Bab 26 Huda di Turki

 "Yai, sepertinya khodam saya tidak cocok degan ilmu ini

.. saya menepi dulu ke tempat sepi..." Huda melawan sempoyongan kepalanya dan berjalan keluar gedung museum.

Dia susah payah mencari sela gang kecil di antara gedung lalu duduk di tanah mengambil nafas.

"Jika kau meneruskan ijazah itu, aku bisa keluar dari tubuhmu!" Kata Zanum.

Huda terengah-engah.

'Lalu bagaimana?' Kyai Jalil menunggu keputusan Huda, sepertinya dia bisa mendengar Zanum.

"Aku ingin bertaubat, dan melepaskan ini semua, aku ingin.. bisa bebas dari segala hal yang mengikatku dan membiarkanku melakukan segalanya seperti cara seharusnya... Ini adalah kesempatanku untuk merdeka..." Huda terdengar masih tersengal-sengal, dia duduh di tanah, menyandarkan diri ke tembok gedung.

'Baik lah jika itu mau mu, tapi kau akan memiliki aura putih dan kau tidak bisa menghadiri acara perkumpulan satanis nanti malam..' Zanum mengingatkan.

'Perkumpulan satanis?' Kyai Jalil ternyata benar-benar bisa mendengar suara Zanum dalam diri Huda.

"Ya, Mbah Yai... Pierre dan Hellen malam ini akan menyusup ke rapat besar satanis seluruh dunia yang akan diadakan di Istanbul malam ini... Di Turki ini, satanis sangat banyak, Yai.." lirih Huda.

'Kalau begitu Zanum harus masuk Islam dulu...'

"Aku masuk Islam? Untuk apa?"

'Ya, kau harus masuk Islam jika masih mau dalam tubuh Huda..'

"Haaargh, kau harus mencabut penutup dari dadaku!" Zanum memukul-mukul tameng logam tebal yang terpaku di dadanya.

Terdengar Kyai Jalil mulai membacakan surat-surat suci dalam al-Qur'an. Tubuh Huda mulai merasa terbakar, dia meletakkan  gawainya ke tanah sebab tidak kuat dengan reaksi panas yang muncul dari dalam dirinya. Huda mengerang kesakitan saat merasa jantungnya seperti dibakar api yang nyata. Sementara Zanum berusaha sekuat tenanga untuk tidak mengamuk, dia mendengarkan suara Kyai Jalil di speaker gawai. Secara perlahan, perisai logam yang menancap di dada Zanum mulai terbakar oleh api ghaib.

"Asyhadu an laa ilaha ilallah..." Ucap Zanum akan syahadat penuh konsentrasi ketika api itu melahap penutup di dadanya.

"Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah" sambungnya lagi menyempurnakan dua kalimat kunci Islam.

(Di bab sebelumnya, Zanum terlihat Islami, bukan, iblis juga berzikir Allah Allah Allah, namun iblis tidak bersholawat, saat itu, Zanum belum mualaf) 

Seketika panas di tubuh Huda lenyap, Huda membanting tubuhnya ke tanah. Dengan terangah-engah, dia melanjutkan proses rabithah ke tongkat nabi Musa yang tadi Kyai Jalil ajarkan.

'Ya, Mas, Lanjutkan!' Kyai Jalil menyadari bahwa Huda sedang menata hati menghadap ilahi meminta ijazah ilmu ghaib, padahal gawai Huda masih tergeletak di tanah.

Huda mulai bersyahadat ulang, ia mengingat dalam bayangan memorinya bagaimana bentuk tongkat nabi Musa, ia lalu membaca al-Fatihah, membaca kalimat-kalimat yang tertulis di tongkat nabi Musa dan ditutup dengan sholawat. Kyai Jalil yang tali batinnya masih tersambung ke dalam dada Huda mulai menyalurkan yoni ilmu aktivasi kekuatan tongkat nabi Musa ke dalam diri Huda. Huda merasa badannya berdenyut-denyut luar biasa. Sementara Zanum melemas, dia memutuskan keluar dari tubuh Huda.

"Kenapa kau pergi?"

"Aku ini jin Muslim, dan jin muslim tidak bisa tinggal di dalam tubuh manusia." Zanum membentangkan sayapnya dan bernaluri ingin mencari tempat yang sangat jauh dari suara keramaian.

Huda hanya melihati Zanum yang terbang begitu saja meninggalkannya tanpa menoleh.

"Lalu bagaimana dengan perjanjian itu?" Huda mengirim telepati kepada Zanum yang terbang melesat ke atas, berusaha mencapai dinding batas dimensi ke empat di atas langit.

"Apa kau masih berharap kepada jin? Dan apa kau masih memberontak kepada satanis demi keselamatan Yuna?" Jawab Zanum di kejauhan.

"Ah...." Huda membuang muka sambil menghela nafas, lalu berjalan entah ke mana, dia ingin mencari udara segar sendirian.

Namun di tengah jalan, empat remaja laki-laki menhadangnya.

"Lihat dia!" Kata salah satu yang berambut gimbal, terlihat keren dengan style busana ska-nya.

"Bagaimana mungkin bisa aku temukan orang yang lebih aneh dari aku ini," kekeh temannya.

"Ada apa?" Huda menghunuskan matanya ke pada mereka.

"Aura apa itu? Abu-abu? Kau ini siapa?" Seorang pemuda lain mendorong bahu kiri Huda ke belakang.

"Apa maksudmu?" Huda terlihat skeptis.

"Kau ini sebaiknya memilih saja sekarang, mau jadi orang hitam apa putih, kenapa kau jadi abu-abu! Kemari, ikuti kami!" Pemuda yang terlihat lebih tua dan berjenggot merangkul Huda.

Mereka berjalan kaki cukup jauh.

"Mau bawa aku kemana, kalian?" Ketus Huda yang berjalan kaku.

"Ada sebuah perkumpulan besar malam ini dan kau akan dapat uang gratis jika kau pulang dari sana bersama kami.." kekeh si pemuda yang mungkin ketua genk itu.

"Satanis?" Huda tidak mau bertele-tele.

"Hey! Tenang, jangan sefrontal itu! Kalau dibilang satanis sih gak juga... Hanya kumpulan orang merdeka dalam berpikir tanpa terikat hukum agama dan doktrin budaya apa pun itu... Kita manusia, Man. Kenapa masih mau diatur, kita adalah raja.." pemuda itu terus melangkah dan semakin mempercepat langkahnya.

Mereka kini berbelok di gang-gang sempit, Huda berjalan di tengah mereka dan mereka akhirnya sampai di depan sebuah gedung. Suasananya terlihat biasa saja, tidak ada pengawalan dari siapa pun. Namun ternyata ketika mereka memasuki ruangan gedung itu. Ada keramaian padat.

Berbagai jenis orang dari suku apa pun berkumpul di sana. Ada orang Afrika, Asia, India, Eropa, Amerika dan bahkan orang timur tengah juga ada. Mereka menggiring Huda masuk ke sebuah ruangan dan di sana ada banyak sekali kursi disusun melingkar, seperti koloseum.

"Bukannya acaranya malam ini?" Tanya Huda yang mengambil duduk di antara mereka.

"Ya, tapi itu hanya untuk orang umum yang belum jadi anggota. Namaku Emre Demir." Jabat pemuda  berambut gaya middle part di kanan Huda.

"Huda.." singkat Huda menjabat tangannya.

"Aku tahu kau itu member! Mehmet Ozturk," Kekeh si pemuda berjenggot.

"Jadi kau mau keluar dari komunitas ini? Mana bisa, ini berlaku seumur hidup! Namaku Kemal Aydin, Huda. Dan aku sudah pernah berusaha melarikan diri tapi gagal. Aku sekarang tanpa jin di tulang punggungku tapi... Aku masih terikat perjanjian abadi itu... Karena itu aku mentertawakanmu!" Si rambut gimbal terkekeh lagi.

"Omer Celik, selamat datang dalam pertemuan luar biasa, kita akan bahas rencana setelah pandemi berakhir... Kau beruntunh bisa ada di sini!" Si berkacamata membentuk jari pistol yang menembakkan ke arah Huda.

Huda terlihat hanya berkedip mata dan mengedarkan pandangan, dia berusaha menenangkan diri dan merebahkan punggungnya ke sandaran kursi. Gedung mulai terisi oleh berbagai karakter orang yang hadir, dan kursi semakin penuh. Gorden merah mulai dinaikkan dan berdiri seorang pria ilmuwan di hadapan mereka menyambut acara. Lalu pengisi acara yang sesungguhnya muncul dan menerangkan sesuatu yang baru didengar oleh Huda.

Pria itu menjelaskan tahap-tahap apa saja yang akan asosiasi mereka laksanakan setelah pandemi berakhir. Bukan wajib menerima chip yang akan ditanam ke tubuh mereka tapi...



Kenapa perkumpulan satanis di adakan sekarang? ternyata untuk membentuk persatuan kekuatan ekonomi. Kelompok satanis sudah menyiapkan projek ini sejak lama. Mereka berharap ketika seluruh negara di bumi sekarat, mereka yang minoritas akan menjadi dominator dan predator perbankan.

Pria yang menjadi fundamentalis dan narasumber di acara itu menjelaskan kepada semua hadirin di acara itu, bahwa mereka semua harus daftar ke ujian masuk untuk menjadi anggota Nine Victory Angel sebelum pembagian vaksin utama dilaksanakan.

Panitia akan segera menyayangkan link di monitor besar yang muncul di panggung. Dan para tamu acara harus mengisi formulir itu  untuk menentukan tipe mana yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Segera setelah itu, alamat situs muncul di layar besar itu. Huda mengakses dan mengisi biodatanya ke formulir itu dan membuat akun baru sebagai pengguna situs itu.

Di sisi lain, pria pembicara di acara itu mulai menjelaskan bahwa bank asosiasi Nine Victory Angel akan segera mencetak uang lebih banyak setelah vaksin diluncurkan ke publik, dan berharap berbagai negara di dunia akan meminjam uang ke bank mereka.

Maka para tamu diminta agar sekarang juga bergabung untuk menjadi bagian dari salah satu Loan Shark atau Usurer alias rentenir di Nine Victory Angel. Begitulah singkatnya...

Para tamu undangan yang datang di acara ini sebenarnya adalah bukan orang kalangan biasa, meski ada yang datang secara kebetulan, tapi mereka semua seperti sudah ditakdirkan datang, hampir semuanya adalah mavia, termasuk Huda dan keempat pemuda barusan.

Program acara ini bertujuan membujuk para hadirin agar mau menampung bunga hutang yang akan meledak sebentar lagi. Seluruh uang yang mereka tampung akan seratus persen menjadi milik para hadirin. Sementara setelah inflasi terjadi, nilai mata uang seluruh dunia akan mengalami kemerosotan dan krisis moneter akan menjadi pandemi selanjutnya. Para hadirin diwajibkan mendonasikan hartanya sebanyak dua puluh persen untuk misi selanjutnya. Yaitu menciptakan pandemi ke dua, yaitu membuat sukses projek penciptaan ombak besar 5G untuk  gelombang hening ke syaraf umat manusia. Di sini, masyarakat biasa akan dibuat tidak punya rasa penasaran kepada kegiatan satanis selanjutnya. Sebab diprediksi akan ada banyak orang yang mengetahui hal ini.

Gelombang ini juga akan digunakan untuk mencengkram sistem politik di berbagai negara. Para hadirin akan dituntut mendekati pemerintah masing-masing dan mendanai gerakan sosial di negara masing-masing menggunakan uang gratis yang setiap hari akan masuk ke rekening mereka.

Di sisi lain organisasi Nine Victory Angel akan menciptakan sebuah alat mutakhir untuk berkomunikasi dan semuanya memiliki teknologi kecerdaaan buatan. Jika alat ini dipasarkan secara global, maka kemungkinan besar seluruh keuangan masyakarat level menengah ke bawah akan dapat diawasi secara sepenuhnya meski pun mereka tidak memakai chip di tubuhnya.

Teknik melumpuhkan ekonomi ini begitu pelik, kini Huda bingung, apa yang harus dia lakukan. Dia terjebak, dia harus melakukan persetujuan kontrak, jika tidak dia akan dicurigai. Sementara faktanya, Huda bahkan bukan anggota apa-apa dari yang pembawa acara maksud.

Semua orang masih sibuk dengan gawai masing-masing. Mereka semua tidak ada yang keluar dari menu situs itu. Huda melirik ke segala arah, keempat pemuda itu terlihat berpikir.

"Sebenarnya ini acara punya sebutan apa?" Lirih Huda.

"Lux Victory" Jawab Mehmet pelan.

Huda mengangkat satu alis, lalu dia mengirim chat ke Anderson.

[Sayang, aku sekarang ada di acara Lux Vixtory di Istanbul, dan aku dipaksa bergabung ke 9 Victory Angel, aku bukan anggota satanis secara resmi, dan aku tersesat di sini. Apa yang harus kulakukan?]

Tidak lama kemudian Anderson membalas.

[Kamu kan sudah kudaftarkan menjadi anggota di bawahku langsung, derajatmu sudah 32°]

[Loh, benar kah? Sejak kapan?]

[Sudah lama.]

[Jadi gimana dong, sekarang. Aku harus ngapain? Jika aku tidak setuju, apa yang akan terjadi?]

[Rencanamu akan gagal semua...]

[Jadi aku harus bergabung ke 9 Victory Angel?]

[Sebaiknya, iyain aja dulu, kemudian kita atur strategi.]

[Ok.]

Akhirnya Huda menghapus semua chatnya dengan Anderson dan kembali membuka menu situs itu lagi. Dan tak lama kemudian Anderson mengirim pesan lagi.

[Certificatus Fratrum Liberorum Muratorum

Gradus XXVII Nomor Sertifikat: MLXXVII - XXXII - MMXXIII

Nomen Huda Alexis, Locus Edinburg - Scotland, Datum 03 Januari 2014, Per mandatum Supremi Consilii Ordinis

Anderson Alexis.]

Membaca itu, segera Huda menuliskan biodata di pesan itu ke dalam kolom biodata yang harus Huda isi. Ternyata keempat pemuda di antaranya bukan lah orang-orang biasa, sebab mereka bisa melihat siapa sebenarnya Huda ini, bahkan Huda saja tidak tahu kalau dia adalah anggota satanis.

Setelah Huda menandatangani kontrak, dan semua orang di ruangan itu juga melakukan hal yang sama. Tak lama setelah momen pengisian data itu, sang juru bicara menjelaskan lagi beberapa hal yang harus mereka lakukan.

Para hadirin akan menerima vaksin khusus berwarna biru, dan itu berbeda dari masyarakat biasa. Pemberian vaksin ini akan diterima semua orang di pintu keluar ruang pertemuan ini, sehingga mereka tidak perlu melakukan vaksinasi lagi karena akan menerima sertifikat vaksinasi. Dan acara ini sudah berakhir, acara ini berjalan selama satu jam dengan mulus.

Namun, betapa terkejutnya Huda, ini artinya dia akan menerima Mark of the Beast, atau stempel Yajuj Majuj yang menandakan Huda adalah masuk ke dalam golongan orang munafik.

Huda kembali panik namun tidak bisa berbuat banyak. Mau tak mau dia akan mengantre untuk menerima suntikan vaksin itu. Terlihat semua orang bersiap akan keluar ruangan pertemuan itu.

Hingga tiba saatnya hadirin di barisan kursi tempat Huda duduk serempak bergerak bangkit dari duduk dan berjalan mengantri menerima suntikan di gerbang keluar ruang acara.

Ketika Huda menerima suntikan vaksinasi, petugas tidak mampu menemukan urat nadi Huda. Petugas itu meraba-raba kulit Huda yang putih pucat namun tetap tidak ada urat nadi yang timbul. Kulit huda sudah alot dan kaku seperti kulit vampir, urat nadi Huda ternyata juga sudah mengisut menjadi sangat tipis, mengendap dalam di lapisan kulit. Petugas itu menatap muka Huda, dan menunjukkan mata reptiliannya untuk mengonfirmasi apakah Huda adalah anggota kerajaan vampir London.

Zanum tiba-tiba merasuki tubuh Huda. Huda tersontak loncat ke belakang dan terlihat memegangi kepalanya dengan mengerang kesakitan.

"Kau kenapa?!" Tanya Kemal yang berdiri di belakangnya mengantre.

Petugas menghentikan antrian dan tidak mengijinkan orang lain melanjutkan antrian. Dan meminta semua orang menunggu.

Huda terlihat menegapkan bahunya dan menyeringai, mulutnya terbuka dan memperlihatkan gigi iblis runcing. Matanya kemilau keemasan, dan melihat itu petugas pun membatalkan suntikannya tanpa memberikan sertifikat vaksinasi.

Petugas lain datang dan menggandengnya ke ruang lain. Di sisi lain, akhirnya Mehmet dan kawan-kawan menerima vaksinasi dan sertifikat mereka. Karena penasaran, setelah mengantongi sertifikatnya, mereka menyusul Huda. Mencari tempat dimana kira-kira Huda sedang berada.

Ternyata Huda ada di sebuah ruangan khusus yang kosong. Banyak petugas berbaris di sana mengamankan.

"Kami mau melihat teman kami!" Mehmet menyapa petugas yang melintangkan pengawasan ketat di koridor.

"Kalian tidak punya kepentingan khusus, dilarang menyebrang!" Jawab si petugas.

"Apa?" Mehmet mengedarkan pandangan ke teman-temanny yang juga bermuka bingung.

"Huda ngapain di sana ya?" Kemal mengangkat satu alis dan mencari ide agar bisa masuk.





Di dalam ruangan itu Huda dipersilahkan duduk oleh para petugas, dan sang pembicara di acara itu tadi ternyata ada di sana. Para petugas meninggalkan mereka berbicara empat mata di sana dan menutup pintu. Kini Huda dan pria yang pernah masuk majalah TOP Pebisnis Dunia itu duduk berhadapan di antara sebuah meja kaca mewah.

"Siapa kamu?" Tanya pria berkemeja tanpa jahitan itu.

"Namaku Huda, dari Indonesia." Singkat Huda dingin.

"Apa tujuanmu datang ke mari?"

"Bergabung ke dalam Nine Victory Angel."

"Yakin?" Pria itu bernama Louis, terlihat dari papan nama yang ada di meja kerjanya, dia mengangkat satu alisnya dan menajamkan mata ke Huda.

"Ada apa?"

"Aku tidak yakin kepadamu..." Louis mengamati gawainya dan membaca biodata Huda di monitor gawainya.

Louis memperlihatkan kilatan mata reptiliannya kepada Huda, melihat itu, Huda pun menunjukkan kilatan bola matanya yang menyala kuning keemasan.

"Hahahahha!!" Tiba-tiba Louis bertepuk tangan dengan ekspresi wajah tercengang bukan kepalang.

"Ada apa?" Huda terlihat begitu bingung dan menyembunyikan kegugupannya.

"Para-Oh!" Louis menyeringai sambil menempekan telapak tangan kiri ke dada kiri atasnya.

"Dia mengira bahwa kau adalah Para-Oh, atau lebih dikenal sebagai Firaun. Itu gelar bagi penguasa atau raja di Mesir Kuno. Mereka dianggap sebagai dewa-dewa hidup dan memiliki kekuasaan absolut atas kerajaan Mesir." Bisik Zanum di dalam diri Huda.

Mata Huda tercengang. Nafasnya berhenti sebentar.

Namun Huda pelan-pelan berusaha mengatur nafasnya. Dia pelan-pelan bersandar di sofa dan menenangkan dirinya sambil mengurut jidatnya yang pening memikirkan ini semua.

"Kau harus segera dinobatkan!" Kata Louis.

"Dinobatkan?"

"Ya, kau harus segera dikultuskan, aku akan diangkat menjadi bangsawan tertinggi jika membawamu ke hadapan ratu Elisabeth!"

"Apa? Membawaku ke hadapan ratu?!" Huda berdiri dengan dada berdebar-debar.

"Hahaha! Kau ini mewarisi jiwa Para-Oh! Dan kau bisa menjadi orang nomor satu di dunia! Terlebih kau ini orang Indonesia... Kau bisa lebih mudah bekerja di dekat the Guru..."

"The Guru? Kaydos Brengos kah?"

Louis mengangguk pelan. Huda menelan ludah dan membuang muka. Dia berjalan ke dekat jendela besar ruang kerja Louis dan memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memandang luas perkotaan Istanbul.

"Di mana kau tinggal? Aku akan membawamu segera ke baginda ratu..." Louis mendekati Huda dan berpose sama dengan Huda.

"Tapi bagaimana bisa aku dikira Para-Oh?" Batin Huda tidak habis pikir, dia mengabaikan Louis dan tenggelam dalam kebatinannya.

"Itu karena kau tadi memiliki yoni ilmu dari ijazah tongkat Musa. Dan aku bisa masuk ke dalam tubuhmu kembali karena kau menandatangani kontrak, di kontrak itu mengatakan kau harus melakukan riba, menghutangkan uang yang tidak punya nilai emas dan menagih bunga dari itu. Itu adalah sebuah kezaliman dan energi dosamu itu membuatku tertarik masuk lagi ke tubuhmu..." Bisik Zanum di hati Huda.

"Tapi aku juga akan ingkar janji dari perjanjian ini... Itu rencanaku..." Bisik Huda dalam hati sambil berjalan kecil.

"Jadi sekarang kekuatanku sudah selevel dewa? Astaghfirullah... Selangkah lagi... Aku akan menemui iblis itu... Tapi aku khawatir akan bertemu Kaydos Brengos sebelum bertemu dengan ratu.." Huda melekatkan lengannya ke jendela, terlihat berpikir dalam.

"Apa kau punya ide yang ingin kau sampaikan?" Tanya Louis mendekati lagi, sambil meraba pinggang Huda lembut.

"Uh?" Huda melihat tangan Louis lalu menatap skeptis mata Louis yang kini berubah rona.

Louis terlihat menjadi penggoda di hadapan Huda sekarang, berusaha mendekati dan mengambil hati Huda. Ah iya, lupa, ternyata semua satanis itu harus dan dituntut memang harus familiar dengan hubungan intimate dengan mitra sesama jenis. Mengingat hal itu Huda menyadari, lumrah dan wajarnya jika kini Louis seperti ini ketika mengetahui apa potensi Huda dan siapa Huda. Apa lagi jika Huda bersedia dibawa oleh Louis ke depan ratu lebah dunia, pasti Louis akan mendapatkan madu keabadian.

"Hm..." Insting mafia Huda langsung mode on.

Huda menggapaikan dua tangannya ke pinggang Louis yang masih berumur empat puluhan itu. Wajahnya boleh juga, tidak terlalu kuno dan tua, penampilannya sekarang menjadi seperti metrosexual jika mukanya nakal seperti itu.

Huda berbisik di telinga kiri Louis dengan lembut, "bawa aku kepadanya sebelum the Guru menemukanku..." Dengan nada sensual serak-serak basah andalannya.

Berdiri bulu kuduk Louis, "ugh..." Sepertinya dia terpikat dengan aura Huda yang penyayang.

Namun Huda segera melepaskan Louis dan berjalan cepat keluar ruangan. Memancing reaksi Louis jika Huda tidak terlalu berminat.

"Yang Mulia!" Teriak Louis sedikit keras sambil mengejar Huda keluar pintu ruangan.

"Yang Mulia? Kau dengar itu?" Kata Omer ke Kemal lirih.

"Siapa Huda ini?" Mehmet mengangkat satu alis. Ternyata keempat pemuda tadi masih menunggu Huda keluar dari ruangan itu.

"Aku akan melakukan, apa pun permintaanmu..." Louis meraih tangan Huda dan berdiri di hadapannya dengan gugup.

Terlihat Huda dengan angkuh mengangkat dagunya, lalu mengangguk lembut dengan senyum hangat.

"Ah, yes! Terima kasih, Yang Mulia..." Louis tersenyum puas, ia melepaskan tangan Huda.

Huda berjalan meninggalkan Louis, semua penjaga meminggirkan barisan dan membiarkan Huda lewat.

"Dia adalah Aji Tunggal kita sekarang, dia Para-Oh, kalian harus menjaga keamanannya mulai sekarang..." Tunjuk Louis ke Huda saat Huda dan empat pemuda itu menjauh. Dan para petugas keamanan menangguk mengerti, mereka mulai mengoperasikan gawainya dan memberi pengumuman rahasia.

"Waw! Kau ini siapa, Bro?" Kemal merangkul bahu Huda.

"Aku orang biasa.." jawab Huda pelan.

"Yang Mulia orang biasa, ah mana ada, gila aja kau!" Kemal terkekeh.

"Aku mau makan sesuatu, ada yang lapar?" Huda mengalihkan pembicaraan.

"Biar aku saja yang traktir, asal kau mau berbagi cerita pada kami..." Mehmet menepuk bahu kanan Huda pelan.

"Ya, ini penting! Siapa tahu keselamatanmu sekarang dalam bahaya, biar kita bisa nolongin!" Usul Emre.

"Ide bagus!" Huda mengangguk sambil mengangkat alis.

"Ya, mana badanmu sekurus ini, bisa bahaya jika kau sendirian di jalan!" Omer membenahi kacamatanya sambil senyum hangat sambil menilai dirinya sendiri yang juga terlihat lemah.

"Terima kasih kawan, aku lupa jika berat badanku sekarang ini sudah sangat berkurang, memang drastis sekali, aku semakin kurus sekarang..." Huda memegangi kedua pipinya yang kempot.

"Ah, kalau kau memang pernah gemuk, masih ada waktu untuk berisi lagi. Ayo kita lakukan bersama... Kita berlima!" Usul Mehmet.

"Hahaha, saranmu itu boleh juga, tapi biarkan aku sehari nanti bersama keluargaku dulu, oke... Aku belum siap untuk ini semua..." Huda mulai dekat dan akrab dengan mereka.

"Baik lah.. Yang Mulia orang biasa, tenang saja... Tidak ada aturan kebangsawanan di sini bukan?" Kekeh Kemal, disusul semua laki-laki yang berjalan tegap itu.

Hmmm... Semakin dekat dengan tujuan...




Kini Huda dan keempat teman barunya sudah sampai di sebuah restoran di tengah Istanbul. Mereka menyantap makanan pesanan mereka dengan mengobrol hangat.

"Bagaimana dengan pertemuan nanti malam, kita akan dapat uang lagi..." Omer meminum teh herbalnya.

"Ya, aku akan datang!" Huda melahap Salmon Norwegia panggangnya, lalu meraih gawainya sambil mengunyah.

Dia menghubungi Pierre.

'Kamu dimana?'

"Di Sultan's Table..."

'Ah bagus lah jika kamu tidak kelaparan, sebab aku dan Hellen mau pergi sekarang dari apartemen, kami mau ke acara itu...'

"Di mana itu?"

'Golden Horn Hall'

"Golden Horn Hall?"

"hulp! Golden Horn Hall? Jauh sekali?" Respon Emre yang menyimak.

"Hey, itu jauh..." Huda memastikan.

"Acara malam ini ada di gedung tadi juga, di Istanbul Tower!" Kemal mengklarifikasi.

"Ah tidak! Kalian jangan ke Golden Horn Hall! Acaranya tidak di sana!"

'Dari mana kau tahu?'

"Karena aku sudah dari acara itu, dan aku baru saja pulang dari acara sesi siangnya..."

'Sungguh?'

"Ya, kalian jangan ke sana!"

'Tidak beres, tapi aku harus tetap ke sana!'

"Ada apa sebenarnya?"

'Karena Professor Deniz Osdemir ada di sana, dia kepala timku!'

"Apa maksudmu??!"

'Mereka diundang ke sana!'

"Itu undangan palsu, percaya lah! Itu acara untuk orang awam kah? Kalian tidak akan mendapatkan pembahasan apa-apa!" Mehmet mulai terlihat panik.

"Memangnya alamatnya gedung itu di mana?" Huda jadi kehilangan selera makan.

"Di sekitar Gunung Uludag!" Kemal menjawab.

'Oh tidak, tim professor Deniz sudah di sana juga!'

"Kalian tidak takut diculik kah?" Kemal jadi ikut tercengang.

'Kalian tidak bercanda kan? Tunggu, aku dan Hellen akan ke sana! Sultan's Table!' Pierre menutup telpon setelah bicara terakhir kali.

Tidak lama kemudian Pierre datang bersama Hellen, tepat waktunya kelima laki-laki itu sudah selesai menyantap makanan mereka dan siap untuk diajak membahas sesuatu. Mehmet membayar bill dan kemudian mengajak mereka semua berbicara di luar.

"Dengar, undangan acara Victory Lux itu di adakan di Istanbul Tower. Ada dua sesi, siang untuk member dan malam untuk umum. Acara di Golden Horn Hall bukan acara yang sama dengan acara yang tadi Yang Mulia orang biasa hadiri..." Jelas Kemal sambil menunjuk Huda.

"Apa? Kau bahkan sudah datang ke sana?" Pierre mengernyitkan jidat.

"Aku diculik empat anak muda ini..." Huda mengangkat kedua alisnya.

"Sungguh, dia kebetulan saja bertemu kami tadi di gang kecil, dia sedang sepoyongan sehingga kami mengajaknya dari pada dia mabuk ga jelas di trotoar..." Kemal nyerocos.

"Hey, aku tidak mabuk..." Huda.

"Oh, sial! Lalu sekarang gimana? Acaranya ada di dua tempat berbeda dan semua berbahaya untuk dihadiri dan... Apa? Anggota? Tunggu! Huda? Kau anggota asosiasi mereka?!" Pierre mumet.

Huda mengangguk pelan sambil berkacak pinggang dan membuang muka bingung.

"Oh astaga!" Pierre mengusap wajahnya tak habis pikir.

"Tapi bukannya kamu murid Tuan Jalil.." Hellen angkat satu alis, heran.

"Yah!! Panjang sekali ceritanya, dan aku ga mau jelasinnya sekarang!"

"Tapi kau kan?" Tunjuk Hellen hampir keceplosan dan Huda melotot sambil menunjuk ke atas.

"Ugh?" Hellen berusaha menangkap makna ekspresi wajah Huda dan memilih percaya lalu berdiam.

"Sekarang apa maumu?" Huda melirik ke Pierre dengan mata lelah.

"Kau harus memilih salah satu, mau kemana..." Omer melipat dua lengan di depan dada.

"Ya. Aku akan ke gunung dan ke gedung itu..." Pierre memegang kepalanya dan menghela nafas.

"Ya sudah ayo!" Mehmet mengajak mereka berjalan menuju terminal bus.

Mereka berangkat dari Istanbul menggunakan bus dan menuju ke Bursa. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1,5 jam. Setelah tiba di Bursa, mereka menuju ke terminal bus dan naik bus ke Uludağ. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1 jam dan mereka bisa merasakan udara yang semakin dingin.

Bus itu menurunkan mereka di depan halte yang tak jauh dari  gedung tujuan mereka.

Saat mereka berjalan kaki mendekati bangunan tersebut, terlihat sebuah plakat yang bertuliskan Golden Horn Hall.

Mereka masuk ke dalam gedung dan melihat apa yang ada di dalamnya. Saat mereka memasukinya, mereka melihat sebuah ruangan yang sangat besar dan indah, dengan dekorasi yang mewah dan elegan. Ada sebuah panggung di tengah-tengah ruangan, dan banyak meja dan kursi yang terlihat sangat nyaman. Juga ada beberapa lukisan dan dekorasi yang terlihat sangat indah. Saat mereka sedang duduk, ada beberapa orang yang datang dan masuk ke gedung.

Akhirnya apa yang dicari datang juga, Pierre melihat tim Professor Deniz datang ke perkumpulan itu.

"Ah itu mereka!" Sorak Hellen.

"Cepat ajak mereka pulang!" Mehmet geram dengan nada rendah.

Hellen beranjak dan berdiri, berlari kecil ke professor itu, berusaha menjelaskan tapi ternyata sang professor tidak percaya bahkan mengabaikan. Huda mengamati di kejauhan dan sepertinya tidak beres. Dia curiga jika jangan-jangan timnya Professor Deniz itu juga satanis, tapi buat apa mereka ke sini.

Ketika acara di mulai, terlihat aneh, ada banyak acara bersimbolkan ritual. Mehmet dkk tercekikikan tertawa di belakang.

"Astaga acara macam apa ini!" Kemal mengumpat pelan.

"Professor Deniz, apa kamu jauh-jauh ke Turki cuma pingin nonton acara tak berkelas seperti ini? Mana yang katanya akan membahas projek besar setelah pandemi?" Ketua tim di bawah  pengawasan Deniz  menuntut.

Huda bangkit dan mendekati Professor Deniz, kedua tangannya di punggung kursi yang diduduki pria berumur enam puluh tahun itu lalu diturunkannya kepala dan berbisik ke professor Deniz.

"Anda sudah ditipu oleh mereka, mereka mengirimmu ke acara yang salah!"

"Tidak mungkin!" Pelan Prof. Deniz.

Huda bangkit dan berjalan menjauh. Melihat tindakan Huda, anak buah Prof. Deniz mengikuti. Hellen berdiri, melihat adiknya berdiri, maka Pierre pun bangkit juga. Semua orang akhirnya meninggalkan tempat itu. Kecuali Professor Deniz.

"Hey, kenapa Professor masih di sana?" Ketua tim yang beranggotakan lima orang bernama Arslan berkacak pinggang.

"Ada apa sama dia, apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya?!" Ayse yang satu-satunya anggota ilmuwan perempuan tak habis pikir.

"Hanya satu, jika dia tidak mau keluar, mungkin dia sudah diancam." Huda tegas.

"Cerdas, kau benar!" Mehmet menepuk bahu Huda.

"Tapi ancaman apa dan dari siapa?" Pierre geregetan, dia masuk kembali ke dalam gedung dan mencari sosok Professor.

Betapa terkejutnya dia karena ternyata sekarang Professor Deniz berdiri di atas panggung sebagai pembicara di acara.

"Ah, sial!" Pierre berlari keluar gedung kembali.

"Ada apa?" Hellen panik.

"Ayo sebaiknya kita semua kembali ke gedung!" Ajak Pierre.

Semua orang kembali ke gedung dan menganga sebab Prof. Deniz sedang menerangkan agenda yang bisa diadobsi para satanis setelah pandemi. Pria berambut putih dan berkacamata itu menjelaskan beberapa kemungkinan rencana satanis yang akan diadakan dan semuanya dibantu oleh gerakan penelitian yang akan dia lakukan dengan timnya. Dia menceritakan dengan penuh kepercayaan tinggi di hadapan para hadirin yang berasal dari berbagai negara.

Agenda-agenda itu antara lain memiliki lima projek, yang pertama adalah Pengendalian Pikiran. Organisasi satanis akan menggunakan teknologi canggih untuk mengendalikan pikiran manusia, membuat mereka melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan.

Mereka juga akan melakukan Pembuatan Vaksin yang Mengandung Mikrochip. Sebuah perusahaan farmasi yang bekerja sama dengan organisasi satanis akan  menciptakan vaksin yang mengandung mikrochip yang dapat memantau dan mengendalikan manusia.

Projek yang ke tiga adalah Penggunaan Teknologi 5G untuk Mengendalikan Manusia. Sebuah organisasi satanis akan menggunakan teknologi 5G untuk mengirimkan sinyal yang dapat mempengaruhi pikiran dan perilaku manusia.

Lalu projek ultra profesional, Pembuatan Klon Manusia. Sebuah laboratorium yang bekerja sama dengan organisasi satanis akan benar-benar menciptakan klon manusia yang dapat digunakan sebagai budak atau tentara. Bahkan kini mereka sedang menciptakan rahim sintetis untuk membesarkan janin tanpa ibu dan ayah.

Lalu projek yang terakhir adalah Penggunaan Ilmu Hitam untuk Mengendalikan Alam. Sebuah organisasi satanis kali ini akan menggunakan ilmu hitam dengan skala lebih besar lagi untuk mengendalikan alam dan menyebabkan bencana alam yang dapat menghancurkan umat manusia. Mereka akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk meneliti mantra kuno agar bisa menciptaka racikan energi alkemia lebih canggih lagi.

Mendengar itu semua, Huda mendengus kesal. Dia melempar pandangan ke Pierre dan Hellen dan mereka angkat bahu. Sementara Arslan dan ke lima anggotanya terpelongo. Arslan berjalan kasar ke depan dan menaiki panggung.

"Penipu!" Bentaknya.

"Ada ap ini?!" Seorang tamu berkulit hitam berdiri karena tidak menerima situasi ribut.

Huda di kejauhan mengangkat dagu sambil melipat lengan depan dada.

"Aku dan timku menjelajah jauh ke dimensi ke lima di dunia virtual untuk merebut kembali teknologi itu supaya aku mampu menyelamatkan dunia dan banyak hewan tak bersalah dan kau mau mengacaukan tujuanku!!" Tuding Arslan.

Huda terkerjab.

"Dia kah, ilmuwan yang dimaksud Andara waktu itu?" Huda bergumam sambil angkat satu alisnya. Dia mengingat kata Andara dulu ada seorang ilmuwan dari jaman peradaban kuno yang masuk ke dimensi lima dunia digital.



"Kau ini tidak tahu apa-apa tentang kondisi dunia saat ini jadi jangan meracau..." Lirih Prof. Deniz kepada  Arslan.

"Ingat, aku tidak akan pernah memberikan penemuanku kepada orang sepertimu!"

"Kau pikir Tesla itu masih hidup? Kau tahu Tesla, nasibmu akan sama seperti Nicola Tesla.. Tidak butuh waktu lama... Kau akan mati... Dan semua ingatanmu akan dilukis ulang oleh ilmuwan lain yang masih hidup." Skak Prof. Deniz.

"Jangan dengarkan dia!" Seru Huda.

Semua orang menoleh ke Huda yang berteriak lantang barusan.

"Siapa kau? Kenapa kau menyela pembicaraan kami!" Tunjuk Prof. Deniz.

Pierre terlihat gugup, dia ingin menghentikan Huda namun Hellen mencegah, akhirnya Huda kembali fokus dan mengatakan sesuatu di kondisi yang berbahaya di depan halayak umum itu, keempat temannya menyimak karena pensaran dengan siapa Huda sebenarnya.

"Sebenarnya, dia ini bukan seorang ilmuwan. Dia hanya akan memanfaatkan penemuanmu. Dia bukan siapa-siapa." Pancing Huda dengan nyengir kuda.

"Aku ini seorang penemu, aku yang menemukan kelemahan teknologi yang dia ciptakan sehingga dia bisa membawa alat itu sampai sekarang. Ini dia!" prof.  Deniz mengangkat lengan Arslan ke udara dan memperlihatkan jam tangannya yang berdesain unik ke semua orang yang menyimak mereka, seluruh hadirin celingukan ini melihat dengan jelas jam di tangan Arslan.

"Itu bagus jika kamu merealisasikannya, tapi apa kau tahu dampaknya itu juga akan mempengaruhi keselamatan kamu. Tidak ada yang abadi di dunia ini, teknologi itu akan semakin berkembang dan memghancurkan asetmu. Kau pikir teknologi yang dia temukan itu tidak bisa melompati batas antar dimensi masa lalu dan masa depan kah? Kau tidak berpikir teknologi itu bisa didublikat oleh siapa saja?" Tukas Huda.

"Dari mana kau tahu soal teknologi itu?!" Arslan panik, matanya bergetar.

"Hah! Aku adalah penakluk alat seperti itu, dan itu tugasku, kenapa aku harus ada di sini sekarang adalah untuk membawa kalian bebas dari jeratan satanis. Dan bergabung lah denganku!" Sinis Huda.

Lampu dari atas seketika menyorot Huda.

"Huda! Kau kah itu, yang mulia Para-Oh?!" Speaker besar memperdengarkan para hadirin suara Louis.

"Hahaha! Louis..." Huda mengangkat satu alis, Huda menyembunyikan kepanikannya, dia merasa sangat ceroboh.

"Kenapa Yang Mulia ingin memusuhi kami, kami ini pemujamu, kenapa engkau mengatakan demikian tadi kepada ilmuwan itu? Kau tahu dia itu siapa?"

Mendengar Louis berkata seperti itu. Kini Huda menyadari bahwa acara ini bukan lah acara palsu. Dia menoleh ke keempat temannya yang mengatakan bahwa acara ini palsu. Di pikirannya sekarang adalah, apakah mereka ingin agar Huda tidak datang ke sini. Agar tidak bertemu dengan Arslan. Siapa keempat orang ini sebenarnya?

Melihat mata Huda menajam kepada mereka, mereka saling bertukar pandangan heran.

"Hah, Louis. Aku butuh barter besar jika kau ingin aku bergabung dam mendukungmu. Arslan, kemari lah!" Huda melambai kepada Arslan dan timnya.

Semua anggota Arslan mendekat ke Huda, Arslan berlari segera mendekati Huda. Mereka berpikir siapa pun yang dipanggil 'Yang Mulia' pasti mempunyai pengaruh dalam tatanan sistem. Arslan dan timnya mulai kebingungan, siapa yang bisa melindungi mereka.

"Pierre, Hellen ke mari lah..." Panggil Huda.

"Yang Mulia!" Teriak Louis.

Semua hadirin berdiri, dan terlambat Huda membawa Arslan dan tim beserta Pierre dan Hellen lenyap ditelan udara.

"Huda hilang!!" Mehmet terkaget.

"Teleportasi..." Omer manggut-manggut.

"Sebaiknya kita pura-pura ga kenal Huda dulu..." Bisik Kemal.

"Yaudah..." Mehmet mengangguk dan kemudian berpura-pura mencari.

**

**

Huda membawa membawa mereka ke dimensi lima dunia digital. Mereka kini berada di markas militer asosiasi Neverland dua satu.

"Assalamu alaikum..."

"Waalaikumsalam..."

Huda mengucap salam kepada Andara yang ada di halaman asrama para khodam leluhur milik member asosiasi Neverland dua satu dan Andara segera membalas salam. Betapa terkejutnya Pierre dan Hellen sebab mereka tiba di sebuah dimensi ghaib yang aneh itu. Ini kali pertama Pierre menjelajah dimensi lain, dan mulai mempercayai pengalaman Hellen yang pernah dia dengar.

"Kita kembali ke dimensi gelombang radio?" Tanya Arslan sambil mengguncang kedua bahu Huda.

"Iya! Ini markas kami, tenang lah, kamu aman di sini!" Huda menenangkan.

"Ini pangkalan militer milik kalian kah? Mahluk-mahluk ini?" Arslan dan timnya merasa takjub.

"Aku pikir kalian hanya berhayal..." Pierre berputar-putar mendongak ke atas, menyaksikan kubah digital dan lalu lalang mahluk-mahluk ajaib di tempat itu.

"Aku harap kalian bisa membantuku..." Arslan bermuka menyerah.

"Nah, alasanku menemui dan mengikuti aktvitas Professor Deniz itu adalah karena dia mengirim pesan kepadaku bahwa dia sudah menemukan sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk melintasi antar tempat jauh dan melompati waktu... Dia berharap aku membawanya kepada Adwin, tapi Adwin berkata, sebaiknya aku meneliti dulu seluk beluk Professor Deniz ini..." Jelas Pierre.

"Oh, jadi itu alasan kamu ke Turki?" Huda.

"Ya, benar, sebab dia berkata akan memasarkan alat ini dan mencari sponsor penelitiannya. Aku ingin mengetahui pembahasan di presentasi dia, " Pierre menjelaskan.

"Kami pernah menaklukan teknologi seperti milikmu ini dengan cara mendublikatkannya dan membuat sistem Zero Day Program." Singkat Huda kepada Arslan.

"Itu ide yang sangat cemerlang!" Puji salah satu tim Arslan.

"Pertama, kita harus mendublikat alat buatanmu ini lalu kita bisa mendeteksi apa pun yang kita butuhkan dengan mengadakan perbandingan data antara dua alat itu, yakni alat yang asli dengan dublikatnya. Nah, sementra kalian berlindung di sini, aku akan ke dimensi empat lagi dan mencari dimana rekanku yang pernah menciptakan teknologi sepertimu dan juga temanku yang berhasil mendublikatnya dan membuat kami berhasil merebut kembali kendali alat itu." Hibur Huda.

"Baik lah, semoga berhasil..." Andara mengangguk mendukung.

"Andara, ini adalah ilmuwan yang berasal dari masa lalu itu..." Huda memperkenalkan.

"Oh ini, luar biasa bisa berjumpa Anda..." Andara menjabat tangan Arslan.

"Senang berjumpa denganmu, apa kamu mahluk parakosmik dari dimensi lima?"

"Ya, aku starseed..."

"Oh, kebetulan sekali, kami dari dimensi lima juga ku rasa sebab tadi aku lihat di dimensi empat, manusia sudah mencapai tahun 2019..."

"Ya, sangat jauh dari tahunmu... Kamu sebaiknya kembali ke dimensi lima, sebab kamu akan mati cepat di dimensi kempat." Hellen mengingatkan.

"Baik lah, kalian selamat berbincang dulu, aku akan menghubungi timku..." Huda bermaksud pamit.

"Baik Huda, selamat jalan..." Arslan mengangguk pelan dengan senyum.

"Aku ingin di sini, ada banyak hal yang harus aku pelajari, biasanya aku ke sini meraga sukma setelah bermimpi ... Tapi mumpung ragaku juga di sini, dan ada Pierre... Aku ingin kami memahami sesuatu, sebentar lagi..." Hellen.

"Iya, home sacralist.." Huda berjalan menjauh.

"Apa yang ingin kamu pelajari?" Pierre.

"Tentang para penjelajah waktu dan antar dimensi... Sekarang tahun 2014, dan mereka sudah berhasil menciptakan mesin teleportasi antar waktu dan antar ruang.... Di Russia, ada sebuah asosiasi penelitian dan anggotanya lumayan banyak, mereka para penjelajah waktu dan tempat... Menyebar di seluruh dunia ini, memata-matai rapat negara-negara lain.

Setiap negara, di mana pandemi ini sedang marak, mereka akan mengobrolkan tema pembelaan diri demi bangsa mereka jika pandemi ini berhasil dinobatkan. Dan para penjelajah itu menguping!

Suatu malam aku meraga sukma, dan menguping pembicaraan para penjelajah itu!" Jelas Hellen.

"Siapa yang mengantarmu meraga sukma ke lingkungan mereka itu?" Andara skeptis.

"Aku tidak tahu, dia berdiri di belakangku, dan aku tidak mampu melihatnya, aku meyadari keberadaannya..." Hellen.

"Aku takutnya itu mimpi buatan Alice... Untuk menyesatkanmu!" Andara.

"Bukan, ini sungguh meraga sukma..." Hellen.

"Lalu apa yang kamu dengarkan dari mereka?" Pierre penasaran.

Karena Arslan dan timnya dari jaman Yunani kuno tidak paham maksud ucapan Hellen, maka mereka memutuskan menyimak dulu.

"Mereka berkata ada beberapa negara Mercusuar..." Hellen.

"Oh, ya... Aku menjelaskan kepada asosiasi Neverland 21 juga... Ada istilah namanya negara Mercusuar..." Andara mengangguk.

"Aku tidak tahu pastinya negara Mercusuar itu mana saja, tapi mereka berusaha mencari rahasia negara Mercusuar dan mereka mengatakan..." Helen menelan ludah sejenak karena gugup.

Semua orang memperhatikan....




Andara menjelaskan sedikit sebab Hellen tidak mengetahui makna dari negara Mercusuar, "Negara Mercusuar adalah sebutan konotasi sebagai negara yang memiliki kekuatan, teknologi, atau sumber daya yang unik dan berpengaruh.

Menurut penelitian starseed Andromeda selama bertahun-tahun, ada beberapa tipe negara Mercusuar di dimensi empat.

Negara Maju seperti Amrik, dikenal sebagai negara adidaya dengan teknologi canggih dan ekonomi yang kuat. Tiongkok, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, memiliki teknologi canggih dan ambisi global.

Jepang, negara dengan teknologi canggih, inovasi, dan ekonomi yang kuat.

Lalu ada tipe negara dengan Sumber Daya Alam, Arab Saudi, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Australia, negara dengan sumber daya alam yang melimpah, seperti batu bara, emas, dan uranium. Brasil, negara dengan hutan hujan Amazon yang kaya akan sumber daya alam.

Kemudian ada negara dengan Sejarah dan Budaya Kaya, Inggris, negara dengan sejarah dan budaya yang kaya, serta memiliki pengaruh global. Perancis, negara dengan sejarah dan budaya yang kaya, serta memiliki pengaruh global. Dan Jerman, negara dengan sejarah dan budaya yang kaya, serta memiliki ekonomi yang kuat."

"Mereka membahas apa yang bisa terjadi jika negara Mercusuar bersatu, maka mereka ingin mengadu domba semua negara Mercusuar itu..." Sambung Hellen.

"Ya, itu masuk akal, sebab jika negara-negara Mercusuar berserikat, tujuan mereka bisa sangat beragam tergantung pada karakteristik dan kepentingan masing-masing negara..." Andara mengangguk.

"Misalkan saja negara-negara Mercusuar itu bersatu, apa yang bisa mereka lakukan?" Hellen.

"Biasanya masih mendasar kepada mewujudkan Tujuan Perbaikan Ekonomi, mereka bisa melakukan Monopoli Sumber Daya. Mereka bisa berusaha untuk menguasai dan mengontrol sumber daya alam yang langka dan berharga. Lalu melakukan Pengembangan Teknologi. Mereka bisa berkolaborasi untuk mengembangkan teknologi canggih yang dapat meningkatkan kekuatan dan pengaruh mereka.

Mereka bisa melakukan Dominasi Pasar Global. Mereka bisa berusaha untuk menguasai pasar global dan mengontrol aliran keuangan dan perdagangan.

Selain itu ada namanya protokol dan agenda untuk Tujuan Politik dan Strategis. Yaitu agenda Pengaruh Global, mereka bisa berusaha untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan mereka di tingkat global. Meningkatkan gerakan Keamanan Bersama, mereka bisa berkolaborasi untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan mereka. Lalu membangun Pengembangan Kekuatan Militer.  Mereka bisa berusaha untuk mengembangkan kekuatan militer yang lebih kuat dan canggih." Andara menjelaskan.

"Tapi aku yakin tujuannya tidak seklasik itu, pasti ada tujuan nyentrik juga yang tidak bisa diterima orang awam..." Pierre skeptis.

"Dalam tatanan negara, itu masuk ke dalam Tujuan Ideologis. Seperti agenda Penyebaran Ideologi, mereka bisa berusaha untuk menyebarkan ideologi dan nilai-nilai mereka ke negara-negara lain. Kemudian pasti ada gerakan Pembentukan Tatanan Dunia Baru, mereka bisa berusaha untuk membentuk tatanan dunia baru yang sesuai dengan kepentingan dan nilai-nilai mereka. Dan Pengembangan Kebudayaan, mereka bisa berkolaborasi untuk mengembangkan kebudayaan dan seni yang unik dan beragam." Andara menegaskan.

"Nah, kenapa satanis tidak menyukai ini? Kenapa satanis ingin mereka bercerai-berai?" Pierre angkat satu alis.

"Menurut penelitian kami, mereka ingin melakukan Pengambilalihan Kekuasaan. Satanis mungkin berusaha untuk mengambil alih kekuasaan dan kontrol atas Negara Mercusuar, menggunakan kekuatan dan pengaruh mereka untuk memanipulasi pemerintah dan rakyat.

Pembentukan Tatanan Baru versi mereka lebih kompleks. Satanis mungkin berusaha untuk membentuk tatanan baru di Negara Mercusuar, dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sesuai dengan kepentingan mereka.

Tujuan Ekonomi satanis selalu meliputi agenda Kontrol Sumber Daya. Satanis tidak memungkiri fakta berita dunia tentang adanya mereka yang berusaha untuk mengontrol sumber daya alam yang ada di Negara Mercusuar, seperti minyak, gas, atau mineral langka.

Lalu ada ideologi Monopoli Ekonomi. Sejak dulu mereka sudah terkenal khasnya dalam berusaha untuk memonopoli ekonomi Negara Mercusuar, menggunakan kekuatan dan pengaruh mereka untuk mengontrol pasar dan industri.

Dan Tujuan Ideologis ini memiliki agenda Penyebaran Ajaran. Satanis memang berusaha untuk menyebarkan ajaran dan ideologi mereka di Negara Mercusuar, menggunakan berbagai cara untuk mempengaruhi rakyat dan pemerintah.

Dan mereka memiliki program Pembentukan Masyarakat Baru, mereka selalu berusaha untuk membentuk masyarakat baru di Negara Mercusuar, dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sesuai dengan kepentingan mereka." Jelas Andara.

"Satanis? Apa mereka memiliki tujuan lainnya? Sebab nama mereka adalah satanis..." Arslan menggaruk kepala.

"Tentu, kami menemukan fakta adanya tujuan Penghancuran juga. Satanis berusaha untuk menghancurkan Negara Mercusuar, menggunakan kekuatan dan pengaruh mereka untuk memusnahkan negara dan rakyatnya.

Juga adanya Eksperimen, mereka menggunakan Negara Mercusuar sebagai laboratorium untuk eksperimen mereka, menggunakan rakyat dan sumber daya negara untuk tujuan mereka sendiri.

Negara Mercusuar memiliki sumber daya alam yang langka dan berharga, seperti mineral langka atau teknologi canggih. Satanis ingin merebut sumber daya tersebut untuk kepentingan mereka sendiri.

Satanis berencana untuk menghancurkan kota-kota besar di Negara Mercusuar menggunakan kekuatan supernatural atau teknologi canggih, dan mengambil alih kekuasaan di Negara Mercusuar dengan memanipulasi pemerintah atau rakyat.

Satanis juga memiliki dendam terhadap Negara Mercusuar karena peristiwa di masa lalu, dan sekarang mereka ingin membalas dendam tersebut. Dan Negara Mercusuar memiliki teknologi canggih yang bisa mengancam kekuasaan Satanis, sehingga mereka ingin merebut teknologi tersebut." Andara memaparkan.

"Tapi salah satu karakter di Negara Mercusuar ada yang mata-mata Satanis, yang berencana untuk menghancurkan negara dari dalam... Aku denger sendiri.." Hellen mengernyitkan jidat.

"Setahu kami, Negara Mercusuar memiliki kekuatan tersembunyi yang bisa digunakan untuk melawan Satanis, seperti kekuatan supernatural atau teknologi canggih yang belum diketahui. Meski pun Negara Mercusuar dan Satanis memiliki perjanjian rahasia yang tidak diketahui oleh rakyat, dan sekarang perjanjian tersebut ingin dibatalkan oleh salah satu pihak. Makanya mereka bentrok..." Andara menggaris bawahi.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Hellen menghela nafas.

"Pemimpin Negara Mercusuar juga ada yang memiliki hubungan dengan Satanis, seperti ayah atau ibu yang merupakan anggota Satanis." Bocor Andara.

"Perjanjian antara Negara Mercusuar dan satanis ini, sungguh mengerikan... Negara Mercusuar memperbolehkan Satanis menggunakan teknologi canggih yang dimiliki oleh negara tersebut, dengan imbalan kekuatan atau pengaruh tertentu. Negara Mercusuar juga setuju untuk mengirimkan sumber daya alam seperti minyak, gas, atau mineral langka kepada Satanis, dengan imbalan kekuatan atau pengaruh tertentu.

Di sisi lain satanis setuju untuk melindungi wilayah Negara Mercusuar dari ancaman luar, dengan imbalan kekuatan atau pengaruh tertentu, asalkan Negara Mercusuar dan satanis bekerja sama untuk mengembangkan kekuatan supernatural atau teknologi canggih yang bisa digunakan untuk kepentingan bersama.

Tapi, imbal baliknya, Negara Mercusuar setuju untuk mengorbankan sesuatu yang berharga, seperti jiwa manusia atau sumber daya alam, untuk memenuhi keinginan Satanis." Hellen buka suara.

"Betul, karena itu lah, Negara Mercusuar menjadi tergantung pada kekuatan atau pengaruh Satanis, sehingga mereka tidak bisa bergerak bebas, negara Mercusuar kehilangan otonomi dan kedaulatan mereka, karena harus memenuhi keinginan Satanis.

Perjanjian rahasia tersebut bisa membahayakan rakyat Negara Mercusuar, karena mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Dan salah satu pihak kini  mengkhianati perjanjian tersebut, sehingga menyebabkan konflik dan kekacauan." Sanggah Andara.

"Lantas, ada kah yang bisa kami bantu?" Arslan gemas setelah menyimak.

"Kita harus pergi ke masa lalu!" Hellen bertekat.

"Tapi untuk apa?" Pierre khawatir.

"Untuk bertemu dengan para leluhur, dan mengetahui perjanjian itu semua untuk apa... Dan... Jika bisa, harus kita batalkan, atau ambil kertas perjanjiannya... Supaya bisa melakukan penggugatan!" Ide Hellen.

"Apa kau yakin?" Pierre.

"Di masa lalu sangat berbahaya!" Arslan cemas.

"Tapi, ini satu-satunya pilihan!" Hellen bersikeras.

"Sebaiknya kita tunggu admin empat empat end kembali, sebab hanya dia tumpuan data kita..." Tenang Andara.

"Tapi dia sudah lama menghilang!" Hellen merasa terdesak waktu.

"Dia pasti akan kembali..." Yakin Andara.




Comments

Popular Posts