tabu banget, ini jujur aku tuh orang Hindu, kenapa mimpi begini?'
'Itu artinya kamu ditugaskan leluhur kamu untuk menuntaskan mereka.. tidak peduli agama kamu apa... Kita tahu kalau orang-orang Islam itu bisa bantu mengerem kemaksiatan di Indonesia sejak dulu sehingga kejahatan melebihi batas di Nusantara ini bisa ditekan tapi sebagian mereka sudah teracuni dan menjadi racun paling mematikan dan melumpuhkan bangsa ini... Mereka harus ditumpas...'
'Oke, terus gimana Kapten?'
'Aku akan cari masjid apa itu! Sementara kalian pulang dulu hari ini tapi janga berpisah jauh, aku akan kabari secepatnya tentang data ini, ini aku resmikan sebagai misi utama tahun dua ribu empat belas ini!'
'Siap!'
'Yaudah, sekian dan terima kasih Comrades atas kepeduliannya kepada Nusantara, Assalamu alaikum!'
'Wa alaikum salam wa rahmatullah...'
Admin empat empat end menutup panggilannya.
"Sepertinya ini lah penyebab banyak orang tokoh agama menyodomi anak-anak pondok akhir-akhir ini... Sepertinya ada komunitasnya ini berarti!" Harun mengeluarkan catatan kecil dari saku dan menulis ringkasan catatan kasus kriminal yang bisa dia gelontorkan ke berkas laporan reskrim.
"Padahal saya ini kan maafnya non muslim ya kok bisa tercebur ke masalah ini..."
"Jangan bilang non Muslim, Muslim itu artinya kaum yang selamat, bilang saja kamu Hindu..."
"Oh, iya Bang..."
"Mereka orang yang mendapatkan laba bisnis dari cara membuka tempat judi, membangun kerjasama dengan orang-orang yang memiliki uang dan tertarik membangun lembaga keagamaan. Di dunia ini secara lembut dan terstruktur dengan mendirikan bank-bank di dunia, mereka mendonasikan uang ke projek-projek keagamaan di dunia, tidak hanya untuk Islam tapi untuk agama apa pun... dan bahkan mereka tidak segan-segan membangun masjid-masjid..." Jelas Harun akhirnya mau buka mulut setelah menyaksikan respon Yuna alias admin empat empat end yang sering diban oleh komunitas wartawan.
Tidak lama kemudian sebelum mereka beranjak, gawai mereka masing-masing berdering, ada notifikasi masuk ternyata dari admin empat empat end yang mengirimkan sesuatu ke forum diskusi komunitas mereka.
'Kenapa setan bisa masuk masjid?
Padahal seharusnya ada penjaga ghaib masjid yaitu malaikat di masjid. Jika kita membicarakan standar bentuk Masjid kita sebaik-baiknya melihat Masjid Nabawi Madinah dan Masjid al Aqsa Jerusalem yang dijaga keasliannya.
Pertama, yang menjadikan setan bisa bersarang di masjid adalah karena ada yang memakai simbol khot lafadz Allah yang bentuknya salah. Yang kedua, kadang ada simbolnya bulan tsabit bukan bulan gamma. Mohon maaf bagi yang baru mengetahui faksa ini. Simbol bulan tsabit atau bintang itu simbol kerajaan jin ular dan iblis. Bulan tsabit adalah simbol Lilith, bintang adalah simbol Lucifer.
Boleh marah dan klaim sejarah Islam, namun harus diingat, masjid di zaman nabi muhammad tidak memiliki simbol-simbol di kubahnya. kalau pun ada pasti jelas gambarnya bulan purnama seperti di Masjidil Aqsa dan di Nabawi, tidak ada yang berani mengubahnya.
Setiap keghaiban selalu ada fisika yang membuktikannya, saya akan buktikan faktanya lewat ilmu fisika yang bersifat tidak bisa dibantah, al-Qur'an yang tidak bisa dibantah artinya ada ilmu fisika dasar yang jelas harus dijadikan patokan ukur kebenaran. Dari penjelasan fisika ini saya akan melanjutkan ke quantum fisika tentang setan.
Kenapa saya bisa menjelaskan seperti ini?
Saya memiliki dasar satu-satunya dan lebih dari cukup tanpa butuh pengakuan sumber penelitian lain karena itu dari yang menciptakan sendiri.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat satu delapa sembilan Allah berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang hilal bulan. Katakanlah Hilal itu adalah tanda waktu bagi manusia dan tanda untuk haji.
Kenapa haji? Ketika Muslim Haji melakukan ritual suci menghasilkan energi cahaya dari darahnya yang berdoa maka kekuatan hitam di dunia akan melemah sebab ketika hilal muncul setan juga beritual memanggil energi hitam.
Dalam Surat Yunus ayat lima Allah berfirman: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar terang dan bulan bercahaya, dan Dia menentukan manzilah-manziiahnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.
Dan dalam Surat Al-Furqan ayat enam satu Allah berfirman: Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan menjadikan padanya sumber cahaya yang terang dan bulan yang bercahaya.
Artinya bulan disandingkan dengan bintang yang memiliki cahaya internal. Bulan diyakini memiliki sumber cahaya sendiri, bukan hanya memantulkan cahaya matahari. Artinya bulan juga memiliki energi elektromagnetik. Cahaya bulan mengandung spektrum elektromagnetik termasuk sinar ultraviolet, visible, dan inframerah karena punya radiasi termal. Bulan memancarkan suhu sejuk yang dihasilkan dari dalam artinya bulan memiliki sumber cahaya sendiri, tidak bergantung pada matahari. Cahaya bulan diproyeksikan ke Bumi melalui kubah langit.
Dan jika masih ada bantahan tentang atapnya bumi berupa kubah langit maka bacakan lah Surat Al-Baqarah ayat dua sembilan, Allah berfirman: Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kamu dan langit sebagai atap. Dan Surat Al-Mu'minun ayat delapan enam dan delapan tujuh, Allah berfirman: Pujilah Tuhanmu, yang mempunyai kekuasaan, yang menjadikan langit sebagai atap.
Nah, sekarang kita bahas korelasi kenapa jin bangsa setan memiliki simbol bintang dan bulan tsabit.
Jin terbuat dari api bisa memanipulasi energi termal, energi termal itu ada di bulan.
Lucifer artinya pembawa cahaya itu adalah bintang fajar yang akan muncul menandakan waktunya sholat subuh.'
Harun dan Aditya saling bertukar pandangan setelah rampung membaca kiriman dari admin empat empat end.
"Aku mau bilang bingung tapi paham..." Kekeh Aditya.
"Nih dia kirim artikel lagi!" Harun menunjuk monitor gawainya.
'Baru-baru ini muncul kejadian adanya Masjid Gemini, dimana dalam satanisme, Gemini adalah simbol feminisme dua orang yang artinya meski pun dia laki-laki maka terlahir dengan jiwa feminis, ini simbolisme gay.
Sebut saja Masjid dari kaum gay. Mulai bermunculan di Indonesia. Dibangun oleh kelompok elite yang mensponsorinya. Akan kita tumpas, untuk itu kita cari leluhur mana yang ditugaskan oleh Allah di bagian tugas penumpasan masjid jenis ini. Setelah ketemu, kita akan kirim doa kepada leluhur tersebut supaya menyampaikan gugatan kepada kasus masjid ini kepada kerajaan langit. Sebab doanya yang akan paling cepat diijabah agar masjid ini cepat rubuh dan tersapu dari Indonesia.
Kenapa sebaiknya meminta dukungan doa dari orang yang sudah meninggal dunia? Kenapa kita tidak berdoa sendiri saja?
Boleh. Tapi kita sebaiknya tahu sifat maha adil Allah.
Misalkan Anda mendoakan seseorang yang zalim, dalam doa tersebut ada kesan Anda benar-benar ingin menghentikannya sekarang juga. Sementara Anda tidak tahu bahwa Allah masih ingin mengujinya dengan membiarkannya berbuat kezaliman. Maka Allah akan mengabulkan doa Anda namun Allah akan membuat Anda melakukan kezaliman tersebut supaya Anda paham rasanya berposisi hidup sebagai orang Zalim itu seperti apa sehingga Anda akan lebih sabar menghadapi orang zalim dan tidak aka terlalu memaksakan diri dala berdoa. Itu berbeda kondisi jika Anda sudah meninggal dunia, tidak ada ujian apa pun lagi. Anda bebas memohon paksa menghentikan kezaliman seseorang tanpa akan mendapatkan ujian pengganti.
Karena itu dalam berdakwah dan ceramah jangan mengatakan hal semena-mena kepada orang zalim karena Allah bisa membalik posisi Anda menjadi orang yang zalim tanpa Anda sadari.
Saya akan membagi tim, silahkan daftarkan diri ke Admin Beta dan Admin Delta sertakan informasi alamat masing-masing cukup sertakan nama kota saja nanti dibahas saat meet up. Sekian informasi dari saya, terima kasih Comrades, wilujeng rahayu!'
Harun dan Aditya saling berpandangan lagi. Penjelasan Yuna memang anti-mainstream.
"Yaudah, aku udah blank ini ga bisa mikir kena blow up admin empat empat end." Aditya menyeruput kopinya, nyebat.
"Hahaha sama... Otakku kaya langsung ter-restart..." Kekeh Harun.
Tidak lama kemudian nomor asing menelepon ponsel jadul milik Harun.
'Assalamu alaikum...'
'Wa alaikum salam wa rahmatullah, Kapten satu tujuh tujuh...' sambut Harun kepada panggilan Huda.
'Soal kasus Masjid Gemini...'
'Ya, ada apa Ndan?'
'Coba telusur ke Magetan...'
'Hah! Magetan!'
"Itu jauh loh!" Respon Aditya.
'Ya... Maaf cuma bisa bantu sampai sini doank soalnya ada banyak masalah nih di sini...'
'Oh iya Kapten, siap Ndan!'
'Assalamu alaikum...'
'Wa alaikum salam...'
"Itu tadi admin satu tujuh tujuh kah?" Aditya sedikit nge-fans sama suaranya barusan.
"Iya, itu kaptennya admin alpha.. yaudah kita berangkat ke Magetan abis ini..."
"Aduh aku ga punya ongkosnya Bang!"
"Elah, gausah pikirin, didanai kok..."
"Seriusan?"
"Iya loh... Yaudah kamu siapnya kapan kita berangkat nih, biar cepat kita gaskeun!"
"Ya... Aku kan di sini ngekos Bang, jadi aku bebas banget mau kapan aja!"
"Yaudah aku siapin kendaraan kita dulu.." Harun mengoperasikan gawainya dan mulai mengetik-ngetik obrolan ke kontak yang bisa memberikannya kendaraan menuju Magetan.
"Magetan, I am coming!" Lihir Harun.
"Bang, firasatku mengatakan kalau perjalanan kita kali ini ga bakalan biasa-biasa aja deh, bakalan banyak rintangannya..."
"Emang... Makanya kamu siap ga? Ingat, kamu anak Indigo lho..."
"Iya, aku tahu... Bakalan banyak banget keanehan nih pasti... Aku udah siap! Ga ada waktu lagi kurasa!"
"Nah aku rasa juga begitu, makanya kalau masjid ini rampung pasti bakalan kelar satu-satu problem di negeri ini..."
"Aku tahu, komunitas ini juga yang bikin korupsi makin lebar..." Aditya.
"Nah, kamu cerdas! Korupsi itu ga akan bisa kelar kalau di bawah banyak sokongan duit, bukan atasan yang korupsi dana dari atas tapi atasan korupsi karena di bawahnya ada yang dukung buat melakukan korup! Orang di bawah pemerintah ini bukan kaleng-kaleng... Mavia ini kalo bisa kita sapu bersih, orang di atas ga akan punya ladang lagi buat dipacul." Gagas Harun.
"Iya, kita bakar-bakar hutan dulu..." Sindir Aditya.
Singkat cerita Harun dan Aditya berpisah setelah berbicara ringan mereka menjadi sangat akrab karena ternyata sefrekwensi. Keesokan paginya mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka melakukan check-in dan menyerahkan barang bawaan. Setelah melewati proses keamanan, mereka menuju ke gerbang keberangkatan lalu menunggu panggilan untuk naik pesawat. Psawat lepas landas dari Jakarta pukul delapan pagi. Mereka menikmati pemandangan awan dan langit biru selama satu jam sepuluh menit sebelum pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Achmad Yani Semarang pukul sembilan lewat sepuluh menit.
Mereka keluar dari pesawat dan menuju ke area pengambilan barang. Setelah mengambil barang, mereka menuju ke pintu keluar bandara. Mereka dijemput oleh Amartha yang kini juga menjadi admin di komunitas Yuna.
"Assalamu alaikum!"
"Assalamu alaikum.."
"Waalaikum salam..."
"Lama ga jumpa Aa!" Harun dan Amartha saling berpelukan dan menepuk bahu.
"Iya Mas, piye kabare?" Harun.
"Alhamdulillah sae, kumaha damang Aa Harun teh?.." Amartha.
"Alhamdulillah sae atuh, kenalin ini Aditya yang join misi ke Magetan mencari leluhur yang bertugas menumpas Masjid Gemini..." Harun membuka tangan.
"Aditya Kertana... Om swastyastu..."
"Amartha, Bli... Om swastyastu..."
"Yaudah yuk ke rumah, istirahat..." Ajak Amartha berjalan di depan.
"Mangga.. mangga... Nyak sok atuh!" Riang Harun.
"Bang.. itu Mas-mas kok banyak banget pengawalnya ya?" Bisik Aditya.
"Maksud kamu?"
"Kaya banyak yang ngikutin, monyet-monyet putih memakai baju kaya orang jawa jaman dulu..."
"Oo itu pemain ludruk itu..." Harun menggeret koper.
"Gundulmu! Monyet-monyet putih lho Bang!"
"Anoman!"
"Aish... Khodamnya... Banyak banget tuh lompat-lompat di sana-sini, penuh ini bandara... Nah mereka semua tiba-tiba lari... Ada siapa tuh!"
"Apaan sih nih bocah!"
"Bang!" Aditya menarik tangan Harun.
"Astaga ada apa sih!"
Harun dan Aditya melihati di kejauha Amartha menuju mobil hitam yang terparkir di depan pintu keluar sementara mereka terhenti.
Ada seorang pria berjas, usianya sudah jauh lebih tua dari Amartha, menepuk pundaknya dari belakang. Amartha berbalik badan dan tersenyum ramah, mereka terlihat bersalaman tangan dan kemudian pria itu mengucapkan beberapa patah kata dan menepuk pundak Amartha si gemoy sambil berlalu meninggalkan si kawan satu itu.
"Ada apa?" Harun berbisik.
"Monyet-monyet putihnya sekarang ga ada di bandara lagi... Semua kabur seperti lenyap!"
"Trus?"
"Kaburnya setelah ada pria perlente itu tadi..."
"Anjay... Jadi maksudmu? Pria tadi itu?"
Amartha melambai ke mereka, "ngapain di situ, sini!"
"Aku yakin Amartha belum tahu soal ini" lirih Harun menyeret tangan Aditya sambil nyengir.
"Hehe tadi dia kebelet berak takut jalan katanya mau kentut eh ada ampasnya ikutan brojol jadi kami berhenti dulu biar dia bisa jepit lubang pantatnya! Hehe!" Mulut beracun Harun mode on.
"Bajingan, punya abang satu ini ya!" Aditya memukul lengan atas Harun.
"Hahahha!"
"Hahaha... Bisa aja... Yaudah ayo!"
Amartha mengajak masuk mobil. Mereka lalu menuju rumah Amartha dan beristirahat sambil leyeh-leyeh di gajebo langganan ngopi para tamu yang sering ngumpul.
"Mas... Khodam Sampeyan banyak bener ya..." Aditya buka omongan.
"Para pasukan monyet putih kecil-kecil kan?" Ramah Amartha.
"Iya... Itu kalau boleh tahu, Sampeyan dapat dari siapa?"
"Saya waktu itu bertapa di hutan gunung Merapi Bli, jadi saya dapat tasbih ghaib dan pasukan penjaga gunung Merapi... Mbah saya itu anggota para juru kunci gunung Merapi... Jadi turun temurun bakat saya ini..."
"Nah anehnya waktu pria berdasi tadi nyamperin Sampeyan, mereka melipir kabur..."
"Wah, ya ga heran donk, itu tadi petinggi di sini Bli, di badannya ada jin Illuminatinya..."
"Kenapa kabur Mas?"
"Mereka ga mau cari masalah ribut... Saya suruh tetap tenang... Tapi kalau Merapi diusik, kalau dia bikin aturan kirim pasir keluar Jawa Tengah... Para monyet ini akan bertindak tegas Bli, karena kalau sampai gunung Merapi berjalan-jalan alias pasirnya diangkut keluar Jawa Tengah... Itu tandanya wedhus gembel akan menyusul majikannya jalan-jalan alias meletus lah Merapi..."
"Memang seperti itu ya Mas?"
"Ya, memang seperti itu Bli..."
"Bang.." Aditya yang memegang kopi panas lupa, dia menoleh ke Harun buru-buru sampai tumpah air kopinya ke paha Harun.
"E jancuk... Panas... Panas...!"
"Maaf maaf!"
"Wanjer, akyu ga hompimpa! Jangan pegang paha akyuh ih!" Harun menepis tangan Adtya
"Anjir!" Aditya menepuk jidat.
"Hahaha.."
"Jadi ini kalian mau kemana setelah dari sini?" Amartha paham pasti ada tujuan Harun ke sini, dulu dia datang dengan luka, kini dia datang bertamu dengan utuh sehat kondisinya, Amartha manggut-manggut mengingat memori itu.
"Ke Magetan Jawa Timur! Mencari leluhur yang bertugas memberantas Masjid Gemini..." Jawab Harun sambil mengelus pahanya sebentar.
"Apa loe liat-liat!" Harun melirik ke Aditya yang melirik paha Harun yang tadi di elus.
"Ebuset dah, cuma liatin doank, aku ga hompimpa juga kales bok tolong deh! Mentang-mentang lagi bahas masjid amburadul masa gue kena juga hawa-hawa sialnya.. bangke lah!" Aditya mendorong Harun dan menyeret dirinya duduk menjauh.
"Haahhahaa!!" Amartha terkekeh.
"Jadi gimana nih ke Magetan spotnya mana juga aku belom tahu, disuruh nyari sendiri... Nah kamu lah yang terawang di mana lokasinya!"
"Kampret lah! Mana bisa konsentrasi kalau gini, nyebat dulu ah..." Aditya menyakakan rokok dan menghisapnya.
"Ya... Kalau susah... Kamu kan Indigo ya... Biasanya ya bisa nerawang tempat angker gitu... Atau kita ke pondok pesantren Magetan aja kali ya?"
"Pondok pesantren yang mana? Pondok di Magetan lumayan banyak lho Aa Harun.."
"Banyak?"
"Iya, tapi yang paling terkenal itu Pondok Pesantren milik Mbah Yai Imam Sofwan. Pondok Pesantren Al-Ittihad Magetan sejak tahun empat puluhan. Pondok ini lah satu pondok pesantren terbesar dan terkemuka di Jawa Timur, dengan fokus pada pendidikan agama, tahfizh Al-Qur'an, dan pengembangan karakter Muslim."
"Siapa tadi Mas namanya?!" Aditya menoleh sambil mengernyitkan jidat merasa ada getaran memori redusi dari mimpinya.
"Mbah Yai Imam Sofwan, Bli.." Amartha memelankan ejaannya.
"Kau mulai merasakan kepekaan?" Harun memastikan.
"Tunggu sebentar..." Aditya meletakkan rokoknya ke asbak lalu menutup mata sambil berkonsentrasi dalam titik hening.
Harun dan Amartha menunggu, mengamati sambil diam dan merokok. Membuat keheningan tetap bertahan menemani sukma Aditya yang melayang dalam jagat ayat.
Tidak lama kemudian sambil masih memejamkan mata, Aditya mulai bicara pelan dengan nada mengambang karena berada dalam kesadaran dua dunia.
"Mbah Yai Imam Sofwan bin Abdul Jalil seorang ulama Magetan, Jawa Timur. Meninggal tahun delapan sembilan. Aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Menjadi anggota Barisan Hizbullah dan Tentara Republik Indonesia. Terlibat dalam Pertempuran sepuluh November tahun empat lima di Surabaya.
Pada Februari delapan sembilan, Mbah Yai Imam Sofwan dibunuh di sumur miliknya. Peristiwa ini terjadi saat beliau sedang berwudhu. Pelaku pembunuhan adalah seorang santri yang mengalami gangguan jiwa." Aditya meringkas penglihatannya lalu membuka mata, mengambil kopi di cangkir dan menyeruputnya pelan dan kembali nyebat.
"Santri gila?" Heran Amartha.
"Kenapa Mas? jujur aja aku kalau sejarah ga tahu banyak apalagi soal beginian makanya aku datang ke sini, meminta Mas Amartha untuk ikut campur di misi ini..." Harun berharap Amartha bisa memimpin pencarian petunjuk di misi ini.
"Ikut campur hehehe... Bisa aja Aa teh, insyaaAllah saya ikutan...
Nah, setahu saya bukan santri gila yang bunuh tapi mbuh juga kalau memang ada orang penjajah yang nyamar jadi santri trus membunuh Beliau..." Duga Amartha.
"Memang sejarah yang sebenarnya gimana Mas?" Aditya penasaran.
"Kita mungkin akan mendatangi wilayah pemukiman orang santri Bli. Panjang cerita kalau soal Mbah Yai Imam Sofwan... Kita akan ke sumur Cigrok kalau begini alurnya..."
"Coba jelasin aja pelan-pelan Mas, kita relax ga capek kok..."
"Sumur Cigrok itu sumur tempat pembantaian para kyai dan santri. Ada banyak sumur yang PKI pakai untuk bunuh para Kyai.
Beberapa sumur yang dilaporkan sebagai tempat pembantaian santri dan kyai oleh PKI tahun sembilan belas enam lima, di Jawa Timur itu ya Sumur Kebo Sari, Magetan. Sumur Cikapundung, Magetan itu malah tempat pembantaian massal. Sumur Ngadiluwih, Kediri itu tempat pembantaian kyai dan ulama. Di Jawa Tengah ada Sumur Simo, Boyolali itu juga tempat pembantaian kyai dan ulama. Sumur Kedung Ombo, Grobogan itu juga justru tempat pembantaian massal. Di Jawa Barat ada Sumur Cimande, Cianjur itu tempat pembantaian kyai dan ulama. Di Bali Sumur Suwung, Badung itu tempat pembantaian massal." Jelas Amartha.
"Nah kali ini coba Mas jelasin yang sumur di Magetan ini Mas!" Penasaran Aditya.
"Cigrok hanyalah salah satu tempat dari dua puluh empat desa di sekitarnya yang menjadi lokasi pembantaian para kyai dan para santri. Desa-desa itu semua adalah kampung santri.
Di sumur tua Cigrok itu Kyai Imam Sofwan dari Kebonsari, termasuk di antara salah satu korban keganasan kawanan PKI di bawah komando Muso pada tahun empat delapan. Kyai ini dipukuli lalu diceburkan ke dalam sumur itu. Itu kisah yang sudah menjadi cerita umum masyarakat di sekitar Cigrok.
Tapi meski pun Beliau dihajar dan dihujani aneka benda-benda keras dari atas sumur, Kyai Imam Sofwan belum menghembuskan nafas terakhir juga. Dalam kondisi yang sudah kritis, Beliau memasrahkan dirinya kepada Gusti Allah lantas mengumandangkan lantunan adzan.
Ada warga setempat namanya Muslim yang tinggal tidak jauh dari sumur itu, dia rupanya mendengar suara adzan tersebut. Malam dini hari itu katanya memang mencekam. Terdengar suara gaduh para pasukan FDR atau PKI yang membentak-bentak para tawanan. Ia hanya bisa mengintip dari bilik rumahnya karena ketakutan, namun dalam pendengarannya itu Muslim merasa seperti mengenali suara azan dari salah satu sumur itu. Semakin dilamatkan pendengarannya, ia semakin yakin pemilik suara adzan itu adalah Kyai Imam Sofwan dari pesantren Kebonsari.
Karena sudah kelelahan dan tenaga habis Kyai Imam Sofwan akhirnya wafat bersama tumpukan mayat-mayat yang penuh anyir darah. Naasnya, tidak jauh dari sumur itu, kedua putra Kyai Imam Sofwan yang bernama Kyai Zubair dan Kyai Bawani juga ikut menjadi korban pembantaian di sebuah sumur di Desa Kepuh Rejo.
Saya baca dari sebuah situs di situ ada saksi mata bernama Achmad Idris yang ketika itu juga sebagai tawanan tentara FDR atau PKI. Dia menyaksikan penjagalan biadab itu semua dari kejauhan. Meski sayup-sayup, dia sangat mengenal suara adzan Mbah Yai Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu. Sebab, ia sering mendengarkan pengajian-pengajiannya.
Idris menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sambil dengan tangan terikat mereka berdiri dihadapkan ke sumur. Para tawanan itu satu persatu dihantam dengan pemukul lalu menjerit roboh ke dalam sumur.
Tak semuanya langsung gugur dan tewas dalam pesta penjagalan itu. Ada yang masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka berusaha menggapai dan mencari pegangan untuk bertahan. Melihat para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Hal yang sama sebagaimana dialami Kyai Imam Sofwan beserta kedua anaknya Kyai Zubair dan Kyai Bawani yang masih hidup ketika dimasukkan ke dalam sumur.
Korban sumur Cigrok setidaknya berjumlah dua puluh dua orang. Di antara para korban itu selain ada Kyai Imam Sofwan adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM Takeran.
Addaba’ adalah seorang ustadz dari Mesir yang ditugaskan mengajar di Pondok Pesantren Takeran. Imam Faham adalah adik Muhammad Suhud yang juga jadi korban keganasan PKI.
Imam Faham sendiri sebetulnya ikut mengiringi Kyai Imam Mursyid Muttaqin saat dibawa oleh mobil PKI seusai Jumat, tujuh belas September empat delapan. Namun, di tengah perjalanan rupanya Mbah Yai dan pengawalnya rupanya dipisahkan dari rombongan. Imam Faham diturunkan di tengah jalan dan keesokannya ditemukan dikubur di lubang sumur pembantaian Cigrok.
Tak hanya para kyai dan santri yang menjadi korban, Camat Takeran Prijo Utomo juga dijagal di sumur Cigrok itu bersama Komandan Polisi Takeran yang bernama Martowidjojo beserta beberapa anak buahnya. Itu yang saya tahu dari seorang narasumber bernama Anab Afifi tahun lalu dalam jurnalnya" Papar Amartha dengan nada sendu.
"Jadi... Ini misi ada kaitannya dengan Mbah Yai Sofwan?" Aditya bertanya kepada Harun.
"Humm... Sebentar... Urang hubungi dulu admin empat empat end..." Harun merogoh sakunya dan menelepon Yuna.
'Assalamu alaikum..'
'Wa alaikum salam wa rahmatullah...'
'Neng, ini sudah ada petunjuk, urang ngobrol sama Aditya sama Mas Amartha... Petunjuknya mengarah ke Mbah Yai Imam Sofwan Magetan Jawa Timur... Mungkin Neng ada petunjuk untuk memperjelas kepada kami nih, bener ngga sasaran leluhur kita itu Beliau...'
'Sebentar saya nanya dulu ke Gusti Allah lewat membaca al-Qur'an..'
Yuna kemudian menulis: 'Ya Allah apakah benar Mbah Yai Sofwan yang bertugas mendoakan keadaan Masjid Gemini supaya masjidnya bubar?' ke gawainya.
Pertanyaan itu tercatat sebagai catatan tanggal empat belas Februari dua ribu empat belas jam lima belas tiga puluh. Yuna kemudian menjumlahkannya dengan angka numerologi kelahirannya yaitu angka tiga. Sehingga mendapatkan angka delapan.
'Buka al-Qur'an surat delapan ayat delapan, namun untuk menguatkan pikiran bacalah ayat disekitar ayat delapan' kata Yuna di telepon.
Amartha mengambil al-Qur'an terjemahan yang berada di lemari gajebo, lalu mencari halaman juz sembilan dan menemukan surat al-Anfal ayat delapan.
"Subhanallah, ini saya bacain sekitar ayat delapan ya Mba..." Kata Amartha agak keras.
Amartha membacakan surat dan maknanya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke tujuh surat al-Anfal: Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjata lah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke delapan surat al-Anfal: Agar Allah memperkuat yang hak Islam dan menghilangkan yang batil syirik walaupun orang-orang yang berdosa musyrik itu tidak menyukainya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke sembilan surat al-Anfal: Ingat lah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.'
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam ayat ke sepuluh surat al-Anfal: Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Mendengar kerampungan bacaan Amartha maka kemudian Yuna menjelaskan karena ada Aditya yang belum mengenal istilah tertentu, "Ulama merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama, khususnya Islam. Mereka dipandang sebagai pemahaman dan penafsiran ayat-ayat Allah SWT. Dalam Islam, ulama memiliki peran penting sebagai Pemahaman dan penafsiran Al-Qur'an dan Hadits, Pembimbing spiritual dan moral, Pengembang ilmu pengetahuan Islam, Pemberi fatwa dan saran hukum dan Pendidik dan pengajar agama.
Dalam Al-Qur'an, ulama disebutkan dalam beberapa ayat, seperti Surat Al-Baqarah ayat satu dua sembilan, Surat Al-Baqarah ayat dua tiga satu, Surat Al-Imran ayat delapan belas dan surat An-Nahl ayat empat tiga.
Ulama harus memiliki sifat-sifat seperti memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, kebijaksanaan dan kesabaran, keadilan dan kejujuran, ketaqwaan dan ketakwaan dan kemampuan berkomunikasi efektif.
Dengan demikian, ulama memang merupakan 'Ayat Allah' karena mereka membantu umat memahami dan mengamalkan ajaran-Nya.
Artinya jawaban Allah tadi mengkonfirmasi kebenaran betul tidak Mbah Yai Imam Sofwan adalah ayat-Nya dalam urusan ini.
Oke, kita akan adakan acara mendoakan Beliau secara online berjamaah di rumah masing-masing setelah sholat fardlu di rumah masing-masing dengan sistem absen... ' Papar Yuna, mendengar itu maka Aditya manggut-manggut.
'Mba kita udah terlanjur sampai ke sini nih... Di Semarang... Ada tugas lain ngga biar kita selesaikan di sini?' Obrol Aditya.
'Ada... Coba meet up sama member-member kita lalu adakan acara bersama kalian di situ... Kita coba cari tahu efeknya jika orang seperti kalian berkumpul, ada reaksi alam apa... Dan apa kah akan ada yang tidak diinginkan terjadi... Himbaukan untuk waspada... Kita tidak tahu apa akibatnya jika semua paku bumi berkumpul...'
64
Comments
Post a Comment