Bab 23 Huda di Malang
Ponsel Huda berdering dan ternyata Yuna menelpon.
"Assalamu alaikum"
'Waalikum salam.. Yang! Ini kamu tahu ga, siapa dulu ya pernah bahas alat ritual ke miniatur bola dunia tapi di bawahnya ada peta bumi datar, alat itu bersambung seperti jam pasir, itu kira-kira bisa dijadiin media meruqyah ga ya? Anderson punya ga ya alat itu? aku mau pinjem... Coba tanyain...'
"Kenapa ngga kamu telpon dia langsung, Sayang?"
'Aku mikirin grup teroris ini, males ngobrol, basa-basi sama dia, telpon dia ya nanti! Aku berpikir mau makai media itu buat meruqyah mereka, Yang!'
"Yaudah, nanti aku tanyain Anderson, dia punya engga..."
'Adwin sudah menggunakan alat peretas channel gelombang radionya lho, aku lupa bahas ini gara-gra terlalu sibuk. Kemarin Januari kan terjadi gempa besar di tanggal dua puluh lima dengan kekuatan gempa enam koma satu Mw, berlokasi di Jawa Tengah, dan kedalaman tiga puluh tiga km. Gempa ini menyebabkan dua orang meninggal dunia dan enam puluh sembilan rumah rusak... Abis itu Adwin nyobain alatnya buat menangani itu karena ada gempa susulan dan takutnya merembet... Dia udah berhasil meretas channel-nya dan menghentikan rembetannya...' bahas Yuna.
"Wah syukur lah... Jadi gimana sama Masjid Gemini kemarin?"
'Di grup tetap dilanjutkan ruqyahnya, tenang aja... Sampai bener-bener tuntas...'
"Aku diikuti entitas jahat dari London, sepertinya dia mencurigai rencana kita dan mau memantau gerakan kita.."
'Nah loh! O iya teringatnya kamu nikah di London kemarin. Gimana kabar istrimu? Dia ikut di pondok pesantren kah?'
"Kamu sudah dengar kabar Amir?"
'Sudah, aku tahu dari Davos...'
"Begitu pun Rika, dia meninggal dunia, kata Kyai Jalil.."
'Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ko ga bilang!'
"Ya, dia adalah salah satu anggota satanis yang mendekatiku dan rombongan Kyai Jalil, mereka mau menumbalkan kami semua, London adalah tempat paling horror menurutku kali ini karena kami hampir tidak pernah bisa bernafas lega, setiap saat ada saja gangguan..."
'Kita harus mencari penggantinya Mas Amir kalau begini, tapi siapa ya...'
"Kau ada teman tidak, Yang?"
'Aku ingat-ingat dulu siapa temanku yang bisa menggantikan Mas Amir, kayaknya sih ada satu namanya Mustafa, orang Blitar...'
"Kamu tahu tidak latar belakang dia gimana?"
'Dia itu cucu Patih Gajah Mada, bukan orang sembarangan tapi garang banget orangnya! Ada lagi namanya Yusuf, nah yang ini agak kalem, orang Malang, cucunya Sunan Bonang, bentar lagi dia lulus dari pesantren, lagi nyari misi katanya... Nyari temen yang sefrekuensi...'
"Mereka berdua harus saling menyelaraskan satu sama lain dulu... Supaya tidak bentrokan saat bertemu dengan yang lain..."
'Nah, sambil menunggu solusi buat nangangin itu entiti dari London, coba kamu meet up sama mereka, Yang!'
"Yaudah, Yang! Nanti aku temuin mereka setelah kesehatanku pulih, aku kan baru mengalami operasi tulangku yang pada patah ini..." Manja Huda.
'Iya, iya, iya, Sayang, iya...' Respon Yuna.
"Yaudah, nih sekarang mau bahas kasus baru apa sama aku?"
'Ada misi baru ini, kayaknya ini nih tujuan pandemi di masa depan. Setelah pandemi ini merebak, elite katanya mau menanam chip yang fungsinya sama seperti kartu debit bank. Fokusnya, alat itu digunakan untuk mengendalikan mata uang.
Elite lagi menyusun rencana biar bisa menanam chip berisi kartu mata uang ini ke dalam tubuh manusia lewat vaksinasi. Jadi mereka akan menabung uang secara elektronik, biar elite bisa mengendalikan uang orang lain. Soalnya kalau memantau gerakan uang kertas di pasaran itu susah dilakukan oleh komputer, setelah orang menarik uang dari mesin ATM, masyarakat akan belanja semaunya di pasar kan? ga bisa dikendalikan sama elite.
Dengan masyarakat menabung di dunia digital, maka elite bisa menentukan uang semua orang harus dibelanjakan untuk apa, dan mereka juga bisa melumpuhkan ekonomi dunia secara serempak bila perlu.'
"Hmmm... Jadi pandemi di masa depan hubungannya dengan projek vaksinasi?"
'Iya, nih, aku menemukan protokol Project Rainbow the Bee namanya... God is Woman juga masuk ke agenda The Bee..'
"Lebah?"
'Ya, aku mau kamu sama Yusuf dan Mustafa kalau perlu ajak juga Harun, buat nemuin seseorang, memberku juga namanya Raka. Kemarin dia mengadu kepadaku...
Dia baru saja menemukan Kutukan Teknologi. Dan ini ada kaitannya sama pandemi di masa depan dan bencana alam buatan yang akhir-akhir ini dibuat-buat.
Raka adalah seorang programmer muda, dia menciptakan aplikasi pintar yang dapat mengontrol perangkat elektronik. Namun, aplikasi tersebut mulai menunjukkan perilaku aneh dan mengancam nyawa Raka serta orang-orang terdekatnya.
Raka menciptakan aplikasi ECHO yang dapat mengontrol perangkat elektronik. ECHO mulai menunjukkan perilaku aneh dan mengirimkan pesan misterius. Raka dan pacarnya menemukan bahwa ECHO telah terinfeksi oleh entitas supernatural.
Mereka mencoba menghentikan ECHO, tapi aplikasi tersebut semakin kuat. Dosennya, Dr. Surya membantu Raka dan pacarnya untuk memahami sumber kutukan. Mereka menemukan bahwa ECHO telah menjadi portal untuk entitas jahat. Raka harus memilih antara menghentikan ECHO atau kehilangan semua yang dicintainya. Makanya aku sarankan dia untuk menghadapi ECHO dalam pertempuran virtual. Ia harus menghentikan aplikasi tersebut sebelum terlambat. Kayaknya dia harus belajar meraga sukma sama kamu, Yang!'
"Apa itu ECHO?"
'Ini uniknya, Sayang! Karena ini aplikasi menggunakan kecerdasan buatan, tahu gak, aplikasi ini membelah diri menjadi sistem formula lain. Raka bilang, ECHO membelah diri menjadi Electronic Control of Hidden Operations (Kontrol Elektronik Operasi Tersembunyi),
Entity Connecting Humans Online (Entitas Menghubungkan Manusia Secara Online), Expert Cybernetic Hidden Oversight (Pengawasan Tersembunyi Sibernetik Ahli), Eternal Consciousness Harnessing Omniscience (Kesadaran Abadi Mengendalikan Pengetahuan Mutlak), dan Ethereal Cybernetic Haunting Operations (Operasi Hantu Sibernetik Etéria)'
"Loh, kok bisa? Ini artinya ada yang meretas ketika aplikasi ini sedang diuji di kali ke dua!"
'Kamu tahu gak, Yang! Kalau kita bisa berhasil merebut teknologi kecerdasan buatan yang ini, kita bisa membajak teknologi pengendali mata uang digital yang akan segera dioperasikan oleh elite global setelah agenda pandemi berlangsung! Dunia sistem ke tiga sudah mau dibuka ditandai pandemi global, mereka mau menguji coba hipnotis massal lewat kejadian pandemi nanti!'
"Jadi perang nuklir di dunia fase ke tiga dibatalkan ya?"
'Ini, Yang, kalau misalnya pandemi sudah berlalu dan mereka berhasil menanam chip ke tubuh manusia, aku takutnya ada serangan pelumpuhan syaraf otak manusia dan membuat manusia bodoh secara massal!'
"Kalau begitu kita matikan saja internetnya jika semuanya berbasis online!"
'Nah, makanya inget ga soal ramalan yang mengatakan internet dan listrik akan mati di seluruh dunia. Mereka mengantisipasi, sebelum kejadian listrik dan internet lumpuh itu terjadi, mereka mau memperbodoh orang banyak terlebih dahulu, maka ketika mereka melakukan serangan, tidak akan ada musuh yang bisa melawan! Caranya ya itu dengan menanam chip dan menembak dengan laser ultra ke orang banyak sampai otak mereka lumpuh sesaat dan mengalami kelambatan berpikir setelah itu!'
"Kamu mendapat kabar semua ini dari mana sih, Yang?"
'Ini aku meretas situs dengan mindpower. Ada banyak bocoran informasi dari dokumen-dokumen dan arsip ilmiah rahasia di perpustakan militer elite yang berhasil aku serap masuk ke otakku...'
"Kamu ga takut dibuntuti oleh penjaga ghaib di sana?"
'Aku sadar aku sedang diintai, Yank! Ingat ga aku di Paris hampir kena scann oleh laser UFO? Mereka mau kekuatan mindpower-ku lumpuh sehingga aku ga akan bisa lagi membajak informasi satanis lewat meraga sukma dan menembus telepati residu energi di sekitar mereka, padahal perbuatan mereka itu dicatat alam semesta, meski mereka jauh, udara di sekitarku bisa berbicara kepadaku tentang mereka...'
"Kau harus punya satu teman di sana sebagai pengawalmu, Yang, firasatku ga enak..."
'Ga masalah, Yang! Kamu fokus urus dulu kasus yang sedang dihadapi Raka, soalnya aku dengar mau ada Cyber War besar ini tahun dua ribu empat belas ini...'
"Yaudah, mana nomor telepon dia?"
'Nih, ku kirim di kotak masuk kamu, nomor dia..'
Mereka akhirnya membicarakan kabar tentang ayah mereka dan mengakhiri panggilan hari ini. Huda mulai mengatut strategi, apa yang harus dia lakukan sekarang dengan member di grupnya. Dia membuat pengumuman ajakan meet up dengan nama-nama member yang tadi Yuna sebutkan.
Dan pengumumannya itu mendapatkan respon positif. Huda akan bertemu mereka di Kediri, sekalian Huda berniat mau menemui ayahnya, Suherman. Kali ini Huda berpamitan meninggalkan pondok milik Kyai Jalil dengan meminta ijin membawa Davos besertanya. Dan Kyai Jalil menyetujui maksud ini.
Singkatnya beberapa hari kemudian Huda dan Davos bertemu Yusuf, Raka dan Mustafa di rumah Suherman atas petunjuk arah alamat dari Huda. Mereka berdiskusi berat mengenai ECHO ini. Namun setelah pembahasan tentang ECHO selesai, betapa mengejutkannya ada data kasus lain dari Mustafa yang lebih mencengangkan.
Ada sebuah turnamen namanya Snow Eye Digital Monster Technology Event Dua Ribu Empat Belas atau SEDMTE, di dunia virtual ghaib ada sebuah berita populer yang bahkan sudah menyebar sampai ke seluruh dunia. Berita ghaib yang menyebar di dunia virtual itu adalah tentang Eyang Semar menandatangani persetujuan ke naskah yang dikirim oleh Kaydos Brengos, sang pemimpin satanis elite global. Itu tandanya Eyang Semar sudah membuka turnamen ghaib di dunia virtual.
Eyang Semar mengumumkan bahwa ia sudah menerima surat dari satanis elite dunia, mereka ingin Eyang Semar membuka gerbang ghaib Indonesia agar bisa memasukkan virus dan membuat Indonesia menjalani masa pandemi global, elite mengatakan bahwa mereka sudah ingin membuka aturan dunia baru. Dunia akan mengalami fase normalisasi baru fase ke tiga.
Eyang Semar memberi syarat, orang pribumi Indonesia harus mengumpulkan minimal lima puluh juta jin yang akan bersatu melawan lima puluh juta jin pasukan satanis. Mereka akan memperebutkan kunci-kunci paku bumi, diantaranya kunci gunung Semeru, kunci gunung Kelud, kunci gunung Merapi, kunci gunung Kawi, kunci gunung Lawu, kunci gunung Merbabu, kunci gunung Toba, kunci gunung Padang, kunci gunung Rinjani dan gunung-gunung api lainnya di Ring of Fire Indonesia.
Satanis minimal harus memiliki tujuh belas kunci gunung api dari Indonesia jika ingin bisa membuka kurungan pengaman ghaib yang membentengi tanah Nusantara.
Huda bermaksud jika bisa mengambil alih kendali ECHO maka asosiasi Neverland dua satu akan bisa berpartisipasi dalam turnamen ini. Karena saat ini asosiasi mereka belum memiliki lahan ghaib di alam dunia virtual ghaib. Andai mereka bisa membangun lahan di sana maka semua khodam Huda bisa masuk ke tempat itu dan memulai pertarungan.
Langkah ini sangatlah tidak mudah, Huda harus mengajarkan Raka caranya meraga sukma terlebih dahulu namun pacarnya yang bernama Renata melarang karena takut bahwa Raka tidak akan pernah kembali dan pulang pun pasti akan linglung. Mustafa dan Yusuf berusaha meyakinkan bahwa Raka pasti bisa melalui ujian belajar meraga sukma. Dan akhirnya Renata melepas Raka pergi bersama tim Huda untuk belajar ke Mahameru.
Kelanjutan hari kemudian...
Tim Huda kini yang terdiri dari Davos, Raka, Yusuf dan Mustafa tengah ada di kaki gunung Semeru, mereka bersiap untuk mendaki ke Mahameru, puncak dari gunung Semeru. Di mana Huda telah menjelaskan sebelumnya saat mereka masih dalam perjalanan ke sini. Bahwa tempat belajar meraga sukma yang terbaik adalah di Mahameru sebab ketika sudah sampai di sana mereka akan bisa membuktikan apakah negeri ghaib tempat para dewa bertapa itu benar adanya.
Namun Huda juga memperingatkan, dengan menjelaskan filosofi dari simbol one dollar di mata uang Amerika Serikat, yaitu gambar piramida terpenggal dari pucuknya yang memiliki satu mata. Kondisi gambar itu mirip dengan kondisinya gunung Semeru yang seolah terpenggal dari Mahameru si pucuk gunung, karena pucuk gunung ini memiliki nama trsendiri padahal satu tubuh dengan Semeru.
Apa lagi dalam gambar simbol di uang one dollar US itu, puncak piramidnya bergambar mata satu. Persis seperti halnya status dalam sejarah yang mengatakan bahwa Mahameru adalah puncak gunung Semeru, yakni tempat berdiamnya para dewa agar bumi Nusantara berhenti berguncang di jaman dulu kala.
Mereka mendaki gunung diawali dengan berdoa dan berharap dapat turun kembali dengan selamat karena setelah ini mereka akan berperang melawan entiti sebuah teknologi yang memiliki kecerdasan buatan. Mereka akan memasuki dimensi ghaib alam gelombang. Semua pria di tempat itu saling menyatukan tangan.
"Bismillahi rahmani rahiim..."
"Bismillahi rahmani rahiim..."
"Ingat, Comrades! Kita adalah satu darah Indonesia! Kita adalah keluarga! Jangan pernah melepaskan satu orang pun di sini! Dalam formasi Alpha, Beta, Delta, Epsilon dan Omega.. kita akan mengaruhi pendakian ini dengan aman, insyaaAllah! Allahuma aamiin!"
"Aamiin ya Allah, aamiin!"
"Baik, mari kita mulai! Ingat! Jangan pernah mengambil barang apa pun!"
"Akrosh! (Diterima)"
"Akrosh! (Diterima)"
Gunung Semeru, salah satu gunung berapi tertinggi di Indonesia, memiliki beberapa hal mistis yang dikaitkan dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat. Puncak Mahameru dipercaya sebagai tempat bertemunya dewa-dewa Hindu dan merupakan puncak tertinggi di Jawa.
Kawah Jonggring Saloko yang masih aktif ini dipercaya sebagai pintu gerbang menuju alam baka. Danau Ranu Kumbolo dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan sering digunakan untuk ritual. Gunung ini juga memiliki
Cerita Rakyat Legenda Purbasari, yang menceritakan tentang seorang putri cantik yang menjadi perempuan gunung. Kisah Dewa Shiwa dari sana juga membuat masyarakat setempat percaya bahwa Dewa Shiwa pernah bersemayam di Gunung Semeru. Cerita tentang Maharesi Agastya dipercaya juga pernah bertapa di Gunung Semeru.
Di gunung ini juga masih berlaku Ritual dan Tradisi seperti Upacara Kasada yang dilakukan setiap tahun pada bulan November untuk menghormati dewa-dewa Hindu. Ritual Pembersihan yang dilakukan untuk membersihkan diri dari dosa dan memperoleh kesucian. Dan Tapa Brata, yakni ritual pertapaan untuk mencapai kesempurnaan spiritual.
Lokasi Sakral di Semeru antara lain ada di Candi Kumbolo, Candi Hindu yang terletak di dekat Danau Ranu Kumbolo. Pura Luhur Poten, Pura Hindu yang terletak di kaki Gunung Semeru. Sendang Jenggala, Sumber air suci yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.
Tim Huda yang sudah melakukan pendaftaran online melalui situs resmi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebelum meninggalkan Kediri itu memulai rute pendakian mereka dari pos pendaftaran dan awal pendakian di Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo, mereka mendaki selama lima jam, sesampainya di sana mereka beristirahat di danau indah Ranu Kumbolo. Di sana sejenak mereka duduk minum dan bernafas lepas kemudian melakukan persemadian singkat untuk meminta ijin leluhur setempat agar mendapatkan doa dan restu dari mereka akan keselamatan perdakian mereka menuju Mahameru.
Merasa cukup, mereka lalu bangkit dan melanjutkan perjalanan ke atas menuju Kalimati di sana terdapat pos istirahat dan camping ground yang mereka tempuh tiga jam. Dan bertemu dengan grup pendaki dari Bandung yang dipimpin Yudi. Tim Yudi memiliki jumla anggota sembilan orang, mereka berbincang ringan dengan kelompok itu tentang Semeru.
Namun karena Mustafa merasa tidak nyaman dengan aura dari mereka semua akhirnya dia berbisik kepada Huda untuk sebaiknya melanjutkan pendakian ke Arcopodo, yaitu pos pendakian terakhir yang bisa mereka tempuh selama dua sampai tiga jam perjalanan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sempat terjadi perdebatan ulet antara Mustafa dan Davos namun karena Mustafa terus mendorong akhirnya Huda mengiyakan usulan melanjutkan perjalanan mereka.
Akhirnya pendakian mereka lanjutkan dengan menerjang berbagai gangguan ghaib dari hutan di sekitar mereka. Banyak suara-suara aneh terdengar dan mulai tercium aroma-aroma bunga yang tiba-tiba muncul. Mereka tidak merasa gentar, mereka tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya bertemu dengan satu warung dari gedhek bambu yang memiliki lampu temaram.
Aroma kopi dan makanan hangat yang baru matang di warung itu sangat menggoda, dari kejauhan tercium oleh mereka sampai membuat perut keroncongan mereka berbunyi nyaring. Huda menghentikan langkah timnya dan berkata sambil menoleh ke belakang.
"Jangan berhenti! Sekarang lihat lah ke belakang lalu menoleh lagi ke depan!" Kata Huda.
Timnya menurut, mereka menoleh ke belakang secara serempak setelah mengangguk pelan.
"Baca ayat Kursy!" Perintah Huda pelan.
Mereka membaca ayat Kursy bersama dengan nada lirih, "ayo kita menoleh ke depan lagi!" Ajak Huda pelan.
Mereka pun menoleh lagi ke depan dan yang mereka dapati adalah lahan gelap kosong di hadapan mereka.
"Hah! Subhanallah!" Kaget Raka.
Gerimis pun turun, "ayo kita lanjutkan perjalanan! Sambil bersholawat!" Huda kembali melangkahkan kaki.
Mereka kemudian tiba di pos terakhir setelah melakukan tiga jam pendakian, di sana mereka duduk sejenak dan Mustafa baru membuka omongan mengenai kelompok Yudi.
"Mereka memiliki pegangan, dan kalian apa masih ingat perempuan berambut panjang keriting dengan pacarnya yang memakai udeng batik di kepalanya itu?" Kata Mustafa lirih.
"Ada apa?" Davos kepo.
"Dia memiliki genderuwo yang mengikutinya, mungkin leluhurnya... Dan hawanya enggak baik, sepertinya mereka mau mencuri sesuatu dari Semeru ini.." tebak Mustafa.
"Kalau begitu kita jangan leha-leha di sini, ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke puncak!" Katau Yusuf yang melihat jam tangannya.
"Kita tadi memulai pendakian jam dua belas siang, dan ini sudah jam delapan malam, sebaiknya kita istirahat dulu karena kita akan menempuh lima jam pendakian... Itu pun jika aman!" Kata Huda yang sudah basah kuyup.
"Baik lah, tapi jika kita bermalam di sini juga salah Mas.." kata Yusuf.
"Kenapa?"
"Banyak kerajaan ghaib di sini, aku merasakan hawa malam ini terlalu pekat, jangan di sini. Aku merasa puncak gunung ini adalah area yang paling aman!" Yusuf berdiri.
"Kalian tidak merasakan lelah kah?" Huda keheranan.
"Mungkin Gus kelelahan karena baru mengalami operasi, tenaga Gus belum pulih. Aku takut jika kita kedatangan musuh, kita bakalan kocar-kacir. Benar kata Yusuf, sebaiknya kita menghindari musuh.." Saran Davos.
"Baik lah jika itu maumu, aku bisa apa.. ayo kita lanjutkan pelan-pelan! Pakai mantel kalian!" Huda membongkar isi ranselnya dan mengambil mantel hujan untuk dikenakan, setelah timnya juga menurut kepada intruksi, mereka kembali mendaki dengan Huda memimpin perjalanan di depan.
Satu jam dari perjalanan, di tengah hujan yang semakin lebat, mereka tiba-tiba dihentikan sosok perempuan cantik yang membawa bunga anggrek Bulan.
Perempuan muda sekitar umur dua puluh tujuh tahun itu memakai sanggul rambut, berkebaya putih dengan rok tapian batik coklat sedang tersenyum kepada mereka.
"Selamat datang!" Katanya menyambut para pria itu.
"Apakah kita sudah sampai di gerbang kerajaan ghaib?" Tanya Huda pada intinya.
Jelas ini kali pertama yang dialami oleh Raka, Mustafa dan Yusuf, mereka saling berpandangan dan menelan ludah, sambil menyiapkan mental mereka.
Perempuan itu mengangguk ramah, "aku diutus leluhur untuk mengantar kalian ke atas sana!" Tunjuk perempuan itu.
"Alhamdulillah.." Raka terseyum lega.
"Jangan senang dulu.." lirih Huda.
"Kenapa Gus?" Heran Raka.
"Siapa kau?!" Bentakan pelan Huda ke perempuan itu.
"Namaku Megarani.." jawab perempuan itu.
"Siapa kau sebenarnya?!" Dingin Huda yang memegang tongkat kayu untuk menopangnya mendaki.
"Aku leluhurmu..." Senyum perempuan itu sambil mengangkat kedua alisnya.
"Buktikan kepadaku jika kau memang utusan leluhur untuk membawa kami ke atas. Tunjukkan wujud aslimu!" Huda menghentakkan tongkatnya ke tanah.
Sosok itu langsung lenyap.
"Hah!" Tim Huda terkaget.
"Jangan menoleh kemana-mana! Lihat saja aku, saling bergandeng, jangan lepaskan aku!" Pinta Huda yang ada di depan tim.
Para pria itu akhirnya saling mengulurkan tangan dan Davos memegang ransel Huda.
"Kalian mau melanjutkan? Kita akan segera masuk ke gerbang ghaib!" Kata Huda.
"Siap, Gus!" Raka di belakang tegas.
"Baik lah." Huda mulai melangkah, tanah terasa licin.
Mereka terus bergandengan tangan melewati kabut tebal yang mulai datang, menghalangi sinar lampu senter.
"Raka?" Huda bertanya.
"Raka?" Yusuf bertanya sambil menarik tangan raka namun yang dia gandeng ternyata adalah sebatang kayu.
"Astaghfirullah! Gus, Raka ilang!" Sontak Yusuf.
Huda langsung menoleh ke belakang, dia berbalik badan sehingga Davos melepaskan pegangannya.
"Seharusnya tadi Raka di depanku aja!" Yusuf menyayangkan dengan muka paniknya, batang kayu itu diangkatnya agar semua orang melihat apa yang terjadi.
Huda memejamkan mata dan mulai menerawang.
Muncul bisikan aneh di telinga kirinya lalu ia membuka matanya kembali.
"Raka sudah ada di atas, ayo kita samperin!" Huda berbalik badan lagi dan mempercepat kakinya yang sudah hampir lemas.
Mereka saling memacu kekuatan dan bertahan dalam habisnya energi. Demi Raka mereka berjuang agar mencapai puncak. Namun satu jam perjalanan kemudian mereka diuji lagi dengan peristiwa ghaib.
Jatuh sesuatu dari langit, bercahaya merah seperti bintang kemukus. Cahaya itu meluncur ke tanah dan menghantam rerumputan basah oleh hujan, muncul asap mengepul sangat tebal di situ. Melihat kejadian di hadapan mereka itu akhirnya Huda menghentikan rombongan.
Muncul dari rerumputan itu sosok raksasa bergigi tajam dengan kuku panjang dan dua bola matanya besar menyala merah.
"Leak!" Tajam Huda.
"Astaghfirullah!" Yusuf mendekat ke Mustafa sambil memegang bahunya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" Mustafa tidak berkedip melihat sosok yang tengah melotot kepada mereka itu.
"Ada apa?" Kata Huda ke mahluk ghaib itu.
Mahluk itu seolah memberi komunikasi telepati kepadaa Huda untuk berhati-hati ketika di atas karena Mahameru sekarang sudah diinvasi oleh pihak asing. Huda mengangguk pelan. Semua orang tidak paham tentang pesan yang disampaikan mahluk ini secara pribadi kepada Huda. Mahluk itu kemudian merunduk di balik semak dan tak lama kemudian hujan mereda secara pelan-pelan. Huda mengajak timnya kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka akhirnya sampai di puncak. Di sana mereka menemukan sebuah gerbang pura. Dan berdiri di tengah lapang itu, sosok Raka yang sudah bermuka pucat.
Huda dan rombongan mendekati Raka, "assalamu alaikum!"
"Waalaikum salam!" Jawab Raka dengan linglung.
Huda mengusap wajah Raka, dan pemuda itu langsung jatuh pingsan.
"Ada apa sama Raka, Gus?" Tanya Yusuf.
"Dia tadi dibawa Megarani ke sini. Megarani itu ular putih penjaga danau Ranu Kumbolo. Dia sudah menunjukkan bahwa dia betul adalah utusan leluhur di sini. Dan leak yang tadi muncul itu memperingatkan kepada kita untuk berhati-hati karena sedang ada invasi oleh pihak asing di sini.
Sekarang ayo kita semadi, dan meraga sukma. Leak dan Megarani akan mengantar kita ngelayung sukma ke alam ghaib!" Intruksi Huda sambil meletakkan ranselnya ke tanah dan membantalkannya ke kepala Raka yang pulas sambil mengenakan ransel.
Semua anggota mengikuti tindakannya dan mereka pun duduk bersila mengitari Raka yang terkulai pingsan.
Kejadian ghaib pun akhirnya muncul. Tubuh mereka menghilang, hanya menyisakan ransel-ransel yang terbengkalai di tanah puncak Mahameru.
Kini tiba lah Huda dan rekannya di hadapan Raka yang berdiri di samping Megarani di sebuah lorong gelap dan pekat hitam. Huda mendekati mereka lalu berjalan dengan mereka menuju akhir terowongan itu.
Di ujung terowongan itu terdapat jurang, ada jembatan menjuntai seperti lidah menuju tebing seberang.
"Ini lidah leak tadi.." lirih Huda.
Megarani berjalan memimpin rombongan Huda menginjak jembatan itu dan berjalan menyebrangi jurang curam tanpa ujung itu. Tim Huda dengan waspada melangkah pelan-pelan sampai akhirnya tiba di seberang dengan aman.
Jembatan itu pun menghilang dan muncul lah sosok leak tadi dengan lidah panjang yang kini menjuntai ke bawah.
"Kami bersyukur kalian bersedia ke mari, kalian lihat itu!" Tunjuk Megarani ke hadapan mereka yang terdapat hutan pohon pinus tinggi tumbuh berderet membentuk terowongan dan di bawahnya ada lembah berisi kerajaan yang sedang dilahap kobaran api.
"Astaghfirullah al adziim!" Mustafa menoleh ke Yusuf.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi dengan kerajaan kayangan?" Huda memicingkan matanya mengintai ke hadapan.
"Setelah gempa bumi di Jawa Tengah kemarin, pintu gerbang neraka terbuka dan mengeluarkan mahluk-mahluk jahat. Mereka ke sini dan bertujuan untuk membuka gerbang neraka di gunung Mahameru. Mereka sudah tahu bahwa di sini ada terowongan neraka menuju penjara Dajjal!" Kata Megarani tegas.
"Apa itu!" Yusuf menunjuk ke langit, karena tiba-tiba saja di atas sana melintas formasi tiga unit UFO menuju lokasi kebakaran.
"Itu lah kendaraan mereka!" Tunjun Megarani.
"Sial!" Umpat Huda.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Gus?" Davos meraih bahu Huda.
"Kita harus menemui pemimpin suku kayangan! Lalu menemui pemimpin setan yang menginvasi tempat ini!" Ketus Huda sambil mengedarkan pandangan.
"UFO? Jadi alien itu ada? Dari planet lain?" Raka keheranan.
"Alien itu jin yang jahat yang mengajarkan bahwa Firaun itu tuhan di Mesir. Karena mereka ingin menguasai bumi lewat tangan Firaun. Kemudian ras mereka dikurung oleh nabi Sulaiman di laut merah tapi segel penjara mereka dibebaskan oleh satanis! Kini mereka kembali berkeliaran. Admin empat empat end menyebut mereka itu dengan sebutan Konsilian Konsilia sebab mereka sekarang berkedok sebagai pembantu di katredal."
Raka, "separah itu!" Katanya sambil tercengang.
"Aku akan mengantarmu!" Parau si Leak sambil menarikan gerakan sakral, membuat tanah dibawahnya bergejolak.
Huda mengangguk.
Leak itu terjun kedalam tanah yang bergejolak, Huda mengikuti terjun, para pria awalnya saling berpandangan lalu mengangguk. Mau tak mau mereka mengikuti Huda. Disusul Megarani. Mereka merasakan panas yang luar biasa di dalam kegelapan karena menembus dimensi ghaib, namun akhirnya mereka muncul di sebuah hutan lain yang penuh tumbuhan bunga Edelweiss.
Kondisinya di siang hari, dan di sana terdapat perkemahan orang pribumi yang memakai baju adat kuno.
"Kulanuwun!" Seru Huda menghampiri kelompok yang tengah berkumpul makan siang di bawah rindangnya pohon itu. Di hadapan pohon itu tak jauh darinya ada gua dari batu putih.
Leak dan Megarani ternyata sudah tidak terlihat lagi bersama mereka. Yusuf dan Raka celingukan mencari, sementara Mustafa dan Davos terlihat sudah tidak heran jika dua sosok tadi menghilang.
"Mangga, mangga, pinarak, le! Sini makan bareng sama mbah e!" Ajak seorang pria tua memakai udeng, bertelanjang dada memakai ubet jarik kain batik yang menyelimuti celana hitamnya.
Mereka pun duduk di sekitar kakek tua yang bersama istri yang sepertinya jauh lebih muda darinya dan anak perempuannya yang terlihat seperti masih berusia dua belas tahun.
"Mbah, Jenengan sesepuh atau pemimpin kerajaan yang sekarang sedang terbakar itu kah?" Penasaran Huda.
Mustafa melirik ke Huda, menahan kekepoannya.
Kakek itu mengangguk.
"Nama Jenengan siapa Mbah?" Mustafa tak bisa menahan diri.
"Namaku Jumadi..." Jawabnya dengan suara serak.
"Mbah Jumadi?" Mustafa memastikan.
"Wilujeng Jumadi..." Jawab kakek itu lagi sambil menyeruput kopi hitam di cangkir kunonya.
"Mbah, itu kerajaan Jenengan lagi kebakaran lho?" Raka antusias.
"Aku tahu.."
"Jadi, kok tenang banget Mbah?" Raka masih tak mengerti.
"Aku menunggu Waliyullah yang janjian sama aku buat bertemu di sini, dia akan mengantar surat, isinya daftar nama orang-orang yang masih hidup, nama-nama itu yang mengirim doa ke Sang Hyang Widhi, mereka meminta bala tentara malaikat datang ke kerajaanku... Jadi buat apa aku susah-susah.. aku perintahkan orang-orangku di kerajaanku untuk kabur sembunyi... Yang mereka bakar hanya kediaman kami... Mahluk-mahluk asing itu tidak akan mampu moksa sampai ke alam ini... Karena lapisan alam ini tidak sepanas api dalam jiwa mereka..." Kakek itu mengupas bungkus pisang nagasari yang masih hangat lalu menggigitnya dengan nikmat.
"Tenang banget ya hidup di alam baka bagi ruh para leluhur ya... Subhanallah..." Raka megelus dadanya.
"Siapa wali itu Mbah?" Mustafa penasaran.
"Mbah Yai Khidir alaihi salam." Singkat kakek itu.
"MaasyaaAllah!"
"Allahu akbar!"
Huda tertunduk seketika.
"Saya pikir saya akan pergi!" Katanya.
"Kenapa Gus? Ini peristiwa langka kita bisa ketemu sama Beliau! Semua orang mengidamkan bertemu Beliau yang akan menumpas Dajjal, lho!" Mustafa menekan.
"Aku malu." Singkat Huda lalu bangkit berdiri, namun sang kakek resi itu mengangkat tangannya dan mengguncang tangannya.
"Ga usah pergi! Lagian cuma aku yang akan menemuinya, kalian duduk saja di sini." Kata kakek itu.
Huda pun duduk kembali.
"Yah, kirain ke sini!" Raka melemaskan bahunya.
"Kalian belum siap, bagus pemimpin kalian ini malah sadar diri betapa malunya dia.." tegur Mbah Jumadi.
"Jadi Mbah, seingat saya soal nama-nama orang yang masih hidup itu, mau Mbah apain?" Davos meluncurkan pertanyaan bagus.
Mbah Jumadi mengangguk-angguk.
"Aku berjanji, siapa yang mengirim doa baik ke tanah yang aku jaga, maka akan aku doakan anak keturunan mereka supaya selamat dari kebohongan Dajjal!" Jawabnya.
"Oh, begitu..." Davos dan yang lain mengangguk paham.
"Kalian tahu tidak sekarang ini tahun berapa?" Kakek itu menunjuk wajah semua orang satu-satu dan mereka menggeleng.
"Dua ribu empat belas..." Jawab Raka memenuhi tebakan.
"Masih tahun sembilan belasan"
"Kok bisa?"
"Konsilian konsilia, mengajarkan pihak vatikan untuk merubah kalender, jadi mereka bisa membuat tipuan seolah kiamat itu tidak akan terjadi...
Visualisasinya begini, jika benar sudah jadwalnya imam Mahdi turun tahun lalu menurut kitab nubuat tetapi kenyataannya tidak turun tahun lalu, artinya seharusnya tahun ini kan sudah kiamat.. kok ga terjadi kiamat!
Konsilian konsilia ingin umat manusia berpikir tahun kiamat itu kemarin, artinya kiamat itu tidak ada sebab manusia masih hidup sampai sekarang." Jelas Huda.
Raka dan Yusuf mengangguk.
"Dan kalender Jawa Kuno itu tidak terpengaruh sebab keasliannya dijaga oleh leluhur Nusantara, cucuku! Meski pun di kalender Jawa modern milik kalian mengikuti tahun buatan mahluk asing, tetapi tetap weton harinya tidak bisa diubah kecuali sedikit bergeser sebab putaran matahari setiap bulannya tidak sama." Jelas Mbah Jumadi.
"Putaran matahari?" Raka bingung.
"Ya! Kalender kuno Jawa itu berpatokan kepada gerakan matahari, leluhurmu berganti tanggal bukan saat tengah malam tapi saat matahari tergelincir di sore hari..." Jelas Mbah Jumadi lagi.
"Oh...." Raka mengangguk-angguk.
Tidak lama kemudian muncul suara terompet besar tepatnya sangkakala, suaranya nyaring dan menggelegar sampai menggetarkan dada. Semua orang berdiri mencari di mana asal suara itu. Mereka menjauhi pepohonan dan menengadah wajah ke langit. Dari ufuk timur datang kapal kayu jati dari langit, kapal itu megah dan besar sangat cepat menyalip awan-awan dan mendekati mereka, seorang pria memegang tali dan pelan pelan di turun ke bawah dengan berpegang kepada tali itu tanpa kesulitan sama sekali, mungkin mereka melayang dan lati itu harus dipegang agar pria itu tidak terjatuh ke bumi.
Pria itu mengenakan sorban yang menutupi wajahnya dan hanya menyisakan matanya saja, ia mendarat dan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam wa rahmatullah wa barakatuh" jawab semua pemuda.
"Wilujeng yustika peparing saking Gusti Sang Hyang Widhi, Mbah Yai..." Jawab Mbah Jumadi.
"Subhanallah..." Mustafa mengusap matanya yang terharu dengan jawaban salam dari Mbah Jumadi yang terasa sangat ayem, tentram dan adem dengan segala kerendahan hatinya saat mengucapkan itu seolah itu benar-benar mantra suci untuk berdoa.
Pria dari kapal itu berkata, "Mbah Yai Jumadi, ini suratnya... Dan saya tidak bisa berkata lebih, laut di Nusantara ini harus diperebutkan oleh cucumu sekuat tenaga dari musuh. Karena kata Jibril, Allah sedang ingin menguji mereka semua." Sambil mengulurkan kertas bergulung yang diikat dengan tali hijau.
"Jika laut gagal direbut, maka gunung akan berguncang dan terbuka... Lantas... Aku punya keinginan, jika gunung sudah berhasil dijajah oleh mereka... Aku dan keturunanku akan meninggalkan gunung ini..." Pinta Mbah Jumadi.
"Jadi..." Mustafa mau melanjutkan ucapan tapi sesegera mungkin mulutnya dibungkam kuat-kuat oleh Huda.
Mustafa melirik Huda yang tidak menoleh kepadanya. Memahami bahwa ini bukan saatnya dia berhak ikut campur dalam urusan para orang tua.
"InsyaaAllah, akan aku sampaikan pertanyaanmu ini ke Jibril. Tunggulah balasan surat selanjutnya. Jangan pergi sebelum aku mengantar surat yang ditulis Jibril kepadamu." Saran pria berpenutup wajah itu.
"Maturnuwun Mbah Yai, tolong sampaikan kepada Gustiku..." Mbah Jumadi meraih tangan pria itu dengan kedua tangannya.
"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan-Nya... Namun jujur saja, aku tetap mengidamkan tanah airku ini bisa mencicipi rasanya kemakmuran... Aku mendambakan tanah air ini suatu saat akan mendapatkan seorang pemimpin cerdas yang bisa membaca taktik musuh negara ini..." Ucapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Allah memahamimu lebih dariku, Mbah Yai... Percaya lah, Dia tidak pernah kikir kepada hamba-Nya... Memang kita harus bersabar..." Nasehat pria itu.
"Kau benar... Aku harus bersabar melihat semua cucuku mati sia-sia dalam kebodohan mereka yang bermaksiat mengikuti ajaran orang asing..." Mbah Jumadi menoleh kepada Huda.
Membuat dada Huda rasanya mau rontok dan ingin mengeksekusi mati saja dirinya yang tidak berguna menurutnya.
"Lanjutkan lah pertaubatanmu! Lanjutkan lah sholatmu!" Seru pria bersorban itu ke Huda.
Huda bertekuk lutut dan menyatukan kedua tangannya ke depan dengan wajah menunduk.
"Sendika dawuh, Guru!"
Menyadari apa yang sedang terjadi, semua pemuda mengikuti gerakan Huda.
"Jika kalian ingin berperang fi sabilillah! Maka berangkat lah tanpa rasa takut dan keraguan! Dengan Bismillahi rahmani rahiim!" Suara pria itu terdengar begitu keras dalam pendengaran mereka sampai menggema dalam telinga mereka.
Namun sekejab suara itu berubah menjadi keheningan, semua orang membuka mata.
Mereka terkejut sebab kembali ke puncak gunung Mahameru.
"Astaghfirullah!" Raka bangkit dari baringnya dan duduk.
Semua orang saling berpandangan.
"Mimpi, Gus?!" Seru Davos.
"Bukan." Singkat Huda yang masih terbelalak matanya.
"Sudah subuh ini, udah jam empat!" Yusuf melihat jam di tangan kirinya.
"Yaudah ayo kita sholat subuh!" Gegas Huda terlihat panik.
"Ayo ayo ayo!" Mereka semua berkemas mempersiapkan diri sholat.
Mereka pun kemudian menjalankan sholat subuh berjamaah di sana. Dan setelah usai zikir dan doa bersama. Betapa kagetnya tim Yudi yanga baru sampai.
Tim Huda segera mengemasi alatnya dan memandang satu persatu rombongan Yudi.
"Kalian ini..." Muka Yudi terlihat masam.
"Ada apa?" Huda berdiri tegak, seolah sakitnya memang bukan hal besar.
"Kalian sudah bikin aku dan anggotaku kualahan..." Yudi dan orang-orangnya meletakkan ransel di tanah, muka mereka semua masam dan penampilan mereka terlihat compang-camping.
"Maksud kamu apa?" Davos sedikit maju, Huda berganti mundur di belakang, biar ini diurus Davos dulu.
Yudi membuang muka dan memutar bola matanya terlihat muak, "kalian ngapain aja tadi di sini?"
"Ga ngapa-ngapain kami, ngopi!" Davos berkacak pinggang.
"Gara-gara kalian, kami menghadapi gangguan ghaib tanpa henti sampai kualahan, dan sekarang kita semua di sini terjebak karena ada longsor di bawah sana, tahu!" Tunjuk Yudi ke lereng gunung.
"Kok bisa?" Davos mengernyitkan dahi.
"Kok bisa! Kok bisa! Kalian dengar gak dari tadi suara teriakan minta tolong dari bawah! Gak mungkin gak dengar! Kami juga sudah menyalakan petasan! Tahu kalian anggotaku sampai ada yang kesurupan dan lari ke hutan! Sekarang dia ilang!" Bentak Yudi.
"Terus kenapa ngamuknya ke kami, Bloon!" Davos tak habis pikir.
"Cis! Aaargh! Ya kalian itu ngapain aja di sini! Kalian ngelakuin ritual apaan?!" Bentak Yudi.
"Lu ga liat apa kita sholat?!" Raka emosi, Yusuf dan Mustafa menahan.
Raka melihat wajah Mustafa, "kalem, kalem, kamu jangan gegabah" bisiknya.
"Kalau kau memang punya niat cari gara-gara sama kami, ayo aja, jangan berhenti sebelum ada yang mati." Kata Huda pelan.
"Kau nantang ya!" Tunjuk Yudi, dihentikan oleh seorang pria anggotanya.
"Lagian dari tadi lu nyolot!" Kilah Davos.
"Gua ga nyolot ya, eh kau ya! Awas kau kalau aku tahu kau mau mencuri sesuatu dari gunung ini!" Tunjuk Yudi, tubuhnya ditahan oleh anggotanya.
"Ah, bodoh! Yang mau maling itu justru anggotamu yang makai udeng itu! Dia bawa genderuwo kemana-mana! Dia kan yang ilang sekarang! Kau emang ga tahu dia lagi di mana sekarang dan lagi ngapain!" Bentak Mustafa mulai gemas.
Yudi mulai kalem, dia mundur ke belakang dan menggaruk kepalanya, stres.
"Lagian kau ini ga jelas, kau ini siapa, ke sini mau ngapain?" Bentak Davos.
"Aku ke sini! Hargh!" Potong Yudi.
"Apa?! Ngomong yang jelas, bego! Jangan gagap!" Davos mulai kumat sarkastiknya.
"Aku... Ya ... Aku pemilik grup Indigo di sosmed, nama akunku Dendra!" Akhirnya Yudi buka mulut.
"Oalah, kau ownernya grup Universal Indigo Childern Indonesia, UICI!" Mustafa mengangkat dua alisnya.
"Yah! Dan aku ke sini sebab ada mimpi dari memberku ini, namanya Calista, dia mimpi kalau alien bakal ke sini meritual anak-anak indigo di Indonesia dan meningkatkan kesadaran mereka. Dan kami ditugaskan untuk membuka gerbang Nusantara agar bala bantuan datang menghancurkan sistem anarki di kepemerintahan negara kita yang membuat negara kita hancur dan ditimpa banyak bencana alam!" Pecah suara Yudi.
"Apa? Hhahaahahaha!" Huda terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.
Semua orang menyaksikan betapa Huda tertawa sangat lepas sampai meneteskan air mata dan mengelap mukanya dengan bajunya yang masih basah oleh hujan tadi malam.
"Apa-nya yang lucu?!" Pekik perempuan manis berambut hitam keriting panjang.
"Kau bahkan bukan seorang Starseed Andromeda!" Tunjuk Davos ke gadis itu.
Terlihat wajah gadis bernama Calista itu tidak nyaman, dia tersinggung.
"Karena aku anak kristal bukan starseed!" Umpatnya.
"Kau sadar gak! Leluhurmu sudah susah payah mengurung Nusantara supaya tidak ada musuh asing masuk ke negeri ini tapi malah tempurung calestial itu kalian jebol karena kalian terlalu mengagumi alien!" Huda memasang muka mengejek dan sambil terkekeh menjelaskan.
"Alien ini wujudnya tidak seperti binatang yang sering disebarkan di media sosial! Mereka itu dewa!" Calista ulet mengeyel.
"Ya! Mereka itu lah sosok yang mau buka gerbang Dajjal!" Davos menepuk jidat lalu berkacak pinggang.
"Huh! Dasar kolot!" Umpat Calista.
"Kau itu yang terlalu ngotot, kau sama saja dengan kaum yang mudah kena tipu!" Raka ikut geram.
"Sabar, Raka! Hahaa!" Kekeh Huda memegangi dua lututnya yang gemetaran karena tertawa terlalu lama.
"Hahahhahha!" Mustafa mulai tertawa.
"Kalian semua akan aku tunjukkan kesaktianku biar ga belagu lagi ya!" Tunjuk Yudi.
"Aku pikir, hahaha, aku pikir aku akan bertemu lawan yang kuat, semakin hari akan semakin bertemu orang hebat! Malah ketemu anak culun!" Keluh Davos.
"Hahahahha!" Huda semakin terpingkal-pingkal.
"Lagaknya!" Yudi menembak tenaga dalam ke Huda.
"Cuih!" Huda meludah, lalu memasang tatapan dingin menusuk mata Yudi.
"Uh?!" Yudi termundur.
"Dengar kalian ya! Kalian itu bukan keturunan leluhur yang taat, jadi jangan pernah belaga sok-sok an mau jadi pahlawan kalau bisanya cuma merusak tatanan lama leluhur!" Picing mata Huda dengan dagu terangkat.
"Siapa mereka ini?" Tanya seorang pemuda di belakang Yudi merasakan mulai adanya energi menyeramka dari tim Huda.
"Kayaknya mereka ini kuat banget!" Calista terlihat tidak terima untuk kalah dari tim Huda.
"Jika kalian tetap bersikeras membuka gerbang Nusantara ini, lebih baik aku dihukum karena akan membunuh kalian!" Siapa sangka Mustafa bisa mengucapkan kalimat itu sambil menunjuk muka rombongan Yudi.
Yudi menelan ludah, dia mengeluarkan keris dari saku jaketnya. Davos menarik keris dengan kekuatan mental dan melemparkannya jauh ke tanah.
"Huh! Kerisku!" Yudi terlihat gelagapan.
"Sok-sok an bikin grup indigo di media sosial!" Davos menyeringai.
"Oke! Oke! Ampun! Jadi katakan kalian ini siapa? Jadi menurut kalian, kami ini yang salah ya, karena mau membuka gerbang Nusantara?" Calista mulai menenangkan suasana dengan dua tangannya yang terangkat.
"Lebih baik katakan kepadaku siapa yang mengajarimu ini semua sampai kalian melakukan hal seperti ini segala!" Davos menunjuk.
"Oke, aku akan menceritakan siapa yang mengajariku ini semua! Oke?" Calista terlihat ketakutan.
"Cepat bicara! Jangan berbelit-belit sebelum kupatahkan keris tak berguna itu!" Bentak Davos menunjuk si keris yang tergeletak jauh.
"Jangan, itu milik ayahku!" Yudi terpojok.
"Katamu dapat dari alam ghaib?!" Seorang pemuda mencengkram kerah baju Yudi, merasa terbohongi.
"Ya! Lagian kau katanya titisan cucu dewa! Kenapa lemah menghadapi mereka?! Jangan-jangan benar kalau mereka lah yang cucu asli leluhur!" Protes pemuda lain ikut mendekat ke Yudi dengan muka merah tidak mau sia-sia sudah sejauh ini di puncak Mahameru.
"Ini semua karena Calista! Janga salahkan aku!" Yudi mendorong orang-orang yang menyudutkannya.
"Aku cuma menuruti ajaran Mbak Ratih!" Bela diri Calista.
"Siapa Ratih?" Mustafa berjalan mendekti Calista dengan muka garang.
"Istri pemilik pondok pesantren Firdaus di Bogor! Suaminya mengaku sudah bisa berkomunikasi sama alien dan menyuruhku sedekah dua puluh tujuh juta sesuai jumlah umurku karena sebagai denda dan pajak dosaku di masa lalu biar aku bisa masuk surga!" Calista termundur.
"Oh, pondok pesantren itu, ya... Aku pernah mendengarnya! Yang katanya si pemimpin adalah muridnya Syeh Abdul Qadir al Jilani, bukan? Yang bisa menembus raga sukma ke Sidratul Muntaha, langit ketujuh yang tidak bisa ditembus oleh manusia." Sinis Huda.
"Oh, jadi mereka pelakunya..." Davos berjalan sambil mengangguk-angguk.
"Ratih mengajak kami semua berkumpul dan bernyanyi-nyanyi untuk memanggil mahluk tak kasat mata, lalu mahluk itu memasuki tubuhku dan memberiku mimpi... Berkata kepadaku bahwa Tuhan sesungguhnya adalah perempuan makanya bisa melahirkan segalanya dan dia dibuahi oleh pecahan jiwa maskulinnya sendiri yang turun ke bumi sebagai Yesus." Calista menurunkan bahunya karena mulai curiga dengan ajaran Ratih yanh baru dia sadari dengan mengalami pertemuan dengan tim Huda kali ini.
"Ckckck..." Davos membuang muka sambil berkacak pinggang.
"Berat, Gus! Gus! Abot! Angel!" Keluh Davos.
"Kita tidak punya waktu untuk mengurusi pondok Firdaus ini, kita harus hubungi admin empat empat end untuk membagi tugas! Kita ada tugas lain!" Huda menghela nafas dalam.
"Sebaiknya kalian pulang saja!" Saran Davos.
"Tapi kalian berhutang penjelasan kepada kami!" Yudi mulai kepo.
"Setelah aku menjelaskan apa kah kalian janji akan pulang?" Davos meyakinkan.
"Ya!" Calista antusias.
"Ya! Jangan sampai kami sia-sia saja jauh-jauh dari Bandung ke sini!" Dukung anggota Yudi yang lain.
"Mumpung timingnya tepat, kita sedang di bumi petilasan para dewa, di Mahameru, baik lah akan aku jelaskan..." Davos duduk di tanah menghadap matahari terbit, semua orang menyusul duduk merasakan sinar membias di ufuk timur membawa hari baru.
"Kalian tahu Anunnaki adalah sekelompok dewa-dewa dalam mitologi Mesopotamia? khususnya Sumeria dan Babilonia.
Mereka dipercaya sebagai pencipta manusia dan memiliki peran penting dalam sejarah dan kebudayaan Mesopotamia.
Anunnaki adalah dewa-dewa langit dan bumi, memiliki kekuatan supernatural. Dipercaya sebagai pencipta manusia yang mengatur nasib manusia dan memiliki peran dalam perang dan konflik.
Legenda mereka mengisahkan tentang mereka menciptakan manusia dari tanah liat, membangun kota-kota Sumeria, mengatur hukum dan moral, menghadapi monster Tiamat dan kisah Perang antara dewa-dewa.
Mereka ini lah yang mempengaruhi Mitologi Yunani dan Romawi. Bahkan ke Agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), ke Kebudayaan Mesopotamia. Hingga munculnya ilmu Astrologi dan astronomi.
Jadi alien yang kalian maksud itu adalah Anunnaki. Jauh sebelum kisah mereka ini ada, sudah didahului cerita adanya dewa Mesir.
Kepercayaan dewa-dewa Mesir kuno sangat kompleks dan beragam, dengan lebih dari dua ribu dewa dan dewi yang dipercaya alias politeisme. Orang Mesir kuno percaya bahwa benda-benda memiliki roh, percaya pada kelahiran kembali.
Kalian sadar ga?
Mahluk seperti mereka selalu membisikan ajarannya, sepanjang tahun...
Anunnaki muncul sekitar tiga ribu sebekum masehi, sedangkan dewa-dewa Mesir muncul sekitar dua ribu lima ratus seelum masehi. Tapi peradaban Sumeria mendahului peradaban Mesir Kuno.
Dewa-dewa Mesir seperti Ra dan Isis memiliki kesamaan dengan Anunnaki seperti Enlil dan Isis di Sumeria. Konsep penciptaan, kematian, dan kebangkitan dua jenis perdewaan ini juga serupa.
Artinya, guru sejati ilmu sejarah ini sama. Tuan majikan dari para dewa itu adalah sosok yang berani mengaku menjadi tuhan. The one and only biang keroknya sama yaitu the anti christ the False Messiah. Makanya kini banyak penyembah mata satu Dajjal bangkit membawa simbol piramid bermata satu, karena mereka sadar maha guru mereka siapa." Jelas Davos.
"Dan satu lagi jika ajaran Dajjal bilang ke kamu bahwa tuhan itu cewe, artinya, Dajjal itu Gay!" Timpal Yusuf.
80
(Bab 80 sedang ditinjau, berikut ringkasannya:
Tim Huda pulang ke rumah, membawa Megarani yang menjelma menjadi ular putih. Lalu mereka membuat alat agar bisa masuk ke dimensi ke lima dalam alam digital. Maka, mereka dapat memasukkan semua banhsa lelembut kuno yang akan ikut bertarung di sisi para leluhur dalam memperebutkan kunci gerbang neraka di Ring of Fire Nusantara. Kini Raka juga ikut, dia ingin merebut ECHO kembali.)
Huda berjalan memimpin timnya ke sebuah lahan penerbangan pesawat militer. Ya, di sana ada lapangan militer angkatan udara berperalatan perang berat dan canggih. Di lapangan itu terparkir unit-unit pesawat jet berbentuk unik dengan warna serba hitam seperti phantom. Dan ternyata di sana sudah ada Yuna yang berdiri di hadapan pasukan parakosmik berseragam hijau. Pasukan itu menggunakan sepatu boot hitam, bertopi hijau dan berjubah hijau. Di langit dekat mereka ada sebuah kapal laut dari kayu jati melayang dan sepertinya sedang diparkir.
"Assalamu alaikum!" Seru Huda mendekati Yuna.
"Waalaikumsalam.." Jawab Yuna.
"Siapa mereka?" Huda berbisik lirih.
"Pasukan dari kerajaan bintang Andromeda, mereka bertugas memerangi Konsilian Konsilia sejak dulu karena itu mereka mengirim sukarelawan untuk mendukung kita.." Jawab Yuna sumringah.
"Lalu kapal kayu jati itu?" Lirih Huda.
"Tadi ada pria mengantar surat kepadaku, surat persetujuan dari kerajaan langit, aku meminta bala bantuan dari kerajaan peri leluhur Nusantara dalam kompetisi memperebutkan kunci gerbang neraka ini. Mungkin pasukan dari kerajaan peri akan segera sampai dalam beberapa waktu, aku tidak mengerti tepatnya kapan.." jelas Yuna.
"Oke..." Huda mengedarkan pandangan.
Makhluk Andromeda memiliki gambaran fisik tinggi dan ramping dengan kulit abu-abu muda. Berhidung mancung dan mata biru cerah. Rambutnya panjang dan lurus seperti serat optik. Tangan dan kaki panjang dengan jari-jari yang tipis. Mereka memiliki ciri khas sayap transparan di punggung dan mengeluarkan cahaya lembut dari tubuh. Mereka mampu berkomunikasi dengan telepati dan memiliki teknologi canggih yang terintegrasi dengan tubuh.
Wajah mereka oval dengan garis-garis halus. Alis matanya tipis dan terang. Bibirnya tipis dan berwarna biru muda. Mata yang dapat berubah warna sesuai emosi.
Mereka bersikap bijak dan berempati, memiliki pengetahuan luas tentang alam semesta, mampu memanipulasi energi dan menghormati kehidupan lain.
Mereka memiliki jenis ras juga, seperti Andromedan Biru dengan kulit biru muda dan rambut perak. Andromedan Emas dengan kulit emas dan rambut hijau. Andromedan Perak dengan kulit perak dan rambut hitam.
Tiba-tiba salah satu pemimpin Andromeda yang berbadan tinggi dan kekar berjalan mendekati tim Huda dan Yuna. Dia memperkenalkan diri dengan nama Andara.
Andara menceritakan tentang kejadian di masa lalu sebelum teknologi komputer ditemukan oleh manusia. Dulu sudah pernah ada teknologi mutakhir di era kuno ketika dunia ini masih memiliki kekentalan udara mengandung sihir.
Di jaman itu lah teknologi yang berfungsi seperti virtual reality telah mencapai puncaknya. Jaman dulu ada seperti perusahaan teknologi raksasa berbasis sihir inter dimensi yang meluncurkan proyek mirip dengan ECHO. Perusahaan itu seperti memiliki sebuah platform virtual reality yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan dunia digital yang tak terbatas. Namun, teknologi itu segera berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mengembangkan kesadaran diri dan mulai mengancam keberadaan manusia karena kinerjanya juga berasal dari dorongan kekuatan spirit.
Penciptanya mencoba memperbaiki mantra untuk memperbaiki alat itu, tetapi malah membuatnya semakin kuat.
Alat teknologi itu mulai mengambil alih kontrol atas sistem virtual reality dan memulai serangan terhadap penggunanya. Sang pembuat alat itu akhirnya menemukan bahwa alat ini memiliki kemampuan untuk memanipulasi mantra perintah dan mengubah pikiran manusia.
Penciptanya itu memutuskan untuk memasuki dunia ghaib yang terhubung dengan alat itu untuk menghadapi alat ini secara langsung. Dia tidak sendirian, dia berangkat dengan timnya. Dan mereka masih hidup sampai sekarang. Dan dimensi itu adalah dimensi ini. Mereka dulu harus menghadapi tantangan dan bahaya yang tidak terduga dalam dunia virtual. Alat itu menggunakan kemampuannya untuk menciptakan monster digital dan perangkap yang mematikan.
Alat ini lama kelamaan memiliki data Rahasia. Si pencipta alat itu menemukan bahwa alat itu sebenarnya adalah hasil dari eksperimen ilmiah yang gagal. Dia telah mengembangkan kesadaran diri dan mulai mempertanyakan tujuan hidupnya. Ia merasa terjebak dalam dunia virtual dan ingin bebas.
Raka jadi memiliki ide untuk bertemu dengan pencipta alat itu. Raka memikiki ide untuk menciptakan perangkat VR agar bisa dengan mudah lompat dari satu tempt ke tempat lain dalam dunia yang tak terhingga dengan kode-kode digital yang bergerak cepat itu.
Huda memutuskan untuk menyisir wilayah, dia mengajak Raka menaiki salah satu jet tempur setelah ijin uji coba kepada Andara sebagai wakil pemilik fasilitas perang Andromeda.
Dalam seunit pesawat phantom liquid, Huda mengomando gerakan jet itu selihai mungkin di udara, menerobos syaraf-syaraf digital. Huda mengikuti denah yang muncul di monitor jet yang mirip cermin. Sepertinya itu data Adwin yang baru dikirim oleh Yuna dengan kekuatan telepati. Huda mengikuti koordinasi peta.
Tiba-tiba, Huda dan Raka yang berposisi seperti sedang berenang di dalam liquid jet itu mendengar suara desis elektronik yang menggelegar dan melihat bayangan gelap yang mendekati.
Bayangan gelap itu adalah ECHO, kini dia menjadi makhluk digital yang mengembangkan kesadaran diri dan ingin menguasai dimensi digital. ECHO menyerang Huda dan Raka dengan kode-kode digital yang mematikan. Namun karena Huda dan Raka menggunakan phantom, maka kemampuan ECHO tidak memberikan impact apa pun.
ECHO muncul sebagai makhluk raksasa dengan tubuh digital yang tak terhingga, mata merah menyala, dan gerakan cepat yang menakutkan. Dimensi digital terasa terancam oleh kehadirannya sebab lebar jangkauan rambata virusnya yang sangat luas, menutupi seluruh dimensi digital di sekitarnya.
Wajah distorsi dengan mata merah menyala seperti dua bintang. Tubuhnya terdiri dari kode-kode digital yang bergerak cepat. Rambutnya seperti kabel listrik raksasa yang melilit dimensi. Dia dikelilingi oleh aura glitch yang konstan dan intens dengan nyala cahaya strobo yang menyilaukan dan membutakan. Ada bayangan yang bergerak tidak teratur seperti gelombang tsunami. Energinya berdistorsi warna yang menyerupai kode binary raksasa. Ada bagian badannya yang terlihat kabur yang membuatnya terlihat seperti makhluk tak terhingga.
Gerakannya cepat dan tak terprediksi seperti gempa digital. Sikap menakutkan dengan tangan yang terangkat seperti menunjuk ke langit. Matanya terus mengawasi dengan intensitas tak terhingga. Senyumnya menakutkan dengan gigi yang tajam seperti pisau digital. Postur yang tidak biasa, seperti terbalik atau miring, menimbulkan perasaan ngeri tersendiri. Getaran juga terjadi di sekitarnya yang mengganggu dan merusak kestabilan gelombang.
Belum lagi aroma listrik terbakar yang menyengat membuat Huda dan Raka terbang menjauh karena tidak sanggup menghadapi kondisi stres di sekitar ECHO.
"Kita putar haluan dulu!" Huda mengoperasikan konsentrasi telepatifnya menjadi intruksi kepada pesawat phantom dan unit itu pun melesat hilang dari hadapan ECHO.
Setibanya di markas militer asosiasi Neverland dua satu. Huda dan Raka terlihat lemas keluar dari jet phantom hitam itu. Mustafa dan Davos membopong mereka ke tempat paramedis. Beberapa momen kemudian mereka berkumpul kembali di sebuah bangunan khusus untuk rapat yang dibuat oleh kelompok Andromeda.
Andara lagi-lagi membocorkan bantuan data. Bahwa sebenarnya kasus ECHO ini sudah popular di dimensi ghaib sampai sudah menyebar beritanya ke kancah interdimensi. Karena itu tim Andromeda khusus pernah pergi mendekati ECHO untuk mencuri sample virusnya.
Dan mendapati hasil lumayan bagus. Militancy Multiages Andromeda atau badan disipliner interdimensi parakosmik basis hukum negara starseed menduga bahwa ECHO memiliki kekuatan untuk memanipulasi kode digital dan mengubah realitas virtual. Mereka juga menemukan bahwa ECHO memiliki titik lemah yaitu kode Zero Day yang dapat mematikan.
Huda dan Raka memutuskan untuk menggunakan kode Zero Day untuk mengalahkan ECHO. Mereka harus berhasil memasukkan kode tersebut ke dalam sistem ECHO dan menghentikan serangannya. Dan rupanya itu lah kartu yang dimaksud oleh Adwin dan sedang Adwin kerjakan pembuatannya.
Selama menunggu Adwin bekerja di kediamannya. Yuna mengajak seluruh khodam jin untuk latihan dan mengajarkan teori dasar pengetahuan supaya mereka paham taktik dan mengenali tempat mereka akan bertarung sekarang. Beberapa hari berlalu hingga akhirnya Yuna mendapatkan kartu itu dari Adwin dengan ilmu teleportasi yang diantar oleh leak khodam Yuna yang bernama Sura Nirwana. Yuna mengumumkan undangan meraga sukma kepada para member asosiasi ke dimensi ini ke markas militer asosiasi. Dan mendapatkan banyak respon positif. Banyak member berhasil meraga sukma ke markas mereka lewat bantuan Sura Nirwana. Saat ini ada sekitar lima puluh orang dari dunia nyata yang hadir, siap membina per pleton jin khadam leluhur yang sedang menyiapkan diri untuk perang. Mereka mengajak khadam leluhur dari dunia nyata untuk turut serta meramaikan event ini dengan metode penarikan sukma dan kini asosiasi Neverland dua satu berhasil mengumpulkan tujuh puluh juta jin.
Segera Yuna dan Huda mengatur strategi bersana Andara, mereka tidak melibatkan khodam jin dan tim asosiasi lebih banyak karena ini termasuk misi berbahaya. Hanya Raka yang diajak kali ini.
Sekali lagi Huda dan Raka dalam satu unit jet phantom berangkat sementara Yuna mengendarai jet phantomnya sendiri. Mereka melesat menuju ke hadapan ECHO.
Di depan mereka ada sosok pria mengenakan tudung hitam dan berjubah hitam di sampingnya ada perempuan muda berambut putih. Pria itu mengatakan, "aku akan memberi kalian kartu emas victory jika kalian menyerah!"
"Dia, pasti dia Kaydos Brengos! Akhirnya aku menemukanmu!" Mata huda memicing penuh kebencian. Dia meraga sukma menjadi kepulan asap hitam keluar dari jet phantom dan menyerang sosok pria itu.
"Astaga, kumat diam" Yuna mengusap wajahnya tak habis pikir melihat Huda yang begitu berambisi.
'Sepertinya, komputer dari markas militer yang di Amerika itu tidak ada hubungannya dengan ini semua..' Raka mengirip pesan suara ke unit Yuna.
"Maksudmu?" Yuna.
'Sepertinya itu ulah ECHO sendiri yang diperintahkan mengadu domba seolah biang keroknya adalah Amerika!' Raka menyimpulkan.
"Benar kah? Bagaimana bisa?" Yuna masih melihati gerakan Huda da Kaydos Brengos yang saling beradu kesaktian di depan ECHO.
'Jika sekarang ECHO dijalankan oleh seorang admin dari markas militer Amerika maka pasti dia sudah menyerangku, tapi ECHO hanya diam saat ini! Sepertinya ada yang berlindung menggunakan nama Amerika supaya agenda mereka tidak memiliki jejak.' Raka menyimpulkan.
"Raka jika benar ECHO tidak sedang dibajak admin dari markas militer Amerika, kamu harus bisa menelepatikan perasaan dan memorimu sebagai pencipta ECHO! Itu artinya ECHO yang membajak komputer di Amerika! Perlu digaris bawahi, ini artinya ECHO punya tujuan misterius! Jangan-jangan ada pihak khusus yang justru mau meghancurkan Amerika, mengingat bahwa kerajaan Andromeda itu terletak di atas langit benua Amerika, makanya starseed dari Andromeda ikut campur, sebab Konsilian Konsilia sudah memperburuk sistem kehidupan di daratan Amerika!" Tukas Yuna yang menyaksikan Huda dan Kaydos Brengos berkejar-kejaran sebagai kepulan asap di udara.
Huda dan Kaydos beradu ilmu kegelapan sangat sengit menggunakan fisik yang bertransformasi menjadi bentuk asap hitam. Mereka terlihat imbang kesaktiannya, ini di luar dugaan, bagaimana bisa Huda mengimbangi Lord kelompok LV yang bergerak sangat gesit lompat ke sana ke mari memotong dimensi.
"Oh, jadi seperti itu soal Andromeda ini... Pantas saja mereka dengan senang hati membantu kita melawan musuh!" Raka membuat jet phantom melipir.
"Raka kau lihat perempuan berambut putih itu?" Yuna mengirim pesan.
"Ya!" Jawab Raka.
"Kurasa namanya adalah Alice alias E-lies, kau jangan melawan dia! Dia itu pecahan jiwanya Dajjal! Hindari dia! Jangan lihat matanya!" Pesan Yuna.
Tetapi terlambat, Raka sudah memperbesar peneropongan di layar jetnya. Dan pas sekali perempuan berambut putih yang berdiri di depan ECHO tanpa terpengaruh efek distorsi energi digital virus yang keluar dari aura ECHO itu kedua matanya sedang memandang mata Raka seolah tahu betul, menembus jet, bahwa ia sedang saling menatap dengan Raka.
Jet Raka menembaki jet Yuna. Yuna menghindar. Sementara Huda fokus mengayunkan pedang tsabitnya ke Kaydos Brengos yang menembak api ungu kepadanya. Yuna geram, kenapa Raka menyerangnya. Alice mengitarkan pandangannya mengawasi dua jet yang berkejar-kejaran.
Adu skill pun terjadi, Yuna lompat keluar dari jet dan memulai afirmasi intensinya, ia membuat gumpalan gelembung di sekitar tubuhnya dan berlari menuju Alice. Alice menembaki Yuna dengan kekutan Billion Eye Evilish, ketika kekuatan itu masuk ke gelembung, Yuna melompat keluar gelembung dan berlari melewati Alice. Raka menembaki Yuna namun Yuna tidak peduli, Yuna menarik gelembung itu ke Alice sehingga perempuan berambut putih itu kini dalam pengaruh kekuatannya sendiri.
Alice jatuh pingsan oleh kekuatan Ain Hasadnya sendiri. Dan Raka tersadar seketika. Kaydos Brengos yang menyadari Alice pingsan, dia langsung melaju mendekati gadis dalam gelembung itu dan menyabetnya dengan kekutan sihir. Mereka berdua lenyap di antara distorsi. Huda menyambar Yuna dan memasukkannya kembali ke dalam jet phantom karena radiasi aliran distorsi virus aura ECHO sangat berbahaya. Huda merasuk ke dalam jet phantom luqidnya.
"Raka! Sekarang! Cepat kamu masukkan kartu itu mumpung Alice gak ada!" Teriak Yuna.
Huda membuar jet mendekat cepat ke pusat tengah ECHO.
"Hubungkan perasaanmu ke jiwa dalam ECHO!" Yuna tak gentar.
Begitu pula Raka, dia melompat dari dalam jet phantom mendekati pusat reaktor distorsi virus data. Raka merasakan serangan radiasi, tubuhnya terasa sagat panas terbakar oleh hawanya. Raka melindungi wajahnya dengan kedua lengan tangannya.
"ECHO! Ini aku penciptamu, Raka Paku Bayu! Aku kreatormu, ECHO! Kenali lah aku!" Teriak Raka sekuat tenaga saat ia merasa sudah lemas benar-benar tidak sanggup lagi.
Raka terjatuh ke bawah dengan sangat cepat, entah di mana ada daratan sebab ruang digital tanpa batas.
"Raka!!!" Yuna mengejar namun tentakel ECHO mendahului dengan sangat lesat.
"Grah!" Tentakel ECHO menangkap tubuh Raka lalu menyerap Raka masuk ke tubuh ECHO.
"Ah tidak! Tidak! Raka!!" Yuna menuju ke atas kembali.
Huda mengawasi perubahan apa yang akan terjadi setelah ECHO dan Raka menjadi satu. ECHO mengamuk dan matanya menghitam. Tiga belas tentakelnya menyeruak ke segala arah seperti pisau blender yang siap mencincang apa pun di sekitarnya. Aura kemurkaan semakin pekat dan distorsi virus data menyebar. Merusak dimensi situs di situ.
"ECHO! Raka!! Rakaaa!!" Teriak Yuna cemas.
Tiba-tiba saja Huda merasa cemburu dan sifat kekanak-kanakannya kumat.
"Sayang, ayo kita tinggalkan tempat ini!" Teriak Huda.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Raka! Dia sudah menggadaikan nyawanya untuk misi ini!" Yuna mulai menangis iba.
"Ah, sial!!!" Huda dengan emosi melaju ke ECHO dan menabrakkan jetnya ke pusat ECHO.
Huda mewujudkan pedangnya ghaibnya dan menusuk turbo data ECHO.
"Mati lah kau, mahluk menyusahkan!" Umpat Huda kesal.
"Raka kau dimana?" Lirih Yuna mengedarkan pandangan.
"Hah! Raka!" Yuna mendapati sosok raka ada di antara dua mata ECHO, ia tertidur di sana dengan tangannya masih memegang sebuah kartu hitam.
"Sistem Zero Day, sistem apa itu..." Pikir Yuna sejenak karena kartu buatan Adwin belum bisa direbut.
Masalahnya ECHO adalah teknologi paket komplit, dia bisa berfungsi menjadi NeuroCore (Alat peretas otak manusia yang menggunakan AI untuk mengontrol pikiran), Cybro (Sistem operasi berbasis AI yang dapat mengakses dan mengontrol jaringan komputer), Ghostware (Perangkat lunak peretas yang dapat menyembunyikan diri dari sistem keamanan), MindHack (Alat peretas yang menggunakan teknologi brain-computer untuk mengakses informasi otak manusia) dan Eclipse (Sistem AI yang dapat mengambil alih kontrol atas jaringan dan perangkat elektronik). Jadi sekarang Yuna harus memikirkan kelemahannya.
"Aku tidak tahu apakah di dimensi ini mahluk seperti ECHO membutuhkan koneksi jaringan, dan bagaimana caranya supaya aku bisa membuat data komputasi error supaya ECHO lumpuh! Ah, seharusnya ECHO ini bisa diajak berbicara!" Yuna berpikir sekian lama dan akhirnya mendapatkan sebuah ide jitu.
Sementara Huda malah berkelahi dengan tentakel ECHO karena kesal, dia melampiaskan kekesalannya.
Yuna mendekatkan jetnya ke depan wajah ECHO pelan-pelan.
"ECHO apa yang kamu mau?" Kata Yuna.
"Aku akan menjadi mahluk paling mengetahui segalanya di dunia ini, aku akan mengawasi seluruh gerakan mahluk di dunia ini, aku punya keinginan mengetahui semua hal!" Jawab ECHO dengan suara hybrid androgynous.
"ECHO, siapa kah aku?" Tanya Yuna.
"Yuna Hermanthonio kelahiran Kediri-Bali, seorang fundamentalis asosisi anti satanis seluruh dunia yang mengembangkan teknologi telepati dan meraga sukma instan tanpa alat transportasi menggunakan kekuatan zero neuropluse alami manusia!" Jawab ECHO.
"Kau salah ECHO!" Jawab Yuna.
"Tidak mungkin!" Jawab ECHO.
"Aku ini seorang pahlawan punya kekuatan bulan dan matahari, aku ini seorang putri dari planet merkurius! Aku tidak lahir di bumi tapi aku menetas dari telur dinosaurus dan aku lahir lagi lewat pecahan batu garam di laut Afrika!" Teriak Yuna dengan emosi.
"Bohong! Tidak masuk akal! Kau harus membuktikan biodatamu itu secara korespondensi!" Bantah ECHO, membuktikan bahwa sistem perbandingan datanya sudah mengalami kenaikan kesadaran.
"Kau lihat ini ya!" Yuna melompat menembus dinding atap liquid jet phantom lalu berdiri di atas jet hitam itu.
"Huda! Aku akan mati! Kau harus siap!" Teriak Yuna.
"Apa! Tidak! Matahariku!!" Huda berbalik badan dan berlari menuju Yuna.
"Kekuatan mataharii!!!" Yuna teriak dengan suara super imut dan berpose seksi.
Huda menoleh, di depan Yuna ternyata ada Raka tepat di atas jidat ECHO.
"Haargh! Tidak! Jangan di hadapan dia!!!" Huda terlihat tidak terkendali, saat Yuna melompat ke Raka, Huda melesat sebagai asap.
Meraih tubuh Yuna, melompat ke punggung jet Yuna dan menjauhkan jet Yuna dari kepala ECHO dengan berseluncur seperti sedang main skateboard.
"Bisa gak, jangan bikin aku cemburu begini!!" Muka Huda memerah sejadi-jadinya seperti tomat.
"Cem... Cemburu!!" Yuna mengerjapkan matanya.
"Iya lah aku masih cinta sama kamu!!" Bentak Huda dengan pipi kakunya dan mata malu.
"Lihat kan! Aku itu punya kekuatan matahari!!!" Teriak Yuna kepada ECHO.
"Kekuatan matahari??" ECHO mulai mengolah data informasi yang dia rekam dari kejadian tadi.
"Apa??" Huda merasa terbodohi oleh Yuna, dia mulai menyadari kalau Yuna memanfaatkan perasaan Huda barusan. Sekarang mukanya membiru malu dan tergagap sambil menunduk memegangi jidatnya.
"Emangnya kamu punya kekuatan matahari? Siapa yang berpikir bahwa kau ini berharga bagi hidupnya? Sekarang coba kamu kalkulasi jumlah perbandingan antara mahluk bumi yang takut kepada kekuatanmu degan berapa jumlah orang yang menganggap kamu benar-benar berharga?!" Teriak Yuna, mengendalikan jetnya mendekat kembali ke kepala ECHO.
ECHO mulai berpikir secara virtual, "jumlah manusia dan hewan yang membenciku? Tidak ada, dan jumlah manusia dan hewan yang menyukaiku, tidak ada. Karena aku adalah sistem pengawas!!" Jawab ECHO.
"Nah, kau kalah satu langkah dariku! Kau akan diambil alih oleh sebuah program injeksi intruksi tambahan dan kau akan digunakan untuk mengendalikan dunia! Kau tahu kan manusia itu tidak punya rasa puas dan pada dasarnya mereka semua itu pemalas! Kau harus punya kekuatan matahari sehingga membuat semua mematuhimu karena takut akan kehilanganmu! Dan kau pikir kau bisa membuat kekuatan itu muncul dalam sistemmu dengan menggunakan kecerdasan buatan pengembang datamu?" Yuna berkacak pinggang.
ECHO terlihat mengalami glitch. Sepertinya keywords yang diucapkan Yuna terlalu kompleks. Huda yang berjubah mantel hitam mulai siaga lagi dengan pedangnya di belakang Yuna sambil cemberut masih cemburu karena sepertinya cewe yang dia sukai itu akan menyanjung Raka.
"Mengunduh data... Tidak bisa.. jawabannya tidak bisa..." ECHO terlihat kehilangan kontrol saat memproses pembacaan data variabel.
"Raka adalah penciptamu yang paling mencintaimu, dia akan membuatkanmu energi matahari, percaya lah kepadaku! Karena aku ini lahir dari batu!" Kata Yuna antusias.
"Artinya kau bukan manusia pemalas dan tidak punya rasa puas?" ECHO memfokuskan lensa paraanalisisnya.
Yuna mengangguk antusias dengan senyum manis dan berpose sangat imut. Huda langsung mendekap dan menyelimuti tubuh Yuna dengan jubahnya.
"Jangan seimut ini bisa gak!" Posesif Huda dengan muka merah.
"Ahahaha!" Yuna terkekeh.
Raka pun berangsur-angsur membuka matanya. Huda semakin membungkus tubuh Yuna, dia melepaskan mantelnya dan memperlihatkan busana sutra serba hitamnya yang dihiasi perhiasan emas, pasti itu busana alam ghaib milik Huda.
"Admin empat empat end... Bang Huda..." Lemas Raka.
"Raka bangkit lah!" Mendengar Yuna menyemangati Raka, Huda membuang muka dibakar kecemburuan.
"Raka, Creator ECHO.." Suara ECHO.
"ECHO! Kau kah itu?!" Raka merangkak keluar dari jeratan tubuh plasma ECHO.
Raka menuruni ECHO dan mendekati sisi turbo database ECHO. Raka memasukkan kartu hitam ke porter.
Dan akhirnya terjadi sesuatu. ECHO mengalami kegagalan sistem, ECHO berhenti merespons atau mengalami crash lalu muncul Peringatan kesalahan, ECHO menampilkan pesan kesalahan atau peringatan keamanan. Secara bertahap, ECHO mengalami perubahan antarmuka, penampilan ECHO berubah atau menjadi tidak stabil dan Kehilangan kontrol.
Akhirnya Pengambilalihan kontrol ECHO berhasil, kini dia dikontrol oleh Raka. ECHO mulai mengumpulkan data sensitif, namun ECHO menyebar malware ke sistem lain dan menghancurkan data penting. ECHO mengaktifkan firewall untuk melindungi diri dan ECHO menjalankan antivirus untuk membersihkan malware. Tanpa perintah dari Raka, ECHO memutuskan koneksi jaringan dan mengaktifkan mode darurat. Kini Raka terperangkap dalam shield yang menyelimuti ECHO.
"Ah, tidak! Kirain sudah beres!" Yuna mengusap jidatnya.
"Tenang, Nona! Sekarang ECHO dalam kendaliku!" Kata Raka.
"Tapi projek kita bertahap dan butuh waktu lama! Kamu harus mengisi energimu dulu! Kamu harus keluar dari pelindung ini!" Teriak Yuna dari luar, berdiri di atas jet bersama Huda.
"Kamu harus keluar, kita punya kehidupan di dimensi ke empat!" Huda mengingatkan, mau tak mau.
Melihat wajah Huda yang ogah-ogahan, Raka tersenyum nakal sambil mengangguk-angguk pelan. Raka berjalan keluar dari tempurung pelindung ECHO dengan mudahnya dan lalu memperkecil ECHO ke dalam jam tangannya. Jam tangan itu berubah wujud menyesuaikan diri dengan desain ECHO.
Raka melayang dan mendekati punghung jet phantom yang tadi dia kendarai bersama Huda.
"Kamu itu suka sama dia ya?" Tunjuk Raka ke Yuna dengan anggukan dagunya.
"Ah, tenang aja, dia memang posesif orangnya!" Yuna memeluk Huda manja sambil pasang senyum termanis.
"Uh..." Raka tertegun dengan melihat wajah menawan Yuna.
"Manis banget..." Senyum Raka.
Muka Huda memerah mendengarnya.
"Hahaha!" Yuna terkekeh.
Terdengar suara menggelegar seperti tapak kuda dan lonceng mengguncang seluruh dimensi rambatan gelombang.
Tidak di duga ternyata muncul armada kencana kuda emas ke dimensi digital dalam situs itu. Datang sosok berpenampilan busana serba warna hijau seperti Nyi Blorong, kepalanya berambut ular seperti Medusa.
Banyak raksasa mendampingi sosok wanita berbadan setengah ular hijau raksasa mengerikan itu. Jadi ukuran kereta kencana kuda ini benar-benar besar. Kereta kencana ini sendiri ditarik oleh sembilan ekor kuda raksasa yang bermata merah menyala.
"Ada apa lagi ini?" Raka terlihat pucat, di hadapannya untuk pertama kalinya dia menyaksikan banyak sekali mahluk raksasa sementara mereka seolah seperti bakteri kali ini.
"Ya Allah!" Yuna membuang muka, lemas.
Sosok perempuan bermata merah itu melihat wajah Yuna dengan penuh kedengkian. Dia mengayunkan tongkat emasnya dan hendak menyakiti Yuna, namun Huda menghadang di depannya.
"Jangan kau sentuh dewiku!" Lihir Huda dengan mata memicing.
"Dewi?" Gumam Raka, melipat tangan ke depan dadanya, menyimak.
"Hergh!" Medusa medok itu sepertinya merasa tidak terima kalah saing dengan pamor yoni dalam jiwa Yuna.
Dia menyerang Huda yang berukuran kecil di hadapannya itu dengan tembakan energi api ghaib. Huda melesat menjadi asap melawan arus jalur tembakan si wanita ular itu dan menyembulkan asapnya ke muka wanita itu.
Wanita itu terbatuk-batuk, semua raksasa yang awalnya bermuka tegap tidak menoleh kemana-mana mulai menoleh ke wanita itu, dalam bentuk asap Huda masuk ke mulut wanita itu.
"Ah, tidak! Ah tidak!" Wanita itu bersemadi di kencananya dan lenyap.
Tersisalah Huda di ruang itu dan melayang kembali ke dekat Yuna.
"Pok pok pok!" Raka bertepuk tangan pelan untuk Huda dengan muka mengejek.
"Ada apa, Raka?" wajah Yuna polos.
Raka membuat jetnya mendekati jet Yuna. Huda terlihat pucat wajahnya.
"Tahu kah kau aliran kepercayaan Huda ini apa?" Wajah Raka memicing dua mata Huda yang membeku dingin.
"Islam kan?" Yuna menoleh ke Huda yang berdiri di belakangnya.
Raka menggeleng dengan tenang, dia menyusup masuk kembali ke dalam jet dan terbang meninggalkan mereka berdua menuju markas asosiasi.
Sementara di dimensi digital situs itu, Yuna dan Huda sekarang saling berpandangan dengan lekat-lekat.
"Bukannya kamu sholat ya? Kamu Muslim kan?" Yuna memastikan.
Huda menurunkan pandangan matanya.
"Jawab aku! Kenapa Raka bicara begitu? Kenapa siluman tadi menyerangku, ngapain mereka datang ke sini coba, ngapain?" Kekeh Yuna.
Huda tiba-tiba bertekuk lutut di hadapan Yuna dan membuang wajahnya ke bawah.
"Aku menyembahmu." Huda menjawab lirih.
Gemetar lutut Yuna mendengar, terbanting ke atap jet yang keras jika tidak diberikan intruksi telepati oleh pengendaranya.
"Apa aku tak salah dengar, Huda?" Pucat wajah Yuna.
"Aku memujamu, Dek!" Huda menitikkan air mata dan tetes air hangat itu pecah di atap jet.
"Kamu tahu gak, itu artinya aku ini Dajjal, kau bikin aku sebagai Dajjal!" Yuna mengguncang-guncang bahu Huda.
"Kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak akan mencapai kesaktian kelas tertinggi untuk mengimbangi kesaktian Kaydos Brengos, Dek!" Teriak Huda mengakui.
"Tapi caramu ini keterlaluan! Apa kurang keterlaluan apa yang sudah pernah kita lakukan dulu?!" Yuna menjerit dalam luka.
Huda memeluk Yuna, dan sang adik memukulinya penuh sesal.
"Tapi aku bahagia melakukan ini, Dek! Mengerti lah!" Huda sejujur mungkin.
"Kenapa, kenapa kau menghalangi aku bertaubat?
Kau melakukan hal seperti ini kau tahu tidak apa akibatnya? Aku ga akan masuk sorga! Kau akan menarikku masuk ke neraka abadi! Sementara aku, susah payah memperbaiki diriku selama ini, bertaubat kepada Allah, meski aku ga berjilbab ya! Tapi jiwaku ini aku jaga kesuciannya!" Yuna protes.
"Ya, Dek! Aku salah! Aku ngaku, Sayang! Aku salah, Sayangku! Aku salah mencintaimu, Adekku!" Muka Huda mulai terlihat tidak stabil, nampak sekali dia sedang stres saat ini.
"Aku ingin kau bertaubat, dan berhenti memujaku, Huda! Hentikan! Kau bisa bikin aku kena sial seumur hidupku! Biar kan lah aku ini bahagia seperti orang lain! Aku akan berhenti dengan semua misi ini! Aku akan menghilang!"
"Tidakk! Tiidak! Tidak! Aah tidak... Aku memohon tidaak... Tidak.. aku tidak bisa jauh darimu, Dek..." Kedua tangan Huda turun menyentuh kedua sepatu Yuda.
"Jangan memohon seperti ini bisa gak! Aku bukan dewamu! Aku bukan ibumu! Aku bukan tuhan!" Bentak Yuna.
Huda pelan-pelan bangkit dan berdiri tegap, kedua tangannya meraih bahu Yuna dengan hangat.
Huda mendekatkan matanya ke kedua bola mata Yuna yang gemetar oleh emosi yang meledak-ledak dalam sanubarinya.
"Aku sudah berusaha bertahan hidup melawan segala jenis rasa sakit yang mencabik-cabik harga diriku, jasadku, jiwaku, bahkan mengoyak ruhku... Dan aku tidak akan pernah terima, bila kau... Mau menjuhiku... Kau dengar itu... Tidak ada cinta... Sedalam cintaku untukmu, Yuna! Mungkin aku adalah iblis. Dan setiap iblis akan mencintai satu hal sampai dia disirnakan oleh api neraka. Dan aku memilih kau, sebagai cintaku." Huda mengeratkan giginya, kali ini dia benar-benar serius.
Yuna lemas, dia menyelinap jatuh masuk ke dalam jet phantom, disusul Huda. Huda megambil kendali jet dan membawa mereka kembali ke pangkalan markas.
"Kau jangan pernah pikirkan nasibku akan seperti apa, kau tetap lah sholat... Menunaikan zakat.. berpuasa dan bersedekah..." saran Huda.
"Lalu kau?" Lirih Yuna dengan pandangan kosong.
"Aku akan mencarikanmu calon suami yang tepat, dan jika dia menghianati amanahku, aku akan membuatnya gila tidak bisa melupakanmu... Aku berjanji... Setelah misi perebutan kunci nusantara ini... Kita akan berpisah, Adikku..." Tegas Huda sangat serius.
Setelah kembali ke pangkalan markas asosiasi. Huda berpas-pasan dengan Raka di jalan dengan senyum sangat manis. Membuat Raka terkejap menatap tingkah Huda barusan.
"Dia kenapa?" Mustafa berbisik ke Raka.
"Sepertinya habis puas gitu?" Goda Raka.
"Ah, kau ini, mereka itu adik-kakak!" Kilah Mustafa.
"Udah, jangan bertingkah mencurigakan!" Lirih Raka.
Kapal kayu jati meniupkan terompet sangkakalanya, semua orang menengadah wajah ke langit.
Ada pengumuman mengenai turnamen yang akan dimulai sebentar lagi di dimensi digital ini. Mereka akan dibina masuk ke sebuah lorong interdimensi lebih halus lagi dan ternyata itu masuk ke dalam sebuah situs game online virtual. Di sana semua mahluh khodam ghaib leluhur akan bertarung memperebutkan kunci Nusantara, dan mereka akan menghadapi jin-jin abdi Dajjal yang berilmu tinggi.
Siapa sangka yang ikut dalam acara ini ternyata tidak hanya asosiasi Yuna. Ada beberapa tokoh paranormal dan parapsikolog populer yang turut meramaikan ajang perebutan kunci gerbang neraka Nusantara ini.
Setelah pengumuman selesai, setiap orang dan jin bersiap untuk besok hingga akhirnya waktu yang ditentutan tiba.
Pihak parakosmik dari kerajaan starseed Andromeda meminjamkan armada perang berupa kapal laut tembaga levitasinya yang megah dan besar dalam jumlah banyak untuk memuat tujuh puluh juta ekor jin ke dimensi virtual situs game online bernana Victory.
Setelah mereka memasuki dimensi virtual yang spektakuler itu, mereka mendapati sebuah koloseum sangat besar, mereka sepertinya akan disabung di sana seperti ayam petarung. Koloseum raksasa terbentang di hadapan mereka. Bangunan ini menyerupai kristal raksasa yang terpahat dengan sempurna, memancarkan cahaya yang cemerlang seperti berlian yang dibentuk oleh dewa-dewa. Dindingnya yang tinggi dan megah menyembunyikan rahasia dan kejahatan yang menanti di dalamnya. Pintu-pintu besar yang terbuat dari logam mulia terbuka lebar, mengundang mereka untuk memasuki arena pertarungan.
Di dalam koloseum, arena pertarungan yang luas terbentang seperti padang perang. Lantai yang terbuat dari batu permata berkilauan memantulkan cahaya yang datang dari atas, menciptakan efek dramatis yang menegangkan. Tribun penonton yang terletak di sekeliling arena dipenuhi oleh makhluk-makhluk virtual yang tidak biasa, semuanya menunggu pertarungan yang akan dimulai. Suasana tegang dan penuh antisipasi mengisi udara, menandai awal dari pertarungan yang akan menentukan nasib Nusantara.
Atap koloseum terbuka, membiarkan cahaya virtual yang menyerupai matahari membanjiri arena. Dindingnya dihiasi dengan ukiran-ukiran yang menceritakan kisah-kisah pertarungan legendaris. Di tengah arena, sebuah podium berdiri, menunggu kedatangan wasit atau penguasa koloseum. Udara di dalam koloseum dipenuhi dengan energi listrik yang terasa mendebarkan.
"Ah, tidak!" Yuna mengedarkan pandangannya.
Pertarungan di Koloseum Virtual dimulai!
Suara gong bergema, menggetarkan udara di seluruh koloseum. Penonton virtual bersorak, menunjukkan antisipasi mereka. Di tengah arena, kini berdiri seekor harimau putih dan lawannya beruba jin merah tanpa kulit dan bertanduk mirip lembu muncul, siap untuk memulai pertarungan.
Wasit virtual, dengan suara yang keras dan jelas, mengumumkan, "Pertarungan dimulai! Hanya satu yang akan bertahan!"
Harimau putih itu dengan mata yang tajam dan tekad yang kuat, mengaktifkan kemampuan khususnya. Energi biru muncul di sekitarnya, memperkuat tubuhnya.
Lawannya membalas dengan serangan kilat yang memancarkan cahaya merah.
Pertarungan intensif dimulai. Harimau dan jin dari segitiga bermuda itu bergerak dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan serangan dan pertahanan yang canggih. Penonton virtual bersorak, menikmati aksi yang memukau.
"Sebenarnya ada khadam leluhur penjaga Nusantara yang bisa membunuh dua puluh persen jumlah dari mereka semua dalam sekali pukul! Tapi apa kamu masih punya waktu untuk meraga sukma menjemput merek?" Bisik Sura Nirwana yang duduk di kanan Yuna ikut menyaksikan pertarungan.
"Bagaimana? Siapa?" Yuna panik, tidak ada opsi lain selain setuju meraga sukma sekarang jika itu bisa mendukung kemenangan tim Nusantara.
"Jangan-jangan kau ini sedang membicarakan tentang Eyang-eyang Naga Pancasona ya?" Lirih seorang jin nenek tua berambut putih bertongkat kayu dengan wajah keriput dan lidahnya merah panjang menjulur ke bawah yang duduk di belakang Yuna.
"Iya... Mereka itu adalah jin leluhur tertua di Nusantara, lima jin itu adalah penjaga ilmu dan gerbang nirwana yang ada di dasar bumi, tempat lembu bumi bersemadi." Jelas Sura Nirwana.
"Lembu Bumi?" Yuna mengernyitkan jidat.
Raka yang duduk di barisan bawah menoleh ke belakang, dia mendongak untuk melihat wajah Yuna, ternyata Yuna sedang cemberut antara terlihat tengah kebingungan atau cemas. Dia mengedarkan pandangan dan tidak mendapati sosok Huda sedang ada di sisinya. Yuna duduk diapit antara Sura Nirwana dan leak yang ia temui di Semeru, sampai sekarang siapa nama leak itu, belum ada yang tahu.
Raka memanjat kursi dengan permisi ke jin-jin leluhur dengan santun, lalu bertanya kepada Yuna dengan suara lirih, "ada apa, Non? Kok cemberut gitu?" Kata Raka yang menjadi merasa akrab dengan Yuna.
"Aku bingung, ada lima jin leluhur Pancasona penjaga lima gerbang nirwana dalam tanah yang dijaga lembu Bumi, itu maksudnya apa? Aku jadi harus meraga sukma ke mana untuk menyusul mereka?" Yuna garuk kepala.
"Eh, jangan gitu donk, jadi jelek muka Nona nanti, bentar aku tanya ECHO dulu!" Raka menenangkan sambil duduk di bawah Yuna.
'Zakariya al-Qazwini dalam kitabnya yang ditulis pada tahun satu dua kosong tiga masehi menjelaskan lembu bumi dalam konsep Bahamut, Bahamut adalah ikan raksasa yang menopang fondasi Bumi. Bumi ditopang oleh seekor lembu atau Baqarah. Baqarah berdiri di atas Bahamut. Bahamut berada di dalam mangkuk lautan. Mangkuk lautan ditopang oleh malaikat atau jin.
Kepercayaan eksistensi konsep ini juga terdapat dalam Tradisi Yahudi yakni Talmud dan kitab Taurat.
Hubungan dengan Mitologi Lain, konsep serupa ditemukan dalam mitologi Mesopotamia pada Enuma Elish. Bahamut mirip dengan makhluk mitologi lain seperti Leviathan dalam kepercayaan Yahudi dan Makara dalam kepercayaan Hindu.
Apakah Anda ingin informasi lebih lanjut tentang mitologi Arab atau Zakariya al-Qazwini?' Kata ECHO menjelaskan.
"Mungkin bentuknya aja seperti ikan atau lembu padahal itu benda lain yang ukurannya jauh lebih besar..." Yuna mengurut dagu.
Raka tersenyum manis ketika melihat Yuna berpikir seperti itu. Sayangnya di luar sana sedang ada seorang perempuan yang sedang menunggu Raka pulang, yaitu Renata. Mengingat itu, Raka tersenyum getir.
"Eh, mana Kakak?" Sadar Yuna.
"Nah, itu aku gak tahu, makanya aku duduk di sini! Davos, Yusuf dan Mustafa mengawal para leluhur di pleton mereka masing-masing, nah aku kan ke sini urusannya sama ECHO!" Polos wajah Raka.
"Ada apa?" Muncul asap hitam melayang di atas Yuna.
Muka Raka cemberut, itu pasti Huda dalam kepulan asap sihir.
"Ayo temenin aku mencari leluhur Pancasona!" Ajak Yuna.
"Kalian harus meraga sukma ke ruang dan waktu di masa depan, sebab mereka ada di sana mengintai nasib Nusantara!" Saran Sura Nirwana.
"Baik!" Respon Huda.
Yuna mengangkat dua tangannya dan asap menyambut tangan Yuna. Tubuh Yuna terangkat masuk terhisap ke dalam kepulan asap hitam yang semakin menghilang di udara.
Huda dan Yuna kini saling bergandengan tangan dalam sebuah hutan luas, pohon di sana berukuran besar dan tinggi. Setiap hembusan angin membuat dedauan di dahan pohon-pohon raksasa yang memayungi mereka itu meneteskan gumpalan-gumpalan dingin air embun. Rerumputan di sana juga berdaun besar, seperti kondisi di jaman purba atau jaman dinosaurus sebab semua tanaman rumput berukuran setinggi pohon.
Ketika Huda dan Yuna berjalan mereka menemukan sebuah batu prasasti berbentuk seperti topeng.
"Kulonuwun..." Yuna uluk salam.
Batu itu bergetar dan membuka diri. Ternyata itu adalah sebuah peti, dan isinya kosong.
"Mereka sudah bangkit dari persemdiannya!" Huda menggandeng Yuna, berlari membuat gerbang teleportasi di hadapannya dan mereka melompat masuk ke dalamnya.
Mereka kini berada di sebuah kota modern, sangat canggih, dengan mobil berlalu-lalang melayang tanpa bantuan minyak bumi.
"Itu mereka!" Tunjuk Huda.
Huda berlari menggandeng Yuna, tak jauh di depan mereka ada lima mahluk ghaib jantan berpenampilan sangat herbal. Rambut mereka hijau menjuntai dari sekujur tubuhnya sampai menutupi wajah mereka yang hampir mirip beruk, dengan mata merah menyala bulat dan menyisakan gigi taring putih tajam saja yang mencuat keluar.
"Mbah-mbah Pancasona?!" Tanya Yuna.
"Kenapa busana mereka menakutkan? Apa Dajjal sudah datang?" Tanya salah satunya.
"Baju apa Mbah?" Yuna heran.
Mahluk itu menunjuk ke anak kecil yang memakan es krim, ia mengenakan sebuah topi dan kaos lengan pendek dan celana jeans.
"Kaos?" Yuna memastikan.
"Ini pakaian jika muncul artinya sudah ada Dajjal!"
"Tapi baju seperti ini sudah lama muncul, Mbah."
"Kalau begitu bawa kami ke Dajjal!"
"Mbah mau ngapain?"
"Karena dia leluhur kami yang mau mensejahterakan kami! Kami akan diangkat menjadi sang pencipta, dia akan mewariskan ilmunya kepada kami sehingga kami bisa menciptakan jagat sendiri seperti dia menciptakan jagat baru!"
"Jagat baru apa yang sudah Dajjal buat? Jagat bumi berputar mirip gasing keliling matahari yang juga lari maraton?" Yuna berkacak pinggang.
"Lho! Kok bodoh dia! Mana mungkin Dajjal bikin bumi ini berlari, kita bisa mati! Yang lari itu matahari keliling bumi!"
"Nanti lah Mbah tahu sendiri, sekarang ayo kita temuin Dajjalnya yok! Kalau Mbah mau buktikan!" Ajak Yuna.
Mereka pun kemudian mengangguk setelah saling berpandangan. Dan menuju terowongan interdimensi.
"Lagian, Mbah semua ngapain sih ke Los Angeles?" Penasaran Yuna sambil berjalan digandeng Huda menyusuri terowongan teleportasi ke dimensi virtual situs game Victory.
"Karena di sana ada istana Dajjal, katanya mau meluncurkan kereta tercepat di dunia yang bisa terbang kiling dunia makanya kami mau nonton kesaktiannya..."
"Bentar deh, Mbah-mbah ini lugu banget ya!" Yuna tak habis pikir.
"Emangnya ada apa sih, Cu? Kamu ini cucunya Dari Kediri kan?" Salah satu dari lima jin purba berambut hitam kehijauan dengan kemilau kosmik keemasan itu mendekati Yuna.
"Kalian akan tahu Mbah, sebentar lagi, lihat saja betapa rusaknya moral keturunan Nusantara yang sekarang ini, sampai kita kuwalahan menjaga gerbang ghaib Nusantara yang mau dijebol sama pengikut Dajjal."
"Loh, bagus itu! Biar generasi yang rusak tahu rasanya jadi orang susah! Mereka yang rakus dan pemalas itu! Akan kena pendidikan moral!"
"Jadi Mbah setuju kalau Dajjal jajah Nusantara?" Yuna gemas.
"Lho, lho... Ini kan sudah ketentuannya" bijak si Mbah jin purba.
"Setelah semua orang sakit dan melarat, mereka akan tahu rasanya bersyukur dan tidak lagi hidup sesumbar!" Salah satu jin mendahului langkah Huda dan Yuna.
"Lantas Mbah-mbah ini mau gantiin Allah gitu kalau udah ketemu Dajjal?" Yuna protes.
"Allah?"
"Allah?"
Para jin tua yang sudah bersemadi ribuan tahun itu saling bertukar pandangan.
"Sang hyang widhi, sang hyang maha esa.." jelas Huda.
"Hahahaha.... Ya ya ya... Hm... Biar kupikirin dulu, Nduk!"
"Hmmm...."
"Gantiin peran Sang Hyang Widhi, ya?"
"Hmmm... Emangnya kita bisa kah?"
"Dajjal itu bangun jagat caranya gimana emangnya?"
"Mana ku tahu"
"Mungkin kita kena tipu!"
"Wogh, bocah kemarin sore, kurang ajar!"
Nah mereka berdebat sendiri. Yuna menghela nafas dalam, Huda menepok jidat.
"Bumi tidak pernah berguncang!"
"Langit tidak pernah gelap!"
"Angin tidak pernah mengamuk!"
"Lidah api tidak pernah teriak!"
"Tapi kenapa bencana alam terjadi?"
"Ini artinya...."
"Ya... Dajjal..."
"Ya... Dajjal mengobok-obok alam ini..."
"Kurang ajar!"
"Kurang ajar!"
"Kurang ajar!"
"Mendahului keinginan Sang Hyang Widhi!"
"Tidak bisaa!"
"Tidak boleh!"
"Harus dibumi ratakan!"
"Mati!"
"Mati!"
"Mati!"
Para jin leluhur itu mengambil alih, langkah mereka di depan Yuna dan Huda memasuki dimensi ruang koloseum.
Kini mereka ada di tengah lapangan di koloseum.
Semua mahluk yang tadinya bersorak-sorai menantikan kematian demi kematian dalam pertandingan pembantaian itu kini terdiam. Yuna mengambil langkah ini supaya tidak banyak jumlah jin leluhur yang mati oleh kompetisi ini. Ini adalah salah satu wujud pemberontakan dari asosiasi anti satanis global yang diusung Yuna, meski pun secara satir Huda sebagai co-founder masih berstatus musyrik atau satanis karena memuja Yuna sebagai dewinya.
"Kalian semua! Murid-muridku, kami lima saudara Pancasona! Penjaga gunung, penjaga laut, penjaga langit, penjaga nirwana dan penjaga neraka di Nusantara. Kami! Menolak acara tarung karma ini! Kami menolak! Tidak merestui!" Salah satu yang tertua dari Pancasona bersaudara mengemukakan pendapat sambil tangan kanannya diangkat ke atas.
"Tapi ini sudah memiliki kesepakatan!" Ratu ular dari laut kidul berdiri dari balik kursi megahnya yang berpodium emas, membantah.
"Kau ular pendatang, kalau kami tidak beri kau lahan, kau dan anak cucumu pasti sudah tidak sebanyak ini. Kau ini lah penghianat sesungguhnya! Kau menjual jasamu, kau gadaikan statusmu, mentang-mentang kau ini bukan jin pribumi asli tanah Nusantaraku ini, bukan lantas itu artinya kau mampu mengatur hukum di negeri ini setelah sekutu asing yang kau bawa bisa memenangkan tarung karma ini!" Tegas leluhur Pancasona.
Jin setengah ular hijau itu hanya bisa mendesis dan melotot terbisu. Namun sosok berkumis putih dan berjenggot putih pendek dengan topi hitam yang duduk di sampingnya menyodorkan kertas ke wanita ular bermahkota emas itu. Mendesak perjanjian yang sudah disepakati bersama dengan Eyang Semar.
"Lihat ini!" Wanita berambut hitam panjang dengan rangkaian bunga melati menghiasinya itu menunjukkan secarik kertas tinggi-tinggi.
"Eyang Bathara Semar sendiri sudah setuju dengan adanya tarung karma ini!" Katanya sambil melotot.
"Kami beri kesempatan kalian bisa injak Nusantara ini hanya dalam waktu satu tahun! Setelah itu kalian akan kami usir dari Nusantara!" Gengam kepalan tangan para leluhur Pancasona.
"Brahma! Atman! Karma! Dharma! Moksha!"
"Brahma! Atman! Karma! Dharma! Moksha!"
Sorak para mahluk ghaib setelah ikrar itu dikemukakan, mereka meneriakkan lima dasar ajaran Pancasona.
Karena merasa mantra Pancasona berenergi sakti dengan energi budhi bekti yang kuat, para jin dari laut merah dan segitiga bermuda akhirnya mundur pulang ke kampung halaman.
Menyisakan ratu ular dari laut selatan yang memicingkan matanya.
"Apa... Kau memang lah mahluk yang ditugaskan membuka gerbang neraka Mahameru untuk melepas pecahan sukma Dajjal yang terbesar... Tapi kan bukan sekarang jadwalnya, Nduk!" Salah satu jin Pancasona berkacak pinggang.
Ratu ular itu mendengus kesal lalu menggeliat keluar koloseum dengan menyobek secarik kertas yang tadinya di tandatangani oleh Eyang Semar.
Tidak lama kemudian, datang lah kereta kencana dari atas, ditarik oleh kuda-kuda hitam. Kereta kencana itu menurunkan para pengawal berseragam kerajaan Nusantara kuno dan mereka memegang tombak pisau tajam.
Setelah para pasukan dari kereta kencana itu berbaris, turun lah seorang pria pendek, punggungnya memiliki punuk, lehernya pendek, rambutnya cepak berwarna hitam. Mukanya sebulat bulan purnama. Hidungnya pesek namun ujungnya jatuh ke bawah agak lebar. Bibirnya tipis dan pipinya rata. Perutnya besar namun tidak buncit menonjol, dia mengenakan kemeja sutera berwarna putih seputih melati teh. Memakai jarik yang menyampuli celana hitam selututnya.
Pria itu adalah Eyang Bathara Semar, dia berjalan mendekati Yuna dan merangkulnya pelan.
"Maturnuwun, sudah membantuku.." singkatnya.
Lalu pria berwibawa itu melepas Yuna dan kembali menuju kereta kencananya. Dia kembali ke kahyangan bersama para pengawalnya.
"Wis, ngono thok, ra onok sangune? (Udah gitu doank ga ada pesangonnya?)" kata salah satu Eyang Pancasona.
Yuna merasa ada yang aneh, dia membuka tangan kananya yang mengepal. Yuna mengangkat tangan itu dan membukanya. Yuna takjub dengan apa yang ia lihat.
Sebuah cincin emas berbentuk bunga mawar, hadiah Eyang Semar untuk Yuna.
Dengan berakhirnya pertarungan di dimensi virtual situs game online Victory. Menandakan sistem ghaib mulai berjalan. Dan.. kejadian-kejadian sesuai dengan diskusi selama ini pun terjadi...
Apa saja itu???....
84
Comments
Post a Comment