Bab 25 Huda Gila

 Huda mulai berpikir apakah dia ingin kembali ke jalur hukum Islam. Kesesatannya kini semakin jadi dimana dia sudah mulai kehilangan kepercayaan dengan eksistensi Tuhan. Namun siapa sangka Zanum sekarang mengirimkan gambaran masa depan pemandangan ke  mata ke tiga milik Huda, telihat Huda di sebuah kuil gelap.

Dalam kuil itu, di hadapan api. Di depannya ada bejana besar. Di situ ada sosok mahluk tak berdosa masih berumur puluhan hari, mahluk kecil perempuan yang masih suci dari dosa. Dan nampak Huda mencelupkan tubuhnya ke bejana air bening. Lalu membakar mahluk tak berdaya itu hidup-hidup dan mengabaikan suara tangisan mungilnya yang meminta pengampunan.

"Argh! Tidak! Yuna!" Sontak Huda berdiri.

Jantungnya seperti dihantam batu padas. Nafasnya memburu setiap detik. Matanya tercengang, seperti berusaha menghentikan dirinya sendiri dari perbuatan keji itu. Seperti dia benar-benar tahu, putri siapa itu tadi.

Huda mengangkat tangannya dan memandangi telapak tangannya yang sudah bergetar.

"Dua tangan ini!" Makinya.

"Dua tangan ini pendosa!!" Serunya sambil menjambak rambut dan menjatuhkan lututnya ke lantai.

"Kau ini kenapa?" Levi terlihat menyadari bahwa keponakannya sedang menerawang masa depan.

"Tidak! Aku tidak bisa menumbalkan anak itu! Jika itu syaratnya! Hentikan, Zanum!" Muka Huda menatap lantai dan matanya melinangkan banyak air penyesalan.

"Coba kau bertanya kepada Yuna, apa yang harus kamu lakukan!" Bisik Zanum.

"Tidak! Aku tidak akan melibatnya dalam masalah ini!" Bentak Huda, suaranya sangat kencang sampai membuat Maryam mendekat, tapi segera Levi menghadangkan tangannya, melarang untuk mendekat.

Terlihat Huda sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

"Kau bukannya mengabdi dan memuja Yuna, otomatis jika kau mengusik satanis, maka mereka akan mengintai Yuna, bodoh!" Lirih Zanum.

"Ah?!" Huda terbelalak.

Dia tersadar kini akan kesalahan terfatalnya.

Dia yang berniat mengimbangi kekuatan dan kesaktian Kaydos Brengos dengan menjadi orang musyrik, agar selalu bisa terhubung jiwanya dengan frekuensi Kaydos, justru sekarang merasa tertampar.

Dalam pikiran Huda saat itu, jika dalam dirinya terlalu banyak energi Tuhan, maka pasti dia akan dijauhkan dari Kaydos. Maka akan semakin sulit bertemu Kydos, sebab mereka tidak sefrekuensi. Namun kini dia paham seutuhnya.

"Kenapa kau tidak menjelaskan dari awal?!" Huda merasa terjebak.

"Kau bebal, keras kepala, kau diberi akal oleh Allah tapi kau menciptakan al Qur'an-mu sendiri... Kau pikir kau bisa membuat hukum yang lebih baik dari pada fisika buatan-Nya?" Ejek Zanum sambil mengitari Huda.

Huda gemetaran, dia meraih ponsel di meja dan langsung memencet nomor kontak Yuna namun tidak ada respon, sepertinya Yuna ganti nomor.

Dengan panik Huda menghubungi Anderson.

"Assalamu alaikum!" Suara Huda bergetar.

'Waalaikum salam! Huda! Ada apa? Kau kenapa?' Anderson sampai panik, suara Huda seperti sedang menggigil karena gemetaran.

"Apa kau tahu dimana Yuna saat ini?"

'Nah, Yuna tidak ada kabar, aku sudah menelpon tapi terakhir kali kutelpon aku mendengar dia menangis dan di sana seperti ada laki-laki,' jelas Anderson.

"Ya! Yuna sudah menikah!" Seru Huda sambil menangis pecah.

Maryam terlihat sangat tidak tega, suara Huda mulai terdengar merintih. Levi menguatkan Maryam agar memberi kesempatan kepada Huda untuk mengungkapkan rahasianya.

'Yuna menikah? Jadi itu alasannya kamu juga menghilang?' Anderson serius, mendengar suaminya sedang terlihat fokus, Larossa duduk di sampingnya dengan diam menguping.

"Ada satu hal lagi, kau ingat bukan, aku pernah bercerita kepadamu bahwa aku bersekutu kepadanya supaya aku bisa selalu terhubung dengan jejak keberadaan Kaydos Brengos?" Huda tergagap.

'Ya! Katakan kepadaku semuanya! Jangan ada yang kau tutupi, mungkin Yuna dalam bahaya!' Anderson memastikan resikonya.

"Ya! Kau benar! Dan dugaanmu itu tepat, aku terlalu naif! Dan kini aku tidak tahu harus apa jika Yuna menghilang! Aku tidak bisa mendeteksi keberadaannya sekarang sedang bersama siapa!" Keluh Huda merengek.

"Oh tidak, Harun sudah pernah mencoba melacaknya, begitu pula Adwin, kau tahu, aku mendengar isu dari Raka.. Raka menceritakan semuanya kepada Davos tentang pernikahan Yuna, dia dianiaya keluarga suaminya!" Anderson empati.

"Apa?!" Ekspresi wajah Huda berubah, dia bangkit berdiri dan berjalan menjauhi Levi dan Maryam.

'Ya! Yuna mengalami kekerasan fisik dan mental, suami Yuna sangat pencemburu dan merusak segalanya, sekarang bahkan Raka memblokir Yuna. Agenda kita mau memakai ECCHO untuk melumpuhkan projek bank digital setelah plandemik pun terancam gagal!

Adwin di sisi lain belum bisa membujuk Raka untuk kembali ke asosiasi lagi. Akun milik Raka dihapus oleh suaminya Yuna. Itu puncak alasan kenapa Raka sangat marah!'

"Apa?!" Huda meninju tembok merasa tidak percaya atas nasib Yuna yang paling dia utamakan selama ini.

'Lalu sejak itu Yuna tidak ada kabar lagi! Lenyap, sama sekali tidak ditemukan lokasi keberadaan terakhirnya!'

"Tidak! Aku harus menemukan Yuna sekarang! Sepertinya hanya dia yang tahu cara membunuh ratu itu!" Huda mengantukkan kepalanya ke tembok.

'Aku akan mengerahkan segala bantuan, kau harus tetap tenang! Sebaiknya kau menghubungi Tuan Jalil supaya aman!'

"Aku malu..."

'Kenapa kau harus malu! Kau kan bisa berkata jujur kepadanya! Dia itu guru kita!'

"Apa kau yakin dia akan memaklumiku?"

'Kau ini berkata apa? Kau sadar tidak? Kau ini sedang butuh kepala banyak orang untuk berpikir! Jangan kau pikirkan segalanya semaumu sendirian!'

"Baik lah..."

'Ingat pesanku, satu hal... Kau adalah kakaknya Yuna... Dan kau harus menjaga Yuna... Kau ingat pesan dari ayahmu?'

"Ayah..." Huda menyembunyikan wajahnya di balik rengkuhan lengan yang meratap ke tembok.

'Ya! Kau harus selalu mengingat wajah ayahmu supaya kau bisa membatasi perbuatanmu, Huda! Jika tidak, kau akan selalu kehilangan kendali!'

Mendengar itu, seketika kepala Huda terbayang-bayang kilas balik ingatan dia saat menyentuh setiap lekuk tubuh gadis yang selama ini ada untuk mendukungnya. Dan ingatan itu awalnya terlihat kabur, namun lama kelamaan ingatan itu terlihat sangat jelas. Bahkan setiap deru nafas yang berpacu dengannya. Semua perasaan berdebar dan hangat waktu itu. Semuanya terasa meleleh luluh lantak dan merenggut senyum Huda.

"Hiaargh!" Huda melempar ponselnya ke lantai.

'Huda?' Anderson berdiri, sepertinya si doi sedang tidak baik-baik saja.

"Huda tenang!" Levi menghampiri Huda yang depresi.

Huda berputar-putar menutup mata dengan dua tangannya. Berharap bayangan-bayangan di masa lalu itu cepat hilang dari hadapannya namun apa yang terjadi. Lukisan indah senyum dan rasa kecupan yang nyata semakin membayang.

"Zanuuum! Zanuum! Zaaanuuum!!!" Huda memanggil-manggil iblisnya, meminta tolong agar penglihatan itu dipudarkan.

"Bukan aku yang mengingatkanmu akan semua perbuatanmu itu, Huda! Tapi matamu sendiri yang berbicara... Apa lagi kelak di padang Masyar..." Lirih Zanum.

"Tiiidaaak!!! Ya Allah! Tidaaak!!" Huda tersujud memukul-mukul lantai.

"Oh, Huda kenapa kamu jadi seperti ini, Nak! Dosa besar apa yang sudah kamu lakukan, anakku?!" Maryam tidak peduli, dia berlari mendekat dan meraih dua bahu anaknya namun Huda menepis sentuhan tangan ibunya.

"Aku sesat, Bu! Aku musyrik! Aku munafik! Aku kafiirr!!" Pekik Huda seperti kembali ke usianya yang masih kecil dan cengeng.

"....." Maryam terdiam, menutup mulut dengan dua tangan dan menangis tersedu-sedu.

Dia bangkit dan berlari ke kamarnya, membanting pintu dan tidak berharap siapa pun akan mencegahnya menyendiri.

Sementara itu, Levi dengan tenang dia duduk, menyalakan rokok dan menyebat tipis. Membiarkan Huda sesenggukan menangis, melekatkan kepalanya ke tanah dan berusaha mencari cara agar bisa bebas dari segala kesalahannya itu.




Levi kemudian membuka mulutnya dan berkata, "jika seseorang memberimu nasehat, itu artinya dia sudah pernah melakukan kesalahan terbesar, dan dia ingin kau terhindar dari akibatnya... Menurutku, jika kau tadi mendengarkan saran dan nasehat temanmu, maka kau pasti bernasib lebih baik besok pagi..."

Huda tidak menjawab, dia merangkak di lantai dan meraih gawainya. Anderson masih tersambung dalam saluran panggilan, namun Huda mematikannya tanpa berkata apa pun. Dia mulai mencari kontak, menghubungi Kyai Jalil, merebahkan tubuhnya ke lantai dengan segala rasa ringkih yang menyelubungi dirinya.

'Assalamu alaikum...' lirih Kyai Jalil dengan nada adem.

"Hiks, hiks, hiks," Huda hanya bisa menjawab suara renyah dan rendah hati khas gurunya dengan tangisan malu.

'Gus?..' panggil Kyai Jalil memastikan.

"Tolong, panggil Huda saja, Yai.." rintih Huda.

'Mas Huda?...' lembut Kyai Jalil sekali lagi memastikan.

"Yai, saya sudah salah jalur..." Huda masih sesenggukan sampai wajahnya memerah gelap.

'Ada apa to Mas, cerita yang jelas...' kalem Kyai Jalil jadi penasaran.

"Yai, selama ini, sebenarnya saya diam-diam sudah melakukan kemusyrikan..."

'Astaghfirullah... Apa itu, Mas?'

"Saya memuja selain Allah, Yai..." Huda semakin menjadi, tangisnya pecah lagi, dia tidak mau Yuna tersakiti akibat semua ini.

'Lha trus?..'

"Yai, tidak marah kah?"

'Lawong, saya ini... Gimana ya... Ya sudah tugasku lah memahami kondisi kejiwaan orang seperti kalian, makanya coba jelaskan... Saya ini insyaAllah sudah pakarnya lah... Ga usah malu-malu... Coba cerita saja, minimal plong gitu...' ringan tanggapan Kyai Jalil, bermaksud menghibur.

"Yai, saya malu..."

'Semakin Mas Huda berbelit-belit, semakin Mas Huda sendiri yang bikin situasi semakin sulit, sekarang pilih mana?'

"Baik, saya akan bercerita..."

'Silahkan, Le..'

"Saya dulu bertemu Yuna sebelum saya tahu kalau... kalau ternyata dia itu adik saya, Yai..."

'Nah, trus? Kalian pacaran?'

"Iya..." Rengek Huda.

'Kalian udah kikuk-kikuk?'

"Iya..."

'Oke, terus?'

"Dan saya memuja dia, Yai, sebagai dewi sesembahan saya supaya saya bisa melacak Kaydos Brengos yang susah ditembus oleh siapa pun..."

'Hm.... Terus???'

"Saya mau bunuh jin dalam tubuh ratu itu, dan saya juga mau bunuh pria itu... Tapi saya takut, dampaknya kena ke Yuna, sebab dia itu sesembahanku..."

'Idola lah ya ceritanya mengidolakan Mba Yuna...'

"Iya, Yai..."

'Saya juga suka Mba Yuna tapi cuma ngefans, ga lebih, ga sampai mengidolakan sedemikian rupa kaya Mas Huda gini... Waini mah sama aja Mba Yuna kena batunya...'

"Makanya Yai, gimana ini solusinya?"

'Gampang...'

"Hah?" Tiba-tiba Huda mengusap pipinya kuat-kuat.

'Kamu wudhu, kamu mandi junub, kamu sholat taubat, terus sholat hajat, udah, selesai...'

"Serius masa begitu doank, Yai?"

'Lah, emang mau gimana? Mau disalib? Dilempari batu, kalian itu bagusnya, sampai mati! Apa mau?'

"Saya belum mau mati sebelum bunuh itu jin dalam tubuh ratu itu, jiwa saya ga tenang, Yai!"

'Yaudah, makanya, kamu lakukan aja lha itu dulu pokoknya, kalau sudah telpon lagi... Wis gausah cengeng, gitu aja kok nangis, mau bunuh jin itu to?'

"Iya, Yai!"

'Gampang, insyaAllah bisa. Ya wis, sana mandi junub, udah gausah nangis, malu sama onderdilnya itu, dia yang berbuat salah aja ga nangis kok kamu nangis.. Ya...'

"Lah? Kan saya yang ngendaliin dia Yai, i, i, ya, Yai..."

'Nah, dia terpaksa kan nurut sama kamu, ga bisa melawan kemauan kamu, akhirnya di neraka dia jugaa kena batunyaa dihukum sama malaikat Zabaniah. Dia aja lho sabar ngeladenin kamu. Makanya malu... Jangan  cuma bisa nangis... Sana sholat...' suara khas Kyai Jalil.

"Ba baik..."

'Assalamu alaikum...'

"Wa alaikum salam... Wa rahmatullah..."

Huda menutup panggilan, lalu menjalankan perintah gurunya tanpa menyisakan satu patah kata pun kepada Levi. Pamannya yang terheran dengan perubahan wajah Huda itu akhirnya mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya menuju pintu kamar Maryam.

Setelah menjalankan sholat, Huda menelpon Kyai Jalil lagi, Kyai Jalil mengutus Huda untuk mencari Tongkat Nabi Musa. Tongkat Nabi Musa merupakan salah satu artefak penting dalam sejarah agama Islam. Menurut kisahnya, tongkat ini terbuat dari kayu pohon Zaqqum, yang memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa.

Tongkat ini diberikan kepada Nabi Musa oleh malaikat Jibril, sebagai simbol kekuatan dan kepercayaan Allah kepada Nabi Musa. Dengan tongkat ini, Nabi Musa melakukan banyak mukjizat, termasuk membelah Laut Merah untuk menyelamatkan umatnya dari kejaran Firaun.

Sekarang, Tongkat Nabi Musa disimpan di Istana Topkapı, Istanbul, Turki. Istana ini dulunya merupakan pusat kekuasaan Kesultanan Ottoman, dan kini telah diubah menjadi museum yang menyimpan banyak artefak bersejarah, termasuk Tongkat Nabi Musa.

Huda akhirnya bersiap berangkat ke Turkey. Dilihatnya saldo rekening, penjualan obat haram sebagian anak buahnya yang masih aktif ternyata masih ada, dan ternyata saldo bertambah dan masih berjalan. Dengan uang itu Huda memutuskan pergi sendiri menembus lock down di Amrik dengan biaya mahal tiket dua kali lipat saat itu dan hanya membawa beberapa helai baju dan celana ganti. Sebelum dia berangkat, dia mengabari Anderson terlebih dulu, jaga-jaga jika terjadi sesuatu. Anderson merespon baik, dia bahkan mengatakan akan berusaha menolong.

Setibanya Huda di Bandara Istanbul, Huda menelpon Anderson. Anderson memberi tahu bahwa Pierre dan Hellen ternyata juga sedang ada di sana, sebab mereka  sedang melakukan penelitian penting terkait plandemik yang sedang terjadi. Pierre dan Hellen menjemput Huda di depan gerbang bandara, lalu mereka membawa Huda ke apartemen mereka.

Sesampainya di apartemen, Pierre memperingatkan Huda akan bahaya mengenai para satanis di Turki. Dia menceritakan bahwa pandemi kali ini bertujuan untuk meremukkan Turki. Sehingga tidak ada lawan lagi bagi satanis dalam persidangan perserikatan bangsa, mereka ingin kondisi negara ini terpuruk sampai lumpuh dan tidak mampu membantu negara yang sedang dijajah oleh sekutu Amrik.

Pierre juga mengabarkan kedatangannya ke Turki kali ini sebab mau menghadiri pertemuan satanis seluruh dunia. Huda merasa adrenalinnya terpacu, dia memutuskan untuk ikut Pierre.

Keesokan harinya, Huda bangun pagi-pagi di kamar apartemen di Taxim Suites Residence Istanbul. Ia merasa nafasnya pagi ini sedikit lebih segar dan siap untuk memulai hari yang baru. Setelah sarapan, Huda memutuskan untuk ke Museum Topkapi, sebab nanti malam Pierre akan mengajaknya ke pertemuan rahasia global.

Dengan berjalan kaki, Huda menuju ke Taksim Square yang hanya berjarak lima menit dari apartemennya. Di sana, ia menaiki metro yang akan membawanya ke Sultanahmet, lokasi Museum Topkapi. Perjalanan metro hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit.

Setelah tiba di stasiun Sultan ahmet, Huda berjalan kaki menuju Museum Topkapi. Ia melewati jalan-jalan yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir dan restoran. Udara di sekitar museum dipenuhi dengan aroma rempah-rempah dan makanan khas Turki.

Huda melangkah dengan langkah yang penuh harap menuju Museum Topkapi di Istanbul, Turki. Semenjak Levi dan Kyai Jalil menyebutkan nama nabi Musa, Huda jadi terpikat oleh keajaiban tongkat Musa yang terkenal itu. Apakah benar ada legenda yang mana penguasa satanis hanya bisa dikalahkan oleh nabi Musa.

Saat tiba di Museum Topkapi, Huda terpesona oleh aroma energi keagungan kerajaan Turki yang tersebar di dalam gedung, didukung keindahan arsitektur bangunan museum. Setelah melewati pintu masuk museum yang megah, ia membeli tiket masuk dan memasuki museum. Di dalam, ia melihat banyak koleksi artefak bersejarah, Huda langsung menuju ruangan tempat tongkat Musa dipajang dengan hormat.

Ketika ia pertama kali melihat tongkat Musa, Huda merasa takjub dan terpesona. Tongkat itu tampak sederhana, namun memiliki redusi energi sejarah yang begitu kaya dan mendalam. Huda membayangkan Nabi Musa memegang tongkat itu dengan tangan yang kuat dan melakukan mukjizat-mukjizat yang ajaib.

Huda menghabiskan beberapa jam di museum, mempelajari tentang sejarah tongkat Musa dan Nabi Musa dengan penuh ketekunan. Lalu setelah membaca semua literatur di Museum itu tentang tongkat Musa, Huda menghubungi Kyai Jalil.

Mereka berbicara ringan lalu Kyai Jalil menginstruksi supaya Huda mengamati tongkat nabi Musa lagi. Di tongkat Musa ada tulisan: Setiap penguasa yang tidak adil dalam kekuasaannya tiada bedanya dengan Firaun.

Setiap ulama dan ilmuan yang tidak mengamalkan ilmunya tiada bedanya dengan Iblis.

Setiap orang kaya yang tidak bermanfaat hartanya bagi orang lain dan dirinya tiada bedanya dengan Qarun.

Setiap orang miskin yang tidak sabar atas kemiskinannya tiada bedanya dengan anjing.

'Dan di tongkat itu ada lagi tulisan Asma Allah: Barhatiihin Kariirin tatlihin thauroon barhasyin tarqobin. Coba kamu amati!' Ucap Kyai Jalil.

Huda mendekati ke tongkat itu dan menelisik dengan pandangannya.

"Ya, ada, Yai..."

'Sekarang aku ijazahkan kamu pengaktifan yoni ilmu untuk bisa mendapatkan sawab dari tongkat nabi Musa alaihi salam, insyaaAllah biridhai Allahu taalaa... apa kamu siap?' Kyai Jalil.

"Siap, Yai!" Mantap Huda.

Kemudian Kyai Jalil mengajarkan dan mengadakan pengijazahan ilmu ghaib ke Huda. Karena itu Huda wajib ada di dekat tongkat nabi Musa.

Namun ada kendala, sepertinya Zanum tersiksa dengan hal ini, nafas Huda tersengal-sengal saat berusaha menerima energi doa Kyai Jalil ke dalam tubuhnya. Nafas Huda terdengar berkejaran di telepon.

'Mas, Sampeyan ga apa-apa?'



Comments

Popular Posts