Bab 24 Yuna di Pandemi 2019
Pada bulan Desember dua ribu empat belas, akhirnya seunit pesawat benar-benar jatuh. Pesawat itu jatuh di Laut Jawa dan seluruh penumpang yang berjumlah seratus enam dua dan awak pesawat di dalam pesawat tersebut tewas dalam kecelakaan ini.
Tim asosiasi Neverland dua satu tidak berkutik, meski pun rumor tentang acara penumbalan ini sudah lama diantisipasi tetapi karena kuasa pihak kerajaan ular di laut kidul mengerang-erang, akhirnya mereka meminta tumbal sebanyak itu. Mereka tidak mau projek misi mereka dengan para orang sipit gagal.
Naasnya, ketika tahun dua ribu lima belas menembus. Admin Theta dengan alat ORX.ORC-nya mempraktekan pencegahan aksi geoengineering. Namun hal itu membuat geram, ilmuwan di pihak LV membabi buta di tahun dua ribu enam belas dengan menguji alat baru yang susah ditembus oleh ORX.ORC. Akibatnya banyak bencana alam yang terjadi di tahun itu.
Di tahun dua ribu lima belas, Huda, Davos, Mustafa, Yusuf dan Harun mulai fokus mengurus penangkapan khodam kafir di badan para anggota teroris. Sejak saat itu banyak anggota teroris mulai tertangkap di dunia nyata.
Sampai tiba lah di tahun dua ribu tujuh belas, raja Arab datang ke Indonesia sebab merasakan ada gebrakan menggetarakan bulu roma yang dibawa orang-orang Indonesia. Dia sepertinya datang untuk membicarakan sebuah strategi pertahanan ekonomi antara Arab dengan Indonesia setelah agenda pandemi akan dilaksanakan nantinya. Mengetahui hal ini bisa mengancam kelancaran rencana ordo tatanan dunia yang baru.
Penguasa kerajaan laut selatan membuka gerbang ghaib kerajaannya dan membiarkan satanis memanggil Leviathan. Tsunami pun terjadi di salah satu selat selatan pulau Jawa di tahun dua ribu delapan belas. Sebagai bentuk ancaman agar Indonesia tidak overwhelmed dalam bertindak sesuatu ketika agenda pembukaan sistem normalisasi baru dunia fase ke tiga segera akan di mulai.
Dan benar saja, tahun dua ribu sembilan belas, pandemi virus terjadi secara serempak di seluruh negara yang ada di dunia termasuk Indonesia. Namun selama kejadian itu, warga Indonesia tidak tinggal diam.
Turunnya pasukan dari Elies berupa kelompok Red Witch yang menyamar menjadi pasukan messiah mulai mempengaruhi banyak utusan Andromeda yang menjalankan misi di bumi. Hari ini di alam ghaib, Rave, sesosok jin parakosmik tidak sengaja bertemu dengan Hellen, sepupunya Adwin, dia sedang meraga sukma, ia melarikan diri dari pengejaran black witch hingga tersesat di hutan Andromeda.
"Kamu peri?" Hellen shocked dengan penampilan Rave yang berbeda dengan manusia lainnya dan tubuhnya juga berkulit putih seperti kapur.
"Iya, aku dari negeri peri dibawah gerbang kerajaan bidadari, aku kabur ke sini karena kerajaanku diinvasi Konsilian Konsilia. Kenapa kamu bisa sampai di hutan ini?" tanya Rave.
"Karena ibu asuh periku mengatakan kepadaku kalau aku harus ikut dia bertemu pasukan berambut perak, padahal aku takut dengan mereka. Mereka itu memiliki mata yang terlihat tajam, dan setiap aku melihat mata mereka di kejauhan, aku merasa mereka menyembunyikan kejahatan," Hellen memegangi bajunya kuat-kuat, badannya sudah kumal dan aroma rambutnya menyengat.
Sepertinya dia sudah beberapa hari ini berlari dengan kucuran keringat dan perut lapar.
"Sebaiknya kau tidak percaya kepada semua utusan yang mengaku sebagai ibu peri di bumi karena kabut fatamorgana mulai membius pikiran mereka," Rave menitikkan air mata, seketika teman-teman perinya yang berbadan kecil berdatangan dan mengerumuninya untuk membuat Rave tertawa.
Karena bila Rave sedih maka aura kesedihan akan keluar dari tubuh Rave dan mendatangkan angin badai, Rave adalah peri angin yang berhembus ketika melihat seorang manusia beriman sedang bersedih.
"Jangan sedih lagi" Hellen tersenyum.
"...." Rave tersenyum tipis.
"Dunia ini akan baik-baik saja, aku berharap aku bisa mati lebih cepat, atau bila tidak aku harus memenangkan peperangan ini," Hellen mengepalkan tangannya sambil melihat ke bawah awan.
Dibawah sana hanya terlihat kumpulan kabut, kota tempatnya kabur tidak bisa dilihat karena ketebalan kabut itu merata menutupi daratan bumi di dimensi ke lima. Paris terjamah pandemi virus korona, semua jin di dimensi lima pun menjerit kesakitan.
"Manusia benar-benar harus bersatu melawan Elies, bahkan bila jutaan ratus peri turun ke bumi, mereka akan tetap kalah karena tidak adanya keinginan memusuhi Elies" jelas Rave.
"Kakak peri.. aku ingin bertanya kepadamu..
kenapa bangsa peri memutuskan ikut berperang melawan Elies bersama manusia?" gadis berambut ikal hitam itu berbinar-binar.
"Karena Elies tidak hanya ingin menjadi tuhan bagi manusia tetapi juga tuhan bagi peri," Rave mengusap mukanya pelan kemudian merangkul Hellen untuk berjalan ke arah yang sangat jauh dengan melesat menggunakan kekuatan kosmik.
Rave meninggalkan Hellen di sebuah hutan yang lebih aman dan masih ditumbuhi pohon rindang, hutan itu ada diatas kutub selatan. Namun dibawah hutan itu ada dunia yang lebih mengerikan dari negara milik ras manusia. Di bawahnya ada kota-kota yang dijadikan markas peperangan milik bangsa pemusnah Elies, peri dan manusia.
"Jangan pernah turun dari hutan ini, tinggal lah di sini, mereka di bawah sana tidak akan bisa menjangkau hutan ini, pergilah terus ke arah timur dan temukan kerajaan militer peri dan berlatih lah di sana," ucap Rave sebelum meninggalkan Hellen di hutan yang terdapat pohon buah-buahan, sendirian.
Kondisi bumi di dimensi ghaib betul-betul mengenaskan selama pandemi, banyak kabut panas.
Dengan santai Huda dan Yuna yang sudah bertemu kembali di alam ghaib dengan meraga sukma memulai perjalanan mereka mengarungi portal dimensi menuju negara ke empat yang menjadi mercusuar dunia.
Kali ini mereka tidak membawa perlengkapan senjata tetapi hanya beberapa berkas dokumen perjanjian yang akan mereka demonstrasikan ke beberapa lembaga Elies.
Perjanjian itu berisi mengenai upaya pembebasan lahan yang akan digunakan penduduk ghaib peri kayangan di langit Nusantara untuk berkemah di bumi. Semua mulai merapatkan barisan untuk membebaskan hutan kayangan dari penjajahan pasukan Black Witch yang mulai ramai merusak lahan perkebunan mahluk kosmik udara. Bahkan yang benar saja, leluhur kini betul-betul meninggalkan puncak Semeru.
Dengan sangat terpaksa Huda dan Yuna yang bertugas bersama kawanan pasukan Andromeda, mereka harus menyebar luaskan iklan pembebasan lahan tersebut agar warga kayangan bisa lewat ke lahan perkemahan dengan selamat. Memang benar Huda dan Yuna adalah salah satu dari sekian banyak anggota yang saat ini bertugas, untuk itu kisah kali ini akan menceritakan tentang mereka dan tokoh lain selain Huda dan Yuna diramgkun dalam chapter lain.
Dalam chapter ini kita bisa menyaksikan sudut pandang pengalaman Huda dan Yuna yang bertugas di barisan Phoenix Neverland.
Black Witch yang berangkat menggunakan UFO dari neraka, mereka mulai seenaknya membakar hutan kerajaan kayangan yang menjadi jalan para peri untuk menuju bumi sehingga banyak terjadi ketidak seimbangan angin dan hujan. Kerajaan langit hanya menurunkan hujan tetapi Black Witch yang menggiring angin menggunakan gelombang GWEN mengonar, di tempat lain hal itu menyebabkan hawa depresi bersebaran karena suhu bumi yang panas semakin terkumpul di daratan. Manusia menjadi semakin susah membedakan antara halusinasi dan kenyataan, jiwa-jiwa yang sakit bertambah dan banyak manusia terhipnotis fatamorgana. Suasana kerajaan bumi pun semakin kacau karena pemerintah mulai kepayahan melawan kabut halusinasi.
Karena itu perjuangan menyebarkan brosur dan dokumen negosiasi kepada perusahaan-perusaan Elies bersama kawan-kawan asosiasi Neverland dua satu menjadi tidak mudah.
Sore ini di dimensi ke lima, Yuna sudah ada di sebuah kafe di sebuah kota yang ada di negara Mercusuar ke empat. Didalam kafe itu Yuna mendapatkan kupon gratis membaca buku-buku yang dipajang di rak kafe karena memborong banyak cup kopi bersama delapan utusan yang juga berangkat dari Andromeda. Langsung saja Yuna menuju rak buku dan mengambil buku-buku yang berjudul "pasukan bulan Elies".
Tetapi ternyata beberapa halaman buku yang ia pinjam sudah disobek dan ada beberapanya digunting.
"Mencurigakan," batin Yuna.
Antara dua hal, yakni sudah ada utusan Andromeda yang datang dan diam-diam mengambilnya untuk menjadi bahan informasi, tetapi ada juga kemungkinan pemilik kafe sendiri yang melakukannya agar pembaca tidak mengetahui informasi yang ada di dalamnya.
Sayang sekali, delapan utusan yang datang bersama Yuna kini mulai terserang halusinasi karena tidak kuat menahan hawa udara bumi yang semakin panas.
Yuna pun kini terduduk bengong di kursi kafe yang terletak di balkon sambil melihati kabut tebal yang menyelimuti sekitar, bahkan cahaya matahari tak bisa menembusnya.
Yuna menjadi kebingungan mencari cara bagaimana caranya menyadarkan delapan temannya yang sedang asyik berselfie dengan kamera mereka dan melupakan apa yang menjadi misi mereka seharusnya akibat sudah terserang fatamorgana.
Akhirnya Yuna menekan beberapa nomor di ponselnya untuk menghubungi Huda.
'Ada apa? aku masih sibuk,'ucap Huda terdengar setelah telepon tersambung.
"Teman-temanku terserang halusinasi," sahut Yuna.
'Teman-temanku juga sekarat di lantai, mereka semua pingsan,'' jawab Huda.
."Astaga, lalu bagaimana ini?" Yuna meletakkan kepalanya ke meja karena mulai terasa berat, nafasnya mulai sesak dan kepalanya menjadi pening.
'Sebaiknya kau kembali ke rumah,' Huda terdengar menghembuskan nafas dengan kuat setelah mengatakan itu.
"Kau ok?" Yuna mulai memejamkan mata.
'Sebaiknya kita bawa mereka semua pulang,' Huda kemudian mematikan telepon.
Dengan sangat terpaksa Yuna mengeluarkan granat yang dia simpan di tas, itu adalah perlengkapan misi yang dia bawa dari markas sebelum berangkat.
Untuk persiapan bila gagal dalam misi.
Yuna membanting granat itu ke lantai.
"BLAAR!!" granat itu pun meledak dengan cahaya kehijauan.
"SSP!" dengan sekejap Yuna kini berada di rumah.
Begitu berat misi ini. Banyak intrik, tetapi intinya Huda dan Yuna termasuk ke dalam daftar pasukan yang gagal, kelanjutannya masih misteri. Yang jelas, sebentar lagi akan ada armada militer besar-besaran dari kerajaan kayangan yang akan di kirim ke bumi untuk menumpas kabut panas yang menguap dari bumi karena ketiadaan hujan di waktu yang sudah lama berselang.
Di dalam asosiasi, tidak lama berselang, muncul kiriman pembahasan dari Hellen dan Pierre mulai membahas istilah Mark of the Beast, mereka mengatakan setelah adanya pandemi ini. Siapa pun yang percaya dan mematuhi protokol artinya mendapatkan tanda ini melalui vaksinasi, itu menunjukkan keimanan mereka sudah tidak utuh lagi sebab tidak melawan pemberian Mark of the Beast.
Di sisi lain, Mustafa dan Yusuf meraga sukma untuk menyusuri sebuah wilayah. Di tengah suasana remang karena langit yang kemerahan tiba-tiba menjadi gelap dan muncul beberapa ekor naga ular berwarna hitam dan di kepalanya memiliki mahkota, itu adalah naga dari negara laut selatan yang berjulukan the Minerva, yang diternak oleh Alice.
Seperti yang pernah kita bahas di chapter sebelumnya. Alice adalah belahan dari jiwanya sang Lord (kalau di kita itu sebutan Dajjal the antichrist). Maka sebenarnya Lord dan Alice itu adalah dua jiwa terpisah dan bisa menyatu kedalam satu raga yang sama.
“Ngapain mereka ke sini” Mustafa berlari menjauhi pleton pasukannya dan mencari tahu kemana hewan-hewan itu menuju.
Terlihat lah banyak orang menggunakan pakaian kerajaan ala Lemuria sedang melakukan sebuah ritual, mereka mengenakan busana keemasan dan bermahkota emas pula.
“Anda memasuki kawasan kami”
“Hah!!?” Mustafa mendengar suara pria maka ia sontak menoleh ke belakang.
Ternyata dua pria penyihir hitam berseragam jas hitam, Mustafa dan Yusuf dibawa pergi menjauhi tempat itu. Yusuf bergegas pulang ke markas dan menghubungi Davos yang pertugas di markas sebagai pengumpul berkas dari data lapangan sehari-hari.
“Aku melihat naga hitam! Auranya hijau dan mereka mengenakan mahkota hitam, tapi kemudian menjadi biru…” Yusuf tergesa melaporkan datanya sedetail mungkin.
“Lagi? Naga hitam? Tapi bermahkota?” Davos lekas-lekas mencatat apa yang diucapkan Yusuf sambil menyalakan perekam suara sebagai bukti otentik kesaksian di meja sidang.
“Iya, dan naga itu mungkin saja dikendarai, pokoknya ada orang-orang memakai baju adat lemuria berwarna keemasan, mereka mengucapkan mantra-mantra dan dikawal oleh pasukan Alice, mereka berseragam jas hitam” Rini menambahkan laporannya.
“Bukan pasukan militer ya… Baiklah terima kasih, akan aku laporkan ke pengolah data” Davos terburu-buru menuju ruang pengolah data.
Di sana lah Andara menunggu dengan semua berkasnya, Yusuf pun kembali ke Neverland untuk beristirahat kemudian pulang ke rumahnya untuk menemui keluarganya.
“Hah! Naga lagi, jadi ini bukan Naga milik kerajaan ghaib dari Cina, ini milik elite satanis…” Andara membaca laporan terbaru hari ini yang dibawa oleh Davos. Akhir-akhir ini banyak naga hitam berkeliaran dari kerajaan Iblis.
“….” Davos mengangguk pelan.
“Ini artinya, elite satanis sedang mempengaruhi beberapa keturunan yang tersisa dari kerajaan manusia, peperangan besar bisa terjadi antara keturunan kerajaan manusia dengan para keturunan Rahib kerajaan di langit, ini bisa gawat bila para jinketurunan Konsilian Konsilia yang menjelma menjadi leluhur manusia itu bisa mencuci otak manusia agar percaya bahwa mereka adalah leluhur yang asli.” Andara mengurut dahu.
“Memangnya pesan apa kira-kira dalam program pencucian otak itu?” Davos ikut penasaran, ia tidak pernah mengurusi data yang sudah diolah.
Andara meraih selembar data di antara tumpukan data yang ada di mejanya kemudian membacakan data yang tertera darinya, “Mereka para keturunan rahib kerajaan langit lah yang memicu alasan kenapa kerajaan iblis akhirnya memusuhi kerajaan manusia, untuk itu sebaiknya para keturunan rahib di kerajaan langit dihapuskan dari muka bumi ini, sebab bumi ini adalah tempat tinggal bangsa iblis dan manusia, bukan bangsa kerajaan langit, mereka seharusnya di kerajaan kahyangan bersama para peri dan bidadari lainnya”.
"Oh, maksudmu para Kyai? Dan alim ulama? Mereka diwafatkan ketika pandemi ini? Itu cara Allah mencabut ilmu dari akhir orang-orang di jaman!" Davos menyimpulkan.
Andara menyodorkan lembaran itu kepada Davos untuk dibacanya sendiri agar lebih jelas.
“Data ini ku terima dari seseorang yang melaporkan tentang ditemukannya sebuah prasasti di sebuah Negara bernama Afrika” Andara menyambung.
“Dan mahkota naga itu adalah tempat jin-jin merah keturunan Konsilian Konsilia membawa energi penyembuhan atau booster energy di bumi yang berhasil mereka serap ke dalamnya, mereka mencurinya dan memasukkannya ke mahkota itu,” Andara.
“Jadi itu toples energi?” Davos.
“Ya, itu tempat penampung energi yang sudah mereka colong, energi itu dari manusia atau alam sekitar, makanya banyak orang lemas, sudah dunia berkabut, beracun, energy disedot terus, mau jadi apa bangsa manusia itu,” Andara menggaruk kepala kemudian kembali menghadap meja kerjanya.
“Awalnya, mahkota itu hitam, menjadi biru, biru itu energi apa?” Davos penasaran.
“Biru itu… energi healing yang terkumpul, satu orang yang memiliki energi penyembuh, auranya berwarna hijau, bila banyak healing power yang menyatu, warna hijau itu akan membiru karena semakin panas, sekarang banyak manusia melakukan self healing, tapi energi mereka di sisi lain, dicuri tanpa mereka sadari” Andara menginput data dari Yusuf ke komputernya.
“Ya ampun, terkutuk lah Konsilian Konsilia yang mau melakukan itu,” Davos meletakkan lembaran tentang pernyataan Alice kepada manusia kembali ke mejanya kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Andara.
Di sisi lain...
Di suatu pagi Mustafa menghubungi Aditya, yang kini menjadi adik kelasnya di asrama militer ghaib milik asosisi Neverland dua satu.
"Dek! Nih!"
"Bruk!!"
Mustafa meletakkan banyak tumpukkan laporan data di meja kerja Aditya, semakin banyak lah pekerjaan yang harus Aditya selesaikan segera.
Aditya menepuk jidat sambil menghela nafas.
"Apa yang aku takutkan adalah, bila aku kurang konsentrasi maka hancur lah semua data ini dan aku bisa kena marah di sana di sini" Aditya pasang muka flat.
"Iya, Dek." Mustafa mengambil kursi kemudian duduk di samping Aditya.
"Ada apa?" Aditya menyandarkan diri ke kursi, menyalakan rokok dan menghisapnya pelan-pelan.
"Itu daftar orang-orang yang aku tolong, aku hanya mampu mengingat tiga korban yang berhasil aku evakuasi, sisanya aku tidak ingat dan ternyata ada sebanyak ini," Mustafa mengelap muka dengan tangannya.
"Buk!" Mustafa menepuk berkasnya yang tinggi bertumpuk rapi.
"Biar aku lihat..." Aditya mengambil lembar jilidan paling atas, artinya korban terahir yang berhasil Mustafa evakuasi.
"Wah, ini seorang letnan" Aditya melihat seragam yang dikenakan oleh pria itu.
"Letnan?" Mustafa mengangkat kedua alisnya.
"Iya, dia memimpin pasukan di khayangan Amrik," Aditya membaca datanya satu persatu.
Letnan itu bernama Bri'el, dia memimpin pasukan starseed Andromeda di atas bumi Amrik tetapi semenjak kepulan kabut hitam bervirus mulai menguap lebih tinggi dan membawa hawa panas ke hutan khayangan tempat markasnya berada, hal itu membuat pasukannya sedikit demi sedikit sakit, kemudian pasukan Alice Force menyerang dan meratakan markas mereka.
Kejadian itu baru-baru ini, di dmensi empat pun, Amrik kehilangan banyak warganya bahkan tercatat paling banyak diantara negara lain di bumi.
Akhirnya zona tempat Bri'el memimpin diperiksa apakah di sana masih ada kehidupan, ternyata sore kemarin Mustafa menerima tugas untuk menyisir area tersebut dan menyelamatkan Bri'el keluar dari hutan.
"Jadi?" Mustafa.
"Mungkin selesai ini, kamu akan mendapatkan lecana, selamat ya!" Aditya tersenyum mengembang dan bangga dengan apa yang telah Mustafa kerjakan dengan sangat baik.
"....." Mustafa berdebar, hatinya gusar.
Ia mengingat suasana di hutan tempat markas pasukan Neverland dua satu dipenuhi oleh mayat para pasukan peri yang berjuang untuk mengembalikan pasukan Alice ke kerajaan iblis, itu semua membuatnya terharu.
"Aku merasa tidak pantas, karena datang di saat mereka sudah tewas dalam peperangan dan numpang berprestasi hanya karena bisa mengevakuasi komandan mereka" Mustafa mengingat jumlah mayat di sana, sangat banyak.
"Mereka, Abang wakilkan, emang orang mati bisa mengenakan medali? lagi pula, mereka akan tetap hidup di hati Letnan Bri'el, tenang saja" Aditya kembali bekerja, ia tersenyum tipis.
"Aku masih pusing, kabut hitam itu bikin aku amnesia dan nyeri seluruh badanku," Mustafa bangkit dari kursi.
"Sama, aku juga, semoga ini adalah hal terbaik yang pernah kita kerjakan, dari pada hanya mengeluh dan mengumpat, bukankah ini menenangkan.. sebenarnya..." Aditya menerawang.
"...?" Mustafa.
"Kehilangan dan susah itu, bikin kita semakin dewasa dan belajar tenang di kondisi apapun, dan bila melihat orang sedang sok tahu di depan kita, kita bisa ikut tertawa bersamanya, dia mentertawakan kita yang baginya bodoh, kita mentertawakan dia yang bagi kita dia itu tidak tahu bahwa ia sendiri akan bunuh diri, hehe," Aditya teringat tentang sesuatu yang pernah ia alami di dimensi ke empat, ketika ia ditertawakan temannya yang mulai berhalusinasi karena terkena kabut hitam, tetapi menolak untuk diobati dan mulai mengumpat-umpat pemerintah yang terkesan ingin membunuh rakyatnya.
"Hehehe" Mustafa banyak kehilangan, telah ia alami juga selama berusaha menolong orang lain, ia adalah salah satu anggota asosiasi yang dj tugaskan mengembalikan sukma setiap orang yang koma ketika mengalami penderitaan sakit terjangkit virus korona tetapi ia tidak kenal menyerah.
Kini keduanya tertawa, mentertawakan nasib mereka sendiri yang rumit di dimensi lima.
Di tengah pertarungan yang menuntut semua orang di asosiasi Neverland dua satu supaya melakukan meraga sukma untuk membunuh jin sesat yang mengantarkan bibit penyakit ke tubuh tokoh-tokoh penting penggerak kesadaran di Nusantara.
Yuna mendapatkan kabar duka dari kampung halaman. Ibunya menelpon kakak Yuna untuk mengabarkan kondisi ayahnya yang mendadak dirawat inap, ayahnya sedang melawan kritis setelah ditemukan muntah darah dan terkulai di lantai. Mendengar kabar ini, kakak kandung Yuna dan abang ipar Yuna panik. Mereka mencari cara supaya bisa berangkat sekeluarga lengkap yang berisikan sembilan orang saat itu juga menggunakan perjalanan via udara. Dan dalam kondisi Locked Down, di mana semua orang dilarang bepergian, biaya penerbangan menjadi sangat mahal.
Huda mendengar kabar tentang ayahnya ini dari Yuna ketika ia baru menyelesaikan sholat Isya', hatinya benar-benar tertusuk jangkar tajam. Mata Huda bergetar, dia menjatuhkan gawainya ke sajadah dan langsung bersujud dengan erangan tangis.
"Ada apa, Anakku?!" Maryam berlari menghampiri.
"Ayah, sedang menghadapi kritis di rumah sakit, Bu!" Jerit Huda menggapai bahu ibunya dan memeluknya selayaknya lumpuh seketika.
Maryam langsung menutup mulut dengan tangannya dan meneteskan air mata pedih, antara rindu dan sesal karena tidak menemuinya bersama Huda jauh-jauh hari sebab keberaniannya sangat lah kecil untuk mengusik kehidupan pria yang sebagai bapak kandung jabang bayi yang ia kandung dan lahirkan dulu.
"Bagaimana ini Ibu? Dia di rumah sakit Sentosa, aku ingin menemuinya, Bu!" Mohon Huda sambil mengguncang bahu ibunya.
"Ayo, ayo kita ke sana!" Maryam berdiri tanpa pikir panjang.
Mereka meninggalkan rumah dengan kondisi terkunci. Huda tidak bisa berpikir jernih lagi, dia melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat dia dan Yuna dulu dilahirkan.
Setibanya di sana, Huda ke resepsionis dan menanyakan ruangan tempat Herman dirawat inap. Namun ternyata kondisi Herman mengenaskan, dia terbengkalai di koridor bersama keluarganya.
"Assalamu alaikum!" Huda mendekati seorang wanita tua dan pemuda yang sepertinya pernah dia lihat. Di kejauhan mereka menunggui seorang pria yang tergeletak di atas ranjang beroda.
"Waalaikum salam!" Wanita tua berjilbab panjang itu menangis sambil berusaha menjawab semampunya.
"Loh kok ga di kamar?!" Huda menangis, tidak terima, sambil melihat kondisi Herman yang berperut bengkak mengembang, mukanya menghitam, mulutnya terbuka, lemas tak berdaya. Tangannya meraba-raba dengan lembut pria lemah tak berdaya itu, dia sangat memahami kejinya rasa sakit yang menyiksa tubuh seseorang sebab ia pernah mengalami kondisi itu dulu.
"Begini lah pelayanan kalau memakai kartu dari orang berdasi... Kami dianggap bukan manusia!" Seru pemuda itu dengan alis bertautan dan muka merah, dia adalah Devan adik kandung Yuna.
Maryam tak berani mendekat, dia berdiri kaku di kejauhan mengamati pria yang pernah dia puji parasnya itu. Berdesir-desir ombak nyeri dalam dada Maryam, sambil dilihatnya Huda berjalan kembali ke resepsionis dan membanting kartu ATM ke meda. Terlihat muka ganas Huda berkata ke petugas di balik meja itu sampai akhirnya petugas itu menggesek kartu tadi ke mesin transaksi.
Beberapa perawat lalu muncul membawa pria malang itu masuk ke ruang perawatan yang tidak seberapa lengkap peralatannya. Huda dan Maryam memperkenalkan diri sebagai kerabat jauh pria itu karena tidak memungkinkan untuk berterus terang saat ini, ditambah lagi, ini adalah permintaan Suherman supaya semuanya tetap menjadi rahasia. Namun sayangnya ketika subuh menjelang, nyawa pria itu tidak tertolong. Suherman bahkan tidak mendapatkan kesempatan menguraikan segala rahasianya ke keluarga.
Mendengar kabar ini dari dokter, Huda dan Devan menjotos tembok rumah sakit secara bersamaan.
"Duas!" Mereka sama-sama tertunduk.
Maryam mengusap punggung ibu Yuna sambil menitikkan air mana belasungkawa yang mendalam.
Dan pukul tujuh pagi, Yuna dan keluarga kakaknya menginjak tanah di bandara Sukarno Hatta, Jakarta, karena tiket yang kakaknya dapatkan tidak ada yang langsung ke Juanda, Surabaya. Proses pembelian tiket selanjutnya sangat rumit, mereka menunggu sangat lama. Sampai Yuna tertidur, dan ketika bangun, ia melihat sang kakak menangis tersedu-sedu.
"Kenapa, Mba?" Yuna mendekatinya.
"Ayah sudah ga ada, Dek..." Katanya sambil berguncang bahu oleh kesedihan dan rasa tidak percaya.
Yuna berjalan guntai, mencari tempat duduk karena kursinya sudah ditempati orang lain, ia sedikit jauh dari semua orang dan membuang muka.
"Rasanya kenapa aku tidak bersedih? Apa karena aku tidak melihatnya secara langsung ketika melewati masa sulit terakhirnya? Sudah lah... Aku pasti masih bisa bertemu dia di alam lain.." hibur Yuna yang merasa ayahnya sedang sekedar pergi merantau jauh tanpa pamit.
Yuna dan keluarga kakaknya akhirnya bisa mendapatkan tiket pesawat dadakan yang berangkat pukul dua belas siang. Mereka tiba di Kediri pukul tujuh malam.
Setibanya di depan halaman rumah, Devan meninju muka Yuna tanpa kata-kata. Yuna berjalan ke dapur dan menangis. Dia merasakan qarin ayahnya masih ada di sana. Yuna menangis meminta maaf dan berjanji akan menjadi anak yang sholeh, senantiasa berbakti kepada orang tua. Alasan kenapa Devan menonjok muka kakaknya itu tidak pernah terjawab sampai sekarang. Yuna bungkam mulut dan hanya berdiam diri di rumah.
Beberapa hari setelah kondisi berkabung mereda, kakak Yuna meninggalkanya di rumah ibunya. Kakak Yuna sekeluarga kembali ke pulau Sumatra. Dan dalam kondisi terpuruk, Devan mendesak Yuna untuk menikah.
Yuna menghubungi Huda, dia membahas masalah ini namun suasana justru semakin keruh. Huda mengancam bahwa dia akan melakukan bunuh diri jika Yuna menikah. Akhirnya Yuna melarikan diri dari Huda, dia diam-diam melamar pekerjaan yang bertempat jauh dari rumah dan tinggal di sana. Huda mencari-cari di mana Yuna berada namun karena Yuna memiliki ilmu menghilangkan jejak, maka keberadaannya tidak bisa dideteksi oleh Huda.
Tahun ini rasanya adalah tahun paling buruk. Ketika setiap orang di Asosiasi berkemelut dalam misi perang, Yuna justru tidak pernah muncul lagi sebagai founder. Dia fokus bekerja dan mendapatkan kenalan seorang pria. Pria ini mengaku sebagai duda, dan jalan bareng Yuna beberapa kali karena naksir. Singkat kata, pria ini melamar Yuna.
Yuna membawa pria ini ke rumah dan memperkenalkannya kepada keluarga namun ibu Yuna tidak setuju. Sangat berbeda dengan Devan, dia sangat ingin supaya Yuna sesegera mungkin menikah. Devan mendesak Yuna agar mempercepat proses akad nikah. Namun pria bernama Leon ini mengaku belum punya cukup uang.
Devan akhirnya membawa mereka ke seorang penghulu dan memaksa mereka nikah secara sirri. Dan dimulai lah kesengsaraan Yuna secara bertubi-tubi. Di sisi lain, mendengar kabar sang dewi sudah menikah dengan orang lain, Huda menyendiri di kamar dengan muka kusam. Dia linglung dan sudah malas mandi, dia bahkan seperti kehilangan kesadarannya. Maryam begitu syok ketika mendengar segala pengakuan tergelap Huda atas perasaannya kepada sang adik.
Rasanya Maryam bisa gila, karena Huda terus bergumam kalimat yang bukan-bukan, "Yang, aku kangen... Ayo bikin dede... Yang... Aku kangen banget sama kamu... Lihat nih, aku udah ga bisa ngacung lagi kan jadinya.." sambil melamun.
"Astaghfirullah!!"...." Jerit Maryam sambil kedua tangannya memegangi kepala dengan bersimpuh di lantai di depan Huda yang duduk sambil tertawa tapi juga campur menangis.
Mau bawa anak semata wayangnya berobat kemana? Malu! Pikir Maryam.
Huda tiba-tiba saja bangkit dan berlari seperti harimau lepas. Maryam panik mengejar pontang-panting kebingungan, betapa gawatnya jika Huda berlari ke jalanan. Rupanya Huda merangkak naik, dia memanjat atap rumah sambil tertawa terbahak-bahak.
Huda memegang tongkat di setiap tangannya, mengangkatnya ke udara dan mendongak ke langit yang tengah diguyur terik mentari siang bolong sambil berkata, "Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong..
Dos pundi Lur Kahanan Wulan Ngajeng kinten-kinten sangsoyo Peteng napa sampun Sumilak?!" selayaknya seorang dalang wayang kulit.
"Astaghfirullah!!" Maryam mendongak melihat anaknya semakin menjadi-jadi. Dia bingung mau ngapain, tidak ada sesiapa pun di sekitarnya saat ini.
Sementara di sisi lain...
"Tenang, anakmu nanti tidak akan pernah kelaparan! Kami setiap tahun panen padi..." Rayu ibunya Leon kepada ibu Yuna sambil tersenyum ramah.
"Lihat, rumahnya sudah mau dibangun besok, itu batu batanya sudah ada, pasir sudah ada..." Lanjut ibu Leon menunjuk ke samping rumahnya.
"Alhamdulillah, Bu. Kalau memang itu yang terbaik... Semoga memang jodoh, saya harap Nak Leon cepat bisa menikahi anak saya secara sah di kantor agama negara ya!" Pinta ibu Yuna.
"Aman... Aman..." Senyum Ibu Leon.
Namun siapa sangka bahwa itu hanyalah tipu daya, Yuna belum menyadari tujuan ibu Leon sebenarnya. Bahaya di masa depan sedang nyata mengancamnya. Apa kah itu? Lantas bagaimana dengan nasib pada rekan di Asosiasi Neverland dua satu yang terbengkalai?
(Sepertinya peninjauan bab 80 akan long lasting, author tidak tahu kapan bab ini akan dilepaskan untuk bernafas di daftar list bab, makanya author coba rewrite di sini supaya ada koherensi cerita, author harap para pembaca tersayang juga sedikit lega, bab 80 berisi tiga ribu kosa kata dan akan saya ringkas di sini:
Huda, Davos dan Raka dibantu oleh Adwin, Mustafa dan Yusuf, mereka menciptakan lahan markas ghaib milik asosiasi neverland 21, di sini author membeberkan metode yang bisa dipraktekan secara real bagaimana membuat rumah ghaib di dimensi ke lima dalam dunia digital, seru sebenarnya novel ini tuh...
Mereka juga menggunakan kekuatan Megarani dan leak dari Semeru untuk membuat tower peretas fitnah dajjal yag beredar dalam media sosial. Yuna membongkar fungsi lain ECHO yang kemungkinan besar bisa dimanfaatkan untuk take down misi elite satanis yang ingin menguasai keuangan digital umat manusia setelah berhasil menanamkan chip ke tubuh masyarakat lewat vaksinasi ketika protokol dunia diselenggarakan saat masa pandemi di masa depan.
Yuna mengatakan bahwa ketika masa pandemi berlalu, elite satanis akan membuat bank digital yang terhubung dengan chip yang berhasil di tanam di tubuh semua orang, dan ketika normalisasi era baru berjalan, semua sistem keuangan di dunia akan terjungkir balik dan sulit mencari uang bagi orang-orang yang kurang mampu menemukan pekerjaan baru akibat di-PHK.
Adwin mendeteksi ECHO ternyata dioperasikan dari markas kemiliteran Amrik. Akhirnya semua orang curiga bahwa jangan-jangan ECHO selama ini dibajak kemiliteran Amrik.
Namun di bab selanjutnya ternyata dugaan mereka itu salah, ECHO lah yang mengambil alih komputer di markas kemiliteran Amrik. Namun untuk apa ECHO melakukan itu? Belum author jawab...
Nah, sekian ringkasannya, karena kini ECHO sudah di tangan Raka, maka kita bisa melanjutkan ya misi selanjutnya... Semangat membacanya dan temukan rahasia-rahasia lainnya dalam novel ini! Selamat berjuang! ᐹ3)
Yuk kita lanjutkan!
Tanpa Yuna dan Huda awasi, Anderson dan Adwin mengambil alih kendali Asosiasi dari jarak jauh dibantu oleh Harun, Aditya, Amartha, Davos, Mustafa, Yusuf dan Raka. Akhirnya usaha panjang memerangi agenda Masjid Gemini membuahkan hasil juga.
Menara Megarani terus memancarkan energi yang berasal dari kiriman doa ruqyah yang dilakukan member asosisi Neverland dua satu di dunia manusia.
Hal itu membuat data di internet teraduk-aduk. Sampai viral di media massa tentang terbongkarnya fakta tentang Pondok Pesantren Al-Ma'had, sebuah pondok pesantren yang terletak di Indramayu, Jawa Barat yang didirikan pada tahun sembilan belas sembilan tiga dan mulai beroperasi pada tahun sembilan belas sembilan sembilan.
Pondok ini memiliki visi untuk menjadi pusat pendidikan yang mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian. Namun ternyata terlibat dengan gerakan Darul Islam dan penyelewengan keuangan.
Gerakan Darul Islam adalah sebuah organisasi Islam radikal yang berdiri pada tahun sembilan belas empat sembilan di Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia dan menggantikan pemerintahan sekuler yang ada saat itu.
Gerakan ini dipimpin oleh Kartosoewirjo, seorang aktivis Islam yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam di Indonesia. Gerakan ini memiliki basis kekuatan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Gerakan DI melakukan beberapa aksi kekerasan dan pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia, termasuk mengadakan secara nyata gerakan pembentukan negara Islam di beberapa daerah di Indonesia dan menyerang pasukan keamanan dan instalasi pemerintah. Karena hal itu dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan dan stabilitas nasional oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun sembilan belas enam dua, Kartosoewirjo ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Indonesia. Meski Gerakan DI telah dibubarkan, namun ideologi dan pengaruhnya masih ada di kalangan beberapa kelompok Islam radikal di Indonesia.
Sebenarnya pondok pesantren Al-Ma'had mulai viral dan menjadi sorotan publik pada tahun dua ribu dua, ketika Majelis Ulama melakukan penelitian dan menemukan keterkaitan antara kepemimpinan dan finansial pesantren ini dengan Negara Islam Indonesia. Namun organisasi mereka ternyata lolos dan masih beroperasi. Dan akhirnya pondok pesantren Al-Ma'had resmi dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun dua ribu sembilan belas ini. Keputusan ini diambil setelah dilakukan penyelidikan dan penelitian yang mendalam oleh aparat keamanan dan instansi terkait.
Pada tahun dua ribu sembilan belas, Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri secara resmi mengumumkan pembubaran Pondok Pesantren Al-Zaitun karena diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas radikalisme dan terorisme.
Betapa mencengangkannya pondok ini membuat armada kapal laut mencurigakan dan aktivitas di dalam masjidnya juga menyimpang. Adzannya menggunakan gaya orasi dan sholat jum'atnya bercampur dengan lawan jenis, juga memiliki jarak jauh. Semuanya seperti bertema kemiliteran siap perang namun seperti ada kekosongan.
Syukur lah akhirnya agenda memberantas Masjid Gemini ini telah mencapai titik puncaknya. Namun hal menyedihkan harus dihadapi Yuna di dunia non maya. Huda menghilang, dibawa mengasingkan diri oleh Maryam ke sebuah hutan. Maryam menemui sepupunya yang orang Yahudi, sepupunya itu bernama Mordechai Levi, seorang pria berusia enam puluh tahun yang menenangkan diri ke pelosok di Indonesia dari peperangan dunia yang tidak jelas ini.
Sementara itu Yuna di rumah mertuanya setelah dua hari menunggu proses rumahnya dibangun. ketika pada suatu pagi ia bangun tidur, dia membangunkan suaminya namun Leon tidak mau bangkit dari ranjang. Sampai akhirnya jarum jam pukul tujuh berdenting dan membuat Sri, si mertua berteriak-teriak.
Yuna mengatakan kepada Leon untuk perpindah saja ke rumah yang belum jadi, jika setiap hari Leon mau bangun siang. Sebab Leon bukannya bangkit malah memeluknya erat-erat secara manja.
Diam-diam Yuna mengendap ke rumah kakak iparnya, meminta supaya dibantu mengenalkan ke tukang kredit. Yuna ingin kredit kompor dan lain-lain. Akhirnya keesokan paginya semua alat yang dikredit Yuna sampai di rumah. Ia bergegas berkemas ke rumah yang belum jadi, rumah itu masih berlantai tanah, meski sudah memiliki atap dengan pintu kayu bekas.
Para tetangga tidak percaya bagaimana bisa Leon yang memiliki usia empat puluh tahun bisa mendapatkan seorang gadis seperti Yuna. Betapa sayangnya si menantu tidak mengetahui bahwa Sri ini sebenarnya seorang janda tua yang sudah viral di mana-mana. Sebab Sri pernah berkali-kali ke kantor kepala desa mengajak debat Pak Lurah perihal membahas lahan sawahnya yang diakali warga setempat.
Sementara fasilitas untuk akses umum semuanya berasal dari tanah milik almarhum suaminya Sri. Seperti Jembatan menyeberang ke sawah bahkan selokan irigasi sawah, namun Sri tidak dihargai sebab sifatnya tidak sama dengan sang mendiang suami. Sri lebih sering berbohong dan beromong besar ke penduduk setempat. Karena itu meski berkali-kali ia ke pengadilan desa, suaranya tidak akan digubris dan situasi keluarga Sri itu semakin dramatis saat hadir sosok Yuna sebagai anggota keluarga baru.
Flash back sedikit...
Ketika dulu Leon datang ke rumah Yuna dan mengaku sebagai duda namun belum cerai sah secara hukum Negara. Justru ia melamar Yuna dengan menggantung sumpah karena uangnya belum cukup. Leon membuat Yuna yakin bahwa Leon akan membuatnya bahagia dengan mengajaknya ke rumah ibunya di mana di sampingnya sudah ada lahan yang akan dipakai untuk dibangun rumah.
Ibu Leon menyambut hangat dan berkata, “kamu akan aku nikahkan dengan anakku, apa pun yang terjadi, aku maunya kamu yang jadi istrinya anakku, kamu tidak akan pernah kelaparan, kami punya ladang sawah yang luas dan ditanami padi.”
Akhirnya Yuna dinikahi secara sirri pada tahun dua ribu sembilan belas atas permintaan keluarga Yuna sebab ingin menghindari resiko berpacaran dan untuk menjamin jika Leon bertanggung jawab, syaratnya Yuna harus percaya bahwasanya Luna sudah akan melunasi hutang banknya dulu demi memiliki rumah maka setelah itu Leon berjanji akan menikahi Yuna di KUA.
Hari kedua setelah Yuna tinggal di rumah Sri, ia bermain ke rumah abang iparnya dan bertemu kakak iparnya bernama Rini.
Rini bercerita, “kamu jangan kaget, mertua kita itu karakternya kaku, aku dulu masak ambil berasnya untuk dia makan saja dituduh mencuri beras sampai aku diusir dari rumahnya dan ngontrak setahun hingga akhirnya rumah dia dibagi jadi tiga supaya aku mau pulang, akhirnya aku bisa membangun rumah ini makai uangku dan uang keluargaku, baru dia diam tidak lagi menindasku, kalau aku diusir lagi, aku minta dia bangunkan rumah seperti ini di tanahku di kampungku.”
Yuna menjawab, “saya heran Leon dan ibunya berantem membahas sawah, mertua tidak mau menanam padi dan mempermasalahkan ukuran lahan sawah ke Leon, saya mau nanya apakah benar mertua menanam padi?”
"Tidak, mertua menanam jagung, sawah Leon saja dipegang ibunya dan sawah suamiku mau diambil mertua lagi karena dia merasa ada yang tidak pas dengan pembagian warisan sawah dari mendiang Bapak mertua kita, jadi kita diam saja sebagai menantu, sabar aja.” Jawab Rini sambil menjahit baju pesanan pelanggannya.
Hari ke tiga setelah Yuna tinggal di rumah Sri, wanita berusia enam puluh limaan itu ke pasar dan berteriak di dalam toko sayur, “mantu kurang ajar tidak mau masak, bangun selalu siang, lihat saja akan aku suruh dia masak sendiri biar kapok! Tidak pernah menyapu halaman!”
Mendengar pernyataan tersebut, Dika pegawai perempuan di toko itu menceritakan umpatan tadi ke Yuna, ketika si boneka yang kini berhijab itu belanja ke sana di sore harinya.
“Saya tidak mau memasak karena serba salah, katanya masakan saya tidak enak, takut juga karena berasnya disimpan di tempat tidurnya, dia punya banyak emas dan uang di dalam kamarnya, saya takut dituduh mencuri seperti Mbak Rini.
Tenang saya kebetulan sudah punya kompor dan ricecooker kredit baru ambil lewat kakak ipar saya, sudah saya bawa ke rumah suami saya dan kami akan hidup sendiri, firasat saya benar. Padahal pak RT selalu lewat depan rumah, saya subuh bangun tidur nyapu halaman, ya sudah tidak apa-apa kalau dia bilang begitu.” Respon Yuna.
Mulai hari itu Leon dan Yuna pindah ke rumah yang masih berdinding batako dan belum ada listriknya karena baru jadi, itu pun dibangun dengan hutang bank oleh Leon.
Dan dugaan pun terjadi, Yuna hamil hingga berjalan kehamilan empat bulan, Leon belum mengupayakan secara tegas untuk ke pengadilan agama untuk menceraikan istri sahnya.
Di samping itu Sri secara tidak terduga justru mengucapkan tidak akan menikahkan Leon dengan Yuna atau menyuruh berpisah dengan alasan tidak suka dan tidak ingin memberikan warisan peninggalan mendiang suaminya ke anak Yuna, sebab keluarga Yuna tidak mampu membantu perekonomian Leon.
Mus, seorang nenek usia tujuh puluh tahun yang rumahnya di sebelah kanan Yuna, dia mengadukan masalah Sri membenci Yuna. Sehingga membuat Yuna berpikir harus cepat-cepat menikah sah secara hukum negara. Alasan Sri membenci Yuna juga karena dia tidak menurut untuk membantu membajak sawah Sri dengan jadwal mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, dengan alasan Yuna ingin bekerja saja sebagai tenaga mengajar atau guru Pondok Pesantren Nurul Jannah terdekat. Kenapa Yuna menolak ke sawah? di awal, Yuna membantu menyawah, Yuna bahkan disuruh mencangkul tanah menggunakan kaki telanjang tanpa alas kaki. Menyaksikan hal ini, tetangga yang bekerja di sawah Sri menangis sedih, dan melarang Yuna terlalu menurut ke mertuanya yang mencolok sekali kedengkiannya.
Pada suatu pagi, Sri melihat Yuna membuka pintu belakang rumah. Sri melemparkan sapu lidi ke Yuna, “sapu itu halaman depan rumah!” teriaknya.
Yuna memang sedang lelah dan tidak bisa bergerak di pagi hari oleh morning sickness akhirnya dia hanya diam saja. Kemudian di siang hari ia menyapu kandang kambing yang ada di lahan belakang rumah sampai halaman depan saat nyeri di perutnya sudah reda, kemudian lanjut angkat beberapa ember air untuk diisi ke kamar mandi sebab tidak punya air untuk mandi. Saluran tenaga listrik pun masih lewat sambungan kabel ke rumah Bu Sri. Tapi siapa yang peduli dengan rasa sakit hamil pertama kali yang dialami Yuna? Apa lagi posisinya masih nikah sirri, lalu bagaimana nasib si jabang bayi? Sri tidak peduli sejauh itu.
Di suatu hari kemudian, paman Yuna bernama Subagyo datang berkunjung dan Bu Sri berkata, “Yuna itu bangun jam tujuh setiap hari, pemalas tidak pernah nyapu tidak pernah bekerja.”
Mendengar itu Yuna diam saja. Setelah Subagyo pulang, Bu Sri ke rumah Mus dan berkata, “tadi pamannya Yuna datang, sukurin aku pamerin betapa luasnya sawah kepunyaanku!” Dan Mus menceritakan ucapan itu ke Yuna.
Matahari di hari esok masih terbit, ketika Sri masuk ke rumah Leon dan berkata ke Yuna saat menantu yang sedang hamil itu melipat baju Leon, “aku tidak mau mikirin pernikahanmu sama anakku, aku sudah tua dan sibuk dengan urusan kesehatan badanku sendiri. Urus saja itu urusanmu sendiri, kalau bisa tidak usah nikah secara KUA, Leon tidak ada uang. Dan aku tidak bisa bantu kalian!"
Karena sudah tidak sabar, Yuna akhirnya mendebat “kalau memang tidak suka saya ya sudah, tidak ikut merawat anakku tidak apa yang penting nikahkan resmi dulu biar anak ini bisa sekolah, punya hak berbapak, bukan harap warisan tapi punya bapak, ini bukan anak haram!"
"Siapa yang bilang aku tidak akan menikahkanmu dengan anakku! Wah tukang adu domba itu!” Jawaban aneh, Sri lalu berjalan ke rumah Rini yang ada di kiri rumah Sri.
“Kamu bilang apa aja ke Yuna, jangan adu domba kamu!” Teriakan itu nyaring terdengar sampai keluar rumah, padahal halaman rumah Sri ukurannya lebar dan luas.
Keesokan harinya Rini pergi ke rumah Leon saat Yuna sendirian, ia pun berghibah, “kemarin mertua ke rumahku bertanya apakah aku pernah bilang ke kamu bahwa dia tidak akan menikahkanmu dengan Leon, tapi kamu tahu darimana itu?”
Dengan ringan hati, bibir Yuna meluncur tanpa basa-basi, “lho, aku justru tahunya dari Mbah Mus, berarti dia sendiri yang membongkar ucapannya sendiri.
“Memang benar dulu mertua berkata seperti itu kepadaku, oh ternyata ke mbah Mus juga.” Angguk Rini.
Merasa kondisinya sudah tidak kondusif, Yuna berupaya agar memiliki kendaraan bermotor sendiri dengan akhirnya meminta ibunya untuk hutang ke koperasi senilai lima juta rupiah. Namun motor itu terjual sebelum hutang ke koperasi lunas. Karena Yuna tidak dinafkahi secara cukup untuk makan sehari-hari dan sebagian uang dipakai Leon untuk biaya ke departemen agama untuk menceriakan istri sahnya.
Meski pun memakai uang hasil menjual motor Yuna, ternyata uangnya belum cukup. Akhirnya Yuna bercerita ke ibunya dan membuat mau tak mau ibu Yuna akhirnya meminjam ke koperasi lagi senilai satu juta rupiah.
Proses perceraian Leon pun berjalan lancar namun Leon masih berasalan tidak punya uang akibat terlilit hutang bank demi membangun rumah sehingga tidak bisa melangsungkan pernikahan di KUA.
Demi anak agar nantinya memiliki akta kelahiran dan dapat bersekolah, maka Yuna berniat meminjam uang ke kakaknya yang di Sumatera, supaya dia bisa menikah secara resmi di KUA. Kakak Yuna pun kemudian dengan berat hati mengirim uang senilai satu juta lima ratus ribu rupiah dan dengan itu baru lah akhirnya Leon bisa menikahi Yuna di KUA.
Beberapa minggu kemudian Leon meminta uang ke Sri senilai lima belas juta rupiah untuk beli motor, sebab motornya Yuna sudah terjual, dengan alasan agar Yuna bisa bekerja. Sri yang berkelit di awal kemudian luluh oleh pembelaan Leon dan memberikan uang tersebut dengan syarat itu terhitung sebagai hutang yang harus dibayar Leon ke Sri.
Karena merasa akan mengganti uang, maka Leon membelanjakan uang tersebut untuk kebutuhannya sehari-hari dan itu membuat Sri menuduh Yuna sudah menghamburkan uangnya. Di depan Leon, dengan muka merah, Sri membentak-bentak, "Yuna menghabiskan uang kita!” Tetapi Leon diam saja.
Dua minggu kemudian Sri berteriak seperti vokalis band death metal di siang bolong ketika pulang dari sawah, “maunya berak aja, tinja tidak disiram, awas kalau berak di klosetku, aku bunuh kamu, anjing!” Di depan rumah sambil berkacak pinggang.
Suami Rini yang kebetulan sedang memberi makan burung kesayangannya di teras, dia merespon, karena tahu yang dimaksud anjing itu adalah Yuna yang sedang bunting. “sudah tua jangan ngomong seperti itu!”
Siapa yang peduli, Sri semakin memaki “orang perempuan anjing itu istrinya Leon!” teriakannya sengaja dikeraskan supaya Yuna yang mengurung diri di rumah bisa mendengarnya.
Sementara di dalam rumah itu bahkan tidak ada TV, Yuna mengunci semua pintu dan jendela, hidupnya benar-benar seperti dalam penjara.
Didapati ternyata Leon lah yang sudah buang air besar tiga kali di kloset ibunya dan tidak di siram.
Mengetahui ini, akhirnya Yuna memutuskan untuk menumpang buang air besar setiap hari di rumah Mar, tetangga depan rumahnya. Yuna menceritakan penyebab mengapa menumpang WC dan Mar memaklumi, karena dia sudah tahu sifatnya Sri.
Namun, lama kelamaan, Yuna merasa malu menumpang berhari-hari. Di tambah lagi, kepalanya makin pening, Yuna sering sering mengintip dari lubang kayu pintu dan memergoki Sri mencabut listrik dari pagi sampai magrib. Dan bila Leon pulang lembur jam dua malm, maka rumah pun selama itu lah tanpa listrik, sementara Yuna mengurung diri di rumah, takut kena maki tanpa alasan jelas.
Yuna akhirnya sekali lagi meminta uang ke kakaknya untuk membuat WC senilai satu juta rupiah. Dengan uang itu Leon akhirnya membangun WC ditambahi dengan uang hutang ke bosnya.
Di hari lain Mar dan suaminya yang bernama Kandir memergoki Sri di siang bolong berdiri di depan rumah Leon. Dia menghadap rumah Leon sambil membaca sesuatu dari mulutnya, terlihat di kejauhan sangat jelas oleh mata Mar dan suaminya. Sri lalu terihat menaburkan bunga dari bungkusan daun ke dalam sumur yang digunakan rumah Leon, sumur itu terletak di depan halaman Sri.
Keesokan paginya Mar menceritakan hal itu ke Yuna. Tentu saja itu membuat Yuna geram, Yuna menelpon Kakaknya lagi untuk meminta uang senilai dua juta rupiah untuk membuat sumur bor di depan halaman rumah Leon.
Kondisi ekonomi Leon semakin terpuruk, dia jarang masuk kerja karena ada pandemi. Suatu malam Leon pulang dan mendapati rumah gelap dan bertanya apakah Yuna sudah makan, tentu saja Yuna menjawab belum. Leon kemudian memperbaiki sambungan listrik dan mengajak beli makanan untuk Yuna dan Sri. Tapi di keesokan paginya, Sri mengembalikan makanan yang dibelikan Leon kepada Yuna dengan berkata, “gausah belikan nasi goreng, nasi goreng busuk. Aku setiap hari sudah goreng nasi sendiri!” dengan ketus.
Yuna kemudian pergi ke rumah ibunya untuk meminta beras tiga kilo gram sebab tidak punya uang untuk beli beras, dia sambil mencari bantuan dari pemerintah. Yuna pun kemudian pulang dengan membawa seamplop uang bantuan dari pemerintah senilai satu juta rupiah. Yuna bermaksud ingin mengamprah listrik, tetapi uang tersebut kurang sehingga Yuna meminta uang ke kakaknya lagi sebesar satu juta rupiah.
Tak hanya itu, Yuna juga meminta kakaknya membelikan kambing senilai satu juta delapan ratus ribu rupiah supaya bisa dikembang biakkan dan bisa membantu ekonomi Leon. Kakak Yuna memberikannya dan Leon membeli dua ekor kambing dengan uang itu.
Lega? Belum...
(Author sengaja ringkas karena pengalaman Yuna begitu panjang jika diperdetail... Ada beberapa yang typo sudah author usahakan perbaikan namun maaf bila banyak yang tidak berubah...)
Rumah tangga pahit Yuna bertahan sampai tahun dua ribu dua satu. Leon berniat hutang ke bosnya agar bisa membiayai proses bersalin Yuna, tetapi Yuna melarang dan mencari tunjangan Jamkesda karena mengalami bengkak kaki gajah. Yuna akhirnya bisa mendapatkannya menggunakan KK ibunya, karena ibu Yuna berstatus sudah janda, cerai mati, dengan dua anak dan ekonomi miskin.
Jamkesda tersebut diuruskan oleh Bu bidan desa bernama Wiwik. Yuna terpaksa bolak-balik, dari desa Leon ke desa Yuna yang jaraknya jauh melewati aspal yang tidak rata setiap memeriksakan kehamilan sendirian tanpa Leon, karena melihat hal ini lah Wiwik tergerak hatinya untuk membantu Yuna. Melihat kaki Yuna benar-benar bengkak, kemungkinan besar ia akan melahirkan secara ceasar.
Suatu hari Yuna mengalami pembukaan namun Leon enggan mengantar Yuna untuk periksa ke bidan di desanya. Katanya dengan alasan malu dan minder, bidan desanya memperkerjakan mantan ibu mertua Leon, suami Yuna ini juga beralasan lagi-lagi tidak punya uang. Hal ini terjadi sampai seminggu, sampai Yuna merasakan sakit luar biasa di perut ketika memasak pada suatu magrib. Namun ia harus tetap beraktivitas, sebab Leon berkata, “justru kalau kamu tidak melakukan apa-apa maka akan semakin sakit rasanya.”
Karena Yuna sudah tidak tahan dengan kesakitannya maka ia memaksa Leon, mau tidak mau ke bidan Wiwik di desa ibunya Yuna, “aku itu istrimu bukan? Hargailah permintaanku!” pekik Yuna sambil menahan nyeri luar biasa di perutnya. Akhirnya dengan terpaksa Leon menemani Yuna ke rumah bidan Wiwik yang jauh.
Sesampainya di klinik, bidan Wiwik marah, “kamu sudah harusnya melahirkan sekarang, ini sudah telat seminggu, saya sudah bilang kamu harus langsung ke Rumah Sakit setelah saya buat surat rujuk, kenapa malah tidak berangkat, kalau begini saya bisa kena sanksi etika profesi, tahu begitu saya tidak mau membantumu!” Mendengar Luna dibentak-bentak seperti itu, Leon diam saja. Yuna hanya bisa menghirup nafas penuh kecewa kepada pria tak tahu diuntung ini.
Sesampainya di RS Besar Kediri, sebelum tengah malam, Devan dipanggil untuk mecarikan darah ke kantor PMI, untuk memintakan darah B plus untuk Yuna. Dan jaraknya sangat jauh dari rumah sakit.
Yuna diduga akan mengalami pendarahan dasyat saat menghadapi proses bersalin, mengetahui ini Devan bersedia mengambilkan darah untuk Yuna. Setelah menunggu empat jam, Yuna akhirnya menerima proses pendonoran darah. Dan setelah kantong itu kosong, Yuna disuntik cairan rangsangan namun reaksi janinnya gagal, sehingga akhirnya operasi ceasar harus diambil, sebab detak jantung bayi sudah sangat kencang, akan beresiko anak dalam kandungan meninggal dunia jika proses bersalin secara normal diterobos.
Pada pukul dua belas siang, akhirnya perut Yuna digergaji. Sang bayi ternyata bersembunyi sangat dalam, dokter awalnya kesulitan mengambilnya, ditambah lagi usus ari-ari janin ternyata sangat lah pendek. Karena itu dia tidak bisa keluar secara normal.
Setelah proses bersalin dan operasi penyambungan potongan-potongan dalam perut Yuna selesai, Yuna mengalami sekarat maut, dia pendarahan.
Matanya yang tetap sadar semenjak awal, saat ia menyaksikan perutnya diobrak-abrik sampai saat bayi perempuannya diangkat. Matanya semakin bergetar setelah ia mengalami tremor. Seolah selimut salju memeluk sekujur tubuhnya. Yuna menangis dan merintih, dia merasa amat kecewa dengan segala pengalaman ini. Namun ia tetap harus tegar.
Setelah Yuna stabil dan berhasil melewati kritisnya, seminggu kemudian ia pulang kembali ke rumah Leon dengan permintaan dari Sri yang katanya ingin merawat.
Namun ternyata itu hanya di mulut saja. Sesampainya di rumah, ketika Leon meninggalkan Yuna lagi untuk mencari uang, Sri justru memberi makan Yuna hanya nasi dan garam. Yuna menangis perih ketika ia sendiri di kamar. Betapa menderitanya, padahal di rumah sakit dokter memberi makan nasi dan sup sayur biasa pada umumnya.
Kekolotan Sri tidak berhenti di situ saja, dia bahkan berkata, "aku sudah amat ketakutan, aku pikir bayinya akan lahir cacat!." Bayangkan seperti apa hati Yuna mendengar mertuanya berkata seperti itu di depan teman-temannya yang menjenguk Yuna.
Then...
Pertumbuhan bayi itu semakin berkembang, namun Leon belum juga mau membuat KK baru dengan alasan sibuk kerja.
Suatu hari Yuna didatangi teman sebangku SD-nya dulu, dia mengajaknya kerja menjadi guru di sebuah panti asuhan anak yatim piatu. Yuna yang sebenarnya masih lemah itu setuju, namun ia meminta tenggang waktu sampai usia bayinya tepat satu bulan.
Dalam kondisi itu, bahkan Yuna sudah menjual HP-nya, maka ia benar-benar menjadi orang yang surut sekarang ini. Pekerjaan mengajar ini harus dia tekuni, supaya dia bisa beli gawai lagi, pikirnya.
Dan ketika bayi cantiknya sudah genap berumur sebulan, Yuna pun bekerja, sambil gendong bayi...
Karena pekerjaan Yuna membutuhkan input data setiap hari ke departemen agama secara online, maka Yuna memutuskan untuk meminjam uang koperasi Mekar senilai dua juta rupiah untuk membeli HP atas persetujuan Leon.
Setiap harinya, bayi mungil itu kadang ditidurkan di lantai dengan alas yang Yuna bawa dari rumah. Jika menangis, dia akan memberi ASI ke ruang kosong, yaitu gudang di sebelah kelas. Itu terus dia lakoni, sampai akhirnya gajian di bulan pertama.
Yuna memberi sebagian gajinya ke Sri, tapi Sri berkata, “aku tahu ini uang Leon kan, kenapa kamu tidak pernah menyalurkan uang dari dia ke aku setiap minggu?.” Padahal Leon tidak pernah menyisihkan uang untuk Sri sama sekali.
Beberapa bulan kemudian karena bayi Yuna semakin besar, Yuna dengan sabar berusaha mencari surat pindah domisili untuk membuat akta lahir anaknya. Namun setelah surat itu jadi di siang harinya, siapa sangka, malamnya... Si bayi menangis karena sedang sakit atau rewel, karena dia capek, diajak Yuna berperjalanan jauh membuat surat pindah kependudukan, Leon justru marah dan berkata “dancuk, kubunuh juga anak ini lama-lama!” lalu kembali tidur.
Karena kesal, Yuna menepuk pelan kemaluan Leon. Yuna memang kesal jika melihat Leon tidur tidak memakai selembar kain pun. Leon punya kebiasaan tidur telanjang bulat, Yuna geli melihat itu. Leon yang sedang tidur tanpa busan bangun kesal dan menampar keras mulut Yuna lalu kembali tidur.
Yuna menangis lalu mambawa bayinya tidur di ruang tamu beralaskan hanya tikar, sampai pagi.
Beberapa bulan kemudian bayi itu sakit lagi, sehingga Yuna menjual Laptop untuk membeli obat, susu dan kebutuhan anaknya karena Leon berasalan tidak punya uang, uang habis untuk membayar hutang ke bank.
Keesokan harinya Sri datang ke Yuna saat Leon tidak ada dan mengatakan, “ini rumah milikku, Leon itu sudah tidak punya apa-apa, semua sawah itu milikku, kamu pergi saja dari sini kalau tidak suka dengan kenyataan itu. Kembalikan motor itu, jangan pakai, itu motorku! Aku mau pakai buat jual hasil panen setiap hari."
Yuna tidak menjawab karena tahu pasti akan ribut, di pikirannya mungkin Leon baru minta uang ke Sri, makanya Sri melampiaskan marahnya ke Yuna. Sebab sebagai menantu, Yuna itu seperti tidak pernah memberikan apa-apa ke Sri, dan kesannya justru malah membuat Leon meminta uang ke ibunya. Padahal Sri selalu mencari celah agar makan mereka cukup tanpa mengemis ke Sri. Rupanya Leon meminta uang untuk beli rokok setiap hari di belakang Yuna. Mengetahui ini, Yuna semakin berusaha memupuk kesabaran. Akalnya sudah hampir musnah oleh arah hidup setiap hari yang monoton seperti ini. Yuna memutuskan pulang ke rumah ibunya untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Dia berharap Leon tidak usah ikut, tapi pria itu tetap megekorinya ke rumah ibu Yuna, hal ini membuat Sri membenci Yuna karena merasa sudah merampas Leon darinya, padahal di rumah ibunya Yuna, Leon diberi makan dengan baik oleh mertuanya itu.
Di usia bayi Yuna menginjak enam bulan, bayi itu sakit dan Leon tidak pulang ke rumah ibu Yuna, juga tidak memberi uang sehingga Yuna meminjam uang ke aplikasi hutang online untuk membeli obat dan keperluan bayi lain seperti susu dan popok. Hal seperti ini terus saja berlanjut, sampai akhirnya datang penagih hutang ke rumah ibu Yuna. Membuat ibu Yuna hampir terkena serangan stroke. Akhirnya Yuna pulang kembali ke rumah Leon dan berusaha menahan konflik dengan mertuanya.
Tepat usia satu tahun lebih delapan bulan usia Roxane, bayi Yuna, Sri mengambil kunci motor yang dibeli dengan uangnya ketika motor itu diparkir di halaman saat Yuna bersiap akan pergi ke apotek untuk membeli obat karena Roxane sedang demam. Yuna bertanya di mana kunci itu tapi Sri menjawab, “Tidak tahu, aku tidak mengambilnya.”
Karena murka, Yuna menjual kambing yang dibelikan kakaknya saat itu juga dan menggunakan uangnya untuk memesan ojek mobil online. Yuna mengangkut semua barang ke mobil ojek online dan pergi ke rumah ibunya lagi.
Dengan berbekal HP yang Yuna beli dengan hutang ke koperasi, ia mencari pekerjaan via media sosial, ia menemukan lowongan pekerjaan di situ, dan minta ijin Leon untuk berangkat seorang dir ke Surabaya, Yuna ingin menuju tempat di mana ia akan menerima pekerjaan.
Sesampainya di Surabaya, Yuna dikarantina satu bulan dan dikirim ke Medan untuk bekerja sebagai Semi-ART dengan perjanjian administrasi dibayar senilai delapan belas juta rupiah oleh majikan. Yuna menerima kontrak kerja satu tahun penuh. Namun setelah bekerja selama empat bulan, Leon menakut-nakuti Yuna, karena cemburu ke majikan Yuna. Leon mengirim pesan ingin membawa Roxane pulang ke rumah Sri, dan itu membuat Yuna marah. Sebab setahu Yuna, Sri itu keyakinannya menyimpang. Dia takut Roxane akan menjadi tumbal, sebab selama ini sakit Roxane itu rata-rata demam tak jelas.
Karena stress, lelah bekerja di bawah tekanan majikan yang tempramen, sambil teringat terus ucapan Leon yang merendahkan martabatnya, seolah Yuna itu wanita murahan yang sudah tidur dengan majikannya. Yuna akhirnya mencari pekerjaan via online dan mendapat tawaran kerja di Surabaya oleh temannya bernama Sofie, orang Probolinggo. Dengan harapan supaya sesekali bisa pulang jenguk Roxane. Namun Sofie meminta uang tiga juta rupiah ke Yuna, sebagai permulaan untuk membeli segala yang akan Yuna perlukan di tempat yang ditawarkan.
Karena Yuna semakin stress, Leon selalu mengirim pesan yang tidak-tidak, bahkan di hari Idul Adha ketika Yuna dikarantina, karena majikannya liburan ke Malaysia. Justru Leon membuat pertengkaran dan tidak mengirim uang nafkah ke Yuna sebagai uang hari lebaran, sebagai santunan hak istri di hari raya.
Yuna semakin tertekan dan menuruti saja keinginan Sofie untuk mengirim uang tiga juta rupiah. Yuna berpikir harus mendapat uang lebih untuk saku hidup di Surabaya, maka Yuna mencari kerja online tambahan dengan ikut projek uji keamanan situs buatan Raka. Namun Leon cemburu kepada Raka dan meneror akun media sosial Raka. Leon menuduhnya Yuna selingkuh dengan Raka, namun Harun sebagai saksi mengetahui bahwa Raka dan Yuna adalah rekan bisnis. Di waktu yang sama, ternyata Sofie menipu Yuna, dan melarikan diri. Ludes sudah gaji sebulan Yuna yang telah bekerja seperti kerbau ditusuk hidungnya setiap hari.
Kemudian pertengkaran hebat benar-benar terjadi karena Leon tidak percaya. Yuna meminta uang ke kakaknya senilai delapan belas juta rupiah untuk menebusnya dari majikan agar bisa berhenti bekerja secara resmi. Dan meminjam uang ke Rala senilai dua juta seratus ribu rupiah agar bisa pulang ke Kediri, demi menuruti keinginan Leon yang terus menuntut agar Yuna pulang.
Setiba Yuna pulang di rumah ibunya, Leon menggunakan gawai Yuna untuk menghapus akun medsos milik Raka yang digunakan sebagai admin untuk berdiskusi projek Asosiasi. Itu membuat Raka marah dan memblokir Yuna, rusak sudah rencana yang seharusnya berjalan untuk men-take down misi elite satanis yang ingin menguasai ekonomi dunia. Raka juga batal membayar gaji Yuna yang senilai lima juta rupiah. Ini membuat Yuna mulai berubah kepada Leon.
Tiga bulan kemudian kecemburuan Leon semakin menjadi ketika Yuna menerima pesan dari nomor asing yang belum jelas identitasnya, dan Yuna tidak kenal nomor tersebut. Leon menduga itu adalah nomor Raka, "dia pasti di Kediri kan dan setiap hari ketemu kamu jika aku belum pulang ke sini." Curiga Leon.
Padahal Raka sedang di Kalimantan bersama Davos, menelusuri lodge satanis terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Dengan keyakinan itu, Leon meninggalkan Yuna dan Roxane di rumah ibunya Yuna. Leon membawa semua bajunya tanpa memberi pesangon untuk Roxane.
Leon lalu mengirim pesan ke ibu Yuna, “saya tahu Ibu menutupi perbuatan bejat Yuna selama ini, dia janjian di pinggir jalan dengan pria lain dan pergi berkencan di hotel. Saya melihatnya sendiri.”
Ibu Yuna memperlihatkan pesan itu ke Yuna, dan Yuna mengirimkan tangkapan layar pesan itu ke kakaknya yang di Sumatera. Mengetahui ini Devan tidak terima, karena selama ini Devan mengetahui Yuna setiap hari di rumah, dia mendukung Yuna agar kakak mereka mau mengambil Yuna dari Kediri.
Kakak Yuna pun yang ternyata juga tidak terima, akhirnya ia membiayai perjalanan Yuna pindah. Yuna kini berdomisili di Medan. Kali ini dia ke Medan bukan untuk bekerja sebagai babu lagi, namun untuk pulang ke rumah kakaknya. Di sana, Yuna mengurusi perceraian dari Leon secara jarak jauh.
Namun siapa sangka, penderitaan Yuna belum selesai...
Sebelum ke Medan, sebenarnya Yuna melamar kerja ke pabrik rokok legendaris di Kediri. Lama sekali panggilan HRD tidak datang, namun akhirnya kabar itu datang saat Yuna sudah di jalan menuju Medan. Dia naik bus tiga hari tiga malam bersama anaknya yang masih kecil itu, maka Yuna menyesali pengalaman tersebut. Memikirkan itu, Yuna kembali stress. Dia di balkon menangis dan bingung harus ngapain, karena dia sekarang menganggur.
Apa lagi, setelah dia tinggal di Medan, dia mengalami sebuah pengalaman buruk. Ada kejadian memalukan yang ia alami, setelah cerainya sah. Yaitu, Yuna mengisi kesepian dan kebobrokan mentalnya dengan menginstal aplikasi media sosial. Di media sosial itu Yuna menjadi populer. Namun siapa sangka, seorang pria mengajaknya bertemu, dan membawanya ke hotel. Persis seperti ucapan mantan suaminya. Pria itu berusaha menodai kesucian Yuna.
Yuna teringat dengan ucapan mantannya, dan itu membuat ia semakin menyesali ucapan mantannya itu, ia benar-benar mengutuk pria itu. Sebab mata jahatnya yang meyakini bahwa Yuna melakukan hal sekeji itu, sepertinya ia benar-benar bersumpah kepada Tuhan, sampai Tuhan pun menurunkan kejadian aib ini kepada Yuna. Di sini lah Yuna mulai putus asa kepada Tuhan dan berusaha melupakan gerakan asosiasinya.
Yuna menangis menyesali kejadian itu. Dia berusaha lari dari pria itu, dia pergi membawa anaknya menemui pasangan barunya yang dia kenal dari aplikasi itu juga. Yuna pergi ke pulau lain. Berharap dia akan mendapatkan masa depan cerah, lembaran baru, dan bisa menjadi dirinya sendiri. Namun... Siapa yang menduga, pasangan virtualnya itu ternyata adalah seorang perempuan tomboy. Betapa terkejutnya Yuna, bahwa ternyata dia adalah seorang perempuan bernama Jess.
Namun, Yuna mulai berpikir, tidak apa baginya, yang terpenting tidak melakukan aktivitas menyimpang. Dan ternyata benar, perempuan maskulin bernama Jess itu hanya membutuhkan kasih sayang saja dari Yuna tanpa mengajaknya berhubungan intim. Jess merasa keluarganya hanya memanfaatkan uang hasil jerih payahnya.
Ibu Jess bahkan mengatakan lebih baik melihat Jess mati, dari pada hidup di jalan belok. Jess mengajak Yuna untuk mengontrak rumah. Beberapa kali Yuna datang ke rumah ibu Jess, dan membuat ibu Jess melihat sisi positif dari Yuna. Jess merasa kehadiran Yuna mengubah hidupnya, ibu Jess pelan-pelan mau mendekati Jess lagi. Namun di saat keharmonisan itu berjalan, para bibi Jess terlihat tidak senang. Mereka berpikir Jess menanggung semua biaya keperluan Yuna dan Roxane.
Mereka ingin memisahkan Yuna dan Jess, belum lagi datang perempuan virtual dari aplikasi yang menggoda Jess. Awalnya Yuna ingin pulang, namun Jess menahan Yuna karena sudah menganggap Roxane sebagai anaknya sendiri. Di sini lah, akhirnya petualangan Yuna dimulai lagi bersama asosiasinya.
Di tempat lain, Huda kini berangsur pulih dari gilanya akan Yuna berkat pengobatan yang dilakukan pamannya, Levi. Maryam dan Levi membawanya ke Amerika untuk merubah suasana jiwa Huda, di sana Huda bekerja di pondok pesantren yang bekerja sama dengan pesantrennya Kyai Jalil.
Karena melihat Huda terus melamun, Levi duduk membawakan segelas kopi latte setelah menghampiri keponakannya yang menatap matahari senja di balkon.
"Kenapa kau kelihatan murung, Huda?" Pelannya.
"Aku ingin membunuh jin di tubuh ratu Elisabeth." Singkat Huda tanpa basa-basi.
"Membunuh jin?" Levi mengangkat dua alisnya.
"Yah!" Huda menyeruput kopi yang sudah pamannya bawakan.
"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?"
Huda menjawab pamannya, "belum pernah kusentuh, aku kemarin hanya sibuk menghadapi kroco-kroco..." Mendengar jawaban Huda ini, Levi mengangguk, angguk.
"Kamu mau aku ajarkan cara paling cepat dan lebih efisien?"
Huda melirik Levi, "Ya!"
"Kapan kau mau melakukannya?"
"Sekarang?"
"Memangnya kau sudah siap mental untuk taruhan nyawa? Kau nanti bisa-bisa mengalami kematian setelah melakukan ini." Jelas Levi.
Huda duduk serius, menghadap Levi dengan tatapan tajam.
"Semuanya sudah aku lalui, bahkan aku menjadi orang yang sekarang bisa mengimbangi pria yang memasukkan jin itu ke dalam tubuhnya... Pria itu suatu saat harus bisa kubunuh!" Tajam Huda dengan bola matanya yang berpijar.
Levi mengangguk-angguk, "Musa adalah orang yang menguburkan pemimpin mereka, kau ingat itu?"
"Ah, ya Nabi Musa alaihis salam!" Jawab Huda kepada pamannya yang Yahudi ortodok itu.
"Kau tahu betul, bahwa semua keyakinan orang-orang kegelapan itu bermula dari keyakinan pagan Mesir kuno, dan Musa adalah satu-satunya dan yang paling pertama, yang mampu memusnahkan kegelapan itu semua!" Tunjuk Levi ke dada Huda.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Huda berdebar-debar.
"Dia bahkan berdebat dengan iblis, ketika iblis datang kepada Musa, meminta solusi untuk bertaubat, Musa langsung menyuruh si iblis berlutut ke kuburan Adam, tapi iblis menolak! Maka batal niat iblis untuk taubat!" Jelas Levi.
Huda mengangguk pelan.
"Kau harus bisa menyeret jin di badan orang itu keluar terlebih dulu, dan menyiramkan tanah kuburan Adam ke mukanya! Karena jiwa yang bersemayam dalam tubuh orang itu, bukan lah jiwa sembarangan... Itu adalah jiwa Elies... Alice..." Lirih Levi sambil menutupi mulutnya yang mendekat ke telinga Huda.
"Tapi di mana kuburan nabi Adam?" Huda penasaran.
"Lokasi kuburan Adam masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Beberapa pendapat mengatakan, makam Adam berada di Al-Quds Yerusalem, tepatnya di Masjid Ibrahim dan Lembah Baitul Maqdis. Sementara itu, ada juga yang meyakini bahwa makamnya berada di India, dan saat banjir zaman Nuh, jenazahnya dibawa oleh Nuh dan kemudian dimakamkan kembali di lembah Baitul Maqdis.
Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa dikubur di gua Gunung Qubais dekat Masjidil Haram. Bahkan, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Adam berada di Masjid Khoif, bukan di area Ka'bah.
Lokasi pasti makam Nabi Adam tidak diketahui secara pasti dan masih menjadi misteri!" Levi menarik nafas dan menghembus pelan, lalu menyeruput kopinya.
Huda terlihat lesu dan terdiam berpangku tangan dengan sekali lagi matanya menerawang ke balik kaca jendela.
"Kalau tidak salahku, di Jawa, ada mantra kuno ajaib, mereka menyebut-nyebut nama Sulaiman. Dan itu mantra digunakan untuk menjinakkan bahkan meleburkan jin... Coba kamu cari..." Hibur Levi.
Huda menoleh lagi ke Levi.
"Kaydos Brengos itu orang Banyuwangi lho... Dia lah pria yang menanam sosok itu ke tubuh Ratu.." terang Huda.
"Benar kah? Kalau begitu, mantra itu pasti bisa ditandingi oleh orang itu! Kau harus mencari sumber iu yang lebih tua dari milik orang itu, sehingga dia tidak akan bisa mematahkan afirmasimu!
Kau harus tahu, mahluk itu memiliki perjanjian kegelapan abadi dan disetujui oleh Tuhan juga!
Kau harus bisa mematahkan perjanjian mereka berdua, jika kau benar-benar ingin menentang semua ini!" Levi tidak punya pilihan, dia harus menerangkan hal fatal ini, bahwa apa yang dilakukan Huda juga merupakan pembangkangan kepada yang Maha Esa.
Sebab jin kafir yang satu itu diutus memang untuk ada hingga kiamat tiba. Dan Huda ingin membunuhnya. Bagaimana bisa?
Tapi siapa yang peduli, tekat Huda ini membulat!
Huda pasti akan mencari tahu caranya!
Lalu bagaimana nasib Yuna sekarang yang hidup dengan Jess?
Yuna dan Huda sekarang seperti hilang ditelan bumi, para pengurus yang mereka abaikan bahkan tidak ada yang tahu bagaimana kabar mereka berdua sekarang.
Ada kah kabar terbaru di asosiasi?
Dunia saat ini sedang pandemi. Perang ghaib antara leluhur panjaga negara-negara di bumi, sedang saling beradu dengan jin-jin kafir yang bekekerja sebagai bawahan Konsilian Konsilia, mereka bertugas menanam virus ke tubuh manusia. Dan para leluhur berusaha mengerahkan kemampuan dan generasi mereka, menutup kembali gerbang dimensi ke lima, mengusir pandemi.
Apa kah Huda sudah melupakan Yuna?
Apa solusinya untuk bisa membunuh jin di tubuh ratu lebah dunia ini?
Comments
Post a Comment