Bab 22 Huda di London

 Setelah di Asosiasi milik Yuna diumumkan keresmian misi menelusur calon tumbal pesawat oleh tim yang ditunjuk Yuna dan Harun memimpin penelitian keturunan dukun yang selalu dibayar untuk membunuh Kyai selama bulan Februari, Asosiasi banyak menerima serangan dari sadapan para hacker satanis.

Asosiasi mereka mendapatkan banyak fitnahan dari forum lain yang ternyata di belakangnya ada anggota yang merupakan anggota sekte kabalah. Namun hal itu bisa diselesaikan oleh Yuna. Asosiasi semakin kuat karena hari demi hari para anggota menghadapi kasus-kasus berat

Bulan pun berganti ke angka selanjutnya, sementara itu di London, Huda, Davos dan Amir menunggu Kyai Jalil diskusi dengan seorang dosen Orientalis saat ini, mereka duduk di anak tangga teras universitas ternama di London.

"Kayanya kita akan jauh lebih lama tinggal di sini Mas" Amir nyebat tipis-tipis.

"Kenapa bisa gitu?" Huda mengawasi Kyai Jalil di kejauhan yang duduk dengan sang dosen bule terlihat serius membicarakan teori.

"Soalnya berat banget kekentalan aura darah penumbalan bayi di sini... Terlalu banyak darah anak-anak semerbak di kota ini..." Amir menoleh ke sekitar.

"Banyak orang aborsi di sini dan darahnya dijual belikan ke orang vampir, di sini banyak suku vampir rahasia Kang..." Davos berbicara pelan sambil mengusap batu akik cincin kesayangannya yang berwarna merah.

Di London, bulan Maret ini mereka merasakan musim semi. Pada bulan ini, cuaca di London cenderung dingin dan berawan. Suhu rata-rata pada bulan Maret adalah sekitar sebelas celsius. Selain itu, curah hujan pada bulan Maret juga relatif rendah, dengan rata-rata tiga puluh satu milimeter. Musim semi di London biasanya berlangsung dari bulan Maret hingga Mei sehingga pemandangan bunga mekar di sana sangat menghibur rombongan Kyai Jalil, mereka memandangi taman di hadapan gedung universitas.

"Buk!"

"Eh, sorry!"

Ada beberapa buku jatuh di samping Huda dan satu unit laptop mendarat di kepala Huda namun sigap laki-laki itu memegang laptop dengan kegesitan tangannya yang berjari panjang dan telapak lebar. Langsung terdengar suara perempuan muda menyambut kejadian itu.

Huda menoleh langsung ke sumber suara, ternyata seorang pemudi berhijab, mungkin mahasiswi di universitas ini. Hidungnya mancung berbibir tipis dengan tinggi kira-kira sekitar tujuh puluh lima sentimeter.

"Maaf sungguh saya minta maaf saya tidak bermaksud sengaja kepadamu!" Tuturnya menyesal dengan suara tergupuh dan gugup menggunakan bahasa Inggris formal.

"Iya ga pa pa!"  Jawab Huda cuek tanpa menoleh menyodorkan laptopnya makai tangan kanan dengan bahasa Indonesia.

Perempuan itu mengambilnya pelan.

"Yakin?"

"Heh?"

Perempuan itu melompat kecil ke tanggah bawah, menghadapkan wajahnya tepat ke muka Huda dengan berbicara makai bahasa Indonesia.

Huda langsung kaget sambil mengernyitkan alis sedikit melotot syok.

Amir dan Davos berpandangan sambil mesem.

"Iya aku baik saja."

"Ko marah, aku kan udah minta maaf, plis maafin aku ya plis!" Perempuan itu menyatukan tangannya ke depan wajahnya memelas.

"Iya." Huda langsung berdiri.

Perempuan itu bergegas memunguti bukunya dan berdiri tegap.

"Rika!" Katanya lagi ceria.

"Hm?" Huda mengangkat dagunya dengan dingin, melirik perempuan itu.

"Huda." Cueknya.

"Boleh kita berteman?" Ceria Rika.

"Boleh ga kita juga mau nih berteman!" Amir usil.

"Aku juga mau jadi teman kamu uhkty!" Davos mengedipkan mata.

"Hahaha, kalian mahasiswa juga kah?" Rika terlihat riang.

"Bukan." Huda melangkah ke teras universitas.

Siapa sangka Rika mengekor.

"Terus di sini ngapain? Kerja kah? Tur?"

Huda menghela nafas dan memutuskan duduk, dan Rika duduk di hadapannya, meletakkan buku dan laptop di meja.

"Ada perlu apa Nona?" Dingin Huda.

"Ih, ga boleh kaya gini sikapnya, Indonesia itu terkenal dengan keramahan orangnya, kamu di luar negeri itu harus mempromosikan sifat dan ahlak orang pribumi kita... Senyum... Ramah... Rendah hati tidak sombong gitu lho!" Manyun Rika.

Huda mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Boleh kan jadi teman?" Rika pantang menyerah.

"Kamu ini kenapa sih? Jual mahal dikit kek jadi cewe!" Lirik Huda dari atas ke bawah menyaksikan penampilan Rika yang ternyata rapi, aromanya juga wangi dan wajahnya khas banget ukhty-ukhty kalem bertemakan sorgawi.

"...." Rika mendadak cemberut dan menurunkan matanya yang berbulu mata lentik.

"Maaf." Kalem Huda sambil terus melihati Rika.

"Aku merasa ga aman di sini... Maaf, aku pergi aja.." Rika berdiri meraih buku dan laptopnya.

"Ah?" Tangan Huda menggenggam lengannya, menahan agar tinggal lebih lama lagi.

"Apa yang mengancammu?"

"Rika! Ya Tuhan kemana saja kamu sayang?! Aku cari keliling-keliling kampus!" Suara seorang pria brewok Prindafan mix Eropa dari belakang Huda terdengar, dia mendekati mereka.

Amir dan Davos yang sedari tadi menyimak dari anak tangga masih pasang muka santuy.

"Siapa dia? Lepasin tangan kotormu dari cewekku!" Tunjuk pria ganteng brewok berbadan kekar berkulit sawo agak terang itu.

Huda melepaskan tangannya, dia melihat wajah Rika yang tidak nyaman, dari sorot matanya terlihat memohon untuk diselamatkan.

"Siapa kamu kenapa kamu berani-beraninya gangguin pacar aku?" Pria gajelas itu meraih kerah baju Huda dan berusaha menariknya mendekat tapi Huda tidak bergeming.

Akhirnya Huda bangkit berdiri, pria itu mundur sedikit menyadari bahwa pertahanan badan Huda barusan kuat.

"Mau apa sama dia?" Huda kalem dengan mata ogah-ogahan.

"Huh! Asal kamu tahu ya dia itu udah aku bekasin, udah aku nikmatin, aku habisin, aku hisap-hisap aku jebolin depan belakang, udah sampah dia itu tapi kamu pungut!" Pria sok kecakepan itu menunjuk-nunjuk dengan nada lirih namun ada intonasi yang ditekan.

"Busuk mulut kamu ya diam! Aku bahkan selalu menghindari kamu setiap kita ketemu di jalan!" Lirih Rika sambil meneteskan air mata tidak terima dituduh seperti itu.

Huda menjilat giginya sendiri di dalam mulut seolah terasa gatal.

"Kamu... Lebih baik jauhi binatang jalang ini karena dia cuma mau memanfaatkan duit laki-laki saja... Dia itu murahan!" Sambil menepuk bahu kanan Huda, pria berbaju mahal itu sok akrab.

"Aku suaminya." Santai Huda.

"Huh?" Rika termelotot, dia menelan ludahnya sendiri.

"Apa? Kau suaminya? Hhaha!" Rahul Smith nama pria itu, dia terkekeh dia mendengarnya sampai terpingkal-pingkal.

Suara tawanya membuat Kyai Jalil dan Professor Albert sempat terganggu saat mengobrol, mereka menoleh.

"Sebentar.." Kyai Jalil menghampiri santrinya.

"Ada apa ini Gus?" Kyai Jalil bingung.

"Aku datang dari Indonesia untuk melakukan pesta pernikahan di sini dengan istriku, yang sempat tertunda karena aku banyak acara dan kesibukan." Tegas kalem si Huda.

"Hup." Si Prindafan bungkam mulut.

"Oh, ya... Ini istri dia! Mereka menikah tapi belum dipestakan!" Cengar-cengir Kyai Jalil.

"Yaudah, ntar datang aja ya Bro!" Timpal Davos di kejauhan.

Rahul brewok celingukan ke sana ke sini karena merasa kalah pamor, "ah shit!"  Umpatnya sambil berlalu menjauh.

"Wah Gus, serius mau nikah?" Kyai Jalil menggoda.

"Makasih sudah nolongin aku tapi dia itu salah satu dosen di sini, gimana donk ini gawat!" Lirih Rika sambil terisak-isak menutup mulutnya.

"Lah, emangnya ada masalah apa, ya milih lah Mbak, salah satu..." Usul Kyai Jalil dengan nada lugu.

"Saya ga mau, saya ga suka sama dia, dia kasar..." Keluh Rika.

"Terus kamu maunya nikah sama Gus Huda yang tampan dan gagah perkasa ini?" Nada Kyai Jalil khas.

Rika mengangguk-angguk keras sambil mesem juga nangis.

"Hahahhaha anjay!"

"Hahahaha!" Amir dan Davos tak habis pikir.

"Wah, Gus laris manis!" Kyai Jalil menepuk punggung Huda.

Huda mengelap mukanya sendiri sambil mengerjab.

Rika mesem kesengsem pipinya merona parah.

"Cantik lho Gus, kuliah di London di universitas favorit, berarti pinter Gus, ayo di kemon aja!" Dukung Kyai Jalil sambil berlalu menghampiri Professor Albert dan mereka berjalan mengarah ke perpustakaan.

Amir dan Davos bangkit mendekati Huda dan Rika.

"Udah lah mana tahu memang jodohmu Mas Huda!" Amir sumringah.

"Emangnya semua di dunia ini ada namanya pertemuan tak sengaja? Semua ini terjadi disengaja sama yang di atas. Ucapan Mas Huda tadi itu terlontar spontan lho!" Davos menyugesti.

Huda menghela nafas panjang sambil memasukkan dua tangan ke kantong celana depan.

"Baru juga kenal, bisa masak ga nih?" Lirik Huda berusaha ramah.

"Bisa! Mau dimasakin apa? Ibuku orang asli Padang! Punya rumah makan Padang kok!"

"Nah loh!"

"Mampus ga loe hahaha!" Davos menimpal.

"Hahahaha"

"Astaga..." Huda kembali duduk, mengelap muka dengan berpangku tangan di meja.

Rika duduk malu-malu kucing di hadapan Huda masih memeluk dua buku tebal dan laptopnya.

"Kamu itu seorang Gus ya?" Lirih Rika jadi segan.

"Pokoknya takdir membawa kalian dalam pertemuan ini! Digaskeun aja udah!" Davos duduk bersandar ke tembok di belakang Rika.

"Jodoh ga datang dua kali!" Amir duduk di samping Huda menyemangati.

Huda menundukkan matanya, jantungnya terasa perih.

"Yaudah ga pa pa kenalan aja dulu, ntar diatur tanggalnya.." Huda kalem.

"Nah gitu donk!" Amir merangkul erat Huda.

"Alhamdulillah dapat calon laki ganteng sholeh pinter gagah perkasa ya Allah..." Rika mengusap wajah.

"Hahahhaha!"

"Hahahhah!!" Davos dan Amir tertawa sangat puas melihat kepolosan Rika.

Huda manyun sambil angkat dua alis. Rika mengamati sikap dingin Huda malah semakin tertarik.

Setelah puas berdiskusi dengan Professor Albert, Kyai Jalil kembali ke rombongan. Beliau dan anggotanya pergi ke rumah orang tua angkat Rika di London. Rika juga menghubungi ke dua orang tuanya untuk mengabari bahwa dia akan menikah segera dengan Huda. Biaya pernikahan di Quick Civil Wedding saat itu dua puluh jutaan rupiah, Huda dengan lemas merenung di sofa tamu dan nampak sekali di mukanya tidak sungguh-sungguh tertarik kepada Rika. Namun Rika terus berusaha meyakinkan Huda agar tetap melanjutkan rencana mereka.

Keluarga angkat Rika menahan rombongan Kyai Jalil dari buru-buru pulang dan mengajak makan siang di rumah mereka. Rika hidup dengan keluarga Georgia Harrison selama belajar di London. Dan jika dia menikah dengan Huda maka dia mungkin akan pindah ke apartemen Huda, itu dipikiran Rika namun ternyata tidak. Huda ingin melanjutkan perjalanannya dengan Kyai Jalil dan rombongan. Karena dia belum merasa siap terikat dengan hubungan dan seseorang, dia belum siap hidup monoton satu atap dengan orang yang sama setiap harinya. Akhirnya Rika memutuskan menerima keinginan Huda dengan berat hati, dengan begitu masih ada waktu sepekan sebelum Huda meninggalkan London dan pergi ke Edinburg-Skotlandia.

Tiga hari kemudian setelah pengurusan surat pengesahan hakim setempat untuk menikah, upacara pernikahan Huda dan Rika berjalan khidmat di the London Central Mosque. Dan sayangnya setelah acara pernikahan itu Huda terlihat tidak begitu bahagia dan sedikit tertutup dari Rika. Pagi itu setelah acara akad nikah, Kyai Jalil dan rombongan ikut Imam masjid untuk makan bersama. Namun Huda terlihat lesu, dia berjalan keluar masjid dan menuju Regent's Park. Rika yang pagi itu sudah dandan cantik terpaksa harus meladeni suaminya yang ternyata suka menyendiri.

Huda berjalan selama lima menit menuju taman yang cukup dekat itu, dia duduk di kursi taman dan baru sadar ternyata Rika mengikutinya, perempuan berusia dua puluh empat itu menyusul duduk di kursi taman.

"Kamu kenapa sih?" Kalem Rika yang sungguh mempesona sebenarnya namun tidak membuat Huda bergairah sama sekali.

Terlihat mata Huda kosong, dia sepertinya melamun.

"Kalau aku sudah menikah, aku sudah tidak bisa menyendiri lagi untuk mencari ketenangan?" Lirih Huda.

"Orang tuh ya, kalau sudah nikah tuh malah mencari ketenangan menyepi dari dunia dengan pasangannya di rumah lho, mereka tinggal di dalam rumah dan menjaga jarak dengan dunia, bersama-sama... Ini kamu malah menganggap aku itu juga orang luar dari dunia luar donk? Aku kan pasangan kamu sekarang jadi bukan orang luar, kamu mau berkeluh kesah apa pun kan bisa sama aku... Atau..." Rika yang awalnya bernada antusias menurunkan pandangannya.

"..." Huda hanya diam.

"Atau sebenarnya kamu berharap bisa menikah sama orang selain aku?" Lirih Rika.

"...." Huda masih diam, dia justru menyandarkan kepalanya ke punggung kursi, mendongak ke langit sambil menutup mata.

"Kamu kelihatan capek banget tahu..." Rika memijit lengan Huda tipis-tipis.

"Kalau kamu punya banyak pikiran, aku akan bantuin... Mikirin uang dapur kah? Aku kerja kok... Freelance.. aku ga masalah kalau kamu mau ikut Kyai Jalil dulu... Kan memang ga seru lagi kalau nikah sama aku mulu bosen pasti ya... Tapi... Kalau kulihat pasangan lain malah rela meninggalkan yang lain demi hidup damai ama pasangannya sih..." Celoteh Rika.

"Kamu pasti ga akan betah lama-lama jalani pernikahan sama aku.." Huda masih memejamkan mata.

"Hm... Lihat aja nanti..." Mesem Rika yang lagi kasmaran.

Malamnya Rika mengajak Huda menginap di hotel terdekat untuk bulan madu, meski Huda enggan, Rika membayar penginapan itu. Sesampainya di kamar, Huda membanting diri ke ranjang dan langsung merem, mulutnya terkunci rapat, membelakangi Rika.

"Kamu kenapa sih..." Rika memijit lembut bahu belakang Huda.

"Hmh..." Huda hanya berdehem.

"Munggungin gini minta dipijitin ya? Nguli kemana aja sih kemarin sampe capek banget gini..." Goda Rika sambil celingukan mengintip wajah Huda yang diam aja.

"Yauda istirahat lah dulu..." Rika memijit badan bagian belakang Huda dengan penuh pengertian.

Sampai tangan Huda dengan cepat meraih lengannya agar berhenti memijit, Huda berbalik badan dan duduk dengan bersandar ke punggung sofa lalu melepaskan lengan Rika. Rika kemudian membuka hijabnya dan baju terluarnya.

"Kenapa sih?" Lembut nadanya berusaha memancing ketertarikan sang suami sah.

Huda meraih gawai di saku jas yang tadi dia lempar ke ranjang lalu terlihat menekan nomor telepon.

"Mama kamu kah?" Tanya Rika sebab biasanya nomor yang di hapal adalah nomor kontak anggota keluarga.

Tapi Huda hanya diam.

'Assalamu alaikum... Sayang?' suara lembut serak-serak manja dari Yuna terdengar merdu di pengeras suara.

Rika tercengang, matanya terbuka lebar dan tangannya meraih bibirnya yang membuka lebar.

'Wa alaikum salam... Huh..." Air mata deras mengucur dari dua mata Huda, laki-laki macho ini tertunduk terisak mengernyitkan dua alisnya dan mengeratkan giginya seolah menahan sakit yang amat sangat.

Rika terdiam sambil terus ternganga dengan dua tangan yang menutupi bibirnya yang bergetar akibat syok.

"Sayang, aku sudah menikah.." lirih Huda dengan terus menahan tangis, bahunya berguncang hebat.

'Ush ush ush... Sudah ngga pa pa Sayang, memang harus dijalani... Kamu yang tabah ya... Yang sabar... Ush ush ush... Jangan menyerah... Jangan berputus asa... Allah berarti mengabulkan doaku agar kamu dapat wanita yang baik...' Suara Yuna terdengar damai.

Mendengarkan itu Rika menurunkan alisnya, dia melemas dan tersentuh dengan kalimat Yuna, dia pikir akan terjadi perdebatan panjang tanpa solusi ternyata hal itu tidak ada.

'Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku harus membuatmu membenciku dengan memaksamu seperti ini... Karena aku tidak bisa... Kau kekasihku tapi juga saudaraku... Aku tidak bisa... Maafin aku Sayang...' Tutur lembut Yuna.

"Hyaaa..." Tangis Huda pecah, isaknya semakin menjadi.

Rika terdiam, menyaksikan tangisan perih di wajah Huda, terlihat dia sangat tersiksa atas perasaannya sendiri.

'Jangan nangis, nanti gantengnya luntur...' Kalem Yuna.

"Aku masih mencintaimu Yuna! Aku ga bisa!" Tangis Huda terdengar nyaring dengan sesenggukan.

'Kamu bisa pasti bisa coba aja perlahan, harus dilawan nafsunya.. aku berdoa kepada Allah agar istrimu sabar menghadapimu saat mengurusmu...' Kalem Yuna di balik telepon.

"Aku ga bisa, aku maunya kamu! Aku bisa gila!" Huda mewek dengan gaya jantan manja.

'Sini aku ngobrol sama istri kamu...' Yuna terdengar sudah buntu.

Huda menjatuhkan tangan terbuka ke ranjang dengan ponselnya, Rika meraih ponsel itu.

"Hallo, assalamu alaikum..."

'Wa alaikum salam, kakak iparku kah ini?'

"I, iya benar..." Rika mengernyitkan alis.

'Yang sabar ya menghadapi abangku, dia hidup selama ini sudah cukup susah dan menderita makanya dia begini sekarang... Tolong dimaklumi ya...'

"Eh, e.. iya... Tenang saja..."

'Peluk aja dia ga apa itu, kalau mulai ngaco bahas aku, jangan ambil hati ya... Dia itu abang kandungku...'

"Ooh, iya ya paham... Memang kadang ada tipe abang itu terlalu sayang sama adiknya, kalau punya psangan maunya harus seperti sifat adiknya gitu... Mungkin karena sudah tumbuh serumah bersama..." Rika jadi sedikit paham dengan berimajinasi tentang masa lalu Huda yang kini berbaring memunggunginya.

'Hahaha, ya belai-belai aja dia puk puk puk manja gitu peluk-peluk anggap aja anak kecil lah... Jangan ambil pusing... Kasihan juga dia kalau ga nikah-nikah... Hahaha' renyah suara Yuna.

"Ah.. i iya.... Maaf tadi aku sempat salah paham..."

'Ya iya lah pasti salah paham donk kalau Huda kaya gini...'

"Sekarang aku sudah ga cemburu lagi... Soalnya ternyata dia itu menyukai adik kandungnya sendiri ya... Memangnya kamu itu tipe cewe yang gimana sih?" Rika menyandarkan diri ke punggung ranjang.

'Aku tuh tomboy, mandiri, pemberani, ngeyelan, ga bisa diatur... Hahaha!'

"Oh, Huda itu suka sama badgirl...."

'Nah, kamu hati-hati jaga pikiran kamu soalnya Huda itu Badboy!'

"Hahahah! Iya... Tuh dia kayaknya udah tenang deh!"

'Ya sudah kalau gitu aku akhiri dulu panggilan ini ya... Kalian bulan madu lah yang damai, jangan bertengkar...'

"Iya... Makasih yah udah jelasin ke aku... Pikiranku jadi anteng sekarang..."

'Iya, sama-sama.. kalau ada apa-apa kabarin aku, catet nomorku ini...'

"Eh, iya... Yaudah aku simpen nanti aku chat!"

'Oks, assalamu alaikum...'

"Wa alaikum salam...."

"Kalau kamu mau ngobrol sama adik kamu... Aku ijinin kok... Ga perlu sembunyi-sembunyi..." Rika mendekati Huda lagi, memeluknya dari belakang.

"Pantes cowo seganteng kamu ada banyak yang jomblo, soalnya tipe ceweknya adiknya sendiri.." sindir Rika.

"Aku insyaaAllah juga bisa ko seperti dia kalau itu bisa ngobatin kerinduan kamu" rela Rika demi Huda.

Huda berbalik badan akhirnya mau menghadap mata Rika, sang istri tersenyum lembut.

"Kau sangat berbeda jauh dari dia" kalem Huda.

"Apa sih bedanya?..." Kalem Rika meniru gaya suara Yuna.

"Heh!" Tawa kecil Huda sambil membuang muka ke arah lain.

"Nah kan ih dia jadi ketawa! Akhirnya aku bisa bikin dia ketawa ya Allah aku seneng banget!" Rika menitikkan air mata menutup mulutnya, senyum dengan terisak.

"Sakit banget tahu ga harus jadi orang lain demi bahagiain seseorang yang kita sukai." Singkat Rika.

Huda diam saja kembali menarik bibirnya datar.

"Tapi jika itu bisa membuatku melihat dia tertawa, akan aku lakukan deminya... Dia berhak bahagia juga! Aku ga iklas kalau dia jatuh ke pelukan wanita jahat! Aku akan  berusaha jadi istri yang baik!" Rika menangis.

Huda menoleh ke Rika, bangkit dan memeluknya.

"Makasih sudah berjuang untukku, lanjutkan lah jika itu bisa membuat Allah menolongku dan membuka hati untukmu, karena saat ini Allah masih mengunci hatiku..." Huda lirih.

"Iya aku paham..." Isak Rika dalam rengkuhan bahu lebar Huda.

"Kamu tahu ga? Alasan kenapa kamu bisa tertarik kepadaku?" Huda sepertinya sudah kalem, dia bersandar ke punggung ranjang.

"Ngga tahu, dari mata turun ke hati..." Rika meletakkan kepalanya di dada Huda.

"Benar, dari mata kagum akan fisik... Dan lain-lain, itu bisa jadi ain hasad kepadaku..."

"Ga lha aku ga iri ama kamu... Aku jatuh cinta..."

"Satanis menggunakan simbol mata sebenarnya juga intrepetrasi dari mata hasad... Sebab rasulullah saja tidak bisa menghindari Ain Hasad... Orang musyrik itu... Iri kepada kekuasaan Allah...dan sekarang bertindak layaknya Tuhan, bikin hujan bikin angin.. mereka menghimpun kekuatan mata hasad di seluruh dunia untuk menyebarkan penyakit." Huda mulai memejamkan mata karena kantuk.

"Oh kasihannya..." Rika mendongak ke atas karena mendengar nada suara Huda mulai melehoy. Dan ternyata benar Huda sudah pulas letih.

"Jangan-jangan kamu itu... Pemburu satanis ya?" Gumam Rika terlihat kepo.

Rika mengecek gawai Huda, ternyata sudah berkunci sandi. Terlihat di monitor ada foto Yuna dan Huda berpelukan dalam tawa yang sangat manis.

"Pantes banget kamu suka adikmu sendiri, serius semanis ini dia wajahnya aja kaya boneka..." Kagum Rika.

"Astaghfirullah!"

"Pak!" Rika menampar matanya sendiri.

"Ain hasad ya Allah! Jaga lah Yuna dari mataku! Selamatkan dia dari bahaya! Duh bodoh, ga boleh kagum... MaasyaaAllah maasyaaAllah!"

"Jangan-jangan Gus Huda bahas ain hasad karena?..." Rika menoleh ke Huda yang lelap dengan setengah mendengkur.

"Ya... Aku memang kagum banget sama fisik dia... Cuek dia.. semuanya soal dia... Tapi aku ga mau dia menderita, aku ga mau punya ain hasad! Ya Allah! Help me!" Rika berguling-guling di ranjang.



Keesokan paginya saat Rika pulang dari pasar, Rahul menghadang di sebuah gang.

"Kamu benar-benar berani menikahi pria lain ya!" Cengkramnya ke lengan Rika.

"Lepaskan aku! Aku ini istrinya orang lain!"

"Plas!" Mendarat tamparan keras ke pipi Rika.

"Setelah semua yang aku lakukan buat kamu, kamu balas dengan perlakukan kaya gini? Semena-mena kamu jadi cewe ya! Senarsis ini kamu ternyata pingin balas dendam sama aku!"

Di pikiran Rika sekarang lain, bukan untuk menangis. Kalau gadis semanis boneka di monitor gawai Huda saja bisa kuat dan mandiri apalagi tomboy berarti...

"Buk!" Rika menonjok muka pria itu sampai merah.

Orang-orang di jalanan melihat kejadian itu dan terbengong.

"Hey sudah! Kamu itu pria besar melawan seorang wanita!" Lerai seorang bapak-bapak berkulit putih.

"Tepatnya wanita jalang murahan!" Tunjuk Rahul.

"Aku tahu kau itu bekekerja di lembaga universitas! Apa begini mulut orang berpendidikan? Aku tidak mau ada perdebatan panjang denganmu tapi aku ingin berkomentar jika sikapmu seperti ini Tuan Dosen!" Ucapan bapak-bapak itu membuat Rahul terdiam dan melangkah pergi memasuki mobilnya dan tacap gas.

"Terima kasih, maaf sudah bikin keributan..." Rika masih memegangi pipinya yang perih.

"Kau sebaiknya mengundurkan diri dari kampusnya dan tinggal bersama suamimu, aku dengar kau sudah menikah tadi dari ucapannya..." Bapak itu.

"Berhenti kuliah?"

"Percaya lah, buat rekaman belajarmu untuk pindah lembaga pendidikan... Itu sebaik-baiknya solusi untukmu!" Bapak itu berjalan pelan meninggalkan Rika.

Rika menjatuhkan bahunya lemas sambil menghela nafas pasrah, "duh... Bilang apa aku sama orang tuaku..."

"Lama sekali." Dingin Huda yang menghampiri dari belakang.

"Eh lama eh..." Latah Rika sambil terjengat menoleh ke belakangnya.

"Eh suamiku.." mesem Rika.

"Ada apa lama banget beli paprika doank?.."

Rika menelan ludah sambil melirik ke arah lain.

"Diganggu lagi?" Huda menebak.

Rika mengangguk pelan melepas pipi kanannya yang merah.

Huda mendengus kesal dengan mata tajam.

"Yaudah ayo kita pulang, kamu ga usah sekolah lagi di situ." Rangkul Huda dari kiri lalu mengajaknya berjalan menuju apartemen sewaan Kyai Jalil.

"Tapi suamiku, aku itu belajar susah payah makai beasiswa... Kalau aku keluar sama aja ku bunuh diri gitu..."

Huda mengerjab mata sambil merebut tas kantong belanjaan di tangan kiri Rika.

"Terus maumu gimana? Polisiin dia?" Huda angkat satu alis.

"Eh... Hoelk!"

"Hah kenapa kamu?"

Rika tiba-tiba muntah darah hitam.

"Astaghfirullah al adziim!

A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq!

Audzubillahi wa bil wajhil karim wa billahi kalimati llahi tammati alatiy Layujawisuhu nnabarun wa laa fajirun min syarii ma yanziru minna ssama wa min syarii ma 

Ya'ruju fi ha wa min syari ma zhara fil ardhi wa min syarrii ma yahruju minha wa min syarri fitanillaili  wa nahar  wa min syarri tawariqil laili  wa min syarri kulli tariqin illa tariqan yatrukubi khairin ya rahman!" Huda memegang tangan istrinya dan meruqyah seketika Rika pingsan menjatuhkan diri ke tubuh Huda.

Huda menggendongnya dan berjalan ke gedung apartemen kontrakan Kyai Jalil.

Setibanya di sana betapa terperanjatnya Kyai Jalil melihat kondisi menyedihkan Rika yang lemas dengan busana kotor berdarah.

"Kena black magick?"

"Iya Mbah Yai..."

"Ayo sini masuk!" Kyai Jalil cepat membuka pintu apartemennya.

Huda membopong Rika ke sofa dan mengelap bajunya dengan kain basah yang diberikan oleh Davos.

Setelah Rika sadar, dia menceritakan tentang siapa itu sebenarnya Rahul Smith.

Pada tahun satu delapan delapan delapan, London dilanda kejahatan mengerikan yang dikenal sebagai Pembunuhan Whitechapel. Namun, di balik kejahatan itu, terdapat kekuatan gelap yang lebih menakutkan. Mereka yang bersemayam di balik sejarah pristiwa tragis yang menimpa para wanita di London itu ternyata mempertahankan eksistensinya sampai sekarang dan menyebar luaskan generasi mereka ke seluruh dunia.

Rika saat dua puluh tahun, dia pindah ke London untuk menempuh pendidikan. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil di dekat Highgate Cemetery. Suatu malam, saat berjalan-jalan, Rika bertemu dengan Rahul yang memiliki mata merah mencolok saat bulan purnama.

Rahul memperkenalkan Rika ke komunitasnya Blood Hunter,  yang terdiri dari vampir-vampir kuno. Mereka tinggal di bawah tanah London, menggunakan jaringan terowongan tua. Awalnya Rika terpikat oleh kehidupan mereka yang misterius.

Namun ketika Rika dipaksa untuk bergabung dengan komunitas tersebut setelah Rahul gagal mencoba menggigitnya, keesokannya Rahul menjadi vampir ganas yang mampu bertahan di bawah sinar terik matahari dan terus mengejar Rika. Rika segera menyadari bahwa komunitas tersebut memiliki aturan kejam dan ritual sadis. Rika menemukan bahwa Blood Hunter bertanggung jawab atas pembunuhan di Whitechapel. Mereka menggunakan darah manusia untuk mempertahankan kekuatan mereka. Rika harus terus melarikan diri dari kejaran Rahul, beruntung Rahul adalah salah satu penerus ketua di kelompok itu yang melarang vampir lain suapaya tidak memburunya.

Rika memutuskan untuk melawan Ordo Blood Hunter itu tapi bingung bagaimana caranya. Ia sempat  bergabung dengan sekelompok pemburu vampir yang dipimpin oleh seorang pria bernama Noah Kaiden. Mereka melancarkan serangan ke markas Ordo Blood Hunter tapi sebagian anggotanya sudah tewas mengenaskan karena kemampuan para vampir itu sudah melebihi cerita lawas vampir jaman jadul yang takut matahari dan bawang putih.

Pertempuran sengit itu dulu terjadi di bawah tanah London. Rika saat itu menunggu dengan penuh kepanikan di dalam rumahnya dengan terus membaca al Qur'an.

Noah sebenarnya masih hidup, namun sudah lost contact dari Rika. Noah memutuskan untuk melindungi London dari kekuatan gelap lainnya secara mandiri alias solo player. Karena dia belum bisa merekrut orang untuk menjadi pemburu vampir dan menjaga kota dari bayang-bayang kejahatan sementara belum tahu solusi cara menghadapi level vampir yang sekarang.

Ordo Blood Hunter ini selalu dan semakin kuat karena senantiasa melakukan Ritual Musim Semi, dalam musim semi itu ada ritual  Pembangkitan Darah, di Ritual Musim Panas ada ritual Pesta Api, di Ritual Musim Gugur ada ritual Pengorbanan Malam, di Ritual Musim Dingin ada  ritual Kebangkitan Bayang.

Ritual Musim Semi di bulan Maret sampai Mei  ada ritual istimewa rahasia bernama Blood Rose. Ritual ini lah yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan vampir.

Vampir mengumpulkan bunga yang sudah dijampi dan dikeringkan setelah direndam dengan darah dan membakarnya di altar untuk membangkitkan kekuatan mereka.

Ritual Musim Panas di bulan Juni sampai Agustus ada namanya pohon Fire Oak, sepokok pohon dengan daun merah dan batang yang menyala saat musim panas yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan sihir. Vampir melakukan tarian di sekitar pohon tersebut sambil membakar dupa dan meminum darah untuk memanggil kekuatan sihir. Mereka biasanya melakukannya di Hutan Hampstead.

Ritual Musim Gugur di bulan September hingga November, ada namanya tanaman Death Lily, itu adalah bunga putih dengan kelopak berbentuk seperti tengkorak. Fungsinya meningkatkan kekuatan hidup.

Vampir mengumpulkan bunga tersebut dan meletakkannya di altar lalu membaca mantra ke bejana darah untuk memperpanjang umur mereka. Mereka biasanya melakukannya di area Pemakaman Highgate.

Ritual Musim Dingin biasanya di lakukan di bulan Desember sampai Februari dengan menggunakan Shadow Tree. Yaitu sepokok pohon dengan daun hitam dan batang yang memancarkan bayangan. Fungsinya untuk meningkatkan kekuatan bayang. Vampir melakukan ritual di bawah pohon tersebut untuk memanggil kekuatan bayang.

Mendengar penjelasan itu semua dari Rika, kini Huda jadi berpikir mungkin sudah waktunya juga baginya untuk meningkatkan keilmuannya agar bisa siap menghadapi Rahul di kesempatan selanjutnya. Akan kah berhasil?



Sekarang kondisi Rika semakin membaik, dia duduk di sofa dengan lemas. Davos menyalakan laptop milik Huda dan melakukan panggilan video dengan Yuna yang di Medan dengan antusias. Kini Rika melihat paras boneka hidup Yuna yang sebenarnya, foto Yuna belum turun dari monitor Huda sebagai sampul jendela menu dan ternyata ini lah orang dalam foto itu.

Setelah beberapa saat basa basi akhirnya mereka membicarakan pokok inti permasalahan. Kyai Jalil merasa akan lebih cepat jika mengandalkan juga bakat asahan Yuna karena gadis manekin ini memiliki bakat meretas data dan informasi tanpa meramban sumber literatur di internet. Karena itu lah Kyai Jalil mengusulkan untuk menghibungi Yuna untuk cepat dapat terpong solusi secara praktis.

Setelah mendengar Davos menceritakan duduk perkara yang sedang dihadapi rombongan Kyai Jalil di London, Yuna terlihat sedang diam duduk dengan menutup mata, kadang melihat ke arah langit sambil komat-kamit membaca mantra. Lalu dia menanti awan membentuk sebuah kode yang akan dapat dia terjemahkan melalui telepati dan clairvoyance.

Rika berusaha sabar untuk jawaban apa yang akan dia dengar dari seorang perempuan seperti Yuna, juga menunggu karena seperti kini dia penasaran kenapa kok jadi Yuna sih yang diandelin Kyai Jalil. Yuna justru tidak ingin bicara bertele-tele, dia hanya diam saja sambil merokok dan ngopi di depan kamera laptopnya setelah komat-kamit baca doa. Perempuan tanpa hijab padahal tahu ilmu agama itu terlihat santuy nyebat tanpa mikirin ini itu yang baginya tak ada yang sulit di dunia ini karena dia bergantung bantuan pada penciptanya yang maha memaklumi.

"Udah sarapan belum?" Tanya Davos yang melihat ada tatapan kesedihan di mata Yuna.

Namun perhatian Davos ke Yuna yang mungkin kini kesepian tanpa Huda justru membuat Huda melirik Davos dengan tatapan berapi-api, dia duduk di sofa di samping Rika dengan bersandar terlihat lemas tak berdaya, tatapan tajam penuh kedengkian diam-diam kepada Davos semakin menjadi panas ketika dilihatnya Davos mengambil kursi dan duduk maju dekat monitor laptop.

"Sudah.. kalian di situ jam berapa? Di sini masih pagi jam tujuh pagi.." Yuna menyebat.

"Jam dua belas malam Neng..." Ramah Davos dengan gigi rapi bersih terlihat, pria brewok tipis macho, gagah dan pemberani ini sebenarnya menarik secara fisik, mancung juga, dia sepertinya usil kepada Huda karena sudah menikah maka dia yang kini seolah ambil posisi Huda, mata Huda semakin memicing dengan api cemburu.

Kyai Jalil dan Amir mengurut alis melihat tingkah Davos yang mengabaikan Huda di belakangnya. Rika menoleh ke muka suaminya yang ternyata sedang masam, dia menghela nafas pelan dan dalam, tidak mau terlalu frontal bervokal dalam kondisi seperti ini. Yuna melirik dingin ke wajah Huda, kini abangnya itu melihat ke mata Yuna dengan tatapan kecemburuan yang menusuk sambil memanyunkan bibir seperti anak kecil.

"Apa Yang molotot?" Kata Yuna dingin.

"Uhm!" Huda langsung mesem dan terus menatap Yuna lewat monitor tanpa berkata-kata. Tak disangka panggilan kesayangan itu masih boleh ia terima.

Rika menahan nafas dengan melirik Yuna dan Huda bergantian, melirik Kyai Jalil dan Amir lalu ke Davos yang mesem-mesem ke Huda.

"Ga usah banyak tingkah kau Yang! Aku lagi mode kalem ni..."

"Hahahaha!" Davos terkekeh.

Amir dan Kyai Jalil hanya bisa mengusap wajahnya melihat Huda yang belum Move On. Mendengar kata-kata Yuna, Rika jadi lemes, possibly memang Yuna bukan tandingan Rika. Sementara Huda tersenyum sangat manis untuk sang adik yang sekarang sudah jadi kepribadian bar-bar.

"Oke aku rekam video dan fotonya awan ini dulu... Lalu buka kalkulator biar pasti penjumlahan angkaku, lalu ku buka kitab suci al Karim untuk memastikan benar tidak penterjemahanku... Bentar.. awannya udah kebentuk soalnya, tinggal kudokumentasikan aja rekaman kejadian yang berkaitan sama kasus ini yang sedang  dilukis awan..." Yuna mulai beraksi.

Rika mendekatkan diri ke monitor ketika Yuna meliput awan di depan balkon kamarnya.

"Oke ini artinya... Perhatikan... Ada gembong teroris bengis yang memiliki kekuatan..." Yuna menunjuk bagian awan yang melukiskan wajah seorang pria mirip ketua organisasi teroris di wilayah timur tengah.

Awan itu membentuk wajah seseorang berjanggut sedang menyatukan kedua tangannya seperti berdoa di dalam gereja.

"Mereka dibentuk oleh organisasi gelap untuk membunuh Muslim...

Ya ini mah nama terorisnya mirip dewi Mesir yang namanya Isis ya!  Ini muka pemimpinnya kan, coba cek si Bagdad itu!

Kelompok teroris ini memberikan hasil pembantaian mereka ke rumah sakit Vampir.

Nih, lukisan ini ya lukisan kelelawar hitam... Ini simbol kelompok vampir di London... Lihat awannya berubah tadi lukisan wajah sekarang berganti jadi lukisan kelelawar hitam... Sudah direkam layar?" Yuna menjelaskan seperti dosen.

"Sudah Neng geulis..." Davos bersikap sangat manis.

"Darah mereka ini dikonsumsi oleh kelompok vampir yang kalian tadi tanyakan kepadaku.

Jadi kekebalan akan sinar matahari itu karena mereka meminum darah Muslim yang mereka sembelih.

Sebentar aku jelaskan dulu detailnya...." Yuna terlihat berdiri di depan tak jauh dari laptop dan melakukan seperti gerakan silat yoga dan anehnya angin bertiup kencang, daun di pepohonan gugur terlihat jelas di monitor.

Kyai Jalil yang gaul melipat lengan di depan dada sambil merem manggut-manggut. Amir mengurut dagu sambil menerawang telepati visual dalam acara telekomunikasi ini.

"Sebenarnya vampir tidak akan betah di bawah ultraviolet karena mereka itu mahluk berkekuatan infrared.

Namun... Darah itu bercahaya ketika kita berdoa...

Vampir mengonsumsi darah Muslim yang sering bisa bercahaya supaya bisa bertahan di bawah paparan sinar matahari.

Terutama darah Muslim karena Muslim adalah kalangan paling terenal hidmat dalam sembahyang, maka kalangan Muslim yang diprioritaskan untuk disembelih.

Mereka tidak bisa meminum darah Muslim yang mati dengan alasan lain.

Maka itu lah mereka membentuk penyembelih khusus agar bisa panen darah Muslim.

Syarat mereka akan bisa meminum darah Muslim adalah jika Muslim itu adalah hasil sembelihan mereka sendiri, artinya dalam jasad teroris juga ada jin jenis vampir energi darahnya.

Dan satu lagi, vampir, mereka sesungguhnya tidak bisa menelan darah Muslim karena darah Muslim bagi mereka itu beracun!

Tapi karena menyembelih Muslim, jadi bisa meminum hasil sembelihannya sendiri." Jelas Yuna.

"Jadi mereka bantai Muslim, panen darah hasil bantaiannya itu biar bisa minum darahnya!" Davos menyingkat.

"Betul! Dan cara penyembelihan ini tidak melulu dengan terorisme... Kalian tahu kan aku juga lagi neliti soal pesawat yang akan ditumbalkan?

Mereka membuat korbannya takut dulu kepada kematian lalu membunuhnya dengan menjatuhkan pesawat. Pesawat itu pasti energinya mengandung kutukan. Mereka panen energi ketakutan dan energi maut. Itu jadi buah energi yang menghasilkan pamor aura kewibawaan besar, siapa memakan buah itu, maka ucapannya akan diiyakan oleh semua yang di hadapannya. Dan ini memang lagi dilakukan sama kelompok gelap elite Tionghoa yang jahat ke rakyat pribumi kita.

Namun satu hal lagi yang aku barusan temukan dari penelitianku, bahwa ternyata nih aku baru dapat kebocoran data rahasia dari khodamku yang kukirim buat memata-matai kelompok Tengkorak dan Tulang. Kalian tahu kan? Genk presiden di seluruh dunia? Kelompok yang itu?" Yuna angkat topik lain.

"Ya tahu, kelompok yang menentukan siapa yang akan jadi presiden Amerika selanjutnya, jadi pemilihan umum presiden itu hanya sandiwara... Suara rakyat ga akan berguna..." Kyai Jalil.

"Nah, dari situ...

Kelompok ini punya sponsor dari kelompok Ordo Tengkorak dan Tulang.

Ordo ini membuat perusahaan penelitian ilmiah dan mereka sekarang lagi uji alat pemindah objek menggunakan alat teleportasi elektromagnetik quantum fisika dan ini real, ini fakta... Ini asli... Dan aku takutnya!

Pesawat yang akan ditumbalkan ini... Adalah tikus laboratorium untuk percobaannya gitu...

Kalian tahu ga? Gunanya ini diuji?

Kalau ada perang dunia ke tiga, pesawat lawan bisa dihilangkan dari medan pertempuran... Diculik!" Yuna nyebat lagi.

Kyai Jalil manggut-manggut berbarengan sama Amir dan Davos. Huda malah senyum ga jelas nyimak Yuna tanpa berkedip sementara Rika mengerjabkan mata, otaknya langsung blank.

"Kelompok vampir ini...

Mereka itu sebenarnya adalah salah satu sponsor besar yang anggotanya juga ikut mendanai Ordo Tengkorak dan Tulang ini... Mereka ini selalu mengirim sukarelawan uji coba alat teleportasi ini..."

"Hah siapa itu!" Huda melotot beranjak bangkit dari sofa meraih laptop, menggenggamnya seolah gemas dengan muka sangat panik.

Yuna langsung berbalik badan merasa ada yang janggal di belakangnya. Rupanya sudah ada sosok bermantel hitam dengan sepatu boot kulit hitam, berjubah mantel menyelimuti wajahnya juga, dengan kulit sangat putih di sekitar matanya yang berbola iris warna kuning mirip ular.Dia juga mengenakan sarung tangan kulit hitam.

"Jauh sekali datang dari Rusia, wah gak main-main ini!" Yuna membajak pikiran sosok yang berdiri di hadapannya kini, sosok itu aneh memang sebab ada asap hitam keluar dari badannya sejak awal datang.

"Tahu apa aku tentang Rusia? Oh apa kau akan kirim pesawat itu ke Rusia!" Mendengar ucapan Yuna itu, sosok itu bukannya membunuh Yuna, dia justru berlari ke tembok kamar, Yuna mengejar. Namun sosok itu terjun menabrak tembok dan menghilang. Semua kejadian itu terekam kamera di laptop.

Huda berdebar kencang bukan main, dia tidak ingin Yuna celaka. Yuna kembali mendekati laptop dan duduk dengan tenang.

"Sayang kau aman kah di situ?!" Suara Huda terdengar kacau tak karuan panik bercampur sengaunya sedih.

"Selama yang datang adalah pesuruh dari orang kalangan atas, semakin tinggi derajatnya, semakin dekat mereka dengan si iblis Azazil justru aku semakin aman karena si iblis sendiri ngasih aku kartu VIP... Artinya mereka harus biarin aku hidup! Ini kartu VIP tanda orang bebas dari Dajjal. Tulisannya Resistance is Futile. Aku dapat gara-gara nangis ke Allah biar iblis Azazil diampuni dan dikasih kesempatan masuk sorga karena kemarin aku kasihan dan sadar Allah sebenernya sayang ama iblis itu, masih mau kasih tempat neraka dari pada menghapusnya dari semesta..." Bisik Yuna.

"Fiuh...." Huda menjatuhka  diri ke sofa.

Melihat sikap Huda membuat Rika minder dengan Yuna sekaligus kagum kepada Yuna, itu membuat Yuna tiba-tiba memegangi kepalanya dan merem melek.

"Kenapa kamu Neng?!" Davos gantian panik.

Huda menarik bahu Davos ke belakang, mendorongnya menjauh, Huda di hadapan laptop langsung semadi. Yuna pingsan di lantai, tergeletak di hadapan laptop yang memang diletakkan di lantai depan pintu balkon.

Kyai Jalil membaca doa, diaminkan oleh Davos dan Amir. Rika ikutan gigit ujung kuku belum paham apa-apa dan bingung ini semua kenapa bisa dia alami.

Setelah beberapa saat, Huda bergerak seperti mentransfer energi jarak jauh ke Yuna, lalu berangsur Yuna bangkit duduk depan laptop.

"Kamu kalau kagum jangan iri, kalau kagum tuh bilang aja MaasyaaAllah, doakan yang baik-baik gitu! Gini kan jadinya Yuna kena serangan Ain Hasad dari kamu!" Huda bernada sedikit membentak sambil menoleh ke Rika.

Rika mendengarnya langsung merasa terkecam, dia berhenti bernafas dan matanya terkaku melihat ekspresi murka Huda yang menggambarkan ada kebencian dan kemarahan kepadanya.

"A... Akuh..." Rika mendadak tergetar bibirnya.

"Sudah jangan dimarahi, dia ga tahu apa-apa itu... Dia itu sukanya sama kamu... Bukan karena mau celakai aku!" Yuna masih memegangi kepalanya sambil menunduk.

"Kau tahu nabi Muhammad aja ga bisa lolos dari Ain Hasad, apa lagi orang biasa... Jadi jangan remehin efeknya Ain Hasad ini, aku kan sudah bilang sama kamu soal Ain Hasad, kamu jangan jadi satanis bersimbol mata Ain Hasad ya!" Omel Huda keterlaluan.

"Plas!" Rika menampar pipi Huda.

Mata Huda memicing tajam.

"Huh....?" Bola mata Rika tergetar, mulutnya menganga, dia pelan-pelan menarik tangan dan memandang tangan yang masih ada sisa bekas rasa panas setelah mendarat lepas lesat ke pipi pria yang dia idamkan itu.

"Huh?" Mata yang memandang Yuna tadi kini menitikkan air mata yang menggunduk besar dan hangat, berlinang membasahi pipinya yang berpori-pori kecil.

Yuna memandang Rika dengan sedikit tertunduk sambil masih memegangi kepalanya. Rika melirik ke monitor laptop dan melihat ekspresi wajah Yuna yang susah untuk diterjemahkan seperti sedang mengawasi apa yang akan Rika lakukan selanjutnya. Ternyata Yuna mematikan koneksi.

Davos menghembuskan nafas dalam, Kyai Jalil beranjak bangkit dan pergi ke ruang lain disusul Amir dan Davos. Mereka tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang.

Sementara Huda masih menatap Rika tajam, dan Rika hanya bisa menurunkan tangannya, menunduk dan menangis terisak-isak tanpa suara.

"Maaf.." Huda menurunkan bahunya dengan tenang sambil menghela nafas.

"Uh?" Betapa kaget Rika mendengar kata itu.

"Kau seperti ini karena aku tidak adil kepadamu." Huda bangkit dari lantai lalu membanting dirinya ke sofa, duduk sambil merangkul istrinya.

"Rasa cinta kepada Mahluk Allah itu bisa membuat manusia sakit jiwa dan sakit mental... Kau harus bisa menjalani hubungan kita dengan setengah hati, dan setengah hati lainnya hanya untuk Allah..." Tenang Huda.

"Dengan begitu kau tidak akan pernah sakit hati kepada sikapku." Lanjut Huda.

"Aku berdoa, ya Allah... Selamatkan lah selalu saudariku Yuna, karena tanpanya mungkin suamiku tidak lagi bersemangat menjalani hidup dalam jalanMu... Sementara aku beri lah ketabahan dan kekuatan supaya aku tidak berlebihan dalam kecemburuanku... Aamiin..." Rika terisak.

"Amiin.." Huda menarik bahu Rika ke dekapannya, tangisan Rika pecah dalam rengkuhan bahu Huda.

"Karena aku... Kalian belum bahas solusi cara menghadapi Rahul! Pembahasan kalian terpotong! Lalu bagaimana jika Yuna marah dan tidak mau mencarikan solusi..?"  Rika sekarang baru menyadari atas perbuatannya.

"Kamu tenang saja... Aku pernah bahas konsep teori quantum fisika itu sama dia..." Huda merogoh sakunya lalu mengambil ponselnya.

Nama kontak dari nomor yang dipanggil dan nampak di monitor itu adalah Adwin.



'Assalamu alaikum..' Suara Adwin terdengar setelah beberapa lama menunggu untuk diangkat.

"Wa alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh..

Gimana kabarnya Comrade?"

'Alhamdulillah baik Comrade... Gimana ada kasus apa kali ini?'

"Aku membutuhkanmu untuk menjelaskan apa definisi dari darah menghasilkan cahaya yang sempat kalian bahas dulu..."

'Oh, iya aku ingat, Yuna dulu pernah membahas itu denganku untuk mencari cara mengalahkan senjata gelombang radio menggunakan energi resonansi jiwa dari dalam diri seseorang, apakah mungkin.

Penelitian tentang butiran sel darah yang memancarkan cahaya saat manusia berdoa telah dilakukan oleh Dr. Felicy, seorang pakar Emotional Freedom Techniques. Dalam penelitiannya, Dr. Felicy menemukan bahwa saat seseorang berdoa, terjadi perubahan pada kondisi darah mereka. Butiran sel darah menjadi lebih terang, gerakan sel darah sangat tenang, dan muncul substansi yang berkilauan. Hal ini menunjukkan bahwa doa dapat mempengaruhi kondisi fisik tubuh, termasuk darah.

Selain itu, penelitian di Jepang pada tahun dua ribu sembilan juga menemukan bahwa tubuh manusia dapat memancarkan cahaya, meskipun sangat lemah. Penelitian ini menggunakan kamera khusus untuk mendeteksi cahaya yang dipancarkan oleh tubuh manusia.'

"Hmm... Jadi benar-benar ada ya..." Huda membuat dirinya lebih relaks di sofa sambil mendekap istrinya yang memeluk manja.

'Dinamika proses darah bercahaya saat berdoa masih menjadi topik penelitian dan perdebatan di kalangan ilmuan sebenarnya... Namun sudah banyak yang mengadobsi hasil penelitian dengan melampirkan dokumentasi serupa...

Menurut Faktor Fisiologis Perubahan pH Darah bisa menjadi kemungkinan kimiawi dalam sel darah. Doa dapat mempengaruhi tingkat stres, yang berdampak pada perubahan pH darah. Perubahan ini memicu reaksi kimia yang menghasilkan cahaya.

Aktivitas Sel Darah Putih juga bisa memungkinkan munculnya ledakan cahaya. Sel darah putih dapat menghasilkan radikal bebas yang bereaksi dengan molekul lain, menghasilkan cahaya.

Kenaikan Adrenalin dapat juga menjadi salah satu pemicu. Doa dapat meningkatkan kadar adrenalin, memicu reaksi kimia yang menghasilkan cahaya.

Nah ini beda lagi prosesnya jika kita mengukur dari ranah psikologi.

Contohnya kesimpulan bahwa cahaya dari aktivitas darah kemungkinan berasal dari Efek Placebo Keyakinan dan sugesti dapat mempengaruhi kondisi fisik, termasuk darah.

Ada namanya juga Faktor Energi Biofotoni Tubuh manusia menghasilkan biofoton, yang  dapat dipengaruhi oleh aktivitas mental dan spiritual.

Lalu Energi Elektromagnetik. Doa dapat mempengaruhi lapangan elektromagnetik tubuh, menghasilkan cahaya.

Penelitian Ilmiah lah..' jelas Adwin.

"Baik... Terima kasih, ya sudah aku telepon Yuna dulu.." suara Huda terdengar gamang.

'Ada apa? Hanya membicarakan ini kah? Apa kalian berantem? Kau kedengaran lagi lesu?'

"Ya.. aku selesaikan dulu..."

'Semoga beruntung...'

"Assalamu alaikum.."

'Waalaikum salam...'

Huda memandang monitor gawainya yang terdapat foto Yuna tersenyum manis memeluk piala milik Huda. Rika membelai pipi Huda pelan. Terlihat Huda menggulir menu dan hendak menekan tindakan untuk menghapus foto itu tapi Rika menarik jemari Huda.

"Dia kan keluargamu... Bukan orang lain..." Pelan Huda.

Huda mengurungkan niatnya menghapus foto Yuna.

Huda menggulir jemarinya dan memanggil kontak Yuna. Agak lama akhirnya di angkat.

"Assalamu alaikum..." Lirih Huda dengan suara serak terdengar begitu sedih.

'Waalaikumsalam.' Singkat Yuna.

"Kamu marah?" Pelan Huda.

'Lupakan saja. Gimana?'

Jawaban itu membuat Huda diam beberapa saat lalu melepaskan pelukannya dari Rika. Bangkit dari sofa dan berjalan keluar apartemen.

Rika sadar dia bahkan belum ada dalam hati Huda, mungkin suaminya berusaha untuk menerima Rika tapi dia belum memiliki kesan apa pun. Namun kini dia berpikir, Huda ingin melawan Rahul melindunginya itu seharusnya suatu hal yang sebaiknya Rika anggap berharga dan jangan terlalu lagi kepada Yuna dalam cemburu.

Sementara itu Huda di luar apartemen duduk di kursi pinggir jalan sambil menelpon.

"Sayang.. aku sangat merindukanmu.. aku bisa gila lama-lama kalau seperti ini..."

'Kamu harus bisa melupakan aku dan hadapi semua musuh sendirian tanpa aku mulai sekarang...'

Mendengar itu Huda merasa hatinya tercabik-cabik.

"Kamu jahat Yuna!" Pelan Huda menahan tetesan air di matanya agar tidak berontak keluar.

'Kenapa aku jahat?'

"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk merindukanmu.."

'Aku mau tapi istrimu gimana? Kalian harus punya keturunan!'

"Aku janji..." Tangis Huda pecah karena merasa amat terpaksa.

'Kamu kenapa menangis?'

"Bagaimana aku bisa melakukan itu sementara yang kubayangkan selalu wajahmu Dek.." Huda tertunduk dalam linangan air mata.

"Buk!"

Huda tersungkur ke tanah, tiba-tiba suara dan pukulan mendarat di tengkuk Huda. Huda jatuh pingsan di jalan.

'Halo? Sayang? Sayang? Sayang! Kamu ga papa kamu kenapa?!' Yuna panik.

Gawai Huda tergeletak ke trotoar.

"Dia akan mati di tanganku." Terdengar suara serak berat seorang pria berbicara dengan bahasa Inggris mengambil alih gawai lalu mematikan panggilan.

Sementara itu Yuna di kamarnya ternganga. Menggulir cepat gawainya mencari kontak Kyai Jalil.

'Assalamu alaikum?' Kyai Jalil mengangkat setelah beberapa lama berkali-kali dihubungi oleh Yuna.

"Wa alaikumussalam wa rahmatullah Mbah Yai cepat ikutin Mas Huda dia diculik orang sekarang!"

'Astaghfirullah! Gus Huda! Diculik orang!' Terdengar seruan Kyai Jalil.

Terdengar semua orang panik dan suara derap kaki  berlarian.

Yuna mematikan panggilan, langsung menghubungi nomor kontak Harun.

'Assalamu alaikum, ya Neng ada apa atuh?'

"Wa alaikum salam, tolong lacak dimana ponsel Mas Huda, dia lagi diculik orang di London, mumpung barusan aja nelpon aku sebelum ponselnya dimatiin penculiknya!"

'Astaghfirullah, kedap Neng! Siap segera ini dilacak dulu, aduh aing nepi dulu ini masih rame di jalan... Kedap!'

"Maturnuwun, yaudah saya off , assalamu alaikum!"

'Wa alaikumussalam!'

Yuna lalu bersemadi, membayangkan wajah Huda sekejab dengan fokus dalam keheningan lalu membacakan al-Fatihah agar khodam dalam jasadnya bangkit. Dia lalu mengambil wudhu dan membaca surat al-Kahfi untuk mendoakan Huda di kejauhan.

Sementara itu di London, Huda kini dibawa dalam mobil hitam dan diturunkan di sebuah gudang industri di Docklands, itu ada di timurnya London. Kawasan industri ini punya akses mudah ke pelabuhan dan bandara. Di sebuah gudang, Huda disekap. Dia diikat, dirantai, dipukuli sampai babak belur. Huda yang biasanya bengis, kali ini tidak melawan.

Kondisi Huda sekarang lemas berdarah-darah, bibirnya sobek, tulang hidungnya patah dan kakinya nyeri semua oleh pukulan kayu bertubi-tubi.

Singkatnya, Zanum akhirnya bangkit dalam jasad Huda, sempat mata Huda berubah irisnya seperti iris mata reptil warna kuning namun kembali normal karena Huda menarik jiwa Zanum kembali terpenjara dalam titik cakra Latifatul Qalbi.

"Kenapa engkau berputus asa seperti Azazil, Huda?

Kau munafik! Kau mencintai mahluk melebihi kepada Penciptamu, bodoh!" Geram bisik Zanum.

"Aku sakit hati..." Lirih Huda dalam batin.

"Kau egois, menentang kebijakan penciptamu! Keinginanmu itu busuk! Meski menghasilkan wangi namun beracun!"

"Aku berdoa aku tidak pernah bertemu Yuna!" Batin Huda.

"Kalau begitu jauhi dia!"

"Tidak!" Pekik Huda teriak dengan mulutnya yang berdarah dan kini diikat.

"Hahahahaha!!!" Rahul tertawa puas bersama anggotanya yang  berbadan setengah vampir sekarang.

"Kalau aku jauhi dia, lebih baik aku mati!!" Tubuh Huda mengeluarkan asap.

"Huh?" Rahul sedikit tercengang.

"Bagus, kalau begitu kau harus melawan mereka atau kau besok sudah tidak bisa melihat Yuna lagi meski pun hanya mendengar suaranya bukan kah itu lebih baik!" Bisik Zanum sambil mencengkram cakra Latifatul Qalbi di jasad Huda.

Kini Zanum merasakan kerelaan sudah merasuk ke pembuluh darah Huda yang menjadi terbuka. Zanum menyelam cepat dalam pembuluh darah dan memasuki cakra Latifatul Akhfa di dada Huda, mencengkram tali cakra Latifatul Qalab dan cakra Latifatul Nafsi di kepala Huda.

"Urgh!" Huda menyeringai.

"Biarkan kali ini aku mengukur kesaktianku, Huda! Setelah itu kau uji keimananmu!" Dengan cepat Zanum mengakses cakra Latifatul Khafi dan Latifatul Ruh Huda, dan sudah bisa mengendalikan cakra Latifatus Siri Huda.

"Allah... Allah... Allah... Allah..." Mulut Huda mulai menggumamkan zikir dan matanya terpejam menyelami kemasyghulan pikirannya yang null.

"Graah!" Keluar api dari jasad Huda dan membakar tali ikatan.

"Kalian pemakan darah, ayo kita bermain maut dengan setan penyelam darah!" Suara Zanum muncul di mulut Huda beriringan dengan suara Huda.

"Sialan, dia ternyata iblis manusia!" Rahul menunjukkan sosok aslinya.

Para pembantunya mulai bernafsu untuk membantai pria yang tadinya sudah hampir cacat total itu.

Mereka bertarung dengan tendangan-tendangan ganas, Huda menerima hantaman tongkat-tongkat dari lawannya. Namun dia berhasil melompat dan menghindar. Para vampir itu menyerang dengan kecepatan gerakan tidak manusiawi. Cakaran demi cakaran Huda terima sampai bajunya dan celananya sobek-sobek mengucurkan darah dari kulitnya yang terkoyak-koyak.

"Ghraah!" Huda meledakkan api dari tubuhnya. Menyembur ke udara, sempat musuhnya yang mendekat terkena tapi api itu tidak mempan.

"Kau hanya segini saja mampunya?" Rahul berkacak pinggang.

Lalu Rahul lari melesat mendorong huda menuju ke tembok nan jauh dalam kecepatan tinggi dan "Bruak!" Menghantamkan tubuh Huda sampai lemas terkulai.

Rahul memukuli perut dan dada Huda bertubi-tubi tanpa jeda sedetik pun sampai laki-laki itu menyemburkan darahnya.

Puas dengan kegemasannya, Rahul lompat jauh ke belakang kembali ke kerumunan lima orang yang menculik Huda tadi.

"Hanya segini kah kekuatan pukulan vampir itu?" Huda melihat tajam lawannya sambil mengelap darah dari bibirnya yang robek.

"Jangan berkata yang bukan-bukan, andai kan kalian berpisah maka pemilik tubuh itu akan mati!" Tunjuk Rahul dengan muka berang.

Huda memejamkan mata, dia melayang untuk berdiri. Lalu diri Huda yang sudah lurus ke atas kembali tegap menepelkan kaki di atas lantai, dengan dua kakinya yang tak bergetar sedikit pun, tanpa memasang wajah mengeluh dan mengaduh.

Rahul mulai pamer, dia dan anggotanya melayang di udara.

"Kau mau adu mekanik penerbangan dengan kami? Kami rajanya udara dan kecepatan gelap!" Bangga Rahul.

Huda menatap mereka semua dengan kebencian. Lalu tersenyum sinis.

"fa lammaa jaaa-a amrunaa ja'alnaa 'aaliyahaa saafilahaa wa amthornaa 'alaihaa hijaarotam ming sijjiilim mangdhuud" llirih Zanum sambil terseyum manis sekali dan justru terlihat mengerikan.

Para vampir itu tiba-tiba saja terbakar api yang muncul dari bawah mereka, udara sekitar mereka berubah menjadi api berkobar dan menggerus tubuh mereka.

Barusan itu Zanum membaca ayat delapan dua milik surat Hud yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah: Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar," reaksi terbakar itu terjadi karena para vampir itu melayang, mereka sedang dipenuhi energi gelap berfrekuensi negatif dan kalimat firman mengandung frekuensi null. Sehingga aura di sekitar udara vampir-vampir itu mengalami gesekan reaksi energi secara quantum fisika dan terbakar.

"Ghraah!"

"Buk!"

"Bruk!"

"Brek!"

Para vampir jatuh ke lantai dengan lemas, energi mereka langsung terkuras lima puluh persen.

"Mantra apa itu tadi!" Salah satu vampir keturunan London tulen memegangi dadanya yang merasakan jantung terbakar di dadanya barusan.

"Hanya mantra penidur vampir dalam peti mati..." Seringai Huda.

Salah satu vampir melesat lari ke Huda untuk memukul, namun ditahan dengan satu tangan oleh Huda.

"Sekarang!" Pekik Zanum.

"Lahum ming jahannama mihaaduw wa ming fauqihim ghowaasy, wa kazaalika najzizh-zhoolimiin!"

Huda berkata lantang dengan titik fokus.

"Graaah!!!" Api muncul lagi membakar jasad vampir itu dan dia kali ini tidak bisa menghentikan api itu dengan kesaktiannya. Dia berlari menjauhi keramaian seperti meminta tolong dengan melolong-lolong kesakitan.

Ketika mendekati pintu keluar gudang, tubuhnya roboh ke lantai dan menjadi abu menyengat, padahal api itu hanya sebentar saja memanggang tubuh pria bule itu.

"Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut api neraka. Demikian lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Al-A'raf ayat empat puluh satu..." Huda membacakan artinya dalam bahasa Inggris sambil tersenyum manis.

Kini pandangan para vampir itu berbeda, tidak seangkuh awalnya. Rahul berjalan mundur ketika dengan pelan mendekatinya.

"Bukannya kau bakat berlari? Kalian bisa lari tapi tidak bisa bersembunyi... Aku sedang mengingat wajah kalian semua sekarang... Dan dalam hitungan detik saat aku menyebutkan lam dan alif... Kalian akan binasa dengan ijin Allah... Apa kalian sanggup berlari sekarang?" Lirih Zanum lewat bibir Huda sambil menyeringai.

"Kesombonganmu ini tidak akan pernah aku lupakan!" Rahul membentak dalam ketakutan.

"Aku tidak sombong, setan? Aku mengejek kau supaya kau mau bertaubat dan ikut dengan barisan kami melawan iblis..." Senyum Zanum yang mengerikan lewat wajah Huda.

"Bagaimana bisa Tuhan mengabulkan mulut kotormu yang pendusta itu! Kau hanya ingin merendahkan kami! Seharusnya Tuhan tidak mengabulkanmu! Kau hanya memanfaatkan firman dari-Nya untuk menunjukkan kekuatanmu secara pribadi kepada kami yang kafir!" Debat Rahul.

"Aku mampu pasrah kepada Allah, namun saat aku melihat mukamu aku dilarang bersopan santun! Allah Allah Allah Allah..." Awalnya Zanum menyeringai lalu mulai menunjukkan wajah sangat sedih dan terlihat lemah, lalu setelah selesai menyebut nama penciptanya dengan wajah penuh kerendahan diri, dia kembali memasang wajah bengis penuh kebencian.

"Huh?" Rahul dan kawanannya terperanjat.

"Karena kalian adalah musuhku!" Teriak Zanum dalam diri Huda dengan kemurkaan.

Mereka kembali bertarung dengan sengit dalam kecepatan gerakan badan yang tinggi. Saling berkejaran dan mereka melempari Huda dengan benda-benda berat.

Rahul mengeluarkan pedang dari alam ghaib dan menebas leher Huda namun leher itu mengeluarkan aura api sebelum pedang itu mendarat ke kulitnya dan menjalar lah api itu ke pedang Rahul hingga menyentuh tangan Rahul.

"Aargh! Aaargh!!" Api itu pelan tapi pasti, merayap menggerayangi tangan Rahul karena vampir blasteran ini sangat sakti.

Energi kegelapannya sangat kental menyelimuti tubuhnya sehingga api itu pun lambat menggerogoti tubuhnya.

"Fa maa kaana lakum 'alainaa ming fadhling fa zuuqul-'azaaba bimaa kungtum taksibuun.." Huda membuka tangan kanannya ke Rahul mendorong api itu agar terus menjalar lebih jauh ke bagian tubuh Rahul.

Yang artinya: Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami. Maka, rasakanlah azab itu karena perbuatan yang telah kamu lakukan. Al-A'raf ayat tiga sembilan.

Melihat Rahul menjerit kesakitan tidak mampu menghentikan api itu, para vampir yang tersisa menarik Rahul dan..

"Brak!" Mereka mendobrak pintu gudang dan terus berlari keluar gudang industri itu tanpa menoleh lalu hilang dalam lingkaran portal teleportasi yang mereka bentuk dengan mind-power bersama. Mereka  meninggalkan Huda sendirian di tempat luas penuh perangkat berat dan besar itu.

"Mereka kabur..." Kata Huda.

"Mereka akan bersembunyi, mengintai seperti serigala lalu menerkam saat kau tidur di malam hari..." Bisik Zanum sambil membuat kaki Huda berjalan, membawa Huda pelan-pelan mendekati pintu sebab tahu jika ia tidur lagi maka Huda akan pingsan dan terpenjara dalam gudang itu tanpa di temukan oleh siapa pun.

"Saat ini... Aku hancur Zanum..." Lirih Huda mulai tertatih karena sebentar lagi khodamnya akan merasuk lagi ke kurungan cakra Latifah dalam jasadnya.

"Aku akan selalu hidup dan saat kau mati aku akan mengintai Yuna dan keturunannya... Aku berjanji kepadamu..." Geraman Zanum.

"Yuna... Aku sangat memimpikanmu..." Huda mulai menangis sedih, membuat Zanum terseret masuk lagi ke dalam cakra Latifatul Qalbi, kini semua anggota tubuh Huda sudah tidak mengandung elektromagnetik dari aura Zanum, kekebalan tubuhnya hilang.

"Hhaargh!" Huda jatuh ke halaman gudang industri.

Suaranya tak sanggup keluar dari tenggorokannya, lidahnya kelu, giginya mengerat menahan sakit nyeri di sekujur tubuhnya dan pusing hebat menyerang tempurung kepalanya. Matanya menjadi buta dan terpejam tanpa daya di tempat itu tanpa mengucapkan kata terakhir, hanya memeluk kakunya hati yang pilu dan ngilu.

Tak lama kemudian matahari pun lingsir dari senjanya dan memeluk malam yang mengejarnya. Tubuh Huda menjadi semakin kaku dan kering oleh dehidrasinya.

"Ah.. Huda... Kau akhirnya mati juga..." Zanum melihat gerbang cakra Latifatul Qalbi terbuka lebar.

Dia keluar dari cakra itu dan terbang melayang keluar dari jasad Huda. Tanpa pikir panjang Zanum terbang mencari gelombang radio ghaib agar bisa berteleportasi ke Yuna sesegera mungkin.

Sementara di tempat tadi, tubuh Huda memucat masih teronggok di sana tanpa dipeduli oleh siapa pun.


Tidak lama setelah angin dingin mulai berhembus Mengeringkan jasad Huda. Datang seseorang berkulit gelap dan berhidung mancung. Dia menggunakan mantel panjang dari kulit dan bertopi hitam dengan mengenakan sarung tangan dan sepatu kulit, membopong tubuh Huda yang kaku.

Dia membawanya ke sebuah tempat sepi di daerah dekat Southwark London Timur, ke sebuah area yang ada peternakannya. Dia di bawa ke sebuah pondok kecil mewah untuk admin pengurus peternakan menginap.

Pria itu membopong Huda masuk ke pondok, meletakkannya di depan perapian api unggun di atas karpet. Lalu dia melepas mantelnya dan duduk di sofa dengan pelan. Matanya tajam mengamati Huda dengan penilaian dalam.

Dia menarik nafas dalam pelan lalu menelpon rekannya untuk datang. Rupanya kawannya itu adalah seorang dokter. Tidak lama kemudian temannya itu datang, seorang perempuan berkulit hitam berambut sebahu.

"Oh Tuhan, tubuhnya kaku... Kita harus membawanya ke rumah sakit, dia kritis di akhir..." Dokter itu kemudian menelpon ambulan.

"Aku menemukannya di Docksland..." Pria itu masih tenang duduk di sofa.

Beberapa menit kemudian ambulan sampai di depan bangunan itu lalu melarikan tubuh Huda ke rumah sakit terdekat.

Segera setelah masuk ruang pendaftaran pasien dan gawat darurat, pihak ahli di rumah sakit menangani masalah Huda. Beruntung kala itu Huda ditemukan si pria berkulit hitam itu, dia dapat merasakan fasilitas penanganan cepat rumah sakit lewat bantuan dana darinya.

Tidak lama setelah pihak rumah sakit selesai dari ruang penanganan masa kritis Huda, dokter berkulit hitam itu keluar dari ruang dingin itu dan menghampiri si pria yang sekarang duduk di kursi tunggu sambil membaca artikel di gawainya.

"Kaiden, ini gawat, lukanya sungguh dalam..."

"Apa yang dia alamin Emily?"

Dokter Emily duduk di samping pria yang bernama Noah Kaiden pemimpin pemburu vampir itu dengan tatapan berusaha menenangkan diri.

"Degup jantungnya memang tidak terbaca lagi... Tapi aku yakin dia masih hidup, Kaiden! Kau tenang saja, kami sudah mengubungkan tulang-tulangnya yang patah dan tubuhnya yang menganga! Tinggal menunggu apa kah ruh dia bisa pulang dan hidup lagi!"

"Lalu, apa kah bisa ditolong?"

"Aku tidak tahu, Kaiden... Ini sangat membingungkan! Lukanya sangat parah! Degup jantungnya tidak terdeteksi di alat! Maaf aku tidak bisa membantu korban yang ini.." Emily bangkit dan berjalan menjauh karena pusing dan tidak memiliki ide sedikit pun.

"Itu dia!" Tunjuk Rika.

"Assalamu alaikum!" Kyai Jalil berlari terburu-buru mendekati Noah Kaiden.

"Syalom.. Rika!" Noah tersenyum melihat Rika seolah lama tidak bertemu.

"Kau selamat Kaiden?" Rika panik.

"Ya aku selamat!" Noah antusias menjawab dengan tegas.

"Lalu dimana suamiku??" Rika panik.

"Dia sedang berusaha hidup kembali... Sebelum ada sesuatu terjadi, aku mau supaya kita bawa dia pulang sambil menunggu dia hidup kembali... Meski pun  dokter sudah menyatukan tulangnya yang patah, tapi infus tidak bisa mengalir ke nadinya lagi... Karena dia mati suri... Karena itu kita tidak bisa memberikan tubuhnya nutrisi agar dia pulih dari luka dan siap kita bawa pulang... Aku tidak bisa membawanya pulang... Aku takut jika dia hidup tiba-tiba, dia akan sangat membutuhkan bantuan medis dan di rumah tidak ada apa-apa untuk menolongnya..." Noah menjelaskan.

"Ya Allah... Suamiku..." Rika terduduk di bangku tunggu.

"Kita tunggu dulu sampai beberapa waktu..." Kyai Jalil memberi usul, Noah mengangguk.

Amir dan Davos mengangguk lalu duduk di tempat tunggu yang kosong sambil mengawasi sekitar.

"Nama saya Jalil dari Indonesia"

"Noah Kaiden dari London..."

Dua pria founder itu berjabat tangan.

Kyai Jalil lalu merangkul pria kekar setinggi seratus sembilan puluhan sentimeter itu untuk duduk.

"Saudara, kau tahu kan soal gerakan para vampir ini?"

"Ya aku tau sejak lama" Noah mengangguk pelan.

"Apa mereka tidak akan memanfaatkan kesempatan Huda yang sedang seperti ini? Bagaimana biasanya taktik mereka itu?"

"Mereka itu sangat licik, aku takutnya juga begitu... Yang mereka incar adalah Rika karena dia memiliki darah istimewa... Golongan darahnya AB dengan resus negatif... Terutama dia itu Muslim..."

"Jadi mereka mengincar Rika? Apa keistimewaan darahnya Rika? Kan ada banyak golongan darah AB resus negatif?"

"Tidak, kebetulan sekali tanggal lahir Rika juga bagus menurut mereka... Golongan darah AB resus negatif ditambah tanggal lahir yang bagus bisa menghasilkan keturunan vampir yang luar biasa hebat jika dia menjadi seorang vampir dan Rika akan digunakan untuk membunuh anak-anak albino dalam upacara anak terputihkan di Paris setiap tahunnya..."

"Buat apa ritual semacam itu?"

"Kau tahu istilah Billion Eye Evilish?"

"Jutaan Mata kejahatan?"

"Itu upacara mengumpulkan orang-orang berkekuatan mata jahat, mereka akan diperintah untuk memandang sebuah menara dan menara itu akan memancarkan gelombang hipnotis ke seluruh dunia dan isinya adalah pesan agar menerima anti christ sebagai raja penguasa bumi sesegera mungkin...

Kaitannya dengan Rika, dia memiliki mata jahat itu!

Siapa pun atau apa pun yang dia pandang, jika dia suka, maka harus jadi miliknya, jika tidak orang itu akan celaka atau barang itu akan tamat riwayatnya...

Rika sangat ideal untuk menjadi vampir kuat..."

"Ah...." Rika tercengang mendengar itu.

"Jangan-jangan Bang Huda sadar akan hal ini sehingga dia menikahimu dan pantas dia bilang soal mata jahat ke kamu..." Davos bangkit berjalan mendekati Rika, berdiri di depan Rika dengan tatapan seperti tidak terima.

"Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk mengutuk dia jika dia tidak menikah denganku, tidak..." Rika sesenggukan.

"Ya, saat ini kau tidak akan mengutuknya Rika...

Namun jika kamu melihatnya dengan orang lain, mereka akan celaka karena menerima kutukan jahat dari matamu..." Jelas Noah.

"Apa kah aku separah itu!" Rika menjatuhkan kepala ke pangkuannya sendiri dan merengkuhkan dua lengan menutupi kepalanya yang menjadi berat oleh stres.

"Ga pa pa kalau Gus Huda belum bisa bangkit, saya akan lindungin kamu!"

"Mbah Yai!" Davos tak habis pikir.

"Apa Mbah Yai sudah gila?!" Amir bangkit dan berjalan keras mendekat, di samping Davos ia berdiri dengan berani.

"Dia kan istrinya Huda sekarang?"

"Tapi nyawa Mbah Yai juga penting!" Amir.

"Ya tapi kan kita usahakan dulu, kalau saya ga sanggup ya saya lari... Beres to?"

"Astaghfirullah Mbah Yai badan segempal Kaiden aja menyerah dan sembunyi sekarang ini, mengaku tidak bisa mengalahkan level vampir yang seperti sekarang kita hadapi, apa lagi Bang Huda yang sekuat itu aja lihat itu sekarang gimana nasibnya!" Davos menunjuk pintu kamar Huda yang tertutup, belum boleh diakses masuk oleh penjenguk.

Kyai Jalil menghembuskan nafas. "Trus maumu opo? Cuma plonga plongo kalau Mbak Rika dalam bahaya di cengkram sama vampir Prindafan itu?"

"Kita cari solusinya Mbah Yai pasti ada jalan! Pasti!" Davos mencari ide.

"Ingat nggak masih ada Mbak Yuna! Eh ups!" Amir menutup mulut lalu melirik ke Rika.

Davos menatap tajam mata Rika seolah melawan kekuatan jahat mata Rika yang padahal sedang memangku kepalanya yang pusing oleh stress.


"Aku tidak akan menghentikan Yuna" lirih Rika sambil mengangkat kepalanya.

Davos mengambil gawai dan memanggil nomor kontak Yuna.

"Assalamu alaikum."

'Waalaikum salam...'

"Neng, Gus Huda sudah ketemu, dia ada di rawat di ruang khusus sekarang, katanya kondisinya sangat kritis. Degup jantungnya sudah tidak terdeteksi tapi kemungkinan kecil dia masih bisa bangkit dari kematian lagi... Biaya pengobatannya..." Davos melirik.

"Aku yang bayar tadi memakai uang dari pemerintah dan gereja, tapi uang itu sudah habis jatahnya..." Noah Kaiden mengerjab.

"Biaya awal perawatan tadi ditanggung kenalan dari istrinya Gus Huda... Kami sudah kebingungan ini mau gimana sama administrasinya..." Davos mengaduh.

'Aku sudah ngobrol sama Anderson, dia akan segera tiba di London, besok...'

"Oh, ya... Sahabatnya Gus Huda ya?"

'Nah iya, dia lagi di Arab sekarang sama istrinya...'

"Alhamdulillah kalau ada bantuan, kami lega dan tidak cemas lagi sekarang, tapi kita punya masalah baru..."

'Apa itu?'

"Rika diincar oleh para vampir, kemungkinan para vampir itu akan menyerbu dalam kondisi Gus Huda lemah seperti ini... Kyai Jalil mau maju menghadapi tadi... Kami larang! Apa Neng Yuna ada solusi?"

'Aku akan pikirkan... Maaf aku terlalu pening mikirin masalah-masalah... Aku hanya bisa memberikanmu nomor kontak Anderson yang sedang dalam perjalanan ke London dari Madinah...'

"Ah, istirahat lah Neng.. maaf ya membebani..."

'Sabar, kubantu dari sini...'

Davos pun menutup panggilan.

Davos kemudian menelpon Anderson untuk bertanya soal keberangkatannya ke London apakah aman. Anderson meminta alamat rumah sakit kepada Davos dalam percakapan mereka. Setelah itu orang-orang yang menunggui Huda dengan cemas itu membubarkan diri dari runmah sakit. Mereka malam itu tidak menginap di rumah sakit seperti umumnya para penunggu pasien di rumah sakit karena aturannya berbeda.

Keesokan paginya Anderson datang tanpa bersama istrinya. Anderson tiba tanpa ingin dijemput oleh rombongan Kyai Jalil. Dia beranjak sendiri dari bandara menuju rumah sakit tempat Huda dirawat.

Anderson hadir di rumah sakit saat semua orang sedang tidak ada pagi itu dan ijin ke resepsionis untuk menjenguk Huda yang kritis dalam pengawasan penuh para ahli yang juga ikut-ikutan meneliti reaksi tubuh kasus yang dialami oleh Huda ini. Anderson tidak lupa melakukan penandatanganan sebagai pihak utama yang bersedia bertanggung jawab atas Huda membayar biaya tambahan untuk perawatan Huda di administrator.

Setelah mendapatkan ijin khusus lewat tanda pengenal kebangsawanannya dan haknya sebagai donatur, Anderson melesat cepat berjalan menuju kamar tempat tubuh Huda bersemayam.

Anderson membuka pintu lalu menutupnya rapat. Berjalan pelan mendekati tubuh Huda yang sudah menyerupai mayat karena kaku, dingin, kelopak matanya bahkan sudah cekung.

Melihat kondisi ini, Anderson menitikkan air mata dan tubuhnya terguncang.

"Kekasihku..." Katanya sambil meletakkan tangan kiri di kening Huda yang mengeras oleh dehidrasi.

"Dia sedang mati suri..." Bisik jin dalam cakra Latifatul Qalbi di jasad Anderson.

Anderson mengangguk, duduk di kursi penjenguk di samping ranjang Huda dan meraih gawainya dari saku, lalu ia membaca surat Yasin elektronik di aplikasi gawainya yang memiliki abjad penuntun cara baja sesuai mahraj dan tajwid.

Sementara itu di tempat Yuna, langit masih gelap, masih malam. Yuna sedang sholat...

"Tok tok tok!" Suara papan penghalang shaf di belakang Yuna seperti ada yang mengetuk.

Yuna menoleh setelah mengakhiri rakaat sholat dengan sempurna. Rumah kakak Yuna tempat ia tinggal sedang kosong. Hanya ada Yuna di rumah.

Yuna merasa ada kehadiran jin saat ini. Dia mengambil al-Qur'an dan mulai membaca surat Annaba.

"Tok tok tok!"

Yuna menoleh lagi ke papan shaf sholat yang diketuk di belakangnya. Tanpa bersuara, Yuna kembali membaca kitab sucinya.

"Tok tok tok!"

Kali ini Yuna mengeraskan bacaannya sampai surat selesai.

Setelah merasa tidak ada reaksi dari mahluk asing, dia berdiri dan melepas mukena yang ia kenakan.

Yuna berjalan keluar dari tempat sholat, lalu ke tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Betapa terkejutnya Yuna, lampu kamarnya tiba-tiba mati ketika dia sudah berdiri di lantai kamar tidurnya.

Dan ada sepasang mata berwarna merah terlihat di hadapannya dalam hitamnya kegelapan yang mencekam.

"Siapa kamu?!" Bentak Yuna.

"Zanum..."

"Hah? Zanum? Zanum khodamnya Huda?!"

"Iya..."

"Mau apa kau ke sini?!"

"Huda sudah mati..."

"M... M.. ma... Mati?"

"Sesungguhnya belum waktunya.."

"Dari mana kamu tahu?" Yuna tidak tahu perasaan tepat apa yang harusnya dia rasakan saat ini ketika melihat mahluk seperti ini.

"Karena aku masih bisa merasakan energi ruhnya mengalir dalam nafasnya yang sangat tipis... Sangat tipis..."

"Apa yang bisa kubantu untuk membawa jiwanya kembali?"

"Pergi lah ke alam barzah..."

"Kau menyuruhku mati suri?"

"Hanya itu caranya sebab dia sudah berputus asa untuk kembali hidup..."

"Zanum. Kau pergilah..."

"Aku tidak bisa, aku akan mengawasimu mulai sekarang karena aku sudah memiliki perjanjian.."

Lampu seketika menyala dan dua mata yang sepertinya milik mahluk berbadan tinggi itu hilang.

Dengan berdebar, Yuna berjalan mendekati tempat tidurnya, mengambil selimut dan bantal, membaringkan dirinya dan membaca ayat kursy untuk tidur dengan niat ingin meraga sukma. Yuna membaca dua kalimat syahadat lalu melelapkan dirinya dalam tidur hingga akhirnya degup jantungnya tidak berdetak lagi.

Kini sampai lah Yuna di sebuah tempat damai, terang, ada embun dan sinar yang muncul bercahaya tanpa hadirnya matahari.

Ada pepohonan di sana yang daunnya tumbuh jarang.

Suara orang-orang bersahut-sahutan membaca surat al-Qur'an tanpa putus.

Di tempat itu Yuna terus berjalan dan terus berjalan sampai tiba lah di sebuah tempat berbeda yang gelap dan hitam, Yuna terus berjalan sampai kakinya menyentuh genangan air yang memercikkan sinar jika Yuna menginjaknya. Percikan itu sangat tipis tapi cukup menerangi. Yuna terus berjalan dan menemukan seonggok pocong.

Pocong mayat manusia yang matanya melotot, dia berdiri memandang Yuna.

"Assalamu alaikum ya mayyit." Sapa Yuna.

"Siapa kamu?" Kata pocong itu.

"Aku calon mayyit..."

"Mau apa kamu ke sini?"

"Ini alam Qalbun milik Huda kah?"

"Benar, kau sudah sampai di sini."

Mulai mendekat mahluk lainnya yang menyeramkan. Jin-jin berkuku panjang dan bertaring, lengkap dengan jin raksasa ular berbagai warna dan raksasa-raksasa tambun dan gempal.

"Kalian ini jin-jin yang menyertai Huda kah?"

"Ya benar! Kami penduduk alam ini!"

"Dimana Huda?"

Semua jin itu menepi, ada eraman terdengar di belakang Yuna. Yuna menoleh pelan-pelan dan ternyata di belakangnya kini menyusul Zanum sedang berjalan. Jin bermoncong anjing putih dengan tanduk dan memiliki cakar, berjalan dengan dua kaki seperti manusia, dia memiliki sayap seperti kelelawar.

Yuna menoleh lagi ke depan dan berjalan melewati jin-jin yang jumlahnya jutaan di tempat tanpa penerangan itu.

Di depan sana ada Huda yang duduk menangis tersedu-sedu dalam kesendiriannya.

"Assalamu alaikum..." Lirih Yuna.

"Wa alaikum salam..." Huda menoleh namun wajahnya terlihat amat sangat buruk dengan ekspresi sedihnya. Seluruh kulitnya tertarik ke bawah dalam kesedihan.

"Kamu... Lihat wajahmu, sungguh terlihat amat sedih... Keriput begitu..." Yuna berdiri tanpa mendekat ke Huda yang duduk menangis.

"Aku sudah tidak mau kembali lagi ke bumi..."

"Kamu harus kembali..."

Huda menunjuk semua jin yang ada di sekitar mereka yang sedang berdiri.

"Ya mereka semua jin yang ikut sama kamu, yang mau bantu kamu keluar dari sini kan..."

"Aku tidak mau..." Huda menurunkan tangannya.

"Kamu tahu tidak apa yang akan terjadi kepada Kyai Jalil jika kamu tidak ada sementara vampir mengincar binimu?"

"Kyai Jalil kenapa?"

"Dia akan menghadapi semua vampir itu seorang diri di London!"

"Yuna, aku menyesal dilahirkan ke dunia ini..."

"Itu yang bikin kamu ga bisa hidup lagi, hapus penyesalan itu! Lihat jutaan jin ini, mereka masih mau jihad bersama kamu!"

"Aku sudah menyerah!"

"Kenapa? Karena aku iya? Yaudah kalau gitu ga usah harap bisa bertemu aku lagi!" Yuna membentak lalu berdiri dan berbalik badan berjalan meninggalkan Huda.

Zanum melihat Huda di kejauhan, lalu terlihat ia mengekori Yuna setelah dilewatinya.

"Zanum..." Lirih Huda mengangkat tangan kirinya berusaha meraih.

"Mati lah dengan tenang Huda jika itu kau inginkan..." Jawab Zanum tanpa menoleh, berjalan keluar, jin-jin secara berangsur lenyap dari dimensi itu.

Dimensi itu kembali sepi. Hitam. Tanpa penerangan. Null. Tidak ada apa-apa.

"Ya Allah... Kasihani lah aku..."

Huda lemah masih tersimpuh di daratan yang memiliki genangan air itu.

"Sesungguhnya Dia selalu ada di sisimu!" Muncul suara seorang pria dari langit.

Huda mendongak, jatuh lah selembar kertas dari atas berwarna putih dan bersinar. Kertas itu mengapung di udara seolah terkipas angin lalu jatuh di hadapan Huda.

Huda meraihnya ketika kertas itu menyentuh genangan air namun anehnya dia tidak basah.

"Sholat lah!" baca Huda, lalu melipat kertas itu dan mengantonginya ke celana.

Huda berdiri setelah membaca kertas itu tanpa pikir panjang, dia mengadakan sholat taubat dua rakaat di daratan yang tergenang oleh air yang sejuk setinggi mata kaki itu.

Kertas itu benderang dalam kegelapan di dalam saku celana Huda, di tempat itu Huda sujud menenggelamkan wajahnya.

Wajahnya berangsur pulih setiap dia mencelupkan wajahnya ke daratan, dia sujud dalam menyelam sembari dengan nikmat menyebut dan menyucikan asma Allah.

Lalu ketika dia benar-benar nyaman menyelam, seketika tubuhnya tenggelam dalam air yang luas. Huda berenang menyelami air bening yang semakin memiliki susana terang. Huda tertarik ke bawah oleh arus, Huda tidak melawan penarikan arus itu dan dia memejamkan mata.

Dalam perasaannya kini terasa tubuhnya sangat lemah dan sakit semua di sekujur tubuh. Telinganya mendengar suara alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi secara berkala dalam ritme yang lemah namun susah baginya untuk membuka mata.

"Alhamdulillah...." Lirih Anderson.

Pria itu mendekat dan mengecup kening Huda penuh pengertian sambil mengelus rambutnya dengan lembut.

"Terima kasih sudah pulang kembali Sayang..." Senyum Anderson tulus, perasaan kasihnya tidak bernafsu seksual saat ini karena kesadaran Anderson sudah meningkat.



Sementara Huda di rumah sakit dirawat oleh Anderson yang romantis.

Kita mundur ke waktu malam...

Di apartemen Kyai Jalil sementara itu, di malam hari di waktu yang sama saat Huda sendirian di rumah sakit dalam lahapan maut. Ketika semua orang tidur, Rika mengendap membuka pintu kamar Kyai Jalil, pintu berdecit namun suaranya tidak cukup untuk memanggil Kyai Jalil agar bangun. Rika mengunci pintu itu pelan-pelan.

"Klik!"

Rika berdiri di dekat Kyai Jalil yang terbaring mengenakan baju lengkap dan tertutup dengan tenang sambil memeluk gulingnya. Rika mengangkat kedua tangannya yang memegang pisau dan bersiap untuk menusuk leher pria ber-maqom mulia itu.

Namun tiba-tiba Kyai Jalil membuka matanya, Rika melihat pria melankolis itu menatapnya dengan pandangan lugu. Mata Rika yang awalnya bengis berubah memelas dan dia mulai memamerkan matanya yang berkaca-kaca.

Rika melempar pisau itu ke lantai, lalu dia melepas jilbabnya.

"Mau apa kamu Nduk?" Lirih Kyai Jalil menarik dirinya menjauhi Rika.

Rika diam saja, dia membuka kancing-kancing  kemejanya dan memperlihatkan pakaian dalam atasnya, tampak menyembul kencang bulatan mewah dengan tonjolan keras menusuk ujung kain dari pakaian dalamnya itu.

"Aku pingin dimasukin sama kamu..." Rintih Rika.

"Sabar Nduk nanti suamimu juga akan sembuh dan onderdilnya bisa berdiri lagi kok!" Kyai Jalil merangkak menjauhi ranjangnya yang terabaikan padahal kasurnya siap untuk menjadi saksi bisu adegan malam itu.

"Yai, aku butuh kehangatan dan kasih sayang di masa sulitku yang seperti ini... Kau ini jangan munafik!..." Rika membrutal, dia melepaskan pengait belakang bra-nya dan memperlihatkan dengan kebanggaan betapa menantangnya bulatan menggemaskan itu meminta untuk dijamah dan dibasahi oleh keringat.

"Astaghfirullah al adziim! Jangan membuatku travelling nafsu Nduk! Aku ini pria normal tapi aku ini juga punya akal, aku ga mau nuruti nafsu binatang! Merpati saja setia pada satu pasangan!"

"Itu karena si ayah ga akan menikmati keturunannya yang banyak, sementara aku ini kan bukan anakmu tapi bakal ibunya anakmu Kyai.." Rika melorot celana jeansnya dan menyuguhkan pemandangan lezat penutup bawah yang hanya menutupi pucuk gerbang sorga dunia.

"Kampret ini bocah! Kau pikir kau ini siapa?!"

Kyai Jalil.

Mata Rika tiba-tiba berkilat kuning, dan Kyai Jalil yang melihatnya langsung hilang kesadaran.

Otaknya melamban dan tubuhnya seperti sudah dalam kendali gelombang keheningan yang diproduksi oleh aura Rika.

Rika melepas tali pengait kain pembalut alat andalannya dan berjalan mendekati Kyai Jalil dengan senyum bangga.

"Apa sih yang enggak buat akuh?" Sambil menempelkan balon kenyal besar bulat sempurna berwarna putih kemerahan ke dada Kyai Jalil dan menekannya dengan manja agar Kyai Jalil mengenali keempukan adonan lembut itu.

Rika menjulurkan lidahnya dan mendaratkan ke leher Kyai Jalil sambil menunjukkan tarik tipis miliknya.

Dan ketika Rika menggigit leher Kyai Jalil, dia menghisap kekosongan, tidak ada darah yang keluar.

"Hah?" Rika menarik taringnya.

Wanita yang alat andalannya sudah terlanjur basah dan meneteskan cairan birahi dan berharap akan dibobol malam itu kecewa.

Dia meletakkan tangan kanannya ke dada Kyai Jalil yang masih mematung. Didapatinya jantung pria itu tidak berdetak.

"Tidak mungkin! Dia kan masih hidup! Hargh!" Rika sebal, menarik tangannya dan pergi ke ranjang.

Dia memasukkan jari telunjuk ke mulutnya sendiri dan menggigitnya gemas sambil matanya melihati Kyai Jalil yang masih berdiri kaku tak jauh dari ranjang dengan nafsu tinggi.

Rika memutar badan dan meletakkan bagian tubuh belakangnya ke atas lalu memasukkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di genggamannya. Rika mulai berfantasi dan menikmati pelayanan mandiri yang dia buat secara ajaib sambil terus melihat Kyai Jalil yang menemani hayalannya.

Dia mendesah tipis dan mengaduh keenakan seolah ingin menusukkan godaan ke telinga Kyai Jalil agar bersedia mencoba dirinya. Padahal tentu Kyai Jalil tidak bisa mendengar.

Rika terus berfantasi melakukan pelayanan diri mandiri sambil mengadon kedua planetnya yang tegang oleh suasana malam itu. Dia memejamkan mata dan membayangkan wajah Kyai Jalil sambil tersenyum sendiri.

Kedua benda yang memenuhi dua lorong surga duniawi di tubuh Rika bekerja dengan sendirinya, mereka bergantian keluar masuk ke lubang kenikmatan tubuh Rika yang menggeliat dan mulai berkeringat. Rika sedikit menegakkan tubuh atasnya dan mulai berpesta hayalan dalam kekuatan sihirnya. Beberapa kali dia mendesahkan nama pria yang berdiri kaku tak sadar itu.

Dia bangkit dan berjalan menuju Kyai Jalil, menempelkan tubuh atasnya sambil meresapi dua benda sihir yang mengerjai bagian bawahnya. Rika memeluk pria itu dan menghembuskan nafas dengan menggebu-gebu penuh kehangatan.

Rika membuat kedua benda itu semakin beradu kecepatan, tubuh Rika mulai menggelinjang karena benda itu mendorongnya kuat dan membuat dua planetnya berguncang-guncang mendorong tubuh pria lugu di depan Rika itu. Sampai tiba lah saatnya dua benda penggempur itu membuat lantai merasakan tetesan cairan dari liang beraroma khas milik Rika. Rika mengerang dan mempererat pelukannya lalu terjatuh lemas ke lantai sambil tertawa puas, kedua benda itu hilang.

Dalam kedipan mata, Rika kini telah berbusana rapi lagi. Lalu secara tertatih, dia berjalan ke pintu lalu membuka pintu dan menjauhi tempat itu.

Tidak lama setelah keheningan malam kembali terdengar, Kyai Jalil tersadar dari lamunannya.

"Loh lakok aku di sini? Apa barusan aku tidur berjalan?" Kyai Jalil linglung, berjalan ke ranjang dan menarik selimutnya kembali.

Di pagi harinya, saat sarapan. Rika berinisiatif supaya bisa memegang dada Kyai Jalil lagi. Dia memutar otak, menumpahkan kopi ke baju Kyai Jalil dan ingin membersihkannya.

Namun Kyai Jalil mengelak, tingkah kikuk ini membuat Amir dan Davos saling berpandangan dan menyimpulkan ada hal tidak wajar dari gelagat Rika.

Rika terlihat ngeyel dan menempelkan tangannya ke dada Kyai Jalil. Dan benar saja jantung Kyai Jalil tidak berdetak.

"Loh kok tidak berdegup!" Rika menarik tangannya lagi dan pergi menjauh, mengambil kursi agak jauh dari Kyai Jalil dan pura-pura cuek menikmati sarapan yang Amir dan Davos masak.

"Itu karena nyawaku sudah aku titip ke Allah subhanahu wa taalaa!" Kyai Jalil menunjuk ke atas.

"Maksudnya gimana jantung Mbah Yai ga berdegup?" Davos skeptis.

"Iya coba aja sentuh dadanya, ada ga debaran jantungnya!" Antusias Rika.

"Ya, memang jantung saya tidak berdegup meski saya hidup. Saya mengamalkan ilmu dari kakek saya. Dia menjual nyawanya kepada Allah. Saya sudah bilang dari tadi.." Kyai Jalil lalu berdiri meninggalkan meja makan karena makanannya sudah habis.

Davos dan Amir menyusul gurunya setelah selesai melahap sarapannya, Kyai Jalil merokok di depan gedung apartrmen sambil duduk di kursi tempat Huda terakhir hilang.

"Mbah Yai.." Davos dan Amir menghampiri.

"Rika memang aneh, aku tidak percaya sama dia..." Kyai Jalil berdiri lalu berjalan.

Kedua pria yang lebih muda darinya berjalan di kedua sisinya mengawal.

"Tadi malam dia mau membunuhku terus menggodaku ngajak kelon!" Kyai Jalil menyebat.

"Yang benar Kyai?!" Davos tercengang.

"Dia sepertinya vampir, soalnya aku disihir sama dia sampai linglung, pagi setelah bangun tidur aku baru sadar. Dan saat bangun kulihat ada semut banyak di lantai, mengerumuni sesuatu bekas air basah gitu..."

"Apa itu?"

"Ga tahu bekas air apa itu

"Jadi kenapa kita meninggalkan Rika sendirian di apartemen?"

"Biarin aja dia, ga usah kita lindungi, mulai sekarang dia musuh kita juga..." Lirih Kyai Jalil.

Davos dan Amir saling bertukar pandangan dan mengangguk serius mengerti.

Mereka bertiga naik taksi menuju rumah sakit tempat Huda dirawat inap, Davos menelpon Anderson sebelum tiba di rumah sakit yang sudah berdiri sejak tahun satu tujuh dua empat itu. Setibanya di sana mereka bertemu dengan Anderson di lobi yang mengantar mereka karena kini Huda sudah dipindahkan.

Huda masih kritis dan berbaring lemas belum sadarkan diri namun detak jantungnya sudah terdeteksi oleh mesin. Noah Kaiden sudah tiba di sana sebelum rombongan Kyai Jalil, dia ternyata sejak jam sembilan pagi telah menemani Anderson. Setelah mereka berbicara serius tentang kondisi Huda, Noah menyela topik dan menggantinya dengan tema obrolan lain.

Noah merogoh kantong mantelnya dan mengelurkan sebuah amplop merah besar yang tebal dengan stempel lilin merah berpita hitam, di stempel itu ada simbol huruf V kapital.

"Kita diundang ke pesta vampir besar malam ini di sebuah kastil legendaris... Di sana mungkin banyak jiwa-jiwa yang terkurung, dan itu bisa menghambat pergerakan kita." Noah menyerahkan amplop itu ke Kyai Jalil yang memiliki aroma parfum khas Ambergris yang lembut.

Kyai Jalil membuka amplop dan mengeluarkan kertas undangan yang tebal berwarna kecoklatan emas dan membaca kalimat di lembarnya.

"Di mana itu Warwirck Castle?" Kyai Jalil menyerahkan surat itu ke Amir.

"Warwick Castle terletak sekitar satu tiga tujuh kilo meter di barat London, atau sekitar dua jam perjalanan dengan mobil..." Jelas Noah.

"Boleh aku tahu sejarah dari kastil ini?" Davos mengintip surat yang dibaca oleh Amir.

"Ya, Warwick Castle telah mengalami kerusakan beberapa kali sepanjang sejarahnya yang pertama akibat Perang Saudara Inggris tahun satu enam empat dua. Kastil ini rusak parah selama Perang Saudara Inggris dan direbut oleh pasukan Parlemen.

Kedua, dia rusak oleh Kebakaran Besar tahun satu delapan tujuh satu, kebakaran besar menghancurkan bagian dalam kastil, termasuk Great Hall.

Lalu Perang Dunia II di tahun satu sembilan tiga sembilan, Kastil digunakan sebagai markas militer dan mengalami kerusakan ringan.

Dan Kebakaran di tahun satu sembilan enam sembilan, ada Kebakaran kecil menghancurkan bagian dari kastil." Jelas Noah.

"Apakah itu kastil vampir?"

"Rumornya begitu, ada acara bernama Dungeons After Dark - My Bloody Valentines di bulan Februari kemarin..."

"Baik lah ini kan acaranya besok dengan judul Blood Pool March, kita coba ke sana makai kostum ala-ala Drakula... Hehe" Kyai Jalil memeragakan cakaran dan gigi taring mengintai mangsa.

"Oke siap..." Amir menarik nafas dalam.

"Anderson mau ikut kah?" kyai Jalil memastikan.

"Aku rasa aku tidak bisa, aku harus menemani Huda.." kekeh Anderson.

"Baik.. baik...

Jika ada seorang perempuan ke sini, kamu harus hati-hati... Dia memiliki pesona dan daya sihir luar biasa..."

"Jadi kamu sudah mengetahuinya? Aku tidak bisa cerita di depannya kemarin" Noah.

Kyai Jalil menatap tajam Noah, "sebenarnya kamu sendiri siapa aku juga belum terlalu percaya sekarang kalau ada kejadian seperti tadi aku dikerjain sama si wanita berbisa itu..."

"Aku salah satu seorang pendeta di Katredal Duke. Aku memang diperintah untuk membasmi vampir dan keturunannya di Inggris sebab mereka tidak mau memutuskan perjanjian gelap lama dari kerajaan Inggris..."

"Jadi siapa sebenarnya Rika?"

"Rika sebenarnya adalah seorang anggota satanis dari Jakarta, dia diangkat menjadi istrinya Lucifer... Dia itu Medusa... Atau Succubus..."

"Oh, Succubus..."

"Ya..."

"Lalu tidak mungkin kan Gus Huda ga tahu soal ini semua?" Amir penasaran.

"Sepertinya Huda punya rencana tersendiri untuk Rika, mungkin dia menawannya dengan ikatan pernikahan supaya tidak bisa berkembang biak dengan orang lain!" Noah menegaskan.

"Astaghfirullah!"

"Ada apa Kyai?!"

"Pantas saja dia tadi malam main nak-e-nak sendiri!"

"Iya kah?"

"Iya! Orang aku ga bisa bergerak, dia cuma nempel-nempel kaya ulat geliat-geliat..."

"Waduh, Johny ga bangun Kyai?"

"Ya mana bisa bangun wong dibius udahan!"

"Lah dalah ga jadi kikuk-kikuk, tahu gitu miscall kita-kita yang kedinginan tadi malam di kamar sama AC!"

"Gimana mau misscall desah aja mulutnya kaku, mau colek aja jari juga beku kayak di kulkas..."

"Jadi? Tadi malam dia menggodamu? Itu dia sedang mengisi ulang kekuatannya!"

"Huaduh!"

"Sebenarnya, aku juga pernah digoda oleh dia, dia itu sebenarnya anak buahnya Rahul! Dia mungkin diperintahkan untuk mendekati kalian karena kalian pemburu satanis! Aku mendengar tentang aksi kalian di Roma, kalian pikir desas desus itu belum menyebar?

Karena itu aku mengintai pergerakan kalian dari jauh! Aku juga mengintip pertarungan Huda melawan para vampir, aku benar-benar menguntit ketika Huda diculik oleh mereka, dan ini ponsel milik Huda, aku kembalikan! Benda ini dibuang ke semak-semak oleh Rahul!" Noah menyodorkan gawai Huda yang dirogoh dari saku mantelnya.

"MaasyaaAllah!" Kyai Jalil menerima gawai itu dan menyerahkannya ke Anderson yang mengangguk serius.

"Aku bingung karena aku tahu Rika pasti akan datang mencari Huda di sini, kukatakan supaya Huda menginap di sini agar dia tidak berbuat jauh! Gedung rumah sakit ini sudah dikutuk supaya para vampir tidak bisa mengeluarkan kekuatannya di sini. Ini adalah rumah sakit suci tempat orang-orang Shaleh dirawat dan meninggal dunia dengan tenang sejak dulu, rumah sakit paling tua di London. Karena itu bisa membiayai Huda di sini karena aku anggota Katredal Duke.. aku bersyukur Huda tidak dibawa Rika keluar dari gedung ini!" Lega Noah.

"Maaf aku tadi sudah mencurigaimu!" Kyai Jalil.

"Tidak masalah! Kalian datang memang di waktu yang tepat sebelum pesta ini dimulai, mereka mengejekku dengan mengirimiku undangan ini karena mereka tahu aku sekarang lemah! Tapi dengan melihat bagaimana cara kemarin Huda bertarung! Aku memahami caranya sekarang supaya aku bisa mengimbangi kekuatan mereka!"

"Ya sudah kalau kamu sudah mantap dan yakin, sekarang juga ayo kita siapkan perlengkapannya untuk besok!" Kyai Jalil kemudian pamit ke Anderson.

Anderson melepas kepergian mereka dengan serius dan waspada. Kini tinggal dia seorang diri maka harus menguatkan pertahanan untuk menjaga Huda agar tidak diculik.

Rombongan Kyai Jalil dan Noah bergerak ke kediaman Noah di Duke Street Mayfair London dengan menaiki mobil sang pendeta Katredal yang juga bermisi khusus untuk membasmi para setan.

Singkatnya setelah mereka meninggalkan rumah sakit dan sudah sampai di kediaman Noah, Rika justru hadir di kamar Huda. Betapa terkejutnya Huda melihat perempuan berhijab cantik muncul membuka pintu dengan wajah sedih mendekati ranjang pasien tempat Huda merebahkan dirinya dengan langkah lemas tanpa rasa awas.

"Siapa kamu!" Anderson mencengkram lengan kanan Rika.

"Ini aku Rika, istri sah dia!" Melototnya Rika.

Anderson yang sedari tadi menguping pembicaraan orang-orang di kamar VIP itu tidak bisa digoyahkan, dia sejak awal sudah kehilangan kepercayaan kepada sosok yang baru hadir ini.

"Kamu ingin membunuh Huda kah? Atau berkembang biak dengannya supaya mendapatkan keturunan yang hebat?!" Geram Anderson.

"Apa maksudmu?!"

"Succubus kau!"

Rika yang beraut wajah skeptis kini tertawa lirih memperlihatkan semua giginya yang putih.

Anderson bangkit dari duduknya dan menyeret Rika, dia berjalan menyeret Rika keluar rumah sakit dan membawanya ke taman.

"Mau apa kau dari Huda?!" Serius Anderson belum melepaskan tangan perempuan bersampul agamis itu.

"Hahaha!"

"Succubus!" Huda mengaktifkan khadam dalam jasadnya, membuat fisik ghaib Anderson bisa dilihat oleh mata batin Rika.

"Ah, panas!" Rika menutupi matanya.

Bagi Rika mata Anderson menyala putih dengan sinar terang.

"Pergi kau! Sebelum aku panggil para malaikat!" Anderson mendorong Rika sampai jatuh ke lantai.

Melihat lawannya terlalu kuat, Rika merangkak mundur lalu berlari menjauh dan hilang di tikungan. Anderson berlari ke gedung rumah sakit dan menuju ke kamar Huda.

Anderson bernafas lega, Huda masih berbaring aman di sana. "Aku berjanji aku tidak akan pernah keluar dari kamar ini, jika dia saja bisa masuk sini, pasti akan ada orang lain yang menyelinap ke mari dengan berbagai macam alasan... Aduh aku harus apa sekarang!" Anderson memegangi kepalanya mumet.

"Kamu tenang saja!" Suara seorang wanita.

"Herkh!" Anderson terjengat, menoleh ke belakang.

"Aku Emily, doker yang merawat dan mengoperasi Huda, aku anggota Katredal Duke." Dokter berkulit hitam eksotis itu menunjukkan sebuah lecana di kalungnya.

"Fiuh..." Anderson masih berdebar-debar.

"Kita akan berusaha menyelamatkan pria ini, kita bisa bergantian menjaganya, ini anakku Petter... Dia akan menemanimu..." Tegas Emily lalu memperkenalkan pemuda yang memasuki ruang pasien.

"Kau bisa mengandalkan anakku, dia memiliki sebuah kelebihan..."

"Terima kasih sekali atas perhatian kalian pada kami..."

"Sesama abdi Tuhan sudah sepantasnya kita saling mendukung!" Emily tersenyum rendah hati.

Keesokan malamnya, singkatnya Kyai Jalil dan rombongan diantar Noah ke kastil Warwick. Lampu-lampu sorot warna-warni merayap di langit dan kulit dinding-dinding depan kastil.

Suasananya sangat ramai, ada musik pengiring dan banyak bunga hiasan menemani setiap jalan tamu memasuki area pesta. Di depan kastil ada petugas pemeriksa undangan. Setiap orang yang datang memakai topeng, termasuk tim Kyai Jalil malam ini dengan baju borjuis drakula mereka.

Tim Kyai Jalil memasuki kastil itu dengan langkah percaya diri, aroma parfum bercampur-campur di tempat itu. Hidangan non halal dan minuman alkohol jelas adalah suguhan utama di sana.

"Untung udah kenyang, makan dulu sebelum berangkat tadi..." Ucap Amir memakai bahasa Indonesia.

"Energinya kuat sekali dan bercampur aduk semua di sini... Kalau ga kuat bisa pusing..." Bisik Davos menjawab.

"Itu karena banyak jiwa-jiwa yang terpenjara di tempat ini juga ikutan nimbrung di celah-celah keramaian, tadi kan udah dijelasin sama si pendeta ini..." Kyai Jalil angkat satu alis.

MC menaiki panggung, sang pembawa acara itu menyambut hadirin dan membuka acara pesta meriah. Ada seorang pelayan wanita bergaun atasan terbuka dan gaunnya memiliki belahan kaki tingi membawa lembar undangan yang tadi Noah serahkan, dia menghampiri tim  Kyai Jalil dan mengajak mereka ke ruang pesta khusus untuk kelas dalam undangan itu.

Tim Kyai Jalil mengikuti dan ternyata mereka dibawanya ke sebuah ruang terbuka istimewa yang memiliki kolam  renang. Di sana semua orang berpakaian terbuka dan menikmati minuman anggur.

"Surga apa neraka nih?" Davos mengajak gibah memakai bahasa pribumi lagi.

"Tergantung... Di sini kita menemukan kedamaian apa tantangan nih..." Amir menggigit bibir.

"Ingat kita ke sini bukan buag nak-e-nak tapi bikin perhitungan, jangan sampai kalian balik jadi orang sontoloyo..." Kyai Jalil melirik sambil angkat satu alis.

Merasa tidak paham, Noah berdehem.

"Ada apa?" Kyai Jalil.

"Menurut kalian, siapa ketua vampir di sini? Kita harus membasminya..." Lirih Noah.

"Sementara kita main tebak-tebakan aja dulu ketua mereka itu cewe apa cowo?" Kyai Jalil intermezo.

"Pria..."

"Pria..."

"Pria..."

"Aku malah curiga kalau ketuanya itu cewe..." Tajam Kyai Jalil menerawang ke seorang perempuan yang berdiri di balkoni nanjauh di sana seorang diri.

Noah, Amir dan Davos menelusuri ke arah mana mata sang Kyai menyorot. Ternyata ke sosok perempuan dewasa awal yang tersenyum sambil mengangkat dagunya di kejauhan sana.

"Ayo kita semperin itu demit..." Lirih Kyai Jalil langsung berjalan melewati kerumunan disusul timnya malam ini.

Kyai Jalil terus membidik perempuan itu sampai naik tangga kastil dan terus meneropongnya. Hingga tiba lah mereka kini di hadapan sosok cantik dan berparas berwibawa itu dan berambut keriting hitam sepunggung dengan kalung berlian itu.

"Siapa kalian ini sebenarnya?" Senyumnya sambil mengangkat alis.

"Aku tidak mau berkenalan jika kau ingin mengenal hanya untuk membekasi eh menyakiti.." pleset Kyai Jalil.

"Ehahaha!" Perempuan itu meletakkan cawan anggurnya ke meja kecil mewah di dekatnya.

"Kalau mau bermain-main dengan Felicia..." Perempuan itu berjalan ke Kyai Jalil, meraba tuxedonya, namun ternyata mengangkat tubuh Kyai Jalil tinggi-tinggi.

"Maka main lah di ruang pesta yang sudah disediakan untukmu!" Wanita itu melempar tubuh Kyai Jail melayang jauh ke bawah dan..

"Byur!!" Kyai Jalil mendarat di tengah air kolam.

"Kyai!!" Teriak Davos dan Amir bersamaan.

Noah melotot menyaksikannya. Perempuan itu naik dinding balkoni dan melompat terjun jauh ke bawah, mendarat di air kolam.

"Byurr!!"

Kyai Jalil yang masih megap keplempoken air dan mengusap mukanya terkena lagi sapuan ombak percikan air dari perempuan yang barusan  terjun bebas.

Perempuan itu mengibas-ngibas air ke muka Kyai Jalil.

"Wis wis wis wis wis! Hoop! Setoop setoop uwis aku keplempoken banyu!" Sudah kata Kyai Jalil menyuruh berhenti.

"Kenapa? Kenapa berhenti! Kamu kan yang mengajakku bermain-main tadi! Hahaha!" Riang perempuan itu.

"Ayu ayu gendheng!" Kyai Jalil berenang menjauh tapi perempuan itu menarik kaki Kyai Jalil sambil tertawa.

"Mau kemana Sayang! Kita belum kenalan loh!" Perempuan yang tadi menyebut nama Felicia itu tertawa senang.

"Moh aku kenalan karo wong gendheng! Wis adus aku wis ganteng maleh kaya' Ucup gini!" Kyai Jalil masih mengomel dengan bahasa Jawa Timurnya.

Perempuan itu tiba-tiba melesat cepat mendekap dua bahu Kyai Jalil dan memepetnya.

"Namaku Felicia..." Senyumnya.

"Aku Black Pirate!" Jawab Kyai Jalil dengan logat medok.

"Ehahahaha!" Felicia tertawa terpingkal-pingkal melepas Kyai Jalil.

Davos, Amir dan Noah berlarian mendekati kolam.

"Woy! Piye iki Cah?" Teriak Kyai Jalil.

"Hey! Jangan ajak yang lain dalam permainan kita ini!" Felicia mengambil dagu Kyai Jalil dan menghadapkan wajah Kyai itu ke mukanya yang tiba-tiba jadi serius.

Kyai Jalil menelan ludah.

"Jancuk... Jancuk..." Gumam pria itu tidak habis pikir.

"Mau ngapain sih itu kuntilanak!" Davos geram sudah.

"Mbah Yai! Hati-hati! Nanti keperjakaan Jenengan bisa hilang!" Teriak Amir.

"Weh ini kalo aku crot di air kolam pasti dia bunting tanpa media!" Slengek Kyai Jalil sambil pasang muka cemas.

"Jancuk ane malah ngajak dagelan! Mbah Yai pokok e maju! Maju! Maju!"

"Maju matamu!"Kyai Jalil nyengir geli sendiri mendengar santrinya barusan menyemangati dengan gaya cheerleader.

Sementara semua orang terlihat tidak peduli seolah tidak melihat, mereka sibuk dalam acara pestanya.

"Firasatku tidak enak!" Noah memandang Felicia serius.

"Aku tahu!" Davos juga.

"Felicia bukan namanya? Kurasa dia punya kekuatan lebih jika di dalam air karena itu dia membawa Jalil ke kolam!" Serius Noah.

"Astaghfirullah! Kyai cepat ke sini!" Bawel Amir.

"Kita harus bikin strategi!" Davos menepuk bahu kanan Noah.

"Itu yang sedang aku pikirkan!" Noah lirih.



Noah Kaiden mengamati serius mencari ide untuk mampu mengeluarkan Kyai Jalil dari kolam itu.

"Astaga aku tidak bisa berpikir!" Dia berjalan mengitar kolam dengan pelan menatap mereka berdua.

Felicia tersenyum sinis melihat Noah yang berjalan di pinggir kolam di belakang Kyai Jalil. Dia mulai mengeluarkan kelebihannya, Fecilia mengontrol air untuk menciptakan gelombang atau vortex. Kyai Jalil mulai mengedarkan pandangannya dan berusaha menstabilkan diri yang di tengah guncangan ombak kolam.

Felicia menenggelamkan dirinya ke air kolam dan membuat dirinya sendiri menghilang di dalam air. Dia menyelam dan menarik kaki Kyai Jalil ke dalam air kolam dan dia menghipnotis pandangan mata Kyai Jalil. Di sisi lain, awan mendung di langit menyingkir dari bulan dan mempersilahkan sang bulan menyinarkan purnamanya.

Dengan cahaya lunar, Felicia semakin merasakan kekuatannya bertambah, dia menghisap energi termal dari bulan merasuk ke dalam air. Suhu air menjadi semakin dingin dan membuat Kyai Jalil mulai berhalusinasi.

"Blup!" Kyai Jalil mulai melepaskan gelembung karbon dioksida dari mulutnya.

Semakin gelembung itu menyentuh permukaan air semakin tenggelam lemas Kyai Jalil, di hadapannya sekarang semuanya terlihat hitam pekat tanpa tepi untuk berpegang minta bantuan, tangannya meraih-raih namun air yang menghimpitnya tidak punya belas kasihan.

Viskositas air meningkat, air kolam itu kini terasa bagaikan minyak, Kyai Jalil sulit menggerakkan kemauannya, "Allah!" Ucapan terakhirnya dalam tekanan air itu, melepas semua udara dalam mulutnya dan menutup mata pasrah kepada sang khalik.

Di luar kolam semua orang tetap berpesta seolah tidak melihat kejadian apa-apa, air kolam menjadi tenang tak memiliki riak. Kyai Jalil dan Felicia menghilang. Berangsur-angsur air kolam itu menjadi keruh, menggelap dan warnanya menghitam semakin lama semakin pekat air itu. Tentu saja ekspresi Noah, Amir dan Davos adalah panik bukan kepalang.

Amir terus mengucapkan surat-surat al-Qur'an untuk meruqyah energi kegelapan di air kolam itu.

"Kyai!" Davos teriak lalu tanpa pikir panjang menceburkan dirinya ke kolam dan menyelam ke dalam air kolam yang bahkan tidak beriak ketika dia membanting badannya ke sana.

"Air kolam ini menjadi anomali!" Noah berusaha mengipas-ngipas air kolam tetap air itu tenang tidak memiliki biak.

Sementara itu Davos mencapai dasar kolam dan berputar-putar di sana namun tidak menemukan apa-apa.

"Mencari apa?" Bisik suara di telinga Davos terdengar padahal dia sedang menyelam dalam air.

Davos berenang ke atas namun anehnya di kegelapan itu dia tidak mencapai permukaan air.

"Hahhhahahahaha!" Suara tawa mengguncang dari segala arah terpantul-pantul gemanya dari mana saja Davos melirik.

"Kau mencari malaikat pencabut nyawa?" Bisik suara lirih itu lagi sepertinya suaranya Felicia.

Situasinya mulai disadari Davos bahwa ini  semakin mengerikan, dia terlalu gegabah. Davos mulai panik namun dia berusaha menenangkan diri dalam keheningan untuk membangkitkan gelombang pikirannya namun energi itu seperti mengendap dalam air yang sudah memiliki viskositas tinggi bagaikan minyak itu.

"Hahahahaha!" Tawa Felicia semakin melengking dan menyakiti indera pendengaran Davos.

Suara itu semakin menusuk dan membuat gendang telinganya nyeri. Syaraf otak di dalam kepala Davos seperti ditusuk jarum tajam yang sangat tipis. Nyeri sekali sampai-sampai membuat Davos mencekik lehernya sendiri dan pingsan di dalam kubangan hampa udara itu.

"Hahahahhaa!" Kali ini tawa Felicia menembus permukaan air kolam seolah memanggil Amir dan Noah untuk ikut menyetorkan nyawanya.

Amir menggigit bibirnya berusaha menenangkan diri, dia meraih ponsel dan mencari kontak Yuna, sedikit lama dia menggulir karena belum pernah menelponnya secara pribadi.

'Assalamu alaikum?'

"Wa alaikum salam wa rahmatullah Neng! Tolong Neng! Ini Kyai sama Bang Davos lagi menghadapi musuh berbahaya! Mereka masuk ke dalam air dan gak muncul lagi, aneh banget ini air awalnya normal sekarang airnya berubah jadi hitam, mau dilempar paus, ikan hiu, kapal Titanic pun ga bakalan bergerak ini air, tetap tenang ga ada keceprut-keceprut-nya!" Cerewet Amir.

"Tenang Mas!" Intruksi Yuna.

"Aku lagi di tengah pesta demit grandong ini Neng! Gimana bisa tenang!"

'Biar aku bicara sama si pemburu vampir, ada ga dia di situ? Katanya Anderson kalian pergi sama seorang hunter?'

"Komhir komhir!" Lambai Amir langsung melambai ke Noah.

Noah berlari, "nih orangnya Neng!" Kata Amir saat Noah sudah di dekatnya.

Amir menyodorkan segera gawainya dan si bule hitam menyahut.

"Hallo, its me Noah!"

'Jelaskan padaku apa yang terjadi?'

"Ada vampir menjebak Jalil dan Davos, mereka sekarang tenggelam dalam air kolam sihir!"

Sementara Noah berbincang dengan Yuna, Amir mengawal dan memperhatikan sekitar mereka berjaga-jaga bila ada serangan.

'Tenang. Alat pemancar suara dapat menjadi perangkap efektif untuk melawan vampir. Suara ultrasonik dapat mengganggu indera vampir apalagi suara berfrekuensi tinggi dapat menyebabkan rasa sakit atau disorientasi. Jadi dengan itu kalian bisa mengalihkan perhatian Felicia. Karena gelombang sangat bersahabat dengan air.

Kamu bawa alat pengeras suara portabel. Atau Speaker Bluetooth? Alat pemancar suara ultrasonik atau Sirene???'

"Aku hanya punya speaker ponselku!"

'Ah oke, kamu cari saja tuh aplikasi online. kamu download aplikasi pengusir serangga atau pengusir tikus gratisan. Aplikasi itu bisa membuat speaker HP menyuarakan gelombang ultrasonik tapi kamu butuh speaker besar. Jangan kuno-kuno ini sudah dua ribu empat belas guys!' Yuna yang duduk depan laptopnya sedari tadi sebelum ditelpon kini beralih menu mencari cara supaya bisa menghasilkan suara gelombang ultrasonik dengan ponsel biasa dan dia berbicara seperti itu karena dia mendengar ada musik disko ajeb-ajeb di situ ikut terdengar di belakag suara Noah.

"Disuruh tawuran adu jotos malah main HP dasar-dasar anak jaman now ini!" Amir berkacak pinggang sambil menggeleng.

Tanpa pikir panjang Noa pergi ke peramban di gawai Amir dan mencari aplikasi itu lalu meng-instal-nya.

'Kok aku dengar ada suara musik sih?' Yuna memastikan asumsinya.

"Iya kami sedang di pesta satanis ini!"

'Bagus! Ya udah ambil alih kendali mic si MC, kita butuh kekuatan speaker berfrekuensi empat puluh ribu Hz lebih ini!'

"Oke aku sedang meng-instal-nya!"

'Ok, good luck!' Yuna mematikan panggilannya.

Noah berlari ke DJ di pangggung dan mengambil alih mic.

"Halo semua orang!" Noah langsung berdiri di samping sang DJ yang tadinya mengelus-elus vynil sambil Noah  merebut mic-nya.

"Yo wazzap! HP gua itu Boss!" Amir menjawab mencemaskan ponsel satu-satunya yang belum pulang kepada majikan.

"I got this for you!" Noah memperdengarkan suara speaker ponsel Amir ke microphone. Sang DJ langsung memegang kedua telinganya dan jatuh terbanting ke bawah panggungnya sendiri. Melihat banyak orang bereaksi di tempat itu, Noah menambah volume speaker  dari sound system di tempat itu sampai seratus persen.

Orang-orang mulai berguling-guling di lantai memegangi telinganya sendiri. Noah mengeluarkan lonceng dari saku jasnya, dia membuka selimut kain merah yang membalut lonceng itu. Kemudian tanpa iba sedikit pun dia mengguncang lonceng itu di depan mic. Suaranya berdentum-dentum menggaung kencang dan menyiksa semua indera pendengaran para hadirin termasuk Amir menjadi kualahan.

Air mulai beriak ketika Noah semakin kencang mengguncang lonceng.

"Ya Allah kupingku mau pecah rasanya! Pulang-pulang aku jadi haji Bolot ini ya Allah!" Amir ikut menutup telinganya karena suara lonceng itu nyaring sangat dasyat menusuk sampai gendang telinganya juga.

Air kolam bergejolak hebat dan berubah warna menjadi normal seperti semula, menyembul lah keluar jasad Davos mengambang dengan tenang di permukaan Kolam, Amir langsung meraih tubuh rekannya yang tersapu gelombang air kolam itu. Namun kemana Kyai Jalil? Kenapa dia tidak kunjung datang menyusul  mengapung ke permukaan? sementara Felicia sekarang sudah keluar dari air kolam sambil merangkak kesakitan menahan siksaan suara dentingan lonceng kencang yang mengorek-ngorek isi kepalanya.



Amir menarik jauh-jauh Davos dari Felicia menepi ke pojok ruang pesta yang sepi. Kini di lantai sudah bergeletakkan tubuh orang-orang bertopeng yang tadi hingar-bingar menari dalam kemabukan alunan musik dan alkohol tanpa menyadari peristiwa dalam kolam.

Felicia merangkak menjauhi kolam lalu melempar kursi di dekatnya secepat mungkin menghantam meja alat Disk Jokey. Noah menghentikan permainannya dan mematikan alat sistem suara.

"Aku berpikir kalian ini pasti ordo baru, kalian bukan vampir asli dari London." Noah berjalan pelan menuju Felicia yang mulai tegak berdiri.

Sementara di lain sisi Amir menekan-nekan dada sahabatnya sampai mngeluarkan air dan terbatuk-batuk.

"Aku akan membunuhmu!" Felicia terlihat tidak peduli dan langsung mencengkram Noah, pria hitam gembal itu terdorong oleh Felicia yang melayang, cukup jauh sampai akhirnya pria itu diambrukkan ke tembok tua yang masih kokoh.

"Ugh!" Noah terbatuk sesak karena dadanya hampir diremuk oleh beton.

Felicia melompat jauh ke belakang dan mendaratkan dua tangan dan kakinya di tengah tiang besar kastil. Tubuh Noah ambruk ke lantai.

"Alasanmu sangat klasik ingin melindungi keluarga kerajaan Inggris! Cuih!" Felicia meludah ke lain arah.

"Apa masalahmu sehingga kau menyerang Inggris raya ini?" Sesak Noah masih terduduk di lantai dan tersandar ke tembok sambil memegangi dada, nafasnya memburu udara tak ingin melepaskan nyawanya pergi.

"Kami lah! Pemberi kekuatan hitam yang membuat mereka selalu memenangkan peperangan! Tapi apa balasannya! Kakek-kakekku tidak diberikan wilayah istimewa! Kami terasing oleh jaman!" Protes Felicia.

"Kau pikir manusia bisa hidup berdampingan dengan kaummu? Dasar gila! Kau bahkan tidak mau meminum darah babi!"

"Tutup mulutmu! Lebih baik aku teguk darahmu!" Tunjuk Felicia yang mulai berbibir hitam dan berkuku hitam panjang.

"Allahu akbar! Allahu akbar!"  Amir melantunkan adzan sambil berdiri menghadap kiblat dengan husyu' tanpa diduga-duga, suaranya merdu mendayu-dayu. Seolah tanpa memiliki rasa takut.

Felicia merasakan sesuatu yang aneh tubuhnya terasa panas dari dalam, dia menggaruk-garuk tubuhnya dengan murka.

"Hentikaan!" Teriaknya sangat keras sampai menembus hutan senyap di sekitar kastil membuat binatang malam beterbangan karena kaget.

Namun Amir tidak sedikit pun tergoyah, dia tenggelam dalam kekhidmatan adzannya.

Felicia menyeringai, dia melompat menuju Amir namun Noah juga ternyata sudah berancang-ancang melompat karena tahu ini akan terjadi, mereka bertabrakan di udara. Noah mulai memukuli wanita berdaya sihir kuat itu dengan dua tangan kosongnya. Namun Felicia juga membalas.

Davos masih lemas dan belum mampu menggerakkan dirinya. Dia hanya mampu membuka setengah penglihatan matanyan dan samar-samar dalam pandangan buram ia melihat sosok perempuan itu dengan gesit sedang bertarung melawan pria yang lebih besar dan kekar dari ukuran tubuhnya.

Felicia menyerang Noah dengan cakar tajam namun Noah menghindar dan membalas dengan pukulan berkekuatan penuh. Felicia terjatuh, tapi bangun kembali dengan kekuatan supernatural. Noah merogoh saku jas dan membunyikan kembali loncengnya.

Mendengar ada suara lonceng, Amir menghentikan adzannya yang belum rampung.

"Karena Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kebebasan." Noah membacakan Korintus pasal tujuh belas.

Felicia mengerang bukan kepalang.

"Aku telah diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan penyakit." Noah kembali membacakan exorcise dengan Lukas pasal dua.

Ruang kastil yang terbuka itu entah mengapa menjadi  gelap, kabut dari hutan berhembus datang.

Felicia tiba-tiba berontak dan melompat ke Noah, dia mncengkram bahu Noak dan mencabiknya dengan perasaan durjana. Merebut lonceng dari tangan pria itu dan melemparnya sejauh mungkin. Cakar tajam seperti pisau milik Felicia tadi sempat meninggalkan luka dalam pada bahu Noah.

Segera Noah membagikan pukulan berkekuatan penuh mengenai wajah Felicia, sampai membuatnya terjatuh ke lantai.

Namun Felicia bangun kembali dengan mata merah, kulit pucat dan rambut berterbangannya.

Felicia berteriak dengan kemarahan, "Kamu tidak bisa menghentikan aku!"

Noah menjawab dengan tenang, "Aku akan menghancurkanmu, Felicia!"

"Allahu akbar! Allahu akbar!" Amir kembali melantunkan adzan.

"Hentikan mantra itu!!!" Felicia membanting dirinya ke lantai merasa terzalimi oleh ucapan-ucapan dari azdzan.

Suara petir menggelegar tiba-tiba bertamu di kubah langit, membuat lampu pesta di kastil yang kini jadi tempat tidur umum itu berkedip-kedip.

Felicia melompat, mencengkram leher Amir sambil mendorong Amir ke tembok sampai terpepet.

"Hentikan suaramu!" Muak Felicia.

Amir memegang kedua lengan Felicia yang mecekiknya. Dengan terbata-bata sambil menatap mata Felicia yang menyala merah, Amir megucapkan sebuah mantra ajian dalam bahasa Jawa.

"Patiku gawa dalan gheni alam ghaib, pancabut ruhku malaikat e Gusti Allah, malikat sing gawa gadha lan gawa pecut, sabarang mahluk sapa niatan ala marang ingsun bakalan kagawa mati sukma sejatiku lantaran kalimat laa ilaha ilallah!"

Yang artinya dalam bahasa Indonesia: kematianku membawa jalan api dunia ghaib, pencabut ruhku malaikatnya Tuhan Allah, malaikat yang membawa pemukul dan cambuk, siapa mahluk berniat buruk kepadaku akan terbawa mati jiwa sejatiku lewat kalimat laa ilaha ilallah.

Selesai megucapkan itu seketika Felicia terbakar sampai hangus, sementara Amir jatuh ke lantai tak sadarkan diri.

"Amir!!"

Noah berteriak tidak terima, dia berjalan ke arah pria yang terkulai dekat bangkai gosong yang tadi dijilat lahap oleh api neraka yang muncul bersamaan dengan ketika nyawa si Amir dicabut oleh malaikat kematian sesuai perjanjian.

Noah menangis terharu juga merasa kehilangan.

"Mas Amir... Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Kenapa cepat sekali engkau gunakan karomahmu itu Mas... Mentang-mentang punya hak boleh minta mati kapan saja kamu mau... Bukan sekarang lho... Kita jadi kekurangan personil ini trus gimana coba..." Davos merengek sambil lemas.

Noah berdiri dan mendekati Davos, dia membopongnya berdiri.

"Ini pertarungan yang memiliki banyak resiko taruhan nyawa! Jalil pun lenyap entah dimana!" Noah masih terisak-isak ketika Davos merayapi rangkulannya.

"Biasanya dia akan segera muncul dengan ilmu teleportasinya tapi kenapa kali ini sampai Mas Amir gugur di peperangan?..." Lemas Davos dengan suara melehoy sudah tipis energi.

"Teleportasi? Hah jangan-jangan sekarang Jalil sudah tidak di sekitar sini!" Noah mulai berdebar-debar.

"Kita harus bawa tubuh Amir dari sini!" Davos berusaha menegakkan langkahnya lalu berjalan ke badan Amir meraih dan berusaha menggendongnya namun ambruk ke lantai, dia gagal.

"Biar aku bantu! Kau berlari di sisiku!" Noah menggendong Amir di belakangnya.

Mereka berlari menuju kastil sebelum orang-orang dalam kastil itu sadar. Mereka merinding setengah mati ketika melewati ratusan vampir sedang pulas di lantai kastil tua Warwick itu.

Dengan gesit Noah menancap gas mobil hitamnya setelah meletakkan badan Amir di belakang dan Davos duduk di sampingnya yang menyupir.

"Menurutmu sekarang Jalil ada di mana?" Davos melempar pertanyaan dengan sedikit linglung kehabisan akal.

"Pasti tidak jauh lah dari sini!" Yakin Noah.

"Tapi dimana ya?" Davos berusaha mencari petunjuk.

"Astaga! Biasanya ada acara pembakaran orang di dekat pohon tua sekitar sini! Aku akan mencoba ke sana! Kau harus segera pulihkan kekuatanmu!" Pinta Noah sambil banting setir.

Davos melirik Noah dengan perasaan ragu, namun dia berusaha menepis isi hatinya itu. Dengan cemberut dan mata tajam dia fokus dengan sabar, menunggu kejadian baru apa lagi setelah ini.

Mobil klasik hitam milik Noah sudah sampai di sebuah hutan gelap, di sana Noah dan Davos turun. Mereka berjalan cukup lama menerobos hutan dan menerjang semak-semak hingga akhirnya menemukan pemukiman tenda merah, kondisinya misterius seperti pemukiman dukun hitam yang pernah Davos datangi di gunung Lawu tempat pembakaran para kyai.

Terdapat orang-orang yang ada di sana mengenakan jubah merah bertudung runcing sedang sujud ke sebuah pohon hitam berdaun hijau kehitaman. Noah dan Davos menyusup dan mengendap-endap di dalam semak belukar tak jauh dari sebuah lapangan kosong di depan sebuah pohon hitam berkuran raksasa yang mengerikan yang memiliki tinggi tiga puluh meter.

Batang pohon itu tebal, berwarna abu-abu, cabangnya menjulang, berbentuk seperti tangan. Daunnya hijau gelap berbentuk oval. Akarnya kuat, menyebar luas. Pohon ini dikenal dengan nama Elderwood yang berkekuatan Supernatural dapat menghidupkan vampir kembali dari kematian alias memberikan keabadian, dia memiliki aura yang bisa digunakan untuk mengendalikan alam sekitar, karena dia mampu menyerap energi semesta alam dan mengolahnya menjadi oksigen yang bila mana dihirup ketika ritual pagi, maka akan memberikan efek pemanjang umur dan kebugaran.

Susana di sana terasa sekali hawa angkernya seolah di belakang Davos dan Noa juga sedang hadir sosok lain yang mengawasi di balik kegelapan hutan dan hawa  misteriusnya bercampur ketenangan sakral namun terasa mencekam bagi binatang-binatang yang beristirahat malam di dekat tempat itu.

Sekte vampir itu dipimpin oleh seorang perempuan muda berfisik layaknya seorang yang berusia tiga puluh tahun bernama Lila. Dalam penyembahan pohon Elderwood malam ini, mereka memanggil kekuatan pohon dengan gerakan menyembah beberapa kali. Terlihat jelas ada Kyai Jalil terikat di hadapan pohon itu sebagai korban yang tersalib tak berdaya.

Lila mulai membacakan mantra kuno lalu sekte vampir menyanyikan lagu ritual. Mereka menawarkan darah dalam sebuah cawan emas kepada sang pohon. Betapa tidak biasa, secara mengejutkan tiba-tiba saja muncul kepala dari tengah pohon itu. Kepala itu sangat besar dan mengerikan, wajah tengkorak dengan kulit kayu kasar berwarna abu-abu. Batang pohon di sekitar kepalanya seperti membentuk mahkota. Matanya merah menyala seperti bara api. Rambut akar-akar menjalar, hitam dan kusut mulai terbentuk muncul ke hadapan semua orang. Mulut lebar dengan gigi tajam berwarna kuningnya menyeringai. Dia ternyum sinis dan menakutkan melihat cawan berisi air merah kental anyir itu, dia terlihat sangat tergiur dan tidak sabar ingin menelan air amis itu.

Lidah panjang dan merah menjulur dari mulutnya,

lalu mata merahnya berubah warna menjadi hijau. Kulit kayu yang terkelupas, mulai turut menampilkan tulang di bawahnya. Mulutnya bergerak seperti mengucapkan mantra dan rambut akar-akar bergerak seperti ular.

Cahaya gelap mengelilingi kepala itu mulai keluar dari pori-pori pohon diikuti suara desisan rendah terdengar.

Tiba-tiba udara di sekitar terasa dingin dan menakutkan.

Lila mengguyurkan darah dari cawan itu ke lidah kepala mengerikan yang mendekat itu dan seketika berangsur-angsur ada cahaya merah muncul dari pohon dan semakin kuat warna merah itu.

Selesai darah dalam cawan itu tertuang seluruhnya, bola mata hijau kepala itu melirik ke Kyai Jalil yang disalib di hadapannya. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dengan percaya diri dan mendekatkan gigi taring runcingnya ke kepala Kyai Jalil.

Ketika gigi itu bersiap akan menggunting leher Kyai Jalil, di dalam mulut kepala busuk itu Kyai Jalil rupanya sadar, dia membuka matanya dan meludah ke lidah mahluk itu...

"Cuh!"

"Ghraaah!!!" Mahluk itu kembali membuka mulutnya dan menarik kepalanya menyatu dengan pohon sambil mengerang kencang sampai membuat semua orang tersentak dan membanting diri ke belakang karena tidak kuat mendengar suara lengkingan barusan. Tanah di sekitar situ bergetar ketika pohon itu terguncang menderita.

"Innallaziina fatanul-mu-miniina wal-mu-minaati summa lam yatuubuu fa lahum 'azaabu jahannama wa lahum 'azaabul-hariiq." Pelan tapi pasti Kyai Jalil membacakan ayat ke sepuluh surat al-Buruj ketika tanah dan pohon masih berguncang dan kepala itu masih memekik keras.

Yang artinya dalm bahasa Indonesia: Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan bencana, membunuh, menyiksa kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab neraka yang membakar.

Tiba-tiba muncul api di kulit tebal pohon itu, api itu menggeliat-geliat dan menjilati dahan-dahan pohon itu dengan riang gembira. Cahaya api itu menyala berani menyatu dengan warna merah pohon yang berangsur berubah menjadi biru keunguan. Bagian tubuh pohon yang terlumat oleh api itu seketika menjadi arang berwarna putih.

Kyai Jalil tanpa belas kasihan dia tetap mengucapkan ayat yang sama tanpa jeda. Beberapa pria berlari kepadanya dan memukuli kepalanya juga tubuhnya namun ia tetap mengucapkan ulangan ayat itu. Davos yang tidak sabaran melompat dari semak dan memulai perlawanan.

Terjadi perkelahian lah di sana oleh Davos yang dikeroyok oleh pria-pria dalam sekte itu namun semua berubah ketika Lila menggunakan kekuatan mentalisnya. Dia mengulurkan tangan ke depan dan mengangkat Davos ke udara.

Lila membuka jubah merahnya yang terlihat lebih mewah dari pada anggotanya, dia mulai membacakan mantra kegelapan dalam bahasa aneh yang tidak terdapat di berbagai negara di belahan bumi ini.

Merasa dia akan celaka Davos yang kurang hapal dengan ayat al-Qur'an akhirnya mencoba melantunkan adzan dalam kondisi ia masih melayang dan merasa tercekik itu.

"Allahu akbar! Allahu akbar!..."

Dia tetap adzan meski terbata-bata, dan lalu seperti ada tangan melepaskan cengkraman dari lehernya. Davos terjatuh ke tanah dan melanjutkan adzannya lagi.

Semua orang seperti mendengarkan suara yang sangat mengancam, mereka menjauh sambil menutup telinganya masing-masing sambil mengerang kualahan berharap suara Davos tidak dapat membobol jemari mereka yang membuntu telinga.

Kyai Jalil membaca doa khusus yang diwariskan turun temurun oleh keluarganya, muncul lah sebuah tongkat emas di tangan kanan Kyai Jalil yang berasal dari alam ghaib.

"Duh gusti Allah kula nyuwun pitulungan Panjenengan Gusti, udarana tali niki kados dene Panjenengan Gusti nulung Nabi Ibrahim, paring kula  kekiatan, kersani kulo ngampil gheni jahanam agem kemul tiyang kang athos panggalihi pun!" Ucapk Kyai Jalil rendah hati dalam bahasa Jawa halus.

Yang artinya: Duh Tuhanku Allah saya minta bantuanMu lepaskan lah tali ikatan ini sebagaimana Engkau menyelamatkan Nabi Ibrahim, berikan lah saya kekuatan dan pinjamkan lah saya api neraka untuk memberikan selimut bagi orang yang berhati keras.

Seketika Kyai Jalil lepas dari ikatan tali itu dan mendarat di tanah.

"Keluar lah kau Kaide !" Teriak Kyai Jalil setelah berdiri dan mendekati Davos yang sudah selesai melantunkan adzan.

Lila mendengus kesal dengan memancarkan tatapan matanya yang tajam. Para pengikut sekte itu berjalan sambil memegangi kepalanya yang pusing mendekati Lila. Noah pelan-pelan berjalan keluar dari semak mendekati mereka semua.

"Kau dan Rika sama saja kalian itu penghianat!" Tunjuk Kyai Jalil ke muka Noah dengan wajah marah dengan tongkatnya.

Noah menaikkan dagunya dengan arogan sambil berdiri berkacak pinggang. Matanya turun memandang Kyai Jalil seperti memandang seorang rendahan.

"Aku sengaja melemahkan diri supaya aku bisa sampai ke tempat ini, sesuai keinginanmu. Aku tahu misi kalian itu memanen energi para mukmin.  Kalian lah keturunan dari para spionase yang menyukseskan gerakan tiga puluh September di Indonesia. Dan sampai sekarang kalian lah biang kerok yang menyukseskan  pembunuh kyai-kyai di Indonesia. Kalian juga yang menyukseskan gerakan teroris yang menghancurkan New York Tower di Amerika. Semua kekuatan gelap itu berasal dari ritual ini!

Kerajaan Inggris yang berhati lurus, tapi kemudian tahtanya direbut oleh dinasti lain! Mereka adalah para penyembah pohon berhala ini dan itu keluarga kalian semua!" Tunjuk Kyai Jalil marah.

"Jadi apa maksudmu? Kamu mau berbicara seperti ini ke seluruh dunia? Kau pikir mereka semua akan percaya fantasi ini?" Kalem Noah.

"Kau! Kau ya! Kau kepala mereka semua! Ada di dalam Katredal dan bekerja dalam bayang-bayang secara tidak langsung!" Tunjuk Kyai Jalil geram.

"Tahu apa kau tentang sejarah kami, justru orang seperti kalian ini yang bisa meruntuhkan kejayaan Inggris!" Tunjuk Noah kembali.

"Kau pikir kau akan berjaya jika Dajjal di Inggris?" Davos ikut gemas dengan Noah yang keras kepala.

"Apa untungnya jika kami jadi orang biasa seperti kalian, kalian lemah dan diintimidasi oleh sistem ekonomi dunia!" Debat Noah.

"Kau tidak beriman, Noah Kaiden! Karena itu kau tidak akan percaya dengan kutukan! Yang disebut kutukan itu bukan cuma mantra-mantra hati hitam yang setiap malam kau ucapkan kepada umat manusia! Kutukan yang sebenar-benarnya kau akan tahu itu! Saat api neraka berhembus di Inggris dan menghisap energi sihir kalian sampai kalian lemas dan seolah tidak pernah kuat seperti sebelumnya! Api ini sangat berbahaya, Kaiden!" Ancam Kyai Jalil.

"Omong kosong! Api suci tidak pernah muncul! Bahkan di gereja suci kami di Kalifornia pun, gereja kami tetap berdiri kokoh di tengah kobaran api itu!"

"Suatu saat Kaiden! Suatu saat api itu akan menghampiri Inggris jika kau tidak berubah pikiran sekarang juga! Jangan kau bahas Kalifornia yang jadwal gosongnya sudah dipastikan di kitab langit! Jangan bahas terlalu jauh!" Davos membentak.

"Apa kalian gila ingin membunuh semua tokoh di dunia ini?!" Pekik Noah berusaha membagikan sudut pandangnya.

"Aku tidak bodoh Noah! Peganganku adalah ucapan penciptamu! Jika penciptamu berkata Dajjal akan kalah maka pasti sisi anti-Dajjal yang akan menang!" Bantah Kyai Jalil.

Noah dan para sekte vampir yang ternyata adalah pengikutnya kini terdiam membisu.

"Aku ini tidak bisa kau taubatkan Jalil, aku bertaubat pun nantinya aku langsung mati karena tubuhku hanya berisi kutukan gelap! Aku tidak mau mati secepat itu! Haahaha!" Gelak tawa menggelegar Noah menembus relung pepohonan hutan yang wingit.

"Niat ingsung ruqyah demit-demit kang cilaka al-Fatihah..." kata Kyai Jalil mengajak Davos berbaca doa.

Lalu mereka membaca ayat Kursy, jin dalam tubuh para vampir itu meronta-ronta.

"Hentikan mantra itu!! Padahal aku selalu bisa bertahan dari Adzan dan Qur'an tapi kenapa kali ini aku tidak bisa bertahan!!! Siapa kau sebenarnya??!! Kenapa aku kalah sakti denganmu!!!" Protes Noah tidak terima sambil merasakan radang panas di dadanya mencengkram sanubari.

Kyai Jalil tidak menjawab, dia tetap membacakan ayat Kursy sampai semua orang Musyrik di tempat itu menjadi jenazah oleh siksaan ghaib yang diancamkan Tuhan lewat firmannya.

Seusai semuanya kelar, terdapat hal ajaib muncul. Ada sebuah batu putih seperti berlian muncul dari dada Noah Kaiden dan Lila. Kyai Jalil mendekat karena tertarik oleh pancarannya, Davos ikut mengambil benda mustika itu dari Lila ketika Kyai Jalil mengambil benda serupa itu juga dari dada Noah.

"Benda ini apa ya?" Davos menunjukkan sesuatu yang di tangannya.

"Kayaknya kalau masalah beginian, Neng Yuna tahu soalnya dia itu kamus berjalan..." Jawab Kyai Jalil dengan nada serius tapi malah terkesan lucu.

"Yaudah Kyai ayo kita pulang!" Ajak Davos.

"Yowis ayo!" Kyai Jalil bangkit untuk beranjak meninggalkan tempat itu.

Mereka pun kembali ke mobil Noah karena di sana ada Amir, Davos belum ingin menceritakan segalanya sendirian. Dia menunggu Kyai Jalil melihat kondisi Amir terlebih dahulu. Namun betapa terkejutnya Davos ketika membuka pintu belakang mobil, sosok Amir sudah hilang. Tidak ada, padahal tadi terbaring di jok belakang dengan tenang.

"Lho kemana Mas Amir!" Davos melotot, jantungnya bergetar.

"Emangnya kenapa sama Mas Amir, Bang Davos?" Kyai Jalil bermuka panik.

"Tadi Mas Amir sudah gugur melawan ratu grandong di kastil! Saya baringkan jenazahnya di sini!" Tunjuk Davos dengan jempolnya tanpa sopan santun.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un! Tewas? Yang benar Bang?!" Kyai Jalil tidak percaya.

"Lillahi taalaa, Kyai! Tapi kenapa bisa jenazah saudaraku itu leyap dari sini?! Perbuatan siapa ini?!" Davos mengelilingi mobil, mengedarkan pandangan ke segala penjuri hutan yang meghitam oleh kegelapan malam mendung yang menyembunyikan bulan purnama malam ini.

"Haahhahahaaaa!!!" Terdengar pecahan tawa nyaring dari atas hutan mengiris kesunyian yang tadi memenuhi sekitar mobil Noah.

"Rika!!" Bentak Davos sejadi-jadinya ketika melihat vampir mix kuntilanak di atas pohon yang amat tinggi sedang  bergelantungan riang, disampingnya ada tubuh Amir yang tersampir di dahan.

"Kembalikan saudaraku!!!" Teriak Davos dengan dada panas dibakar emosi.

"Hhahahahhaaha!!! Berikan aku batu mustika vampir itu!" Lengking Rika dari atas.

"Sebenarnya buat apa sih mustika ini?..." Lirih Davos tak habis pikir.




"Mustika itu adalah pecahan jiwanya Dajjal yang masuk ke tubuh banyak orang, bagaikan pecahan kaca yang jika disatukan kembali maka akan menunjukkan rupa asli sejati jati dirimu... Kau tidak akan bisa membantah bayangan dalam pantulan cermin itu karena itu adalah sosok mu yang asli..." Rika yang bergaun putih panjang menjuntai ke bawah berkacak pinggang.

Dia melayang terjun ke tanah, meninggalkan tubuh Amir di atas pohon nan tinggi itu.

"Eh, bawa turun saudaraku itu!" Tunjuk Davos.

"Hahahaha!" Rika berkacak pinggang dan tertawa terbahak-bahak.

"Kau tahu lah Dajjal itu siapa? Ujian terbesarnya umat manusia akhir jaman kan jadi kenapa kamu melarang dia turun jika kami ini lahir untuk mempercepat kedatangannya?!" Rika menyeringai.

Kyai Jalil siaga, dia dengan tongkatnya beraba-aba ingin membela diri dari serangan mahluk ga jelas itu.

"Jangan berbicara berputar-putar, kita enggak sedang jalan-jalan sore keliling alun-alun! Ngomong belepotan udah merasa yang paling bener sendiri! Situ sendiri kenapa sok-sok-an bela-belain Dajjal melulu? Emangnya yang ngasih kamu hidup sampai sekarang itu siapa! Kau pikir iblis itu ikut dan memuji Dajjal, apa? Sekolah lagi sono di pendidikan satanis! Kau itu sedang kena tipu! Mana ada Allah suruh Dajjal itu cepat datang! Percuma kalian itu mengurusi kedatangannya! Dia akan tetap datang sesuai jadwalnya! Justru kami-kami ini peduli sama kalian sebelum kalian terlanjur jauh merugi!" Davos bersikeras.

"Hahaha! Kok baper?! Kok marah! Kok mencak-mencak? Emang kau siapa ku mau ngatur-ngatur hidupku! Kalau Allah tidak ridha, mana mungkin aku berbuat sejauh ini? Emangnya jadi orang biasa itu mengasyikan! Emangnya dengan jadi orang jujur kau akan bebas hidup tanpa ujian?!" Bantah Rika.

"Sabar Bang, cara melawan Dajjal itu adalah dengan melakukan sabar, barang siapa tidak sabar dalam menghadapi ujian fitnah Dajjal, Allah akan menyuruh kita mencari tuhan yang lain..." Lirih Kyai Jalil.

"Astaghfirullah al adziim, siap Kyai..." Davos melangkah mundur mendekati Kyai Jalil.

"Hanya Allah yang bisa mendebatnya... Rabbana atina min ladunka rahmatan wahayyi' lana min amrina rasyada" Lirih Kyai Jalil membaca Surat Al-Kahfi ayat sepuluh dalam Al-Quran.

Yang dalam bahasa Indonesia: Ya Tuhan kami, berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan berikanlah petunjuk kepada kami dalam segala urusan kami.

Kyai Jalil menghentakkan tongkaknya ke tanah. Muncul api melingkari Rika lalu muncul rantai dari tanah membelenggu Rika.

"Kau curang! Kau menggunakan kekuatan yang bukan hasil usahamu sendiri! Berbeda dengan aku yang terus berlatih dan berlatih!" Rika berusaha mengangkat kakinya dan menembaki rantai itu dengan kekuatan sihirnya namun tidak mempan.

"Aku memang jarang bertarung, kau tahu bukan! Aku selalu mengalah! Karena aku takut akan menjadi orang takabur! Karena kekuatan Allah yang dititipkan kepadaku itu hanya untuk kondisi khusus!" Jelas Kyai Jalil.

"Sebenarnya apa sih mau kalian itu?!" Rika menjerit karena kakinya mulai merasakan rantai itu memanas.

"Misi apa yang kalian punya untuk Indonesia?! Projek biadab apa lagi?!" Tunjuk Kyai Jalil ke muka Rika tanpa ampun.

"Mana ku tahu! Aku hanya ingin mempercepat kiamat!" Rika menjerit, kakinya mengeluarkan banyak darah dan mulai lemas kehabisan energi.

"Rika... Kau ini orang pribumi asli negeri asri tanah Nusantara yang luhur dan memiliki ajaran budi pekerti... Tapi kenapa kau tumbuh besar di sekolahkan tapi malah jadi begini diperbodoh oleh orang luar, Rika!" Kyai Jalil mendekat.

"Aku punya dendam!!" Rika menjerit.

"Dendam apa?"

"Karena para pendatang yang membawa Islam ke tanah airku! Budaya leluhurku dihapuskan!"

"Budaya apa yang mana?

"Nyajen! Dan ritual keyakinan leluhurku!"

"Keyakinan yang gimana?"

"Manunggal ing kawula Gusti!" Seru Rika, api di sekeliling Rika mendadak berkobar semakin besar dan tinggi menjulang mengurung Rika bak penjara.

"Kau tahu tidak jangankan di Islam, di Kristen, di Budha sekali pun Hindu Bali, kita semua menjalankan manunggal ing kawula Gusti. Orang Islam itu memuji Allah, sebab Allah juga memuji diriNya sendiri. Orang Kristen percaya bahwa Allah itu Bapak semua ruh, kita semua punya ruh dari nafas Allah. Dalam Budha kita memperlakukan baik diri sendiri seolah sedang memperbaiki alam semesta, sebagaimana Allah sebagai Tuhan memelihara diri-Nya sendiri. Dalam Hindu ada ajaran bersedekah ke seluruh mahluk di alam tanpa mengecualikan sedikit pun mahluk sebagaimana kebiasaan Allah dalam memberi rejeki ke semua mahluk termasuk Iblis pun masih dikasih kekayaan, kau tahu itu! Kau itu sudah diadu domba! Yang lemah itu ya kamu, iman kamu! Lawanmu ya kamu sendiri yang keras hati itu, percuma cermin itu memberi tahumu sisi mana yang harus kau perbaiki sebab sudut pandangmu tidak luas! Islam itu ajaran Rahmatan lil al aamiin. Kau harusnya belajar ajarannya Sunan Kalijaga jika memang masih mau megadobsi budaya leluhurmu. Karena apa? Tidak semua ajaran leluhur itu akan memulangkanmu kembali kepada Allah! Karena banyak dari mereka yang juga kena tipu persis seperti kau yang sekarang ini!" Tegas Kyai Jalil.

Mendengar ini, Rika tertunduk, dia menekuk kakinya dan duduk di tanah, api yang mengelilinginya sontak menciut dan hampir padam.

"Kenapa.... Aku sejauh ini sudah sia-sia..." Rika menangis.

"Makanya kami datang biar kamu masih punya sisa umur buat taubat, Rika! Paham gak sih?!" Gemas Kyai Jalil.

Rika mengangguk.

"Sudah kewajiban kami buat mengingatkan saudara seiman! Kewajiban! Bukan kebutuhanku pribadi Rika! Jika aku anggap ini beban artinya aku tersiksa menjalani ini, tapi aku ga anggap ini beban, aku menjalankan ini karena aku takut jika aku tidak mau melakukan ini maka imanku bisa dicabut sama Allah, hidupku akan terasa sunyi dan hampa! Karena teman sejatiku ya hanya Allah yang terus ada sama aku sejak sebelum aku lahir sampai setelah aku mati nanti!" Kyai Jalil menepuk dadanya sendiri.

"Iya... Aku mengerti..." Rika lirih.

Tiba-tiba bergema suara syahadat dari segala arah namun tidak ada wujudnya. Davos mendongak ke atas dan mencari dari mana asalnya suara bersahut-sahutan itu.

Angin berhembus kencang datang secara misterius diiringi suara yang memantul-mantul di udara. Pohon tinggi tempat badan Amir bertengger tiba-tiba menuju ambruk ke bawah.

"Amir!" Davos berlari menuju pohon itu, dia mengejar sebelum pohon tinggi itu tumbang sempurna di daratan.

"Shaaap!" Jasad Amir hilang.

Bersama suara-suara misterius tanpa wujud yang bersahut-sahutan mengucapkan syahadat barusan.

Davos terkejut bukan kepalang, dia langsung menoleh ke Kyai Jalil di belakangnya. Ternyata jasad Amir sudah di atas tanah di samping Kyai Jalil.

Davos berlari menuju Kyai Jalil dan memeriksa Amir yang sudah tidak bernyawa itu.

"Ada sebuah kunci rahasia ruang bawah tanah gereja setan di London... Kalian harus merebutnya karena ada naskah hutang emas kepada kerajaan-kerajaan kuno dulu di Indonesia yang harus kalian amankan... Mereka ingin membuat seluruh negara di bumi ini menjadi satu negara yang patuh pada satu sistem yang sama..." Lirih Rika lemas.

"Dimana gereja itu?!" Davos antusias.

"Aku tidak tahu... Yang jelas mereka punya agenda, mereka akan terus menyusup ke lingkaran orang Kristen dan Islam... Karena Kriten punya kelemahan tentang trinitas dan Islam punya kelemahan tentang Idul Adha..." Lirih Rika yang berusaha bertahan melawan perih diantara lingkaran api kecil yang membakar tanah.

"Hah, Idul Adha?!" Davos tak habis pikir.

"Yah! Satanis mengolok-olok Muslim dengan adanya Baphomet yang berkepala kambing dan berpayudara karena... Untuk menyindir... Kalian itu minum susu sapi dan susu kambing, berarti sapi dan kambing itu ibu susu kalian! Jadi saudara kalian itu sapi dan kambing, kenapa kalian sembelih?" Rika menjelaskan dengan pertanyaan retorik.

"Ah...?" Davos terkecap.

"Dan satu lagi soal Haji di Kabah... Kalian tahu dalam Agama Samawi, sebagian dari mereka sembahyang  menggunakan jubah Black Robe, dan kalian tahu tidak jubah itu simbolnya  Saturnus... the Lord of the Ring. Saturn itu Azazil... Lalu kenapa kalian melakukan Haji dengan mengitari Kabah, bukannya itu membuat gerakan Saturn Matrix? Apa bedanya cara ibadah kalian dengan cara ibadahnya penyembah Saturnus?"

"Ah kau ini, jelas saja itu artinya semua mahluk di bumi ini menyembah Tuhan yang sama hanya saja kiblat mereka berbeda, ada yang ke Isa al Masih, ada yang ke batu Hajar Aswat di Kabah, ada yang ke Saturnus! Itu hanya kiblat, dan kiblat itu lah alat penghubung saat berkomunikasi dengan sang Maha Esa! Tapi beda sama kau! Kau itu ikut sama Dajjal sementara Dajjal itu mengaku sebagai tuhan! Tuhan palsu!" Skak Davos.

Hujan lebat tiba-tiba turun tanpa gerimis membasahi mereka semua. Lumpur-lumpur liat terangkat dan menghilangkan rantai yang memasung kaki Rika.

"Itu lah yang kau tak pahami! Dulu leluhurku berkiblat kepada diri mereka masing-masing! Manunggal ing Kawula Gusti! Menjadi satu dengan tuhan!

"Mana ada kiblat bisa sujud kepada dirinya sendiri, Rika! Mana bisa kamu melihat dua matamu sendiri tanpa bantuan cermin! Kau ini tidak paham dengan ucapanmu sendiri!" Bentak Davos geram membuat Rika tertegun.

"Sekarang aku tanya sama kau ya, kau ini mau taubat apa enggak? Kalau enggak biar kita percepat aja kiamatmu! Kan semua orang akan mati saat kiamat, kenapa kamu nyuruh orang lain mati saat kiamat, kau aja yang duluan sini!" Davos geram.

"Eeh.. " Kyai Jalil menyela dengan merentangkan tongkatnya ke depan Davos.

"Apakah mati itu sakit?" Rika masih meresapi sakit di kakinya.

"Kenapa kamu masih tanya, kau saja disiksa api ghaib barusan menjerit seperti itu!" Davos berkacak pinggang.

Rika memeluk tanah yang gembur oleh hujan, agak lama lalu terlihat dalam rengkuhnya ia tersedak-sedak, punggungnya beberapa kali berguncang dan dia memuntahkan darah ke tanah, air membawanya menjadi genangan merah di sekitar Rika. Tidak lama kemudian tubuh Rika sudah mulai tenang lalu tidak lagi  bergerak.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.." Kyai Jalil mengusap dadanya prihatin.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..." Gumam Davos sambil melotot menyaksikan Rika yang ternyata tadi sedang mengalami proses sakaratul maut.

Kyai Jalil melangkah mendekati Amir yang terbaring di tanah basah, disusul Davos. Mereka membopongnya ke mobil dan kemudian Davos menyopir itu menjauhi hutan dan bermaksud kembali ke London.

"Tragis sekali nasib Rika.." Kyai Jalil menggeleng kepala pelan.

"Kyai... Ini tidak mudah... Mas Amir sudah tewas dalam misi ini... Sisanya tinggal kita bertiga... Entah ini gimana masalahnya Gus Huda belum bangun juga, aku cemas banget sama kondisi di rumah sakit sekarang! Firasatku ga enak Kyai!" Davos berusaha berkonsentrasi menyetir di tengah hujan yang lebat dan berkabut.

"Ya Allah limpahkan lah kemenangan kepada Anderson soalnya dia sendirian sekarang ini..." Kyai Jalil berusaha menenangkan pikirannya.

"Aamiin aamiin..."

Sementara itu di rumah sakit, Anderson baru saja kembali dari sholat Tahajud. Dia membuka pintu kamar Huda namun betapa terkejutnya dia melihat anaknya dokter Emily sedang mendekatkan wajahnya ke wajah Huda sambil  membuka mulut lebar-lebar dan dari mulutnya keluar ular hitam kecil yang menjulurkan lidahnya.

"Allahu akbar!" Bentak Anderson berlari mendekati remaja itu, meraih dua bahunya dan mendorongnya menjauh.

Anak laki-laki itu menutup mulutnya, namun matanya polos memandang tajam Anderson. Dia membuka kancing kemejanya pelan-pelan dengan terus memandang Anderson lekat-lekat.

"Mau apa kamu?" Anderson meraih tangan kanan Huda yang masih mengatup mata dan memegangnya erat.

"Kau tidak merasa ingin kah?" Goda remaja itu

"Astaga! Pergi kau dari sini!" Anderson menarik tangan remaja itu dan berjalan menyeretnya keluar ruangan lalu menutup pintu.

Anderson berdiri dan bersandar menekan pintu itu lalu bernafas lega, dia mendongak ke atas dan mulai berpikir untuk mengatur antisipasi.

"Ya Allah! Huda, aku harus apa sekarang?" Anderson meraih gawainya dan memesan taksi.

"Tok tok tok!" Suara pintu diketuk.

"Siapa?" Sahut Anderson merespon pintu yang barusan diketuk keras.

"Ini aku Emily! Ada apa?"

"Aku sedang sholat, jangan ganggu aku!" Kilah Anderson.

"Ah, okay! Maaf.."

"Ya!"

Anderson bernafas lega...

"Brak! Brak! Brak!" Pintu itu digedor keras, ada yang berusaha mendobraknya dengan tenaga kuat.

Anderson menahan daun pintu itu, dia mendorong sekuat tenanga.

"Ya Allah! Tolong aku ya Allah!"

"Allahu akbar... Allahu akbar..." Lirih Huda mengucapkan.

"Hah! Huda?!" Anderson menoleh kepada sang pujaan hati.

Terlihat Huda sedang meliriknya degan wajah lemas.

"Adzan.." Lirih Huda yang ternyata bangun oleh suara berisik gebrakan pintu.

"Allahu akbar! Allahu akbar!"  Anderson melantunkan Adzan, pintu itu seperti dibiarkan sendiri sekarang.

Tidak ada perlawanan lagi. Anderson menyelesaikan lantunannya lalu membuka sedikit pintu itu. Kemudian menutupnya lagi dan mengunci.

Anderson menahan pintu itu sambil menoleh ke Huda yang ternyata sudah duduk di ranjang.

"Bawa aku ke Kyai Jalil sekarang juga..." Kalem Huda dengan tatapan lemas yang masih terasa setajam mata elang.

Anderson membuka kunci, dia menuju Huda dan menggendongnya di belakang. Huda membukakan pintu ketika mereka berjalan melewatinya. Anderson berlari seolah akan dikejar. Dia dengan gegap gempita menggendong Huda keluar rumah sakit.

Di depan rumah sakit itu kemudian berhenti lah satu unit mobil taksi, rupanya itu adalah taksi yang tadi Anderson pesan.

Segera taksi itu membawa mereka ke alamat yang Huda arahkan. Anderson menghubungi Kyai Jalil dengan gawainya, Huda meraih ponsel Kyai Jalil dan mengajak bertemu di Masjid London. Kyai Jalil setuju dan kemudian meminta Davos ke tempat itu.

Anderson dan Huda singkatnya turun di depan Masjid dan masuk ke dalamnya. Betapa leganya nafas Anderson, kini dia bisa duduk sedikit tenang meski jantungnya masih berdebar-debar.

"Kita aman di sini..." Huda meraih tangan Anderson dan mengecupnya lembut sebagai tanda terima kasih sudah menjaganya selama di rumah sakit.

"Aku tidak menyangka, kau adalah orang pertama yang aku lihat setelah aku kembali dari alam kematian, Anderson!" Senyum Huda sambil merebahkan kepalanya ke paha pria itu.

"Kau tahu betapa aku sudah merasa sangat kehilangan melihat kamu seperti ini!" Anderson mulai meneteskan air mata dengan ucapan tersengal.

"Maafin aku ya..." Huda mengusap pipi pria kesayangannya itu.

"Aku berusaha tetap berpikir baik meski pun kamu sekarang seperti ini..." Anderson mengelus kepala Huda lembut dengan bahu berguncang.

"Yang penting sekarang aku sudah kembali..." Huda tersenyum lalu memejamkan mata.

"Tidur lah, aku akan berjaga di sini sampai Kyai Jalil tiba..." Anderson bergeser supaya lekat dengan tembok lalu bersandar.

Satu jam kemudian Kyai Jalil dan Davos membuka pintu ruang Masjid.

"Syukur lah kalian sudah di sini!" Sumringah Anderson.

Kyai Jalil dan Davos mengajak Anderson bersalaman tangan lalu duduk di hadapan Huda yang pulas dan terlihat tenang.

"Di mana Amir?" Anderson menoleh ke pintu.

"Dia tewas dalam pertempuran..." Lirih Davos.

"Ya Tuhan! Maafkan aku! Apa kalian membawa jasadnya pulang?"

"Ya! Dia ada di mobil saat ini..." Davos menurunkan pandangannya.

"Ini semuanya terasa aneh, termasuk tentang Masjid Gemini... Dan pesawat yang sebentar lagi akan jatuh karena sebagai target sasaran penumbalan... Semuanya... Kelompok vampir yang sedang kita hadapi ini... Mereka lah sponsor dari semua gerakan penumbalan di bumi ini..." Kata Huda lirih.

"Gus, sebaiknya Gus istirahat dulu... Ini aku sama Davos dapat mustika terkutuk..." Kyai Jalil mengeluarkan dua butir batu berlian dari sakunya.

Huda langsung membuka matanya melotot. Dia bangkit dan merangkak mundur menjauhi Kyai Jalil. Melihat reaksi Huda, Kyai Jalil merasa aneh. Dia mengamati dua batu di tangannya.

Huda merasa degup jantungnya seperti meledak-ledak sampai tubuhnya teroyong-oyong mengikuti irama degup jantungnya. Huda merayap di lantai dengan lutut dan tangannya yang terlihat lemah, berusaha bertahan.

"Kalian harus menghancurkan benda terkutuk itu, dia haram untuk disimpan, dia akan menghisap energi jiwamu dan membuatmu tidak berhati nurani!"  Tunjuk Huda ke batu itu sambil memejamkan mata dan wajahnya tertunduk ke lantai masjid yang dibalut karpet hijau tebal.

"Zanum? Kau kah itu?" Anderson menegakkan dirinya.

"Jadi sebenarnya apa ini? Gimana cara menghancurkannya?" Kyai Jalil kebingungan.

"Lempar ke laut setelah engkau berdoa. Banyak sekali orang memiliki batu itu di dada mereka dan mereka semua menyesatkan orang-orang! Jauhkan benda itu dari Huda!" Tunjuk Huda lagi dengan nada naik.

Kyai Jalil terlihat membisikkan doa ke dua batu di tangannya  lalu menyimpannya di saku jasnya kembali.

"Kita sebaiknya ke tempatku... Kalian ingin mengebumikan Amir dimana?" Anderson iba.

"Kita pulangkan Amir ke Indonesia, kami akan pulang ke Indonesia..." Kyai Jalil.

Anderson menatap Huda yang masih merangkak dengan menutup mata, dia merasa akan berpisah jauh lagi dengan Huda dan itu membuatnya sedikit patah semangat tapi tidak dengan tekatnya untuk terus berjuang meski di kejauhan.

Singkat kata mereka memandikan jenazah Amir setelah sholat shubuh di kamar mandi masjid dengan bantuan dari imam masjid yang dibuat mengerti kondisinya darurat. Anderson mengurus keperluan pengiriman jenazah Amir termasuk pembelian peti mati untuk Amir. Jenazah Amir dikemas ke pelayanan penerbangan Human Remain dengan pengawalan Kyai Jalil, Davos dan Huda. Mereka dilepaskan oleh Anderson dari bandara Heathrow London ke bandara Juanda Surabaya.

Sesampainya di Banyuwangi, Amir dimakamkan di area pondok pesantren milik Kyai Jalil. Seusai acara mengaji untuk Amir yang telah tenang di alam Barzah. Kyai Jalil mengajak Huda dan Davos ke kediamannya untuk berdiskusi.

"Selama Gus Huda pingsan, apa yang Gus alami?" Kyai Jalil.

"Aku bertemu jin-jin... Dan ada satu hal yang membuatku heran... Ketika aku melewati padang pasir setelah jatuh dari laut yang ada di langit.. aku berjalan terus ke depan di padang pasir tanpa ujung itu... Di sana aku bertemu seorang pria berjenggot dengan juba putih yang berdiri... Dia melambai kepadaku." Terlihat Huda masih berpikir.

"Kira-kira Gus tahu gak dia siapa?" Davos jadi bingung.

"Ya, aku menghampiri pria berjenggot itu dan kami saling menyapa, ku katakan: namaku Huda, siapa namamu?. Dan dia menjawab: Namaku Ibrahim, aku ayah seluruh muslim." Singkat Huda.

"MaasyaaAllah..." 

"MaasyaaAllah!"  

"Setelah itu dia berjalan dan aku terus mengikutinya, kami sampai di sebuah masjid, dan kami sholat berjamaah di sana... Setelah sholat berjamaah selesai, pria berjenggot itu berdiri di mimbar masjid dan meberi pengumuman: tidak ada satu pun orang di dunia ini mirip dengan wajahku dan bisa menggantikanku kecuali imam Mahdi yang akan bertemu dengan Isa al Masih. Lalu aku tidur setelah menyimak dakwah di sana tentang sholat lima waktu dan aku bangun di dekat Anderson di rumah sakit..." Huda lirih.

"Lalu bagaimana?" Kyai Jalil.

"Sepertinya akan ada fitnah besar yang menimpa umat Islam, Yai... Fitnah ini sungguh mengerikan!"

Mereka semua berdiskusi membahas permasalahan ini sampai beberapa minggu berlalu. Mulai muncul berita-berita tentang teroris di warta dunia. Berita itu tentang organisasi teroris yang mengaku sebagai organisasi Islam akhir jaman bernama mirip dengan seorang dewi dari Mesir kuno yaitu ISIS. Organisasi ini merebut Mosul pada bulan Juni tahun dua ribu empat belas ini. Kota Mosul jatuh ke tangan ISIS pada tanggal sepuluh Juni setelah pertempuran selama beberapa hari melawan pasukan Irak.

Betapa terkejut Huda ketika duduk di meja kerjanya, dia sedang membaca sebuah artikel yang dikirim oleh Harun. Huda melihat wajah pemimpin organisasi itu di layar, yang ternyata wajah al Baghdadi si pemimpin ISIS itu sedikit mirip dengan pria berjenggot di mimpinya. Namun jika diamati lebih lekat, teryata beda sekali karena raut wajahnya bengis dengan kerutan wajah yang tegas, jauh berbeda sekali dengan pria berjenggot dalam mimpi Huda yang berwajah lembut namun tegas.

"Sepertinya sudah ada sekte yang mengawasi Baghdadi sejak kecil. Mereka menentukan segala hal dalam hidup pria ini sampai membuatnya harus memimpin organisasi ini. Sekte itu sepertinya menentukan organisasi ISIS harus ngapain, harus kemana, harus gimana... Sekte di balik organisasi ini bisa-bisanya memilih orang ini! Wajahnya! Dari mana sekte itu tahu soal wajah pria ini sedikit serempetan dengan Nabi Ibrahim." Huda mengusap dagunya memikirkan tentang kemutakhiran musuhnya.

Huda tidak sadar ada penampakan bayangan hitam di cermin yang ada di belakangnya. Bayangan itu semakin terlihat nyata dan tiba-tiba cermin itu pecah dan memekakkan pendengaran Huda. Huda menoleh ke belakang, mendekati cermin itu dan lalu mengedarkan seluruh pandangannya ke segala arah.

"Ada entitas jahat yang mengikuti kita dari London." Lirih Huda ketika Davos datang memeriksa suara apa itu tadi.

"Mata-mata..." Lanjut Huda kepada Davos yang memeriksa seluruh ruangan yang baik-baik saja.

Huda kembali duduk di kursinya. Berpikir sejenak tentang semua kejadian yang terus-menerus terjadi tanpa henti.

Solusi apa yang tepat saat ini?



78




Comments

Popular Posts