Bab 9 Huda di Paris

 "Ku rasa..."

"Kamu mau ke Paris menemui dia kah?" Anderson.

"Emang Huda punya dananya?" Yuna melirik Huda.

"Ada.. aku mau ajak istriku ini, boleh?..." Huda kumat.

"Cis... Dasar ga berubah!"

"Biarin!" Senyum Huda trenyuh.

"Gimana jadi ga ketemu Pak Santri?"

"Gimana ya... Yakin?"

"Kan mau tahu siapa aja politikus yang berbahaya di negeri ini..."

"Aku belum siap kalau bahas politikus sih... Lebih fokus pengen cepet bisa meruqyah aja..." Tutur Huda.

"Kalau kalian ke Paris, urang gimana?" Harun pasang muka cemberut.

"Kamu emang mau belajar meruqyah beneran Bang?" Huda melirik.

"Bang, waktu kemarin di rumah kuntilanak itu apa aku meninggalkan Abang berjuang sendirian? Aku mau terus lanjutin semampuku!"

"Syeh ini bener-bener khusus meruqyah jin kafir sekte mata satu... Di Indonesia belum banyak yang sehalus metode beliau... Kita harus memahami rahasianya... Aku nonton banyak konten kreator... Mereka itu ya... Gitu... Masih kadang belum sehalus Beliau lah... Mungkin karena Beliau itu fasih banget bahasa Arabnya tapi ga juga sih orang Indonesia kan juga fasih ya..."

"Di masalalunya sepertinya dia itu bukan seorang Muslim..." Anderson menduga.

"Iya kah?"

"Hm! Karena seolah dia tahu betul latar belakang para jin kafir dan kelemahannya apa..."

"Baik lah... Ayo kita gas ke Paris!" Bisik Yuna antusias.

Huda mengangguk yakin memandang Yuna sambil senyum lugu seperti anak kecil.

Beberapa hari berlalu karena masih harus mengurus paspor dulu, dan akhirnya Huda berhasil membawa Harun dan Yuna berangkat naik pesawat sementara Anderson membayar sendiri tiket pesawatnya.

"Setelah bisa meruqyah dan menarik jin-jin kafir masuk Islam lewat jarak jauh... Kita sambil nyisir bandar-bandar narkoba..." Kata Harun berbisik sebelum berjalan cepat menuju tangga ke pesawat.

Yuna sudah naik duluan, duduk dekat jendela, Huda berada di sampingnya sementara Harun bersama Anderson.

"Kamu pasti maunya duduk bareng Bang Huda ya Mister?" Goda Harun cengengesan.

"Apaan sih!" Anderson angkat satu alis.

"Wink!" Harun mengedipkan sebelah mata.

"Aih!" Anderson memutar bola mata.

"Hahaha!" Kekeh Harun.

Sementara itu, Huda memegang tangan Yuna, mendekatkan wajahnya ke telinga adiknya itu dan berbisik, "anggap saja sekarang kita sedang bulan madu keluar negeri ya Sayang... Meski cuma meluk dalam tidur, ga ngapa-ngapain..."

"Iih, apaan sih!" Yuna mendorong pipi Huda.

Huda tersenyum melihat Yuna, dan gadis itu merona.

"Kamu sempurna bagiku... sayangnya kamu itu adikku.." kata Huda sambil mesem terharu.

"Sangat sempurnanya sampai cocoknya jadi adik saja ya kan! Dari pada istri masih bisa selingkuhin kamu..." Ledek Yuna.

Tak lama kemudian pesawat take on dan dan melayang menjauhi kepulauan Indonesia.

Dan di pertengahan perjalanan ketika mereka sudah sampai di langit Eropa.

"Yang! Itu apaan ya?" Yuna menunjuk sesuatu di luar jendela.

Huda mendekat ke Jendela dan di sana dia melihat seperti bentuk sebuah unit UFO dengan lampu biru berkedip di atasnya sementara lampu-lampu putih di bawahnya berputar memutar. Unit itu membuat gelombang elektromagnetik di dalam awan sehingga muncul kilatan petir besar.

Pesawat mengalami trubulensi akibat gelombang listrik air dalam awan dan gesekan angin, getaran pesawat membuat semua orang panik dalam kondisi tenang.

Huda semakin mengeratkan gandengannya sambil mengintai jendela.

"Yang, coba kirim ayat Kursi ke benda itu!" Pelan Yuna.

Huda kembali duduk sigap lalu memejamkan mata, dia membaca ayat kursi dan adzan pelan-pelan bermaksud kepada benda aneh mirip UFO tadi.

Dan anehnya guncangan pesawat menghilang, namun semua orang terlanjur mendengarkan adzan Huda. Huda meneruskan adzan itu sampai akhir.

"Terima kasih!" Kata penumpang asing di belakang Huda menggunakan bahasa Inggris.

"Doamu menenangkan alam!" Sambung orang asing yang duduk di depan Huda.

"Sama-sama" singkat Huda pelan.

Mereka akhirnya sampai di Paris setelah beberapa kali transit, dan setibanya di Bandara mereka dijemput oleh keluarga Anderson yang tinggal di Paris.

Keluarga Anderson mempersilahkan mereka tinggal di mansion tua milik keluarga mereka dan akhirnya di sana lah mereka beristirahat.

"Makasih Chaterine" kata Anderson menggunakan bahasa Perancis setelah mempersilahkan mereka duduk di sofa.

"Kalian mau makan malam?" Tawar wanita pirang berambut hijau itu.

"Aw, tentu..."

"Gantian kita yang bodoh dibuat Anderson..." Yuna melawak karena tidak tahu bahasa yang dipakai para bule itu.

"Hahahaha!" Anderson tertawa.

"Ayo sini makan!" Chaterine memanggil mereka menuju meja makan.

"Ayo, semuanya!" Anderson berdiri.

Para pelayan sudah membereskan koper dan meletakkan hidangan berat ke meja makan.

"Makan lah sampai merasa bisa tidur nanti malam..." Anderson mempersilahkan.

"Bang, ini halal ga sih?" Bisik Harun.

"Udah, baca aja basmallah, makanan haram itu apa pun yang dimakan tanpa menyebut nama Allah terlebih dahulu... Makan ketupat pun kalau ga basmallah dulu juga bakalan jadi haram... Yang penting kamu ga tahu itu apa pasti dimaafkan, kalau kamu tahu tapi masih mau... Baru dosa!" Cerewet Yuna dengan ekspresi menahan emosi tapi maksa senyum.

"Hehehe!" Harun nyengir.

Chaterine memandagi cara makan Huda, Yuna dan Harun yang aneh, sendok makan mereka tidak di kiri melainkan di kanan.

"Mereka Muslim..." Pelan Anderson.

"Ow!" Chaterine mulai paham dan tetap slay menyantap makanan dengan sendok makan di tangan kirinya.

"Jadi ada acara apa kamu ke Paris sama mereka?"

"Aku ada urusan bisnis sama cowo ganteng yang satu itu"

"Ow... Siapa namanya?"

"Huda.. cewe itu Yuna... Dan sebelahnya Harun..."

Mendengar Anderson mengabsen, mereka senyum ramah sambil mengangguk.

"Aku Chaterine!" Ramah wanita berbaju mahal itu.

"Huda memang menawan.." lirih cewe barat itu.

Anderson mengedipkan satu mata sambil mengangkat alis.

Selesai mereka makan, tanpa menanyakan masalah pribadi seperti betapa keponya warga plus enam dua kalau menerima tamu, Chaterine mempersilahkan mereka masuk kamar masing-masing untuk beristirahat.

Harun dan Anderson tidur sendirian sementara Huda mengekor ke kamar Yuna padahal sudah disediakan kamar untuknya pribadi.

"Nah kan kucing garong!" Yuna ke balkon melihat pemandangan.

"Dingin banget loh!" Huda mengambil mantel kain tebal di gatungan dekat pintu dan berjalan mendekati Yuna, memakaikannya.

"Kaya' AC!"

"Sayang, kalau cuma ciuman saja boleh kan?" Huda mengecup bibir Yuna sebentar.

"Kamu sudah sholat?" Picing Yuna..

"Udaah, makanya aku ngintilin kamu kan... Kamu udah sholat belum??"

"Udah kok!"

"Bagus lah..." Huda memeluk Yuna dari belakang.

"Yang, enak ya kalau kaya' gini... Damai"

"Kamu tahu ga kota ini bekas lokasi pertumpahan darah... Makanya semua orang mencurahkan kasih sayangnya di sini sebagai penebusan dan menghapus kekejaman di masa lalu dengan memperbanyak kasih sayang..."

"Oh... Tapi kaya' tempat angker juga sih..." Yuna mencoba membuka sudut pandang lain.

"Tok tok tok!" Pintu kamar diketuk.

"Siapa?" Jawab Huda melepaskan Yuna.

"Anderson..." Lirih terdengar.

"Selir ini lah gangguin permaisuri aja!" Manyun Yuna.

"Hahaha!" Huda terkekeh.

Huda melangkah mendekati pintu lalu membukanya.

"Ada apa?"

Anderson masuk ke dalam kamar lalu menutup dan mengunci pintu, dia merangkul Huda berjalan mendekati Yuna yang berdiri di balkoni kamar.

"Aku lupa bicara sama kalian tentang sesuatu..." Kata Anderson pelan.

"Assalamu alaikuum! Pakeet!" Seru Harun dari luar pinu mengetuk-ngetuk pintu.

"Ya Allah, bocil bongsor!" Yuna memutar bola mata dan mendekat ke pintu untuk membuka.

"Mmuach!" Anderson mencium pipi Huda cepat sambil senyum genit.

"Astaga!" Huda memutar bola mata sambil senyum konyol.

Anderson mengedipkan mata, "cuma cium pipi... Momen pas nih di Paris! Ck!"

"Hahahaha!" Huda menepuk bahu Anderson tak habis pikir.



"Mau donk three some!" Kata Harun sambil nyengir ketika Yuna buka pintu.

"Astaga!" Yuna menepok tangannya ke muka Harun.

"Hihihi!" Harun nyengir.

Yuna membuka pintu lebih lebar membiarkan Harun masuk ke kamar, pria itu mendekati Huda dan Anderson di Balkoni. Gadis cantik imut itu menutup pintu dan mengunci lalu kembali mendekat.

"Wah kalian ga ngajak-ngajak.. nanti gimana kalau urang ketinggalan ingpo, siapa yang mau tanggung jawab saya jadi beban dalam tim?" Rengek Harun sambil cengengesan.

"Gelap hidupmu Bang!" Timpal Yuna.

"Hehehe, Eneng!" Harun garuk kepala.

"Ada apa Anderson?" Tanya Yuna.

"Aku mendapatkan Lux Vanish lagi..."

"Apa sih itu?"

"Aku bermimpi..."

"Oh tayuh"

"Oh wangsit"

"Seperti vivid dream tapi itu bukan mimpi biasa melainkan pengumuman lewat mimpi yang disebar ke seluruh member yang dianggap pasti akan mampu menjalankannya"

"Siapa yang menyebar?"

"Seorang perempuan, aku tidak tahu dia siapa... Dia bekerja di bawah Lucifer langsung dan dia bertugas menyebarkan telepati mimpi ini ke seluruh dunia.."

"Kuat sekali dia..."

"Ya..."

"Jadi? Mimpimu itu tentang apa? Perasaan kamu baru saja masuk kamar deh bareng kami?"

"Mana ada, orang dari tadi aku aja dengar dia ngigau teriak-teriak di kamar sementara kalian malaha desah aah aah aah gitu..."

"Bangke, mana ada!" Huda menoyor kepala Harun.

"Hehehe!"

"Aku bermimpi semua anak albino di seluruh dunia berkumpul dan menyerahkan kekuatan dari jiwa mereka ke sebuah menara mirip menara di Eiffel tapi bukan menara ini ya... Hanya mirip bentuknya saja..."

"Anak albino?"

"Aku pikir itu bukan secara real anak albino... Mungkin anak-anak yang memiliki DNA yang sudah termodifikasi..."

"Maksud kamu?"

"Ada sebuah perusahaan satanis di dekat kutub utara yang menciptakan manusia hybrid.."

"Apa lagi itu?"

"Mereka menciptakan manusia hybrid supaya bisa menjalankan misi memata-matai data penting dunia setiap negara dengan berteleportasi.. dan mereka itu lah anak-anak albino yang dimaksud itu... DNA mereka sudah dimodifikasi"

"Berkumpulnya mereka untuk melakukan apa?"

"Memusatkan kekutan supaya bisa menarik kesadaran masyarakat seluruh dunia untuk mempercayai sebuah hal yang akan disampaikan..."

"Pesan apa itu?"

"Aku ga tahu apa itu pesannya, ada kertas dalam botol kaca, itu akan dibacakan.. botol kaca itu berisi banyak energi rahasia..."

"Siapa yang akan membacakan pesan itu?"

"Perempuan itu, dia masih muda berambut putih berkilau seperti berlian dan jika rambutnya berubah jadi hitam maka artinya dunia sedang tidak baik-baik saja"

"Bukannya meski rambutnya berkilau maka dunia sudah tidak baik saja?"

"Ya, betul, semakin berbahaya"

"Neng... Kita harus cepet ketemu sama Syeh itu dan mana tahu ya Neng, semoga dia paham biar kita bisa nanya-nanya... Kan dia sering ngeruqyah jin satanis..."

"Mantap kali! Kalau gitu kita minta beliau nangkap jin satanis biar bisa ditanyai soal ini!"

"Nah, lebih enak juga begitu!"

"Bisa kah?"

"Bisa donk, Anderson kamu akan melihat summoning demon ala Muslim, kita gas nanti pagi ya!"

"Okay..."

Huda hanya diam menyimak sambil merangkul bahu Yuna karena tidak paham sama sekali maksud kenapa satanis melakukan memata-matai rahasia negara karena menurutnya rahasia politik itu tidak ada, semua data negara itu milik umum. Dan data terpenting negara itu fana atau bernilai manipulatif, kebenaran data sesuai di lapangan juga fluktuatif bahkan ada yang tidak koheren. Kenapa satanis repot-repot melakukan penyadapan data kepada Indonesia juga jika demikian?

Anderson menepuk bahu Huda berjalan keluar disusul Harun. Yuna berbalik badan, ternyata Huda melamun.

"Sayang kamu capek ya?" Tanya Yuna lalu berjalan untuk mengunci pintu.

"Aku tidak habis pikir aja sama permainan di dunia ini.." Huda berjalan ke kasur mengikuti Yuna yang duduk melepas mantel.

"Kenapa?" Yuna bersandar di kepala kasur besar empuk itu.

"Misalkan saja batu berlian, mereka menggalinya jauh supaya menemukannya, padahal itu yang bikin Allah lewat proses alam tapi manusia yang menjualnya dengan harga mahal sekali sampai meraih keuntungan tinggi, sementara hasil karya alami mereka? Mereka gadai-gadaikan dan hanya dipamer-pamerkan dalam persaingan intelek... Lalu ngapain coba meretas data atau menyadap data negara? Sudah tahu datanya ga akan sama setiap hari... Mereka berpikir negara kita akan mengatur strategi perang kah? Negara kita bahkan tidak pernah mengadakan diskusi untuk mendamaikan Israel dan Palestina lewat strategi tertentu karena kita tahu seluruh dunia menutup mata tidak akan ada negara yang benar-benar mau buang tenaga peduli pada kondisi ini, semua dalam layar hanya ramah tamah!"

"Yang..." Yuna berekspresi mata datar melihat Huda yang duduk di sampingnya.

"Ya..?"

"Kau barusan melakukan scanning atau menerawang secara keseluruhan menembus segala objek yang kamu mau lihat tanpa membuka arsip otentik loh!"

"Iya kah?"

"Kalau kesadaranmu sudah tidak manusiawi alias dalam posisi kesadaran null... Maka pemandangan out of the box akan kamu dapatkan..."

"Itu hanya analisis biasa"

"Dari mana kau tahu Indonesia diincar datanya karena mereka berpikir Indonesia akan mengatur dunia? Anderson bahkan tidak membahas itu kok tadi."

"Iya kah?"

"Ya! Otakmu sudah menyebutkan keyword Indonesia makanya kamu menyisir. Mereka memberi nilai begitu berharga ke sebuah batu karena ingin mengubur jauh keberadaan nilai emas. Berharap akan bisa membayar hutang emas mereka memakai batu!"

"Hah?"

"Otakmu Yang! Tanpa sadar menghubungkan segala jawaban namun belum bisa kamu rangkai secara sempurna..."

"Itu kenapa mereka melogokan kelompok mereka dengan kelompok batu berlian, the Mason atau ahli batu... Illuminati juga sama saja menggunakan logo ular menggigit berlian"

"Jadi?"

"Kita akan pastikan besok! Ayo tidur..." Yuna menenggelamkan diri dalam selimut.

Huda mengucek matanya lalu berbaring memeluk Yuna, "selamat malam, mmuach" laki-laki gentle itu mengecup kening si manis yang sudah langsung molor ke alam mimpi.

Keesokan paginya setelah sarapan, Anderson memakai mobil sewaannya mengantar kemana Yuna mau pergi, setelah sampai di alamat yang dituju di sebuah apartment.

"Ayo kita masuk dan nanya dimana dia!" Antusias gadis berponi kotak itu.

Mereka bertanya kepada pemilik apartment yang berkediaman di lantai dua dan kemudian menuju tempat Syeh itu.

"Nomor tiga puluh sembilan" bisik Yuna di depan sebuah pintu.

"Ting tung!"

"Assalamu alaikum!"

Huda memencet bel dan menguluk salam.

"Waalaikumsalam wa rahmatullah" seorang pria bersuara parau tapi lembut membuka pintu.

"MaasyaaAllah, ada apa ya?" Katanya dengan tatapan mata sayu yang tajam menggunakan bahasa Perancis.

"Mereka datang dari Indonesia ingin berkunjung ke rumah Syeh..." Jawab Anderson.

"Indonesia?" Wajah Syeh itu terkejut.

"Ya, Indonesia"

"Masuk masuk... Saya suka Indonesia, negara Islam terbesar di dunia" puji Syeh itu mempersilahkan masuk.

Anderson mempersilahkan Huda masuk, pemuda keturnan wong Kediri itu pun masuk menggandeng Yuna dan disusul Harun. Mereka dipersilahkan Syeh duduk di ruang tamu.

"Saya Halim, seorang guru asrama tapi asrama saya ada di Afrika... boleh perkenalkan siapa kalian ini?"

"Saya Huda, ini adik tercinta saya Yuna dan ini rekan saya Harun dan Anderson" jawab Huda.

"Boleh kalian ceritakan tujuan kalian ke rumah kami?" Kata Syeh, kebetulan istrinya yang bercadar datang membawa senampan minuman dalam gelas-gelas dan lalu masuk ke dalam ruangannya lagi.

"Kami ingin belajar meruqyah jin kafir"

"MaasyaaAllah, kenapa kalian ingin belajar?"

"Kami ingin membantu saudara Muslim yang terzalimi dengan sistem tatanan dunia baru mereka yang tidak lazim untuk diikuti.."

"Aku setuju dan semakin banyak raqi di dunia ini maka akan semakin baik dan cepat"

"Mereka sudah tahu Muslim ada yang berbuat seperti ini dan mereka akan segera menyerbu dalam jumlah tidak ada yang tahu dari segala arah... Karena itu kami yang fakir ilmu ini ingin membantu supaya bisa mengurangi beban para ulama"

"Baik lah... Yang pertama harus kita lakukan adalah kita mengundah jin yang kita incar ke sebuah media yang dapat membantu kita berkomunikasi... Bisa benda bisa orang... Menggunakan surat pemanggil yang ada di al-Qur'an.."

"Baik"

"Yang ke dua... Kita buka dulu penutup di dada mereka... Mereka memiliki seperti logam penutup mata batin supaya tidak melihat cahaya malaikat dan cahaya hidayah dari Allah, logam itu kita buka dulu dengan alat pembuka penglihatan yang ada di surat-surat al-Qur'an..."

Huda mengangguk.

"Kemudian kita buka penglihatan mereka tentang memori yang terkandung dalam surat al-Qur'an apa kah itu tentang perjanjian iblis kepada Allah yang disaksikan seluruh mahluk sebelum ke bumi... Maka jin-jin kafir itu akan mengingat kejadian itu dan tidak bisa membantah rekaman memori dari ayat itu... Kita buka surat lain menunjukkan tentang azab yang dijanjikan Allah dan surga-Nya"

"Baik Syeh..."

"Apa kah ada pertanyaan?"

"Teman saya bermimpi tentang menara, mungkin menara atena radio mimpi... Karena semua orang berkumpul di sana menyebarkan sebuah kabar secara telepatif... Kami penasaran berita apa itu Syeh... Bisa tolong panggil jin yang mungkin ada yang paham tentang agenda projek itu..."

"Aku tidak mengerti maksudmu tapi mari kita coba..

Apakah di sini ada yang bersedia menjadi media komunikasi?"

"Saya saja Syeh..." Jawab Harun.

"Baik lah, bersiap?"

"Bismillahi rahmani rahiim.."

Syeh Halim mulai mengucapkan kalimat-kalimat firman Allah dalam al-Qur'an dengan makna-makna yang sudah dia hapal.

"Ingatlah pada hari ketika Allah mengumpulkanmu di hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan maka Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung." Syeh mulai membaca surat At-Taghabun ayat ke sembilan.

Syeh mengucapkannya tiga kali sambil berkonsentrasi pasrah kepada Allah dengan niat memanggil jin yang diharap mampu menjawab perkara milik tamunya, sampai akhirnya ada yang bereaksi, Harun menggeram dan mulai tidak sadarkan diri.

"Dan ingat lah di hari ketika Allah mengumpulkan mereka bersama apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Dia berfirman kepada yang disembah, "Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang tersesat dari jalan yang benar?" Syeh menyambung ke surat Al-Furqan ayat ke tujuh belas.

"Hermh! Ada apa ini?!" Bentak Harun.

"Mereka yang disembah itu menjawab: Maha Suci Engkau, tidak lah pantas bagi kami mengambil pelindung selain Engkau, tetapi Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan hidup, sehingga mereka melupakan peringatan dan mereka menjadi kaum yang binasa." Syeh itu menyambung surat Al-Furqan ayat ke delapan belas.

"Ah, tidaak!" Pekik Harun.

"Maka sungguh, mereka yang disembah itu telah mengingkari apa yang kamu katakan, maka kamu tidak akan dapat menolak azab dan tidak dapat pula menolong dirimu dari azab itu dan barang siapa di antara kamu berbuat zalim, maka Kami timpakan kepadanya rasa azab yang besar." Syeh melanjutkan surat Al-Furqan ke ayat nomor sembilan belas dan mahluk dalam diri Harun yang barusan masuk terdiam tenang mendengarkan.

"Mereka bohong?!" Heran mahluk dalam diri Huda.

"Maka tidak pernah kah mereka berjalan di bumi, sehingga hati akal mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." Syeh membacakan Al-Hajj ayat ke empat puluh enam untuk membuka mata batin si jin.

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" Syeh membacakan surat Fussilat ayat lima puluh tiga.

"Aaaghr!" Harun terlihat mengangkat dua tangannya seolah matanya mengalami sesuatu.

"Dia iblis berkata: terangkanlah kepadaku, ini kah yang lebih Engkau muliakan daripadaku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil" Syeh membacakan Al-Isra ayat enam puluh dua.

"Dia Allah berfirman: Pergilah! Tapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, Neraka Jahanamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup." Lanjut Syeh membacakan Al-Isra' ayat enam puluh tiga.

"Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggup dengan suaramu yang memukau, kerahkan pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka. Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka." Jelas Syeh tentang surat Al-Isra' ayat enam puluh empat.

"Jadi sesungguhnya memang Allah memerintahkan Iblis untuk berbohong dengan suara yang memikat ya? Herrmhhh!! Apa maunya Allah itu!!" Ucapan Harun dalam pengaruh kesadaran jin itu membuat Anderson dan Huda tertarik.

"Sesungguhnya kepada hamba-hamba-Ku, engkau Iblis tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." Syeh berjenggot putih itu membacakan Al-Isra' ayat enam puluh lima.

"Hah, iblis menipuku?! Dia hanya berbohong? Tidak ada kesaktian sama sekali?!" Pekik Harun membuas.

"Dan tidak ada kekuasaan Iblis kepada mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman pada adanya akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang akhirat itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu." Jelas Syeh membacakan ucapan Allah dalam surat Saba' ayat dua puluh satu.

"Katakanlah Muhammad: Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan, Maha Mengetahui."

Syeh membacakan hukum agar jin di badan Harun mengucapkan kejujuran dengan surat Saba' ayat dua puluh enam.

"Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman Katakanlah, Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya, tidak mungkin! Sebenarnya Dialah Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." Lanjut Syeh dengan membaca surat Saba' ayat dua puluh tujuh.

"Baik lah akan aku katakan apa yang kalian mau tanyakan dengan sebenarnya," lirih spirit dalam diri Harun.

"Apa yang dimaksud dengan menara dalam mimpiku tadi malam?" Anderson mengirim telepati memori gambaran mimpinya kepada spirit hitam yang merasuki jasad Harun.

"Hmmm... Itu adalah kabar tentang sesuatu yang dasyat ke seluruh dunia..."

"Apa itu?.."

"Iblis mendatangi seekor jin di puncak gunung es yang ada di China dan meminta bantuan kepadanya untuk melakukan sesuatu... Yaitu membakar pohon racun terlarang..."

"Pohon beracun terlarang?"

"Pohon itu tumbuh ratusan tahun tempat Suri dipenjara sampai mati..."

"Siapa Suri?"

"Seekor jin, ratu jin di Cina yang mengajari Iblis sebuah cara baru agar bisa menciptakan tatanan dunia baru"

"Benar kah?"

"Ya, Suri adalah cucu Iblis yang paling cerdas, dia lah yang menurunkan ajaran sihir di Cina dan tidak terkalahkan sampai sekarang"

"Jadi sihir paling kuat di bumi ini adalah di Cina?"

"Betul... Suri menyadari selama ini kekuatan sihir Iblis sudah dicabut oleh Allah, dia hanya diberikan umur kekal dan hanya mampu berbohong saja dengan ucapannya dan ilmu pengetahuannya yang masih iblis miliki, karena itu lah Suri mengajarkan iblis caranya membuat sebuah sistem energi yang bisa meretas kesadaran manusia"

"Jadi Suri sudah mati ya?"

"Ya, Suri sudah mati dalam pohon penjaranya... Dan pohon itu sangat beracun..."

"Lalu?"

"Pohon itu akan dibakar dan asapnya bisa-bisa menyelubungi seluruh dunia... Dunia akan dalam kegelapan dan seluruh jin di dunia bisa mengalami sakit dan penyakit itu akan sampai mencapai batas ke dimensi manusia dan membuat manusia di seluruh dunia sakit"

"Apa maksudmu pandemi?"

"Sekarang ini kan tahun dua ribu tiga belas... Apa kah itu benar-benar akan terjadi? Kapan hal itu akan dilaksanakan?"

"Iblis belum menemukan cara membakar pohon itu, itu bukan pohon sembarangan... Mungkin dia akan membuat pertumpahan darah dulu agar bisa mematahkan pelindung di pohon itu..."

"Iblis waktu itu akan berada di Mekkah untuk berlindung ketika semua asap itu menyelimuti dunia"

"Ngapain iblis berlindung? Emangnya dia di mana rumahnya?"

"Di laut segitiga bermuda"

"Waduh, sampai ke sana ya asapnya?"

Spirit itu mengangguk menggunakan jasad Harun.

"Tapi tidak mudah untuk mengantar penyakit ini ke dimensi manusia... Sekarang iblis sedang mencari cara supaya bisa membuat manusia menerima penyakit itu, dan kau bisa masuk ke dimensi kami jika penasaran bagaimana perkembangan penelitian itu"

"Meraga sukma?"

"Ya..."

"Sebaiknya jangan lakukan, bisikan setan itu tidak memberimu solusi" saran Syeh Halim.

"Baik Syeh"

"Apa kau mau masuk Islam?"

"Iblis akan memburu dan membuat mereka membunuhku!"

"Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, sesungguhnya tipu daya setan itu lemah." Jelas Syeh menggunaan firman Allah dalam An-Nisa' ayat tujuh puluh enam.

"Wahai orang-orang beriman! Bertaubat lah kepada Allah dengan semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami karena sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Syeh melanjutkan penjelasan ke jin itu dengan membacakan ucapan Ilahi dalam At-Tahrim ayat delapan.

"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman: Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, karena  sebagian kamu adalah keturunandari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang baik." Syeh memberikan solusi dari Allah yang terekam dalam memori sura Ali 'Imran ayat seratus sembilan puluh lima.

"Aah tempat itu indah sekali, aku mau tinggal di sana" seolah spirit itu melihat gambaran surga.

"Ikuti aku bersyahadat... Asyhadu..."

"Asyhadu.."

"Anlaa ilaha illa llah"

"Anlaa ilaha illa llah"

"Wa asyhadu"

"Wa asyhadu"

"Anna muhammadan abduhu wa rasuluhu"

"Anna muhammadan abduhu wa rasuluhu"

"MaasyaaAllah"

"Kamu ikut sama aku ya?"

"Untuk apa?" Halim mengernyitkan jidat ke Huda.

"Untuk ditanya jawab bila saya mau meruqyah lagi.. saya yakin jin-jin yang ingin menyebarkan penyakit itu juga ada di tubuh para dokter dan ilmuwan"

"Kalau begitu kita urus itu sekarang"

"Jin, siapa namamu?"

"Barghah"

"Panggil semua jin di tubuh ilmuwan dan dokter di balik misi pandemi ini"

"Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sana lah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui." Syeh membacakan  Al-Baqarah seratus lima belas.

"Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang akan mengumpulkan mereka. Sungguh, Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui." Syeh masih berusaha memanggil jin-jin yang memiliki korelasi dengan target misi hari ini  Al-Hijr dua puluh lima.

"Huaaarghh! Ada apa ini? Kenapa aku ditarik ke sini?"

"Selamat siang, siapa namamu?"

"Ghalum"

"Baik, Ghalum apa kamu ada hubungannya dengan ilmuwan dan dokter yang mengurusi pandemi di masa depan?"

"Dari mana kamu tahu? Huahaaha!"

"Jadi itu benar?"

"Katakan lah: Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung." Syeh membacakan surat Yunus ayat enam puluh sembilan.

"Mereka tidak mampu menghalangi siksaan Allah di bumi, dan tidak akan ada bagi mereka penolong selain Allah. Azab itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka tidak mampu mendengar kebenaran dan tidak dapat melihat-(Nya)."

"Mereka itulah orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan."

"Pasti mereka itu (menjadi) orang yang paling rugi di akhirat."

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Tuhan, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." Syeh membacakan isi surat Hud mula dari ayat dua puluh sampai dua puluh tiga.

Jin itu menyimak projeksi penglihatan memori dalam ayat firman Allah itu kemudian dia mengangguk pelan.

"Aku tidak mau berbohong, aku tidak mau diazab pedih seperti itu"

"Katakan padaku?"

"Di dimensi jin kami mendirikan laboratorium, kami mencangkokkan jin dengan bakteri dalam jantung tikus yang terinfeksi virus, jin itu sangat menderita oleh cangkok di punggungnya itu sebagian mereka mati karena tersiksa... Mereka berteriak kesakitan..."

Jin itu lewat jasad Harun memegangi kepalanya dengan dua tangan seperti ketakutan.

"Aku tidak mau menerima nasib sama seperti mereka... Mereka yang kesakitan itu dikirim ke tubuh manusia dan manusia itu mengalami sakit"

"Penyakit itu menular?"

"Ya..."

"Lalu ada apa dengan pohon yang dibakar itu?"

"Di bumi ini ada sebuah tornado yang menjauhi suara adzan... Ketika dia datang, dia akan menebarkan asap dari pohon itu ke tubuh-tubuh manusia yang penuh kemarahan, iri dan dendam dalam hatinya"

"Tornado apa itu?"

"Angin itu adalah dari Allah sebagai bentuk balasan kepada orang zalim supaya terzalimi perbuatan mereka sendiri"

"Jadi orang beriman dan pemaaf tidak akan menerima efek apa pun dari asap yang disebarkan tornado itu?"

Jin di jasad Harun membuat kepala Harun mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan ilmuwan dan para dokter?"

"Jin-jin masuk ke tubuh mereka supaya mengadakan kebohongan-kebohongan agar semua orang mengikuti petunjuk mereka..."

"Kapan agenda itu akan dimulai?"

"Dua ribu enam belas..."

"Sebenarnya apa tujuan dari agenda pandemi ini?"

"Mereka ingin menyuntikkan cairan khusus yang membuat DNA umat manusia mengalami perubahan"

"DNA manusia mengalami perubahan apa?"

"Mereka ingin orang-orang dari keturunan leluhur orang shaleh dan orang benar menjadi tidak berakhlak dan tidak mengindahkan hukum Allah juga supaya mereka berbuat kerusakan moral.." jelas jin dalam tubuh Harun.





"Astaghfirullah..." Kata Yuna.

Mereka kemudian berbicara kepada jin itu sampai akhirnya diislamkan dan mereka berpamitan kepada Syeh, lalu mereka turun ke jalan pulang namun di tengah perjalanan ada sesuatu terjadi.

Sekelompok orang berbaju hitam menghadang mereka dan langsung menyergap Yuna. Yuna di tawan dan lehernya dipiting oleh orang-orang bule bermantel jaket hitam itu.

"Apa-apaan ini?" Anderson panik.

"Jangan ikut campur!" Pria yang di depan penawan Yuna mengancamkan pisau.

"Apa yang kamu ketahui tentang kami? Siapa kamu?" Bentak pria durjana itu kepada Yuna.

"Apa masalahmu dengan kami?!" Huda mengepalkan tangan yang gemetaran menahan emosi melihat Yuna diperlakukan seperti itu.

"Gadis ini harus mati sekarang juga!" Pria yang memiting Yuna menjambak rambut halusnya yan indah.

"Ah..! Aku tidak kenal siapa kalian?!" Pekik Yuna lalu menggigit tangan pria itu.

Namun tak lama kemudian dia digampar sampai bibirnya sobek dan berdarah. Huda tidak tahan lagi dan langsung menonjok pria itu. Harun mendorong pria yang menggunakan pisau. Anderson kini di hadapan dua bule besar, salah satunya berambut kribo dan berkulit hitam sementara yang satunya lagi bald skinny.

"Katakan siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?" Tanya Anderson.

"Ketua kelompok di Paris, kalian berusaha mengganggu kesenangan kami dalam ritual, jangan berpikir bisa jadi pahlawan!" Ejek si bald skinny.

Huda menendang dan meninju dengan tenaga dalam dan itu juga dilakukan dengan imbang oleh lawannya yang kini melepaskan Yuna. Mereka ribut seperti itu di tengah malam dengan rekaman CCTV yang tidak luput melakukan pengawasan dan admin di belakangnya senantiasa bekerja setiap waktu.

Dengan singkat cerita akhirnya polisi yang ada di dekat tempat itu brlari dan menghampiri mereka untuk melerai. Kelompok berbaju hitam itu memukul wajah si polisi dan kabur sebelum dia diborgol.

Huda dan kawan-kawannya digiring ke kantor polisi dan akhirnya diinterogasi. Mereka mengaku ke Indonesia untuk mengunjungi keluarganya Anderson. Namun semua polisi tidak percaya. Anderson geram dan berusaha menenangkan diri. Di keningnya seperti muncul perkumpulan menonjol tumbuh aneh. Yuna geli banget melihat benjolan di jidat Anderson dan berteriak ketakutan membaca ayat kursi.

Namun yang terjadi di kantor polisi itu adalah Anderson mencekik lehernya dan benjolan-benjolan seperti ada buah duku di jidat Anderson semakin timbul. Yuna semakin geli melihatnya karena dia punya cyclophobia bahkan trypophobia. Akhirnya dia Yuna tanpa sadar saking gelinya dia bangkit dan mendorong Anderson sampai keluar pintu kantor polisi dan gadis itu berlari ke jalanan. Huda mengejarnya dibantu polisi. Sementara Anderson masih kesurupan. Harun menunggui bule itu di depan kantor polisi dan mulai melantunkan adzan.

Polisi Paris terkejut melihat Anderson berteriak dan memuntahkan darah hitam diikuti seperti merayapnya benjolan-benjolan di jidat Anderson bersama darah hitam kental itu.

"Dia kerasukan roh jahat!" Jelas Harun.

"Dan yang berkelahi dengan kami adalah orang dari grup pemuja roh jahat, jika kalian menangkap kami dan membiarkan mereka.. Paris akan menjadi tempat berbahya bagi turis! Akan ada banyak orang menghilang tanpa sebab!" Harun terengah-engah, Anderson jatuh pingsan dan jidatnya membiru lebam.

Yuna merasakan ada hal aneh, dia berhenti berlari dan berbalik badan. Huda kebingungan kenapa Yuna lari, dia akhirnya bisa meraih tangan Yuna yang berusaha menata nafasnya. Sementara polisi di belakang mereka kini berubah raut wajahnya. Dia seperti tanpa ekspresi dan tubuhnya tiba-tiba memucat.

"Kau adalah cucu William the Murder?" Tunjuk si polisi yang kini kerasukan oleh spirit dari drakula kepada Huda.

"William Benjamin?"

Paraunya si polisi sambil menyerang Huda dengan cakar yang tiba-tiba tumbuh begitu saja secara anomali.

Huda dan polisi itu berkelahi, Yuna kebingungan dengan apa yang terjadi. Karena tiba-tiba saja ada taxi berhenti, Yuna berlari dan berpikir supir taxi akan membantu karena jalanan Paris entah kenapa sepi di gang pertokoan itu. Namun ternyata supir itu keluar dari mobil dan membawa sebuah tongkat besi panjang, mendekati Huda dan berusaha merenggut nyawanya.

"Tidaak!!" Yuna kesal karena sedih.

Huda dikeroyok serangan dua pria, sadar si polisi memiliki pistol, dia meraih saku celananya dan berniat menembak Huda yang sedang dipiting tongkat besi oleh supir taxi.

"Tidaak!!" Yuna menyadari kekuatan dua iblis itu sangat  kuat sehingga Huda kualahan.

Ketika si polisi mengarahkan pistol ke dada Huda, Yuna berlari secepat mungkin menutupi tubuh Huda dan menghadang dengan merentangkan tangan.

"Iblis! Allah itu maha kaya sekali pun Dia memberimu semua hartaNya kepadamu, hartanya tidak akan pernah habis untuk Dia bagikan kepada yang lain!" Mantra Yuna sambil merentangkan tangan dalam berbahasa Indonesia.

Mendadak setan di badan polisi itu tertegun seperti terdiam. Dia lalu mengarahkan pistol itu ka tenggorokanya sendiri.

"Tidaak!!!" Yuna lari ke polisi itu dan berusaha mengalihkan arahnya sebelum pelatuk itu memantik.

Huda membalikkan kondisi dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke supir taxi dan memukul mukanya, menarik tongkat dari tangan si supir dan mempelantingkannya jauh-jauh.

"Dar!"

Huda tidak melihat ada yang terjadi ketika dia berkelahi dengan si supir taxi. Dia langsung bersikeras menoleh ke belakang dan mencari apa yang terjadi.

Yuna terjatuh ke trotoar dengan memegangi Perutnya yang berlubang.

"Yuna!!!" Huda tercengang bukan main.

Huda kepanasan dan memukul si polisi berkali-kali sampai berdarah-darah wajahnya. Tak lama kemudian polisi yang lain, bersama Anderson dan Harun berlari datang menghalau perkelahian mereka. Sementara si polisi sudah pingsan tidak sadarkan diri.

Malam itu berlangsung tidak terduga dengan kekelamannya, perkelahian itu mungkin sudah berakhir tapi setelah itu ada sebuah tindakan polisi yang menjadikan Huda mendekam di sel. Sementara Anderson dan Harun menemani Yuna di rumah sakit dengan kondisinya yang koma.

Polisi di kantor tempat Huda ditahan berjaga ketat, Huda melihati mereka satu persatu.

"Jangan sampai kalian juga kerasukan dan karena aku di penjara nanti kalian akan menembakiku bersamaan" pelan Huda lemas menyandarkan punggung ke tembok.

"Tuhan Yesus akan melindungiku!" Seorang polisi mengeluarkan benda berharga dari laci meja kerjanya dan kemudian menaruh patung salib kecil itu di atas mejanya.

"Hey, Bung... Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya seorang pria yang juga ditahan di sel yang sama dengan Huda saat itu.

"Dan kau mungkin akan kerasukan kemudian menghabisiku dalam sel ini" pelan Huda tanpa melirik.

"Katakan lah apa yang sebenarnya terjadi, Kawan?!" Lirih pria itu.

"Kau tidak akan percaya." Sindir Huda kemudian memejamkan mata.

"Karena aku juga diburu..." Lirik tahanan itu.

Huda langsung membuka mata dan melirik ke pria itu, pria itu menyadari tindakan Huda akhirnya membuka kemeja biru tuanya dan memperlihatkan tato mata satu dalam sebuah segi tiga di dadanya.

"Kau bagian dari mereka"

"Ya... Dan aku memutuskan berhenti dari mereka namun tidak sanggup melarikan diri... Aku selalu diburu mereka..."

"Siapa kau sebenarnya?" Lirih Huda melihat si polisi yang keluar dari area kantor sipir.

"Aku seorang muslim, Bro!"

"Muslim?" Huda sedikit terkejut dengan pengakuan itu.



Comments

Popular Posts